
"Ssttt... Mereka mau pergi," bisik Rania.
Bola mata berwarna biru milik gadis blasteran itu terus membuntuti target mereka. Telapak tangannya di letakkan di depan wajah, agar tak ada yang mengenali dirinya.
Hmm... Justru hal itu malah semakin menarik perhatian orang di sekelilingnya.
"Yaudah. Aku ikuti mereka sambil pura-pura bayar. Kamu jaga-jaga, ya," balas Ringga. Ia menyeruput habis minumannya yang hanya tinggal seperempat gelas.
Tiba-tiba...
"Kalian...?"
"Hah..." Ringga dan Rania sama-sama terkejut. Rania bahkan merasa jantungnya sudah hampir lepas dari tempatnya.
"Wilda?" sahut Ringga.
"Apa kabar? Udah lama banget gak ketemu kalian berdua," jawab seorang wanita mungil yang dipanggil Wilda. Sepertinya ia seumuran dengan Ringga.
"Haishh... Aku pikir kepergok Qiandra tadi," batin Rania. Jantungnya masih belum kembali normal. Matanya mencari sosok dua orang yang dicurigainya di antara kerumunan pengunjung.
"Ya... Kami punya kesibukan masing-masing," jawab Ringga singkat.
"Ah... Begitu... Jadi, bagaimana-"
"Emm... Maaf, Nir. Kami lagi sibuk. Kapan-kapan kita lanjut lagi ya ngobrolnya," potong Ringga. Ia melihat Rania mulai kesal karena kehilangan kedua targetnya.
"Oh, begitu. Baiklah... Tapi kalau aku ingin bicara dengan Edlyn Rania Austeen, apa kalian masih tetap ingin pergi?" Nirmala menaikkan sebelah alisnya. Kedua lengannya dia lipat di depan di depan dada.
Deg! Jantung Rania berdegup kencang. Sudah lama sekali tidak ada orang yang memanggilnya seperti itu. Siapa dia?
"Gimana?" tanya Ringga dengan bahasa tubuh.
"Ya udah, di sini aja dulu," jawab Rania dengan isyarat mata.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Jadi, bisa jelaskan maksud ucapanmu tadi?" kata Ringga.
Ringga dan Rania sepakat untuk mengajak Wilda pindah tempat. Menggunakan mobil yang berbeda, mereka pun beranjak ke sebuah area pusat kuliner.
Mereka sengaja mencari tempat yang nggak dicurigai orang.
Dan di sinilah mereka sekarang, di kursi kayu sebuah kaki lima yang menjual kerak telor dan bir pletok khas betawi.
"Apa jaminan untukku? Gimana kalau nanti kalian cuma memanfaatkanku?" Wilda sangat waspada.
"Hahh... Ribet banget, sih. Padahal tadi kamu duluan yang ngomong. Gak jelas banget," ujar Ringga kesal.
"Gini aja, deh. Kita bikin perjanjian. Tanda tangan di atas meterai. Tapi izinkan kami merekam semua ucapanmu. Bisa aja kan kamu bohong," saran Ringga kemudian.
__ADS_1
"Deal," sahut Wilda tanpa pikir panjang.
Beberapa saat kemudian, setelah surat kontrak dadakan itu ditandatangani.
"Apalagi yang kamu tunggu?" desak Ringga pada Wilda.
"Kamu sendiri merasa kan, kalau dia bukan Rania Putri?" Wilda balik bertanya.
"Yah... Aku hanya melihat dari ciri fisik mereka. Tapi mana ku tahu kalau dia putri keluarga Austeen yang terkenal itu?" jelas Ringga.
Rania hanya terdiam mendengarkan perdebatan itu. Hingga saat ini ia masih belum mengetahui identitas Wilda.
Apakah dia salah satu asisten mama atau papanya?
"Aku tanya padamu. Apa yang kamu ingat saat kalian bertukar tempat?" Kali ini Wilda bertanya pada Rania.
"Eeeh... Dari mana kamu tahu, kalau aku bertukar tempat?" Rania terkejut mendengarnya.
"Secara logika aja, emangnya putri Austeen sekarang ini ada kemiripan dengan Chloe dan Geffie? Nggak, kan?"
Dalam hati, Ringga dan Rania membenarkan ucapan Wilda.
"Saat ini, Rania Putri berada tak jauh darimu. Tapi sayangnya ia nggak bisa bicara apa pun padamu."
"Tunggu, maksudmu Rania Putri sedang mengawasi kita? Tapi kenapa dia nggak ketemu langsung?" tanya Ringga gak sabaran.
"Kan tadi aku udah bilang, dia nggak bisa bicara apa pun padamu," ulang Wilda.
"Aku nggak bisa ngomong sejauh itu," jawab Wilda.
"Astaga! Bilang aja kenapa, sih? Emangnya kamu lagi di bawah ancaman orang?" Ringga mulai naik darah.
"Apa dia bertemu dengan Kakak dan meminta bantuan? Kalau dia memang di dekatku, kenapa sama sekali nggak ada yang melihatnya?" tanya Rania pula.
Wilda menggeleng, "Aku hanya nggak sengaja mengetahuinya."
"Gimana, sih. Cerita kok muter-muter?" kesal Ringga.
"Apa buktinya kalau Kakak melihat Rania Putri? Kenapa gak ada seorang pun yang melihatnya selain Kakak?" tanya Rania.
"Yang jelas, hanya kamu yang bisa membantunya. Semua petunjuknya berada di dekatmu," jelas Wilda.
"Tapi, ia lebih mengincar temanmu yang berambut pirang itu. Entah apa sebabnya."
"Gadis pirang? Maksudnya Qiandra?" sahut Rania.
"Iya mungkin. Aku nggak tahu namanya. Tapi wajahnya selalu terlihat marah, kalau berada di dekat gadis itu. Apa kamu bisa menjelaskan, semua keanehan yang terjadi dengan Qianda akhir-akhir ini?"
"Emm... Qiandra, Kak. Bukan Qianda. Jangankan yang terjadi sama dia, kejadian yang menimpa diriku aja udah bikin pusing banget."
__ADS_1
"Aku nggak tahu pasti ada apa di antara mereka. Tapi, sepertinya Rania Putri sangat ingin melenyapkan cewek pirang itu."
"Terus, bukti yang Kakak bilang tadi, contohnya seperti apa?" Rania masih belum puas bertanya.
"Ya bisa dalam bentuk apa saja. Bahkan yang nggak kamu sadari sama sekali," jawab Wilda.
"Hei, kenapa nggak kamu bilang aja sama dia. Kalau dia nggak bisa bicara dengan Rania Austeen, dia kan bisa menulisnya dan menitipkannya padamu?" usul Ringga.
"Hal itu sangat nggak mungkin!" ucap Wilda lirih.
"Jangan bilang, kalau Rania Putri yang kakak temui itu berbeda dunia dengan kita?" celetuk Rania.
"Hei, kamu bilang apa, sih? Seakan-akan dia udah mati aja." Ringga meraba bulu kuduknya yang mulai merinding.
"Ya, kurang lebih begitu. Tapi aku nggak tahu, dia udah meninggal atau belum."
"Apaan sih guys, kok jadi creepy gini?" protes Ringga.
"Ya terus apa lagi coba? Dia ada tapi nggak kelihatan, gak bisa ngomong langsung juga. Dia juga sering di dekat Qiandra..." kata Rania.
"Ah, aku baru ingat. Dulu, dia pernah takut banget lihat aku di sekolah. Apa jangan-jangan dia dihantui sama Rania Putri?" lanjut gadis keturunan Romania itu.
"Duh.. Udah, dong. Ganti topik lain, kek."
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Hei, kamu percaya dengan yang dibilang Wilda tadi?" tanya Ringga ketika jalan pulang.
Rania mengangkat kedua telapak tangannya setinggi dada.
"Sekarang ini bukan saatnya aku pilih-pilih harus percaya atau nggak. Tapi mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya," ujar Rania.
"Iya, sih. Tapi harus tetap waspada." Ringga mengingatkan.
"Ngomong-ngomong, dia itu siapa sih, Kak? Kok bisa kenal kita berdua?"
"Ya Tuhan, dari tadi kamu udah ngobrol banyak tapi masih nggak tahu siapa dia? Ceroboh banget, sih? Gimana kalau nggak ada aku?" marah Ringga.
"Dulu kamu waktu pertama kali jumpa aku juga gak ada curiga sedikit pun?" lanjutnya lagi.
Rania terdiam. Menyadari kesalahannya. Ia memang kurang waspada karena terlalu mengejar informasi.
Ringga melirik ke arah remaja yang tampak murung dengan perasaan bersalah.
"Wilda itu ..." jelas Ringga.
"Yang benar?" Rania terkejut mendengarnya.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...