Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 81- Berita Besar


__ADS_3

Rania bergeser ke kanan dan hendak maju ke depan. Tapi kemudian dia bergeser lagi ke kiri.


Wajahnya yang cantik terlihat muram dan bertekuk. Giginya bergeretak karena terlalu rapat. Alisnya bertaut dengan sebelah ujungnya sedikit naik.


"Ckk... Kamu ngapain, sih? Menghalangi jalanku, tahu," ujar Rania kesal.


Cowok bertubuh tinggi dan berkulit putih itu sengaja menghalangi Rania berjalan ke depan. Ke mana pun gadis itu bergeser, ia akan bergerak ke tempat yang sama.


"Ikut aku sebentar. Aku mau bicara sesuatu padamu," ucap Mikko setengah berbisik.


"Ngomong apa? Mau menuduhku lagi?"


Rania bersiap membalikkan badannya. Ia mengurungkan niatnya menuju perpustakaan dan akan kembali ke kelas.


"Aduh... Pagi-pagi udah marah-marah aja, Neng. Makanya dengerin aku dulu. Kamu tuh menghindar mulu kalau mau diajak ngobrol," kata Mikko.


Lelaki itu berpindah tempat dan memasang badan. Menghalangi jalan Rania menuju ke kelas.


Rania yang sudah terlanjur kesal berusaha menerobos jalan dan meninggalkan cowok itu.


"Apa kamu tahu, kalau rumah kamu memiliki ruang bawah tanah yang lebih mirip labirin raksasa?"


Trik Mikko berhasil. Rania menghentikan langkahnya.


"Kamu bercanda? Atau sengaja memancingku cuma untuk bilang, ah kamu rupanya nggak mengenali rumahmu sendiri. Begitu kan?" Rania membelalakkan matanya untuk menakuti remaja cowok itu.


"Suuzon mulu, sih. Tapi nggak salah juga sih. Sepertinya kamu emang gak terlalu mengenali rumahmu sendiri. Yah, itu pun kalau benar itu rumahmu," kata Mikko.


Rania pun terpancing mendengar ucapan Mikko, "Maumu apa, sih?" tanya Rania dengan suara tinggi.


Beberapa siswa yang sedang melintas, melihat ke arah mereka dengan tatapan menginterogasi.


"Pindah dulu dari sini. Aku nggak ingin ada yang mendengarnya selain kamu," kata Mikko.


Kalau dulu Rania mendengar kata-kata itu, hatinya pasti berdebar-debar. Tetapi sekarang, ia malah semakin kesal.


"Ckk.. Yaudah deh. Sekali ini aja, aku ikuti kata-katamu," kata Rania.


Kedua remaja itu lalu berpindah tempat ke belakang laboratorium fisika yang dipenuhi oleh bunga-bunga liar aneka warna.


Tempat itu adalah tempat yang paling jarang dikunjungi oleh siapa pun. Karena pernah ada rumor seorang siswa pingsan setelah melihat sosok penampakan yang amat mengerikan.


"Kita ngapain sih ke sini?" kata Rania. Ia menepuk-nepuk lengannya agar serangga yang bernama nyamuk itu tak menempel di kulitnya.


"Coba kamu lihat ini." Mikko memberikan HPnya pada Rania.


"I-ini di mana? Rumah kremasi? Seram, ih."


"Ini tepat berada di bawah rumah keluarga Austeen. Apa kamu tahu, di sinilah Qiandra menghilang dan disekap waktu itu," kata Mikko.

__ADS_1


Ternyata, diam-diam Mikko mengambil foto ruangan tersebut. Ia sengaja menyimpannya, mana tahu sewaktu-waktu berguna.


Meski foto itu tidak terlalu jelas karena gelap, tapi samar-samar terlihat gambar benda-benda aneh yang tersimpan di ruangan tersebut.


"Ini di rumah keluarga Austeen? Ngaco kamu." Rania tidak percaya.


Sejak kecil ia tinggal di sana, sama sekali tidak pernah melihat ruangan seseram itu di rumahnya.


"Aku cuma ceritakan hal ini sama kamu. Karena secara nggak langsung, kamu terkait dengan masalah ini," lanjut Mikko lagi.


"Maksudmu mama dan papa, em Nyonya Chloe dan suaminya menyimpan beginian di rumah? Untuk apa? Aku nggak percaya. Bisa aja itu cuma editan," tegas Rania.


"Lalu foto ini, apa kamu juga nggak percaya?"


Rania mengerutkan dahinya hingga berlipat-lipat. Beberapa saat kemudian matanya melotot dan mulutnya terbuka lebar.


Bola mata Rania beralih dari layar ponsel lalu ke wajah cowok di depannya berkali-kali. Hanya untuk memastikan, apakah cowok itu menipunya atau tidak.


"Kamu dapat foto ini dari mana?" tanyanya tanpa bisa menyembunyikan rasa terkejutnya.


Ini foto yang sangat langka. Bahkan Rania saja tak memilikinya. Dari mana Mikko mendapatkannya?


"Gadis dalam foto ini mirip sekali denganmu, kan? Apa kamu mengenalnya?" Mikko balik bertanya.


"Untuk apa aku memberi tahumu?" celetuk Rania.


"Ya sudah. Kalau begitu aku juga nggak akan bilang, dari mana aku menemukan foto ini," balas Mikko.


"Nenekmu?" tebak Mikko.


"Binggo."


"Siapa namanya?" ucap Mikko.


"Freya Radmila. Kenapa kau ingin tahu?" kata Rania.


"Reaksinya berbeda dengan Qiandra. Dengan pertanyaan yang sama, kamu mampu menjawabnya, tapi tidak dengan Qiandra," kata Mikko.


Remaja cowok itu lalu menunjukkan foto berikutnya, yakni tulisan di balik foto tersebut.


"Freya Radmila dan Esthera? 1949?" gumam Rania. "Esthera...Ester... Ah, pantas aja wajahnya tidak asing," katanya lagi.


"Kenapa? Kamu mengenal keduanya, kan?" tanya Mikko penasaran.


"Apa yang dijawab Qiandra saat kamu menanyakannya?" Rania justru lebih penasaran pada hal lain.


"Dia hanya menjawab Freya, tanpa tahu nama lengkapnya," kata Mikko.


"Sekarang kamu percaya, kalau aku nggak pernah berbohong?" desak Rania.

__ADS_1


"Ah... Itu... Aku juga masih sangat pusing. Bagaimana ini bisa terjadi. Rania yang ku kenal ternyata bukanlah Rania yang aku kenal dulu," kata Mikko.


Kringgg!!!


Bel masuk memotong pembicaraan mereka.


"Nanti kita lanjutkan lagi," ucap Mikko sebelum kembali ke kelas.


"Cih, dia nggak jadi bilang, dari mana mendapatkan foto itu."


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Hei, apa kalian udah dengar berita pagi ini?" para siswa saling berbisik.


"Tentu aja. Semua media sosial memberitakannya. Tapi apa itu benar?" ucap siswa lainnya.


"Nggak tahu juga, sih. Tapi kalau emang benar, Qiandra kasian banget," sahut siswa lain.


"Waktu di kantin tadi aku juga melihat beritanya di TV. Kayaknya itu beneran, deh. Qiandra pasti nggak tahu sampai ia berangkat sekolah tadi," sahut salah seorang lainnya.


"Ada apaan, sih?" tanya Rania pada Melda yang duduk tepat di belakangnya.


Berhubung Anjani sedang mengikuti olimpiade, ia duduk sendirian beberapa hari ini.


"Kamu belum tahu? Orang tua Qiandra tersangkut kasus," bisik Melda.


"Apa? Kasus apa?" ucap Rania.


"Dengar-dengar sih kasus narkoba. Mereka ditangkap di rumahnya pagi ini," kata Melda.


"Narkoba? Ini lelucon terbesar yang aku dengar seumur hidupku. Mama dan papa nggak mungkin seperti itu," kata Rania dalam hati.


"Ini aneh, kan? Rasanya nggak mungkin, deh. Keluarga mereka itu terkenal dermawan dan rendah hati. Kenapa mereka malah tersandung kasus narkoba," ucap Melda.


"Sekarang Qiandra di mana?" tanya beberapa teman lainnya.


"Ia di toilet sejak berita ini keluar. Dia pasti malu banget. Apalagi beberapa media mengatakan, bahwa Chloe dan Geffie nggak hanya memakai, tetapi juga pengedar," jelas Melda.


Air mata Rania meleleh. Ia sangat tidak percaya kalau mama dan papanya adalah orang yang seperti itu.


"Hei, sabarlah. Ini pasti ada kesalahpahaman," bisik Alvi pada Rania. Ia mengerti kegelisahan sahabatnya itu.


"Apa mereka para musuh dalam selimut sudah mulai melakukan sabotase?" gumam Rania pada Alvi.


"Apa maksudmu?" tanya Alvi tak mengerti.


"Kau ingat apa yang dikatakan Wilda pasa saat meneleponku waktu itu? Ini pasti ulah orang-orang ya g hendak menggulingkan eksistensi orang tuaku," bisik Rania lagi.


"Hei, kalian ngomongin apa, sih? Siapa orang tua siapa?" tanya Melda.

__ADS_1


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.


__ADS_2