
Malam hari setelah pulang dari alun-alun kota.
"Hmm... Ayah... Ibu... Ada yang mau aku bicarakan..."
Rania menahan napasnya. Rasanya jantungnya hampir saja berhenti karena saking gugupnya. Kedua tangannya yang mengepal, bersembunyi di balik baju piyamanya yang agak kedodoran.
"Ada apa, Rania? Nggak usah gugup gitu. Apa pun itu, akan ayah dan ibu dengarkan dengan baik," ucap Ayah menenangkan hati Rania.
Rania menatap abangnya meminta persetujuan. Arka menganggukkan kepala untuk menyemangatinya.
"Aku... Aku sebenarnya bu-bukan Ra-rania P-putri," ucap Rania terbata-bata. Matanya hanya berani menatap lantai semen yang sudah banyak retak.
"A-aku se-"
"Akhirnya... Kau mengatakannya juga, Nak," ujar ibu.
"Eh, apa? Ayah dan ibu sudah tahu?"
Reaksi ayah dan ibunya sangat di luar dugaan. Rania menatap Bang Arka dengan tatapan tajam. Tetapi Arka menggeleng dengan cepat, tanda bukan ia yang memberi tahu pada kedua orang tuanya.
"Orang tua mana yang tidak mengenali anaknya. Tetapi bukan berarti kami tidak menyayangimu sebagai anak," ucap ayah dan ibu.
"Tapi sejak kapan? Ayah dan ibu nggak marah?" Air mata Rania sudah menggantung di pelupuk mata.
Ibu menggelengkan kepalanya, "untuk apa ayah dan ibu marah, kamu kan nggak salah?"
"Memang belum lama ini. Dulu kami hanya berpikir, kalau kamu banyak berubah karena ada cidera otak. Tetapi keseharianmu sangat berbeda dengan Rania yang dulu kami kenal," kata ayah.
"Benar. Sifat, kebiasaan, hingga makanan favorit kalian sangat jauh berbeda. Tapi persamaannya adalah, kalian sama-sama anak yang baik dan perhatian dengan orang tua," lanjut ibu.
"Begitu, ya? Jadi... Apa ibu tahu siapa aku sebenarnya, dan ke mana Rania Putri sekarang?" tanya Rania penasaran.
"Awalnya ayah dan ibu nggak tahu sama sekali tentang latar belakangmu," kata ibu.
"Ah, jadi mereka bisa membedakan kami berdua karena intuisi mereka sebagai orang tua, bukan berdasaekan ingatan," pikir Rania.
"Tetapi, melihatmu sangat intens mencari hubungan dengan Chloe dan Geffie, kami pun berpikir, apa sebenarnya kamu anak mereka?" ujar ayah. Ia lalu membuka lemari mencari sesuatu.
"Kami masih menyimpan foto mereka bersama anaknya yang berusia tujuh tahun di majalah ini. Lihat, sangat mirip dengan Rania Putri, kan? Hanya wadna mata kalian saja yang berbeda," tunjuk ayah.
"Ah, iya. Benar banget," sela Arka.
"Itu juga alasannya, ayah dan ibu tidak melarangmu bekerja di rumah keluarga Austeen, pasti ada suatu hal yang ingin kamu pastikan," lanjut ayah lagi.
"Tapi yang masih membuat ayah dan ibu bingung saat ini, kenapa kamu tiba-tiba ada di rumah ini, kenapa orang lain berperan sebagai putri Chloe? Dan jejak Rania Putri saat ini masih sangat samar," ucap Ibu dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Rania merangkul ibu dengan erat. Air matanya pun tak tertahankan lagi.
"Ah, maafkan Ibu, sayang. Bukan berarti Ibu tidak mennggapmu anak. Ibu sangat menyayangimu, seperti kamu menyayangi kami juga," bisik ibu.
Livy yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan, matanya tampak berkaca-kaca. Apakah ia baru mengetahui faktanya hari ini, atau ia sangat merindukan sosok kakak kandungnya?
"Ayah, Ibu, aku memiliki beberapa petunjuk. Mungkin ini bisa menjadi senjata awal kita untuk membuka kasus ini . Om Ganendra siap membantu kita," ucap Rania.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Crip... Crip... Crip...
Matahari mulai terbit di ufuk barat. Burung-burung berlompatan di pepohonan mencari buah-buah segar untuk sarapan.
"Oh, tidak! Ini sudah pagi. Aku tertidur semalaman," seru Qiandra panik.
Matanya menyapu seluruh kamar. Sosok yang selalu menghantuinya itu sudah tidak ada lagi. Akan tetapi, beberapa vas bunga terlihat pecah di lantai, pasti itu semua terjadi saat ia sedang down tadi malam.
Tok... Tok... Tok...
"Permisi, Nona. Ini Wilson dan Felix."
"Ya, sebentar."
Qiandra bergegas merapikan pakaiannya yang agak terbuka dan berantakan.
"Ada apa?" tanya Qiandra.
"Pagi ini adalah sidang pertama kasus Tuan dan Nyonya. Apa Nona akan hadir?"
"Iya. Aku datang. Sebentar lagi aku akan bersiap-siap," jawab Qiandra.
"Apa Rania selaku asisten Nona tidak perlu diberi tahu?" tanya Wilson.
"Tidak. Aku akan izin langsung kepada wali kelas," jawab Qiandra.
Ia sengaja tidak memberi tahu Rania, agar tidak mengacaukan persidangan. Qiandra ingin menuntaskan masalah ini dengan segera.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Pagi, Rania."
"Pagi ju-... Eh, Anjani udah masuk? Gimana Olimpiadenya? Menang?"
Anjani menggelengkan kepala sambil menanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Aku kalah di lima belas besar. Tuh, yang bakal mewakili Indonesia di Rumania nanti." Anjani menunjuk seorang siswa bertubuh gempal yang tampak kesulitan menarik plastik ukuran besar.
"Hai, Valen," sapa Anjani.
"Hai, juga. Nih oleh-oleh untuk kalian. Ambil masing-masing, ya. Aku tepar banget. Lusa harus berangkat karantina lagi sebelum ke Rumania," ucap Valen.
"Thanks, Valen."
"Eh, btw kamu katanya jadi asistennya Qiandra, ya? Tapi kok nggak ikut persidangan? Apa emang orang luar gak boleh ikut, ya?" kata Anjani.
"Sidang apa?" tanya Rania bingung.
"Sidang kasus Tuan dan Nyonya Austeen. Kan sidang pertama digelar hari ini," kata Anjani lagi.
"Iya, tuh. Aku juga dengar tadi para guru ngobrolin itu," kata Valen.
"Eh, masa? Kok Qiandra gak ada bilang, ya?" gumam Rania dengan nada kecewa.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Persidangan kasus produksi dan perdagangan narkoba yang melibatkan CEO Aslee group berlangsung cukup lancar sekitar dua jam.
Semua saksi menyatakan fakta yang semakin meringankan hukuman Chloe dan juga Geffie.
Meski demikian, di tengah persidangan, Qiandra sempat terkejut dengan kemunculan tersangka baru yang sangat dikenalnya. Demikian juga dengan kedua orang tuanya.
Darrent, pria yang merupakan tangan kanan Geffie itu muncul dengan wajah sangat tenang dan mengakui semua kesalahannya.
Fania yang takut suaminya menjadi terancam, beberapa kali membantah pernyataan yang dipaparkan Darrent. Tapi Darrent tidak gentar. Ia lelah menjadi orang jahat.
"Apakah ada yang ingin di sampaikan lagi, dari pihak terdakwa, atau tergugat? Jika tidak, sidang akan dilanjutkan empat hari dari sekarang."
"Mohon izin yang mulia, saya ingin mengajukan satu kejahatan lagi yang dilakukan oleh Saudari Fania." Qiandra memberikan interupsi sebelum Hakim Ketua memukul palu untuk menutup sidang.
"Ya, silakan."
"Saya ingin kasus tabrak lari di jalan lingkar danau tahun lalu kembali diangkat," ucap Qiandra lantang.
"Tetapi hal itu tidak berkaitan dengan ini. Dan tidak ada laporan resmi dari keluarga korban untuk membuka kasus itu kembali," tolak Hakim.
"Justru sangat berkaitan, Tuan Hakim. Karena ini merupakan pembunuhan berencana untuk menyingkirkan putri keluarga Austeen. Ini buktinya, black box mobil pribadi Fania dan sang suami."
Wah, sepertinya Rania kembali tertinggal satu langkah dibandingkan Qiandra.
(Bersambung)
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.