
"Lho, ayah kok di sini? Nggak jualan hari ini?" tanya Rania.
"Hari ini Ayah libur dulu jualannya. Kebun dan taman bunga di sini sudah seperti hutan belantara. Beberapa bunga anyelir juga ada yang mati," kata ayah sambil memangkas beberapa dahan bunga sepatu.
"Oh, iya. Rania hampir lupa, kalau ayah juga bekerja di sini sebagai tukang kebun. Habisnya ayah berada di sini hanya pagi hari, saat aku sekolah. Sorenya jualan," gumam Rania.
"Bunganya cantik banget ya..." Rania memandang sederet bunga warna warni yang tumbuh di tanah. Ia teringat mamanya yang juga hobi merawat berbagai jenis bunga.
"Hahahha...iya... Bunga ini sangat cantik. Tetapi sangat susah merawatnya. Padahal ini bunga kesayangan almarhumah Nyonya," kata ayah.
"Apa kamu tahu, bunga anyelir memiliki makna yang berbeda-beda setiap warna?" tanya Mikko.
"Benarkah? Ku pikir hanya bunga mawar saja yang bermakna?" ucap Rania.
Mikko menggeleng, "Setiap bunga di sini menyiratkan isi hati mama. Bunga anyelir putih berarti cinta yang murni, bunga anyelir yang pink berarti cinta abadi seorang ibu. Semua bunga itu ditanam hanya beberapa bulan sebelum mama meninggal," jelas Mikko.
"Oh... Begitu..." gumam Rania. Ia baru tahu hal ini. "Terus bunga yang warna merah dan dua warna dalam satu bunga itu?" tanya Rania.
"Bunga anyelir merah menandakan kasih sayang yang sangat mendalam. Dengan kata lain, aku tidak akan pernah melupakanmu. Lalu anyelir dua warna menyatakan...." Mikko menghentikan kalimatnya sejenak, "Aku tidak dapat bersamamu," lanjut Mikko lirih.
"Ah, ternyata maknanya benar-benar sangat mendalam. Hati Mikko pasti sedih setiap melihat bunga ini. Ibunya seperti memberi pesan dalam setiap bunga sebelum ia meninggal," pikir Rania dalam hati.
"Maaf Mikko. Aku bertanya hal yang membuatmu sedih," ucap Rania.
"Tidak apa-apa. Aku justru merasa mama selalu disampingku setiap melihat bunga-bunga ini," kata Mikko.
"Kalau bunga melati, dandelion dan marigold yang ditanam mama, itu artinya apa ya?" pikir Rania.
"Oh iya, Rania... Namamu terpajang di mading tuh sejak kemarin..." kata Mikko.
"Hah, yang benar? Kenapa ya?" seru Rania. Rasanya ia tidak ada remedial atau pun melanggar peraturan? Apa jangan-jangan karena berjualan tempo hari?
"Kamu belum memilih satu ekskul lagi, kan? Padahal semua teman-temanmu sudah memilih dua ekskul loh. Pantas saja waktu itu kamu tanya-tanya padaku."
"Duh, mampus. Kenapa di tempel-tempel sih? Ketahuan kan jadinya," batin Rania malu.
"Sebenarnya aku... Bingung mau ambil yang mana... Karena pilihanku kemarin banyak banget," sanggah Rania.
"Halah... Gak usah banyak alasan. Kalau emang belum ada ya ngaku aja," sahut Mikko sambil mencibir. "Apa kamu mau gabung jadi anggota PMR? Eh, tapi jangan deh, ntar malah kamu yang pingsan karena lari-lari sana sini urusin orang sakit saat upacara. Nggak deh..." lanjut Mikko.
"Huhh... Maunya apa sih? Membantu atau mengejekku? Padahal aku sempat bersimpati kepadanya tadi," kesal Rania.
__ADS_1
"Kenapa kamu nggak ambil seni teater aja seperti dulu?" usul Mikko.
"Aku ingin ganti suasana," kata Rania bohong. "Memangnya aku yang mereka kenal dulu ambil teater, ya?" gumam Rania dalam hati.
"Atau kamu mau masuk pramuka? Kita bisa camping bareng, kan?" kata Satria sambil tersenyum jahil.
"Hei, apa maksudmu?" Wajah Rania mendadak merah.
"Kamu tuh yang pikiranya ke mana-mana. Camping bareng kan artinya seru-seruan bareng teman-teman yang lain juga," jelas Mikko.
"Aku juga tahu. Siapa yang mikir ke mana-mana?" bantah Rania. Padahal emang benar pikirannya traveling sejenak.
"Ehem." Ayah yang sedang mengumpulkan dahan pohon tiba-tiba berdehem. Ah, Rania lupa jika di dekat mereka ada ayah.
"Ssst... Rania... Ada yang mau aku tanya padamu." Wajah Mikko tiba-tiba mendekat ke Rania.
"A-apa?" sahut Rania gugup.
"Apa kamu benar-benar Rania putri?" bisik Mikko.
"Apa maksud pertanyaannya itu? Apa dia sudah tahu identitasku yang sebenarnya?" pikir Rania.
"Terlalu banyak keanehan yang terjadi denganmu belakangan ini. Kamu yang tidak pandai mengerjakan pekerjaan rumah, tidak mengenali papa, sampai dengan seni teater," kata Mikko.
"Apa yang salah dengan teater?" tanya Rania tidak mengerti. Jika sedang berlibur di Eropa, papanya sering mengajak Rania untuk menonton pertunjukan teater.
"Kamu kan takut pada boneka, kostum-kostum aneh, dan make up yang berlebihan? Apa kamu lupa, kalau kamu pernah menangis sesenggukan hanya karena iklan wayang golek* di televisi? Kamu juga tak ingat janji masa kecil kita," ungkap Mikko.
*Wayang golek: salah satu dari ragam kesenian wayang yang terbuat dari bahan kayu, yang sangat populer di Jawa Barat, terutama Cirebon hingga Banten.
"Mikko bukan mengenaliku. Tetapi lebih tepatnya, seperti ada Rania lain yang ia kenal," batin Rania.
"Lalu apa penjelasanmu? Apa kamu memang mengalami gegar otak ringan hanya karena terjatuh ke dalam parit?" tanya Mikko.
"Mi-Mikko. Aku tak paham dengan pertanyaanmu. Tetapi apa benar sikapku aneh sejak aku pergi ke danau? Rasanya kepalaku tidak ada masalah apa-apa," tanya Rania.
"Ya, bisa dibilang begitu," sahut Mikko.
"Kalau begitu... Apa kamu mau menemaniku ke danau sepulang sekolah besok?" bisik Rania. Ia takut kedengaran oleh ayahnya.
"Hee!!! Kamu mengajakku berkencan?!" sahut Mikko.
__ADS_1
"Bukan seperti itu!" bantah Rania. Kenapa cowok ini ngomong kuat-kuat, sih?
"Ahhhemmm!!!" kali ini ayah berdehem lebih keras. "Ayah sudah tua... Ayah sudah tak bisa mendengar sengan jelas lagi," kata pria yang sedang mengeruk tanah itu.
Mikko dan Rania saling berpandangan, kemudian tertawa. Jelas sekali jika ayahnya mendengar ucapan Mikko barusan.
"Aku hanya mengajakmu untuk menelusuri kembali tempat yang membuat diriku berubah. Barangkali di sana ada jawabannya," kata Rania.
"Yah.. Meskipun aku tak begitu paham maksudmu, tapi aku tidak keberatan menemanimu ke sana," kata Mikko.
"Aih... Terima kasih. Tetapi, tolong rahasiakan ini dari ayah dan ibu, ya," kata Rania.
Mikko mengangkat kedua jempolnya, lalu mengatakan, " Lima puluh ribu untuk setiap rahasia."
"Uh...Cowok matre," batin Rania.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Ruang fitness, kediaman keluarga Austeen.
"Apa kamu sudah mendapatkan informasinya, Wilson?" tanya Chloe.
"Sudah, Nyonya," kata Wilson sambil menyerahkan beberapa lembar foto dan dokumen.
"Mereka hanya anak dari keluarga biasa. Orang tuanya bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pedagang makanan," jelas.Wilson singkat.
Deg! "Ini, kan?" gumam Chloe.
Wanita paruh baya yang terdapat di foto itu sangat mirip dengan seseorang yang dikenalnya puluhan tahun silam.
"Jadi kedua gadis remaja kemarin adalah putrinya?" gumam Chloe.
"Wilson, ada informasi apa lagi yang kamu ketahui selain yang terdapat di dalam dokumen ini?" tanya Chloe.
"Sepertinya putri Nyonya juga menyelidiki keluarga mereka. Kemarin anak buah Felix sempat berada di sekitar kediaman keluarga mereka. Dan jejak rekam Felix juga mencari tahu hubungan mereka dengan keluarga ini," jawab Wilson.
"Qiandra juga menyelidiki ini?" ujar Chloe gelisah. "Wilson, cegah Felix atau siapa pun memberitahu segala informasi tentang keluarga ini pada Qiandra. Katakan ini larangan tegas dariku," ucap Chloe kemudian.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi...
__ADS_1