Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 92 - Kakek dan Para Saudara


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


"Siapa, ya? Sepertinya aku nggak ada memanggil siapa pun?" gumam Qiandra.


Gadis itu lalu melompat dari kasurnya dan membukakan pintu tanpa rasa curiga.


"Permisi, Nona. Ini air hangat dan buah anggur untuk cemilan malam."


"Hmmm? Rasanya aku tidak meminta apa pun?"


"Memang benar, Nona. Tetapi saya lihat Nona lelah sekali. Mungkin ini bisa membantu mengembalikan energi, sebelum makan malam," ucap pelayan tersebut.


"Oh.. Begitu... Terima kasih. Letakkan saja di dalam." Qiandra berbalik badan dan mempersilakan pelayan tersebut masuk.


"Siapa ya dia? Aku jarang melihatnya, tetapi wajahnya juga tidak asing. Apa aku terlalu gegabah membawanya masuk?" pikir Qiandra.


Karena rasa lelah yang luar biasa, membuat tingkat kewaspadaannya turun drastis.


Deg!


Langkah kaki Qiandra tiba-tiba berhenti. Demikian juga seluruh aliran darah di tubuhnya. Badannya yang semula panas dan merindukan guyuran air, berubah menjadi dingin di sekujur tubuhnya.


"Ge-genie?" gumam Qiandra. Lututnya melemah bagaikan tak bertulang.


"Benar, Nona. Ini aku. Aku merindukan Nona... Hihihihi...."


Suara wanita di belakang Qiandra berubah menjadi berat dan datar.


"Ka-kamu bercanda, kan? Jangan mendekat!" Qiandra menahan diri agar tidak menoleh ke belakang.


Hihihiiii....


Bruk!!!!


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Astaga! Nona!" seru Musliha, pelayan bagian dapur.


Ia yang hendak membawakan makan malam untuk sang majikan pun terkejut, melihat nona muda itu tergeletak di lantai tak sadarkan diri.


"Penjaga! Tolong! Nona pingsan," seru musliha lagi.


Para pelayan dan penjaga segera menghampiri Qiandra dan memeriksa keadaannya. Kebetulan saat itu Sania sedang pergi keluar untuk urusan pribadi.


"Segera panggilkan dokter pribadi. Sementara menunggu, buka jendela lebar-lebar, berikan ia pakaian yang nyaman." Nico sang kakek akhirnya datang melihat kondisi cucunya.


"Siap, Tuan."


Dua orang pelayan pun segera melaksanakan perintah tuannya. Tak lupa mereka menutup pintu kamar dan menghubungi dokter pribadi.


Tiga puluh menit kemudian...

__ADS_1


"Qiandra hanya sedang kelelahan dan stress. Kamu hanya perlu makan makanan sehat dan istirahat yang cukup," ujar dokter pribadi keluarga Austeen.


"Untuk pekerjaan yang selama ini dipegangnya, kalau bisa dipindah tugaskan dahulu, sampai kondisinya stabil," lanjut dokter tampan itu.


"Kalau begitu, saya permisi dulu. Besok pagi saya cek lagi keadaannya."


Grep! Qiandra menggenggam tangan dokter usia dua puluh enam tahun itu dengan erat. Bola matanya yang kehijauan, menatap lelaki itu penuh harapan.


"Dokter, jangan tinggalkan aku. Aku baru saja bertemu dengan Gennie. Jangan tinggalkan aku sendiri," pintanya.


"Gennie?" Seluruh pelayan di ruangan tersebut saling berpandangan.


"Nona, Gennie sudah tiada. Tak mungkin ia datang menemui Nona," bantah salah seorang di antara mereka.


"Aku tak bohong! Percayah padaku. Aku selalu merasa frustrasi memikirkan ini semua. Sudah berkali-kali mereka mendatangiku, termasuk gadis sial*n itu."


Qiandra menangis histeris tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Qian... Lihat aku. Kamu kelelahan, dan jadi mudah berhalusinasi," ucap dokter.


"Ia mengetuk pintuku. Lalu membawakanku anggur dan memasuki kamarku. Percayalah.. AAku tak bohong."


Kondisi Qiandra saat ini benar-benar kacau.


"Baiah, Nak. Kakek percaya. Nanti kakek akan meminta beberapa orang maid untuk menemanimu tidur. Kamu bisa pilih sendiri orangnya." Nico berusaha menenangkan Qiandra.


"Kakek percaya padaku?" Qiandra melepaskan genggaman tangannya dari sang dokter.


"Iya, Nak. Sekarang kamu mandilah dulu. Setelah itu kita makan malam bersama," ujar Nico lembut.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Ya, tentu. Apa itu?" jawab Nico.


"Ke mana keluarga mama dan papa di saat mereka tertimpa masalah begini? Apa aku punya paman dan bibi?" tanya Qiandra.


Ia menjeda kalimatnya sejenak untuk mengunyah daging dan menelannya.


"Ini mungkin aneh, tetapi aku tak ingat banyak tentang masa laluku di keluarga ini. Bagaimana aku kecil, di mana aku bersekolah dulu, siapa teman-temanku."


Qiandra mencurahkan isi hatinya pada sang kakek.


Nico meletakkan sendoknya ke piring, lalu meneguk air putih hangat.


"Nak, Kakek akan menceritakan semuanya yang kakek tahu padamu."


Qiandra menantinya dengan hati tak sabar.


"Ibumu anak tunggal. Apa kamu ingat nenekmu? Dia adalah wanita Rumania yang sangat cantik. Membuat orang Turki ini tergila-gila hingga mengejarnya ke kampung halaman." Nico memulai ceritanya.


Senyum terukir di wajah Qiandra. Tak disangka, kakeknya dulu bucin juga.

__ADS_1


"Terus mengapa sampai ke Indonesia?"


"Kami terpaksa melarikan diri ke sini menggunakan kapal, karena nenekmu dituduh sebagai penyihir oleh warga kampung halamannya."


(*eps. 27 & eps. 80)


"Penyihir?" Qiandra terkejut mendengarnya.


"Ya. Tapi tentu saja hal itu nggak benar. Nenekmu adalah ahli herbal terbaik di sana. Hanya karena waktu kelahirannya yang dianggap terkutuk, maka rumor itu pun menyebar luas."


Nico menjeda kalimatnya untuk melanjutkan makan malam.


"Jadi itu sebabnya, kami banyak menemukan buku herbal di bawah tanah. Tetapi, bagaimana peti mati dan tumpukan buku lainnya?" pikir Qiandra dalam hati.


"Kalau ayahmu, dia memiliki dua adik perempuan. Yang pertama bernama Elodie Moon Austeen. Kini ia memilih menjadi guru sekolah dasar di Irlandia. Sangat seauai dengam sifatnya yang lemah lembut," ujar Nico.


"Lalu yang kedua?" tanya Qiandra.


Gadis itu telah menghabiskan makan malamnya. Tubuhnya menjadi lebih bertenaga dibandingkan tadi.


"Seraphine Austeen. Itu nama tantemu yang kedua. Ia memilih menjadi seniman dan hidup bebas keliling dunia," sahut Nico.


"Jadi Nak, mereka bukan tak ada untuk keluarga ini. Tetapi memang tidak bisa membantumu."


Beberapa pelayan mengambil piring kotor dan menggantinya dengan dessert manis khas Turki dan beberapa kue beras khas korea selatan, kesukaan Qiandra.


"Begitu, ya? Kenapa aku tak bisa mengingatnya sedikit pun?"


Pikiran Qiandra saat ini benar-benar kacau.


"Maaf jika ucapan kakek ini akan melukai hatimu. Tetapi seingat kakek, kamu bukanlah cucu dari keluarga ini," ucap Nico hati-hati.


Qiandra diam saja. Kali ini ia tidak membantah ucapan sang kakek.


Melihat reaksinya, Nico pun kembali melanjutkan ceritanya.


"Entah bagaimana awalnya, tetapi sepertinya ada yang salah di sini. Ayah dan ibumu, seperti tidak mengetahui, bahwa putri mereka bukanlah putri mereka yang sebenarnya. Demikian juga dengan seluruh orang-orang di dunia."


Pahit memang, tetapi Qiandra harus tetap sabar demi mendengarkan cerita lengkapnya.


"Kakek sangat yakin, bahwa cucuku adalah Edlyn Rania Austeen. Bahkan kakek masih ingat suasana saat kelahiran cucu pertama itu."


"Bagaimana jika orang lain benar, dan kakek yang mengidap skizofrenia atau masalah syaraf lainnya?" tangkas Qiandra.


"Mungkin saja. Mengingat usia kakek yang sudah lebih dari tujuh dekade, semua masalah kesehatan yang kamu sebutkan tadi adalah hal yang sangat wajar," sahut Nico tanpa rasa marah.


"Tetapi kamu harus tahu satu hal. Kami sangat menyayangimu, terlepas siapa pun dirimu. Tidak terkecuali dengan kakek. Kamu adalah anak yang baik. Hanya saja selalu merasa kesepian."


Qiandra tak menampik semua ucapan itu. Ia bisa merasakan dengan jelas, jika mama dan papa sangat sayang padanya, demikian juga dengan kakeknya.


"Kek, sebenarnya ada teman sekelasku yang bernama Rania. Dan dia selalu mengaku sebagai anak mama papa. Karena hal itu, aku jadi sangat membencinya," ujar Qiandra.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...


__ADS_2