Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 26 - Waktu yang Tidak Selaras


__ADS_3

Chloe memperhatikan rumah papan yang sebagian dindingnya sudah lapuk itu dengan seksama. Atapnya yang rapuh, seakan bakal terangkat hanya dengan angin sepoi-sepoi. Seluruh pintu dan jendelanya terkunci rapat. Tak ada tanda-tanda kehidupan di dalamnya.


"Wilson, benarkah ini kediaman mereka?" tanya Chloe.


"Benar Nyonya. Biasanya jam segini mereka sudah pulang sekolah dan bekerja," jawab Wilson gelisah.


Biasanya pukul lima sore, mereka sudah pulang ke rumah. Namun hari ini, sudah hampir empat pulih menit menunggu, yang ditunggu belum juga muncul.


Sebenarnya bukanlah hal yang sulit bagi para anak buah keluarga Chloe untuk merekam aktivitas mereka dan mendatangi tempat kerjanya langsung, sebagai bahan laporan pada Chloe. Tetapi tentu saja hal itu melanggar privasi dan aturan yang berlaku.


"Nyonya mau ke mana?" tanya Wilson ketika Chloe turun dari mobil.


"Bertanya dengan para tetangga," jawab Chloe datar. Ia tidak bisa berdiam diri saja menunggu.


"Selamat sore, Bu. Bolehkah saya bertanya?" ucap Chloe pada salah seorang tetangga yang sedang menyapu halaman.


Wanita muda yang disapa Chloe itu ternganga melihat orang di hadapannya, "Cantik sekali. Apakah dia artis?" pikir wanita itu.


"Permisi..." ucap Chloe sekali lagi.


"Oh, iya. Maaf. Silakan, mau bertanya apa?" sahut wanita dengan rambut dicempol itu kemudian.


"Apakah benar ini rumah Jennia Putri?" tanya Chloe tanpa basa basi.


"Jenni? Iya, benar. A-ada apa, ya?" Raut wajah wanita itu tiba-tiba berubah.


Apakah keluarga Pak Gelfara sedang terlilit hutang? Belakangan ini, banyak sekali orang yang datang mencari mereka ke rumah. Beberapa hari yang lalu bahkan dua orang laki-laki bertubuh besar seperti preman selalu memantau rumah tetangganya tersebut.


Sekilas, wanita itu juga melihat pria bertubuh besar di dalam mobil.


"Kalau boleh tahu, dia kerja di mana? Biasanya dia pulang jam berapa?" tanya Chloe lagi.


"Maaf, Ibu siapa, ya?" ucap wanita itu.


"Saya teman lama Ibu Jenni," jawab Chloe singkat.


"Teman? Kok semakin mencurigakan, ya? Aku jangan sampai salah memberikan informasi," gumam wanita yang tadi sedang menyapu halaman.


Chloe memandang wanita di hadapannya sambil tersenyum. Ia sabar menanti jawaban. Tak sadar bahwa orang yang ia tanya curiga padanya.


"Ibu Jenni dan anaknya kerja sebagai ART di sebuah rumah gedongan. Lalu suaminya tukang kebun di rumah gedongan tersebut," ucap wanita itu pada akhirnya.


"Terus?" tanya Chloe tak puas.


"Malam harinya berdagang makanan. Biasanya jam segini mereka sudah pulang," jawab wanita itu. "Apa jangan-jangan mereka sengaja tidak pulang karena tak mau bertemu dengan orang-orang ini?" pikirnya dalam hati.


"Di mana mereka berjualan," tanya Chloe.

__ADS_1


"I-itu... di Simpang Tugu," jawab wanita itu semakin gugup. "Ya Tuhan. Semoga sikapku ini tidak salah," doanya dalam hati.


"Oh, iya. Apakah mereka punya anak perempuan?" Chloe terus memberondongnya dengan pertanyaan.


"Apa lagi ini? Mereka mau menculik dan menjual anaknya jika tak melunasi hutang? Pokoknya tak akan kubiarkan mereka memperoleh informasi lebih," tekadnya.


"Bagaimana?" desak Chloe menanti jawaban.


"I-iya punya. Tetapi saya tak tahu mereka sekah di mana," jawabnya.


"Ah, terima kasih informasinya. Ini kartu nama saya. Tolong sampaikan jika mereka sudah pulang," ujar Chloe.


"Ba-baik," jawab wanita itu dengan keringat dingi yang bercucuran. "Semoga mereka tak kembali lagi ke sini," pikirnya.


Chloe kembali ke mobil dengan perasaan sedikit kecewa. Ia tidak memperoleh informasih lebih dari wanita tadi. Sama persis dengan yang ia dengar dari para anak buahnya.


Ia pun tidak bisa menemui wanita yang telah dirindukannya sejak lama. Bagaimana ya keadaannya sekarang? Apakah sekurus yang di foto?


Drrrtt... Ponsel Chloe berdering.


"Halo, sayang," jawab Chloe.


"Bagaimana, sayang? Apakah sudah bertemu dengannya?" tanya Geffie, suami Chloe.


"Belum. Mereka tak ada di rumah," jawab Chloe penuh kekecewaan.


"Aku tak tahu. Haruskah aku melepaskannya lagi?" tangis Chloe.


"Sayang, maafkan aku. Jangan menangis. Kita pasti akan cari cara untuk menemuinya," ucap Geffie merasa bersalah.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


Puluhan tahun lalu, setelah Chloe berhasil di fashion show pertamanya, ia kembali ke kota tempat ia dan ayahnya tinggal.


Ia mencari keberadaan malaikat yang telah menyelamatkan hidup mereka. Namun sayang, ia datang sedikit terlambat.


Dua jam sebelumnya, sang petugas cleaning service di klinik Pak Alfarobi mengundurkan diri. Ia meninggalkan pekerjaan dan kuliahnya untuk kembali ke kampung halaman, Cirebon.


Ia mendapat kabar, ayahnya menghilang di lautan bersama para pelaut lainnya. Ibunya harus menjadi kepala keluarga, dan menghidupi ketiga adiknya.


Jennia, sebagai anak pertama, ia merasa bertanggung jawab pada keluarga. Wanita dua puluh satu tahun itu, melepaskan cita-citanya menjadi seorang perawat. Ia pun memulai hidup baru di kampung halaman.


Pak Alfarobi hanya bisa menceritakan sampai di situ, sesuai dengan surat yang ditinggalkan oleh Jennia sebelum berpamitan pergi. Ia bahkan tidak mau memberi tahu alamatnya.


Selama bertahun-tahun Chloe mencari keberadaannya, tetapi ia justru semakin kehilangan jejak.


...🌺🌺🌺🌺🌺...

__ADS_1


"Haruskah aku kembali kehilanganmu, Kakak? Aku hanya ingin membalas budi padamu," tangis Chloe saat ini.


"Nyonya, bagaimana jika kita lihat di tempat jualan?" usul Wilson.


"Ah, boleh juga," ucap Chloe sambil menghapus air matanya.


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai ke tempat yang dimaksud. Namun lagi-lagi zonk. Gerobak jualan yang biasanya dipenuhi penganan asal Maluku, kini tampak kosong. Para pedagang lain tidak tahu keberadaannya.


Chloe benar-benar pasrah. Sepertinya ia harus bersabar untuk bertemu mereka, sampai ia kembali dari Eropa, beberapa bulan lagi.


Nyuttt...


"Aduh... Sakit..." keluh Chloe yang baru saja memasuki mobilnya.


Wanita bermata biru itu merasakan sakit yang luar biasa di kaki kirinya. Rasanya seperti diiris oleh benda tajam.


"Kenapa Nyonya?" ucap para asistennya khawatir.


"Tidak tahu. Tetapi rasanya sakit sekali," ucap Chloe sambil memegang kakinya. "Rafles, tolong menuju ke rumah sakit terdekat," pinta Chloe pada supirnya.


"Baik, Nyonya," jawab Rafles.


Drrrttt... Drrtt... Ponsel Chloe berdering berulang kali di dalam tas. Tetapi deru mobil yang melaju ke rumah sakit, menenggelamkan suara telepon penting itu.


"Halo, Wilson. Aku baru saja menemukan posisi ponsel Arka, anak sulung Jennia. Ia sekarang berada di..." Felix akhirnya menelepon Wilson.


"Felix, nanti saja laporannya. Saat ini nyawa Nyonya lebih penting. Kami sekarang menuju rumah sakit terdekat," potong Wilson.


"Astaga, Nyonya kenapa? Di bawa ke rumah sakit apa?" ucap Felix.


"Tidak tahu. Yang jelas rumah sakit terdekat di sini. Saat ini Nyonya dalam keadaan tidak dadarkan diri. Tuan Geffie juga menuju kemari," jelas Wilson.


Rafles memutar mobil mereka ke halaman Rumah Sakit Medika Nusantara, ketika Wilson sedang sibuk menelepon.


"Baiklah, tetapi aku harus tetap memberimu informasi ini. Siapa tahu Nyonya akan menanyakannya ketika sadar," kata Felix.


Tut...


"Ah, si*l! Wilson sudah mematikan teleponnya," geram Felix.


Tak kehabisan akal, Felix mengirim pesan singkat kepada majikannya, Chloe dan Geffie.


"Putri Jennia sedang operasi kaki di Rumah Sakit Medika Nusantara. Saya yakin keluarganya juga berada di sana untuk beberapa hari ini," tulisnya.


(Bersambung)


Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.

__ADS_1



__ADS_2