
"Ma, Pa, jangan khawatir. Aku tahu hukuman Satu tahun enam bulan itu tidak ringan, tapi aku yakin Mama dan Papa mampu melaluinya dengan baik."
"Dan aku baik-baik saja, kok. Aku tidak sendirian."
Rania berbicara pada Chloe dan Geffie usai sidang.
"Terima kasih, Nak. Maaf kami tidak langsung mengenaliku saat itu. Padahal kita juga sudah bertemu di mall waktu itu," balas Chloe. Ia memeluk sang putri dengan sangat erat.
"Kek Jen, terima kasih sudah merawat putri kami dengan baik. Dan... Maaf... maadkan aku. Andai aku tak memberikan gelang itu padamu, andai kita tak pernah bertemu... Ah bukan, andai aku tidak pernah menggunakan sihir untuk melindungi putriku, pasti Rania Putri saat ini masih tetap hidup."
Chloe menangis penuh penyesalan.
"Jangan menangis, Chloe. Semua ibu pasti akan melakukan berbagai cara untuk melindungi buah hatinya. Berdirilah," balas Jennia Putri sambil menahan tangis.
"Aku tak pernah menyesal bertemu denganmu. Semua ini sudah takdir Yang Maha Kuasa. Kita tak mampu untuk menolaknya," lanjut Jennia Putri lagi.
Qiandra menunggu Rania sambil duduk di pojokan. Ia pura-pura tidak peduli pada orang yang berlalu lalang di depannya.
"Hei, ngapain bengong di sini sendirian?" seseorang menepuk bahu Qiandra.
"Mikko! Kamu sudah bebas dari tahanan rumah? bukannya masih ada dua hari lagi?" tanya Qiandra.
"Duh, kamu pasti nggak pernah baca berita, deh. Aku kan sekarang jadi hero. Follower ku aja naik tiga kali lipat," jawab Mikko.
"Uwwau... sombong, ya," balas Qiandra.
Mikko tersenyum kecil, melihat Qiandra tidak murung seperti tadi.
"Hei, kamu kalah populer dariku, lho. Baru-baru ini aku dapat undangan untuk tampil di Mata-mata Mbak Njawa. Keren, kan?" ucap Mikko.
"Iya deh... Keren..."
"Qian, aku tahu sebenarnya kamu lagi bersedih. Makanya aku datang ke sini. Tapi kayaknya ada seseorang yang lebih ingin bicara padamu, deh, kata Mikko kemudian.
"Siapa?"
"Tuh!" Mikko menunjuk seseorang berbaju orange. "Pergilah menemuinya," kata Mikko.
"Papa!" seru Qiandra menghampiri pria itu.
"Nak. Maafkan Papa yang..."
"Terima kasih, Pa." Qiandra memotong ucapan Malfoy.
__ADS_1
"Eh?" Malfoy menatap sang putri dengan mata terbuka lebar.
"Terima kasih," ulang Qiandra sambil tersenyum.
"Untuk apa? Bukankah Papa telah membuangmu? Membuatmu hidup dalam kesulitan?" ucap Malfoy tak mengerti.
"Ya, memang. Tapi Aku tetap berterima kasih. Aku ingat bagaimana Papa sangat menyayangiku sejak kecil. Papa masih ingat kan janji Papa dulu? mengajariku memasak lalu membuat kue ulang tahun bersama," ucap Qiandra sambil menahan tangis.
Pelupuk mata gadis itu sudah sangat berat. Tapi ia bertahan agar air mata itu tak menetes.
"Aku juga ingin bermain salju bersama papa. Aku ... ingin melakukan banyak hal bersama papa. Aku sayang papa," ucap Qiandra. Suaranya semakin lama semakin lirih.
"Papa tidak bisa janji untuk memenuhi keinginanmu itu. Tapi Papa akan berusaha," jawab Malfoy dengan deraian air mata.
"Pa, delapan tahun itu nggak lama, kok. Aku akan terus mengunjungi Papa dan juga Om Darrent. Kalian itu pria yang sangat baik. Hanya saja, Papa mungkin salah menemui wanita," kata Qiandra.
"Terima kasih, Nak. Sekali lagi Papa minta maaf."
"Aku ada sesuatu untuk Papa. Semoga Papa suka," ujar Qiandra sambil menyerahkan sesuatu berbungkus koran.
"Sweater?" Malfoy membuka bungkusan itu untuk melihat isinya.
"Iya. Ini aku beli dari hasil jerih payahku sendiri. Maaf kalau tidak terlalu bagus. Aku... Hanya gak mau Papa kedinginan di sana."
"Ini bagus sekali. Papa suka."
"Tidak!"
Beberapa orang polisi yang semula hanya berjaga, kini tampak sibuk.
"Siapa penjaganya? Kenapa bisa lalai begini?" seru polisi lainnya.
"Periksa setiap ruangan dan CCTV," perintah komandan polisi.
"Ada apa?" bisik Qiandra pada Mikko.
"Aku juga nggak tahu," jawab Mikko.
Namun yang jelas, para polisi lebih memperketat penjagaan pada setiap tahanan, tak terkecuali dengan Malfoy.
"Papa perg dulu, Nak," ujar Malfoy sebelum naik mobil tahanan untuk kembali ke sel.
Beberapa saat berlalu, dan para polisi yang masjh di pengadilan masih terlihat sibuk.
__ADS_1
"Pak, seorang wanita tadi mengatakan bahwa melihat Nyonya Fania dan seorang polwan masuk ke toilet. Namun ia tidak tahu kapan mereka keluar," lapor seorang polisi."
"Cepat periksa setiap toilet perempuan!" perintah komandan polisi lagi.
"Duh, wanita itu tak henti-hentinya membuat masalah," geram Qiandra.
Beberapa saat kemudian seorang polisi kembali melapor, ia menemukan polwan yang diikat dan perut ditikam pecahan kaca, di dalam sebuah gudang bekas dekat toilet.
Sementara Fania hampir saja bunuh diri dengan menyayat lengannya. Namun usahanya digagalkan oleh beberapa polisi yang menangkapnya.
"Aku lebih baik mati daripada harus hidup di penjara menanggung malu," ucapnya sebelum dibekuk polisi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Satu hari kemudian...
"Ah, ternyata masih tidur. Aku letakkan di sini saja, deh," bisik Qiandra sambil meletakkan dua toples biskuit yang ia buat sendiri.
Ia juga menyelipkan sebuah surat diantara buah apel yang terletak di meja.
Dengan langkah hati-hati, Qiandra pun melangkah keluar kamar.
"Qian! Kakek tahu kamu di situ," ucap Nico dengan suara lemah.
"O-oh, Kakek sudah bangun?" Dengan cekatan, Qiandra kembali mengambil suratnya sebelum kakek melihatnya.
"Kakek sudah bangun dari tadi. Kenapa kamu tidak menyapa Kakek dulu sebelum pergi?"
"Maaf. Aku pikir Kakek sedang tidur."
"Bukan itu maksud Kakek. Kamu mau meninggalkan rumah ini, kan? Kamu mau tinggal di mana setelah ini?" tanya Nico.
"Apa maksud Kakek?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kakek sudah mendengar semua berita yang terjadi belakangan ini. Tetaplah di rumah ini. Kamu juga cucu Kakek," ujar Nico.
"I-itu... Maaf, Kek. Aku..."
"Tidak akan ada yang berani melarangmu untuk tinggal di sini. Setidaknya sampai kamu cukup dewasa untuk tinggal sendiri."
(Bersambung)
Hai para pembaca... "Jungkir Balik Dunia Rania" sudah hampir tamat, nih.
__ADS_1
Kalian mau ending yang seperti apa untuk novel ini? Komen dibawah, ya...
Sampai jumpa hari rabu...