Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 36 - Kejadian Semalam


__ADS_3

"Bagaimana keadaanmu, Nak?" tanya Geffie.


"Err..." Qiandra menatap papanya dengan pandangan bingung dan juga canggung. Seperti orang yang baru pertama kali bertemu.


"Kenapa? Apa kepalamu masih sakit? Atau ada luka lainnya?" tanya Geffie lagi melalui panggilan video. Chloe yang duduk disampingnya, memandang buah hatinya dengan khawatir.


"Lebih dari itu," ucap Qiandra.


"Ma-maksudnya? Dirawat di rumah sakit, ya. Biar nanti Wilson dan Sania yang menemanimu di sana. Papa dan Mama akan segera mencari tiket pulang," ujat Geffie.


"Hmm.. Gak perlu. Papa dan Mama tak perlu pulang. Maksudku.. Aku pun tak perlu dirawat di rumah sakit," ucap Qiandra. Ia merasa aneh mendapat perhatian seperti ini. Rasanya dulu, hampir setiap hari ia merasa kesepian.


"Kenapa begitu? Tetapi kamu merasa sakit parah. Kalau hanya dirawat oleh dokter keluarga, Papa dan Mama tidak akan tenang. Kamu perlu dicek dengan peralatan medis lebih lengkap di rumah sakit," jelas Geffie.


"Maksudku bukan sakit seperti itu. Tapi... Hmm aku nggak tahu bakal ada yang percaya atau tidak. Tetapi aku merasa kejadian semalam sangat aneh dan tidak masuk akal. Aku takut," ucap Qiandra lirih.


Geffie dan Chloe bertukar pandang.


"Akan aku tunjukkan sesuatu," ucap Qiandra sambil turun dari tempat tidur.


"Kamu mau ke mana? Jangan banyak gerak dulu," seru Chloe.


"Aku sudah tak apa, Ma. Ini lebih penting," ucap gadis berambut pirang itu. Ia tak menghiraukan larangan orang di sekitarnya.


Qiandra menuruni tangga sambil membawa HPnya, beberapa orang asisten mengikutinya. Qiandra berjalan berputar menuju bawah tangga, melewati beberapa ruang dan lorong, hingga ke deretan kamar para asisten.


Sesampainya di ujung lorong, langkahnya berhenti. Ia berbalik ke belakang untuk memastikan, lalu kembali lagi ke tempat semula.


"Kenapa tidak ada? Aku yakin semalam ada di sini," ucap Qiandra.


"Apa yang Nona cari?" tanya Wilson.


"Semalam aku yakin, di sini ada sebuah pintu dengan ukiran aneh," ucap Qiandra sambil menunjuk ke dinding di samping lukisan kuno.


"Ruangan? Tidak ada ruangan di sana, Nak. Itu jalan buntu," kata Geffie.


"Tidak, Pa. Aku yakin sekali. Semalam aku berada di sini saat mencari kamar Sania. Aku membuka pintunya, lalu..." Qiandra tidak meneruskan kalimatnya. Bulu kuduknya kembali merinding mengingat kejadian semalam.


"Ada apa? Jelaskan pada Papa semuanya," ucap Geffie.


"Semalam saat aku pulang, rumah ini sepi. Seluruh pelayan tidak terlihat. Hanya ada Gennie. Dan dia menunjukkan kamar Sania," cerita Qiandra.


"Gennie?" seru semua orang di sana.


"Iya. Aku kesal sekali tadi malam. Kalian tak ada satu pun terlihat," kata Qiandra.


"Mana mungkin. Kami bekerja seperti biasa. Bahkan terjaga hingga pukul sepuluh malam, sebelum Sania melaporkan Nona menghilang," bantah Felix.

__ADS_1


"Lagian, tidak mungkin kamu bertemu Gennie," ucap yang lainnya.


"Kenapa tidak? Hanya dia yang kulihat tadi malam, dan ia pula yang menyiapkan perlengkapan mandiku," tegas putri Geffie tersebut.


"Sayang. Kami paham kamu sangat menyukai Gennie. Tetapi kamu harus ikhlas melepaskan dia agar tenang di sana," jelas Chloe.


"Maksudnya?" tanya Qiandra.


"Masa kamu lupa? Ia telah pergi untuk selama-lamanya sebulan yang lalu karena kecelakaan. Padahal kamu mengantarkan jenazahnya hingga ke tempat terakhir," kata Geffie.


Qiandra tersentak kaget. Kenapa semuanya menjadi semakin rumit begini? Tidak hanya Qiandra, yang lain justru lebih merasa aneh dengan sikap Nona muda tersebut.


"Tapi, Ma. Aku yakin bertemu dengan Gennie. Ia mengatakan padaku bahwa kamar Sania berada di ujung lorong belakang," ucap Qiandra tak mau kalah.


"Dan aku yakin semalam ada kamar di sebelah lukisan ini. Aku mengalami kejadian mengerikan di sana," lanjutnya.


"Kamu tidak tahu kamar Sania? Padahal biasanya kamu sering main di kamarnya hingga tertidur. Dan kejadian apa maksud Qian?" bantah Geffie.


"Mana aku hapal rumah sebesar ini dengan jumlah ruangan yang tidak terhitung?" ucap Qiandra.


Semua yang berada di situ saling berpandangan. Nona mereka benar-benar aneh. Pantas saja ia terlihat bolak balik di sekitar lorong itu ketika terpantau CCTV.


"Aku memasuki ruangan itu dan bertemu Rania. Ia selalu meminta kita meminta maaf padanya, dan wajahnya berubah menjadi sangat mengerikan. Persis seperti mayat hidup," cerita Qiandra.


"Rania siapa? Lagian apa kamu yakin benar-benar mengalaminya? Bukan mimpi?" tanya Geffie.


"Qian! Jaga ucapanmu. Mama kamu bukan orang yang seperti itu," marah Geffie.


"Kalau begitu jelaskan, siapa dia? Kenapa dia bisa lebih memahami rumah dan keluarga ini dari pada aku? Kenapa ia mengetahui semua kegiatan pribadi aku?" pekik Qiandra. Hatinya sudah tak tahan lagi menyimpan ini semua.


"Dan aku yakin semalam itu bukan mimpi. Justru yang lebih aneh lagi, mengapa aku bisa ditemukan dalam ruang tertutup?" ucapnya.


"Rania siapa? Mama tidak mengenalnya," ucap Chloe.


"Rania Putri. Teman sekelasku. Bahkan Mama tahu jika aku pernah membullynya," kata Qiandra.


"Rania Putri? Bully?" Chloe tampak berpikir.


"Qian, Rania Putri itu adalah putri teman mama. Ia yang banyak membantu mama dulu," jelas Geffie. Ia baru paham siapa yang dimaksud putrinya.


"Ah, Rania yang itu. Itu anak teman Mama. Kamu satu sekolah dengannya?," ucap Chloe kemudian. Ia baru teringat siapa yang dimaksud. Hatinya sedikit senang namun juga bingung. Mengapa Qiandra bilang gadis itu menerornya?


"Mama memang mendengar laporan bahwa kamu membully teman di sekolah. Tetapi mama tak menyangka jika Rania lah orangnya. Mama bahkan belum sempat bertemu langung dengannya," jelas Chloe.


"Tapi..."


"Nak, memang belum ada yang bisa menjelaskan, mengapa kamu bisa berada di sana. Yang penting sekarang adalah kesehatan kamu," ucap Geffie.

__ADS_1


"Terus gimana caranya Papa dan Mama tahu aku berada di ruang bawah tanah itu?" selidik Qiandra.


"Kita bicarakan lain waktu ya, sayang. Kamu sudah cukup lama turun dari tempat tidur. Istirahatlah lagi sampai kunjungan dokter berikutnya," ucap Geffie.


Qian masih mendesak mereka, namun Geffie dan Chloe kompak mengalihkan pembicaraan.


"Ya sudahlah, nanti aku cari tahu sendiri saja," batin Qiandra.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Nona, diminum dulu obatnya," pinta Sania.


"Sania. Nanti antarkan aku berkeliling rumah, ya. Aku harus memastikan sesuatu," ucap Qiandra sambil menerima obat yang diberikan asistennya.


"Tapi Nona kan harus istirahat," tolak Sania.


"Aku sudah gak apa-apa, Sania. Aku tadi hanya shock dan kekurangan oksigen. Memangnya kamu gak penasaran sama apa yang terjadi? Atau semua orang di rumah ini mengetahuinya kecuali aku?" kata Qiandra setelah menenggak beberapa pil.


"Penasaran, sih. Tapi aku lebih takut jika tuan dan nyonya marah," ucap Sania.


"Mereka tidak perlu tahu. Aku juga ingin melihat CCTV," desak Qiandra.


"Hmm... Baiklah, nanti kita akan berkeliling jika Nona telah istirahat," kata Sania.


"Oh iya, satu lagi," ucap Qiandra.


"Apa itu?" tanya Sania, kali ini ia menyodorkan makan siang yang dibawakan oleh Musliha.


"I-ini rahasia, ya," bisik Qiandra.


"Duh, apaan sih Nona. Saya jadi penasaran." Sania ikut-ikutan berbisik pula.


Qiandra membisikkan sesuatu pada asistennya, "Apa? Kalau itu saya tidak bisa melakukannya Nona. Saya tidak berani," seru Sania.


"Aku justru lebih takut lagi jika kamu tidak melakukannya. Apa kamu tahu yang aku lihat tadi malam?" desak Qiandra.


"Uh... itu... bagaimana ya?" ucap Sania ragu.


"Ayolah... Memang apa sih masalahnya? Kamu asistenku, harus mengikuti perintahku," paksa gadis itu lagi.


"Jangan bawa-bawa nama asisten, dong. Kan saya jadi berat menolaknya. Nanti saya pikir-pikir dulu deh," ucap Sania. Qiandra tersenyum mendengarnya.


Emang apa sih yang dipinta Qiandra?


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1


__ADS_2