
Blup… Blup… Blup…
“Di mana ini? Kenapa semua basah? Dadaku sesak. Hidungku penuh air. Aku.. tak bisa bernapas dan membuka mata. Semua terasa gelap dan menakutkan Tolong… Tolonglah aku.”
“Hei, Fania. Apa kau yakin kalau ini aman?” terdengar seorang lelaki berbicara. Suaranya tidak asing di telinga Rania. Tetapi ia tidak dapat melihatnya dari bawah permukaan seperti ini.
“Aku yakin,” ucap seorang wanita.
“Bagaimana jika jasadnya membusuk atau ditemukan orang? Danau ini lumayan sering dikunjungi,” balas pria itu lagi.
“Tolong… tolong aku…” ucap Rania dengan suara kian melemah. Detak jantungnya melambat.
Remaja cantik itu menggapai-gapaikan tangannya permukaan air. Mencari pertolongan sekaligus mencari sesuatu yang dapat digenggamnya. Namun, semakin lama ia semakin menghilang dari permukaan. Tubuhnya berat. Seperti ada sesuatu yang membelenggu kakinya. Ia pun tak bisa mendengar dengan jelas yang diucapkan pasangan tadi. Kini, ia bisa merasakan tekanan air masuk melalui seluruh rongga tubuhnya. Seakan-akan mau meledakkan dirinya.
“Puah! Hah… Hah… Hah… Hah…” Tiba-tiba rasa yang teramat sakit tadi hilang seketika. Suasana gelap gulita bergantikan cahaya benderang yang menyilaukan mata.
Rania mengerjapkan matanya, “Aku mimpi? Yang tadi itu hanya mimpi, tetapi kenapa terasa nyata sekali?” gumam Rania sambil memeluk bantal gulingnya.
Bola matanya yang biru menatap jam dinding. Baru menunjukkan pukul dua malam. Akan tetapi, hatinya menolak untuk kembali tidur. Ada perasaan was-was dan takut yang menyelimuti dirinya.
Kali ini matanya menyapu sekeliling ruangan dengan seksama. Tidak ada sesuatu yang berbeda. Tetapi jantungnya kian berdebar kencang. Peluhnya mengalir tanpa henti. Otaknya tak berhenti menayangkan mimpi buruk yang baru saja ia alami.
“Apa ini ada kaitannya dengan mimpiku sebelumnya, ya?” Rania bergidik ngeri.
Rania masih belum tahu, apakah itu ingatannya yang hilang? Atau sekedar mimpi belaka. Tapi Fania? yang ia bayangkan adalah Fania Ansley. Yang tidak lain adalah ibu dari Qiandra, “Jangan-jangan mereka melakukan… ? Astaga, apa sih yang ku pikirkan?”
Drap, drap, drap, ceklek. Rania mengendap-endap menuju kamar Livy, adiknya. Tak lupa ia membawa bantal dan selimut.
“Kakak?” Livy terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara pintu kamarnya berdecit.
“Kakak numpang tidur di sini, ya,” bisik Rania.
Livy tidak menjawab, namun ia menggeser badannya ke tepi dinding. Membiarkan kakaknya menempati separuh tempat tidur yang berukuran 160 cm x 200 cm itu.
Rania membaringkan badannya secara hati-hati, agar tidak mengganggu Livy. Ia memejamkan matanya, mencoba untuk kembali tidur, tetapi tidak bisa. Dengan pasrah ia kembali membuka matanya. Setidaknya jantungnya kini mulai berdetak dengan normal kembali. Ia merasa sedikit aman bersama Livy.
__ADS_1
Retinanya menangkap gambar seisi ruangan. Ia memang bukan baru pertama kali memasuki kamar adiknya, tetapi baru kali ini ia benar-benar memperhatikannya.
Ukuran kamar mereka sama. Hanya saja, perabotan di ruangan ini terlihat lebih tua dibandingkan miliknya. Pintu lemarinya sudah hampir lepas, terlihat beberapa paku mencuat keluar. Jendela kamarnya retak di beberapa bagian, hanya di tempel dengan isolasi sekenanya.
Dan apa itu di sudut ruangan? Ember? Untuk apa? Sepertinya bukan tempat pakaian kotor. Dinding-dinding di sekitar ember itu memiliki bekas berwarna cokelat seperti sering terkena air hujan. Apakah kamar ini bocor?
“Ya, Tuhan. Gadis sekecil ini hidup dengan seadanya seperti ini. Mengapa ia tidak menempati kamarku yang sedikit lebih bagus?” tangis Rania.
Rasa ragu Rania dengan keluarga ini, sedikit demi sedikit mulai terkikis. Tidak terlihat gelagat jahat dan mencurigakan dari mereka. Yang ada hanya limpahan kasih sayang yang tulus setiap saat.
“Bagaimana kabar mama dan papa, ya?” Ah, lagi-lagi Rania teringat dengan orang tuanya.
“Nggak boleh cengeng gini, ah. Aku berada di sini pasti ada alasannya," Rania menguatkan dirinya sendiri.
... 🌺🌺🌺🌺🌺...
Cit… cit… cit…
Beberapa ekor burung pipit berlompat-lompatan di dahan pohon ceri. Mereka berebut mematuk buah ceri yang merah merona. Matahari yang baru saja memunculkan warna jingganya tersenyum di sebalik ufuk timur. Suasana yang sangat tenang dan damai. Apakah benar demikian?
“Rania! Kenapa kamu tidur di kamar adikmu?” seru ibu di depan pintu kamar Rania.
“Ibu bukan marah, hanya tidak tega melihat adik bungsumu yang kurus kerempeng itu dihimpit oleh Rania,” kata ibu.
“Apa?” Rania lalu bangkit dari tidurnya.
Benar saja. Ia ternyata menghimpit tubuh Livy yang masih terlelap. Tidak terganggu oleh suara ribut di rumah ini.
“Kenapa kamu tidur di sini? Apa kalian mengobrol semalaman?” tanya ibu.
“Aku semalam mimpi buruk, Bu. Aku takut sekali,” jawab Rania. Ia duduk di tepi tempat tidur bersama ibu.
“Oh, ya ampun. Sekarang bagaimana keadanmu? Maafkan Ibu barusan.” Ibu membelai rambut hitam Rania dengan penuh kasih sayang.
“Sudah tidak apa-apa, Bu,” sahut Rania.
__ADS_1
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Pagi ini, keluarga sederhana itu cukup santai. Seharusnya di hari minggu, mereka masih tetap bekerja di rumah Tuan Walandou. Tetapi hari ini majikannya memberikan mereka libur. Suasana ini mereka gunakan untuk istirahat dan berkumpul bersama.
“Yah, Rania kan ada sedikit tabungan dari membantu Anjani berlatih olimpiade kemarin, jadi…” tanya Rania.
“Aduh… Kamu memalak temanmu lagi, ya? Kenapa? Ada keperluan sekolah yang harus dibayar?” tanya ayahnya.
“Tid…”
“Kalau ada keperluan dengan sekolahmu, katakan saja pada ayah dan ibu. Kami masih sanggup kok membiayainya,” ujar ayah memotong kalimat Rania.
Rania menggeleng, “Semua keperluan sekolah sudah masuk dalam beasiswa,” jawab Rania. “Dan aku bukan memalak, Yah. Mereka minta bantuanku, lalu membayarku. Aku tidak memintanya,” jelas Rania. Ia tersenyum melihat kekhawatiran ayahnya yang cukup berlebihan itu.
“Terus ada apa?”
“Aku ingin mengganti lemari di kamar Livy. Sepertinya kena guncangan dikit langsung roboh,” lanjutnya.
“Lemari? Tidak perlu, Kak. Itu masih bisa dipakai, kok,” jawab Livy.
“Tidak apa-apa. Kakak memang ingin menggantinya,” sahut Rania tak mau kalah.
“Oh… Dulu Kakak juga mengatakan hal yang sama, ingin memberikan aku sesuatu, saat bepergian di sekitar danau,” kata Livy. Wajahnya berubah menjadi sayu.
“Benarkah?” gumam Rania pura-pura lupa. Padahal ia memang tidak tahu.
“Iya. Aku benar-benar menunggunya. Tetapi yang kuterima, malah kabar kakak menghilang,” lanjut Livy. Matanya berkaca-kaca, bibirnya yang merah bak delima melengkung ke bawah.
“Terus kenapa kamu sedih? Kakak kan sudah kembali?” pancing Rania. Ia sendiri tidak tahu benda apa yang dijanjikan olehnya.
“Sudahlah Livy, sekarang kan kakakmu baik-baik saja.” Ayah mengusap punggung putri bungsunya dengan sayang.
"Kakak menghilang, tapi semua orang tidak peduli. Hanya beberapa oramg guru yang menemani Ayah dan Abang mencari kakak hingga tengah malam," sahut Livy. “Kejadiannya baru-baru ini. Tapi… entah kenapa, aku merasa kejadian ini sudah sangat lama. Rasanya saat itu aku masih menggunakan seragam merah putih.”
Rania tersentak mendengar kalimat Livy yang terakhir. Benarkah faktanya demikian?
__ADS_1
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.