
"Kamu pikir aku bisa tenang pergi sekolah setelah gosip kita berdua tersebar? Rasanya aku muak, setiap detik melihat wajahku muncul di media sosial," ucap Mikko.
"Hahaha... Ternyata kamu nggak ada bakat jadi artis, nih." Qiandra tertawa lepas.
"Jadi apa nih solusinya? Dari pada capek dikira pacaran, mending kita pacaran beneran. Jadian, yuk," lanjut gadis blonde itu tiba-tiba.
"Hah? Gimana?"
Mikko membulatkan matanya mendengar kalimat terakhir dari remaja cantik di depannya.
"Aku nggak salah dengar, kan? Jadian? Kamu bercanda?" tanya Mikko.
Qiandra tertawa kecil melihat raut wajah Mikko yang kebingungan.
"Emangnya kapan sih aku bercanda?" Qiandra mengedipkan matanya.
"Sebentar. Biarkan aku mencerna kalimatmu itu," ucap Mikko. Ia masih mengatur napasnya yang tadi sempat tidak teratur.
"Sudah... Nggak usah dicerna. Aku tahu kok isi hatimu," ucap Qiandra.
"Huh?"
"Kamu mencintai Rania, kan? Aku selama ini memang tidak pernah bercanda, Mikko. Tapi hari ini sedikit berbeda. Lucu sekali melihat ekspresimu tadi." Qiandra kembali tertawa.
Mikko mengernyitkan dahi, "Gadis ini mempermainkan perasaanku atau gimana?" pikirnya bingung.
"Hahaha... Maaf kalau kamu tersinggung. Tapi maksudku, jika kamu sangat mencintai Rania, jangan sia-siakan dirinya. Terutama di saat dia memiliki perasaan yang sama denganmu," ucap Qiandra. Kali ini wajahnya berubah jadi serius.
"Lalu perasaanmu?" tanya Mikko.
"Aku nggak apa-apa. Kamu menerimaku sebagai teman baikku saja, aku sudah sangat senang."
Mikko menatap Qiandra dalam-dalam. Tidak ada kebohongan tergambar di wajah gadis itu.
"Qian, kamu sungguh anak yang baik. Merelakan urusan hati itu nggak mudah, tapi kamu justru bisa mengikhlaskannya," ucap Mikko.
"Aih, kata-katamu persis kakek-kakek," ucap Qiandra dengan nada menyindir.
"Hei, aku ini kandidat calon suami terbaik di masa depan. Enak saja kamu katakan aku mirip kakek-kakek," protes Mikko.
"Iya deh, iya... Aku percaya." Qiandra memutar bola matanya.
"Tapi Qian, apa kamu beneran nggak apa-apa? Jangan pura-pura baik-baik aja. Cerita sama aku," ucap Mikko.
"Dibilang baik-baik aja pasti bohong. Bukan waktu yang sebentar untuk menyukaimu. Tetapi, apa gunanya kita bersama kalau hatimu menghadap pada yang lain?" Qiandra melemparkan pandangannya pada Mikko.
Pemuda tampan itu tak menyahut, ia justru lebih penasaran dengan lanjutan kalimat Qiandra.
"Aku tahu, meski pun kalian sempat bertengkar, tapi kamu terus mengkhawatirkannya. Iya, kan?"
__ADS_1
Mikko tersenyum kecut, "Kamu benar," ucapnya lirih.
"Aku sudah sangat mengenal orang yang hanya mencintai sepihak saja. Seumur hidupnya ia hanya memberi, tanpa mendapat balasan kasih sayang. Tetapi b*dohnya, ia tetap bertahan," ujar Qiandra.
Sepintas, pikiran Qiandra teralih kepada Om-om berambut pirang, yang mengikutinya hingga ke dalam minimarket dan membeli sebuah pita.
"Kenapa aku jadi teringat paman mesum itu?" pikir Qiandra.
"Terima kasih atas pengertianmu, Qian. Ku harap, suatu hari nanti kamu juga bisa menemukan orang yang terbaik untuk dirimu. Tapi kita masih berteman, kan?" kaya Mikko. Lelaki itu mengulurkan jari kelingkingnya.
"Aku nggak mau lagi berteman denganmu," ucap Qiandra.
"Eh, kenapa begitu?" Mikko menarik kembali lengannya.
"Karena aku maunya jadi sahabatmu."
"Haduuh... Ku kira apaan. Oke, deal." Mikko menarik paksa lengan Qiandra dan mengaitkan kelingking mereka.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Dari mana, kamu? Tuh muka kusut amat?" tanya Alvi.
"Gak dari mana-mana." Rania menarik kursinya lalu duduk sambil merebahkan kepala ke atas meja.
Alvi hanya geleng-geleng kepala melihatnya, "Pasti ada sesuatu dengannya," pikir Alvi.
Bel masuk sudah berbunyi sejak lima menit yang lalu, tetapi Bu Atun, guru kimia mereka belum juga muncul.
"Rania, aku bawa kue, nih." Maria, teman sekelasnya menawarkan kue basah dari tepung beras padanya.
"Trims, Maria." Rania mengambilnya sebuah. Ia mengunyahnya dengan enggan.
"Idih... Kamu kenapa, sih? Biasanya kalau ketemu kue manis paling happy," ujar Alvi.
"Aku nggak apa-apa, kok. Cuma kurang tidur aja," kilah Rania.
Wanita itu melemparkan pandangannya ke kursi belakang.
"Masa aku harus bilang pada mereka, kalau tadi aku lihat Qiandra dan Mikko duduk berdua sambil pegangan tangan," ucap Rania dalam hati.
Rupanya sebelum bel masuk tadi, Rania hendak menemui Qiandra untuk memberitahunya jadwal terbaru siang ini. Karena ada beberapa agenda yang berubah.
Namun apa yang dilihatnya justru membuat hatinya sakit. Ia pun urung memberi tahu Qiandra.
"Aku memang sudah berjanji pada diri sendiri, untuk tidak memikirkan urusan cinta terlebih dahulu. Tapi rupanya hatiku nggak bisa dibohongi. Ukhh... kayak gini ya rasanya jatuh cinta?" gumam Rania.
"Ehem! Perhatian semuanya...!" Anggit sang ketua kelas, berdiri di depan sambil membawa setumpuk kertas.
"Ada apaan, nih? Bukan ulangan dadakan, kan?"
__ADS_1
Kelas menjadi sangat riuh.
"Halo teman-teman... Mohon perhatiannya sebentar. Kabar dari guru piket barusan. Bu Atun hari ini tidak masuk, karena beliau sakit," kata Anggit dengan lantang.
"Wah... Serius? Mantap tuh?" celetuk beberapa siswa.
Wah, siswa nggak ada akhlak.
"Nah sebagai gantinya, kita diminta untuk mengisi kuesioner ini. Dan dikumpulkan segera. Jika telah selesai, maka kita diminta belajar mandiri, sampai jam pelajaran berikutnya," lanjut Anggit lagi.
"Mana kuesionernya. Sini aku bantu sebarin. Aku udah gak sabar nunggu jam kosong, nih," kata Teguh.
Wah, emang kalau kelas kosong itu gak bisa hening, ya.
"Dibagikannya sesuai nama dan Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), ya," ucap Anggit pada Teguh.
"Siap, komandan."
Beberapa saat kemudian, keadaan kelas menjadi lebih tenang. Para siswa mula mengisi kuesioner.
"Anggit, aku belum tahu bakal kuliah di mana. Apa harus diisi juga?" tanya salah seorang siswa.
"Isi saja. Kata guru, itu nggak mutlak jadi pilihan kita ke depannya. Cuma sebagai gambaran pemetaan saja," jelas Anggit.
"Rania, kenapa belum di isi?" bisik Maria, yang pindah duduk di sebelahnya barusan.
"Hmm.. Ini aneh. Ini bukan NISN-ku," ujar Rania.
"Wah, kamu hapal NISN-mu sendiri?" ujar Maria takjub.
"Anggit, ini tadi dapat di mana?" tanya Rania.
"Dari bagian tata usaha (TU). Kenapa?" jawab Anggit.
"Aku izin bentar, ya. Dataku ada yang salah."
"Oke." Anggit mengangkat tangan kanannya sambil membentuk isyarat 'oke' dengan jarinya.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Ini seperti angin surga bagiku," batin Rania ketika berjalan menuju ke ruang tata usaha.
"Meski hanya berbeda satu angka, tetapi aku tahu, jika NISN ini adalah milikku dengan nama Edlyn Rania Austeen, bukan milik Rania Putri. Artinya, data lamaku masih ada di sekolah ini," pikir Rania sepanjang jalan.
"Dengan begini, aku bisa membuktikan jika ada dua Rania di sekolah ini, dan satunya lagi telah menghilang tanpa jejak," Rania terus berpikir.
"Tapi nanti, aku harus berperan sebagai siapa, ya? Rania Putri atau Edlyn Rania Austeen?"
Langkah kaki Rania berdiri tepat di depan pintu ruang tata usaha sekolahnya.
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.