
"Rame banget?" tanya Qiandra saat mobil miliknya memasuki gerbang rumah.
"Tuan dan Nyonya baru saja sampai, Nona," jawab Sania.
"Oh, cepat banget Mama pulang? Bukankah rencananya baru pulang bulan depan?" ucap Qiandra.
"Karena ada masalah sama Nona kemarin, mungkin?" sahut Sania.
“Ma, siapa pria tua yang memakai baju lusuh itu? Dia memakan semua cookie kesukaanku,” teriak Qiandra di depan kamarnya.
Berharap sepulang sekolah dapat bersantai di balkon rumanya, hal pertama yang ia jumpai justru hal mengesalkan. Setoples camilan kesukaannya telah habis separuh oleh pria tua tak dikenalnya.
“Itu, kan kakekmu, sayang. Memangnya kamu nggak kangen sama kakek? Bukannya dari dulu makanan kesukaan kalian selalu sama?” jawab Chloe.
Ia menyipitkan mata menatap putrinya. Reaksi gadis itu sungguh di luar dugaannya. Biasanya, putrinya selalu menyambut gembira kedatangan sang kakek.
“Kakek? Ihhh…” Qiandra menatap pria yang tengah duduk di beranda itu dengan pandangan tak suka.
Pria yang jadi bahan pembicaraan itu pun menoleh, lalu memperhatikan Qiandra dengan seksama.
“Ini cucuku? Aku tak pernah merasa punya cucu kasar seperti ini,” balas pria itu.
“Ayah, ini Qiandra, cucu Ayah. Ayah hanya lupa karena sudah lama tidak menemuinya. Dia juga sudah beranjak dewasa, makanya ayah tidak terlalu mengenalinya lagi,” jelas Chloe dengan sabar.
“Tidak. Dia bukan cucuku,” bantah pria itu tegas.
“Ya kamu juga bukan kakekku. Aku gak pernah punya kakek kayak gini,” balas Qiandra.
“Qian, minta maaf sama kakek! Dia Papa dari Mama. Tidak sopan kamu bicara seperti itu padanya!” marah Chloe.
Qiandra tak mematuhi perintah mamanya. Ia menghentakkan kakinya, lalu masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu.
“Uh… Ya ampun…” keluh Chloe. Ia menahan air matanya, agar tak terlihat oleh Papanya.
“Maafkan Papa, Nak. Harsnya Papa tidak bicara seperti itu padanya tadi,” ucap pria tadi.
“Tidak, Pa. Aku yang salah. Maafkan aku tidak bisa mendidik anakku dengan baik,” isak Chloe.
“Papa kenal baik dengan cucu Papa. Dia menjadi seperti itu, pasti karena ada factor lain,” hibur Nico, ayah dari Chloe tersebut.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Dingin… Mama… Jangan tinggalkan aku…” Seorang gadis kecil menangis di tengah keramaian. Saat itu sedang libur tahun baru semua orang bersuka cita bersama keluarganya. Akan tetapi gadis malang ini justru kehilangan Papa dan Mamanya.
“Mama… Papa… Jangan tinggalkan aku. Aku janji akan menjadi anak yang baik,” ucapnya lagi.
Isak tangis gadis itu tak bisa terbendung lagi. Air matanya mengalir di pipinya yang tembam kemerahan.
“Mama di sini, sayang. Tenanglah. Kamu hanya bermimpi buruk.” Chloe mengusap rambut pirang remaja tujuh belas tahun itu dengan kasih sayang.
“Mama?” Qiandra terbangun dari tidurnya. Ia bisa merasakan pipinya basah karena air mata.
Yang tadi itu hanya mimpi? Tetapi kenapa ia benar-benar menangis?
“Kamu mimpi apa, sayang? Wajahmu terlihat sedih sekali,” tanya Chloe. Ia mengusap lengan putrinya dengan lembut.
“Hanya mimpi random saja,” jawab Qiandra dingin.
Ia masih merasa risih dengan sikap manis mamanya. Sebaliknya, Chloe merasa sangat rindu di lubuk hatinya. Padahal putrinya sedang ada di depan matanya saat ini.
“Halo putriku yang manis. Sudah bangun, ya? Sarapan, yuk. Papa sudah memasak sup kacang merah kesukaanmu dan juga kakek. Setelah itu kita pergi memancing di danau,” ajak Geffie.
“O, ow… Putriku sudah mulai dewasa. Ia tidak suka lagi masakan ayahnya. Padahal Papanya ini cepat-cepat pulang demi putri kesayangannya,” ujar Geffie pura-pura sedih.
“Geffie, kenapa kamu pasti membuat dapur berantakan lagi, kan? Kasihan Musliha selalu kerja keras di hari minggu,” ujar Chloe.
“Sayang. Kamu semakin membuatku terasa sedih,” ujar Geffie.
“Qian, kamu hanya malu kan pergi memancing bersama ayah. Bukan karena tak suka, kan? Apa akhir-akhir ini ada cowok yang mendekatimu?” tanya Geffie.
“Sudah kubilang, aku tak suka memancing. Dan tidak ada cowok yang mendekatiku,” sahut Qiandra kesal. Wajahnya bertekuk semua. Namun, sekilas wajah Mikko melintas dalam benaknya.
“Sayang, sudahlah. Biarkan putrimu ini istirahat. Ia sudah cukup lelah dengan kegiatan sekolah, les dan modelling,” ujar Chloe menengahi.
...🌺🌺🌺🌺🌺...
“Sayang, kamu sadar nggak sih? Putri kita sedikit berubah? Dia sedikit… kasar dan judes,” ujar Geffie sambil memindahkan sup kacang merah ke dalam mangkuk.
Akhirnya Geffie memutuskan, masakannya dibagikan kepada seluruh asistennya yang bekerja hari ini. Sarapan ayah mertuanya sudah lebih dulu ia antar ke kamar.
__ADS_1
“Iya. Qiandra memang terlihat lebih sensitif belakangan ini,” jawab Chloe. Sejujurnya, hatinya pun masih sangat sedih, mengingat kelakuan putrinya pada ayahnya kemarin.
“Apa dia ada masalah di sekolah atau di tempat lesnya?” tanya Geffie cemas.
“Sepertinya tidak. Aku sudah bertanya pada Bu Rosilah dan wali kelasnya, Bu Elya, mereka mengatakan Qiandra tidak ada masalah apa pun. Pengawal pribadi Qiandra juga tidak melaporkan hal buruk,” jawab Chloe sambil setengah mengingat.
“Bagaimana dengan kasus bully waktu itu?” tanya Geffie.
“Sudah tidak ada lagi laporan dari sekolah maupun dari Sania,” jawab Chloe.
“Lalu kenapa, ya?”
“Mungkin saja dia sedang puber, jadi hormonnya tidak stabil. Ah, atau dia sedang kedatangan tamu bulanan,” duga Chloe.
“Puber? Wah, benarkah putri kita sudah mulai puber? Jadi benar, dia sudah malu pergi memancing dengan ayahnya ini,” kata Geffie setengah senang, dan setengah hatinya lagi sedih.
“Untuk gadis usia dia, puber di umur segini sudah terlambat, Geffie,” sahut Chloe sedikit kesal. Suaminya selalu saja menganggap putrinya masih kecil.
“Uuuh… Iya, deh. Tetapi sebaiknya kita nasehati dia pelan-pelan. Karena jika ini terus berlanjut, aku takut karakter dia akan berubah menjadi kasar,” ucap Geffie.
“Itu benar. Ah, aku teringat sesuatu. Beberapa hari yang lalu Sania mengatakan, media sosial Qiandra diserang oleh para netizen. Mereka mengatakan performa Qiandra jauh menurun. Apa itu sebabnya mood putri kita memburuk, ya?” pikir Chloe.
"Maaf Tuan dan Nyonya, saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap Sania.
"Ya, silakan..." ujar Geffie.
"Itu... beberapa hari yang lalu, Nona tersangkut masalah di sekolah. Tetapi sudah diselesaikan dengan baik, sih," kata Sania ragu.
"Apa itu? Ceritakan saja. Kami harus tahu apa pun perkembangan putri kami," ujar Geffie meyakinkan.
Sania pun menceritakan semua yang disampaiman Bu Elya, wali kelas Qiandra padanya.
"Apa? Qiandra terkurung di sekolah bersama seorang cowok? Siapa cowok itu? Anak siapa? Berani-beraninya mengganggu anak kesayanganku," seru Geffie.
"Duh, mulai lagi deh," batin Chloe sambil menarap suaminya.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1