
"Duh, berat banget kepalaku. Semakin dipikirkan semakin rumit. Udah kayak benang kusut aja," gumam Rania.
Semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan ucapan Anjani. Kenapa keluarganya tak ada yang sadar jika warna matanya berbeda dengan di foto?
Ketika ia bertanya kepada keluarganya tadi malam, Bang Arka hanya menjawab jika warna mata bisa saja berubah. Tergantung kesehatan, makanan, dan iklim.
Berdasarkan hasil browsing Rania di internet, apa yang dikatakan abangnya memang benar, sih. Tetapi, itu hanya 1: 1 milyar orang. Lagi pun, setahu Rania warna matanya memang biru sejak kecil.
"Apa jangan-jangan benar, ya? Semua foto itu hanya editan. Tetapi kayaknya gak mungkin, deh. Masa iya mereka bakal memanipulasi semuanya? Ada misteri apa sih di balik semua ini?" gumam Rania seorang diri.
Jedug!
"Hadoooh... Sakit tahu," ujar Qiandra.
"Gawat, nih! Pagi-pagi udah ketemu nenek lampir aja," gumam Rania.
"Apa kamu bilang? Nenek lampir? Mana ada nenek-nenek secantik aku? Lihat nih. Sepatuku kotor kena kuah siomay gara-gara kamu. Ini sepatu mahal lho. Kamu gak bakal sanggup menggantinya," kesal Qiandra.
"Mulai, deh. Marah-marah ala cewek kaya seperti di sinetron," batin Rania dalam hati.
"Kamu kan orang kaya. Beli sepatu baru setiap hari bukan masalah, dong. Lagian orang kaya sebelah mana ya, yang sarapan paginya siomay mas-mas depan pagar?" sindir Rania.
"Aku memang bisa beli sepatu kapan aja, tetapi kamu harus tanggung jawab sudah merusakkan sepatuku. Lagian aku mau sarapan apa dan di mana juga bukan urusan kamu. Minta maaf dong. Lap nih sepatu ku yang cantik dan mahal," kata Qiandra.
"Lap aja sendiri. Apa gunanya punya dua tangan kalau nggak pernah dipakai? Lagian sepatu kamu nggak rusak, tuh," balas Rania.
"Idih, kok jadi galakan kamu, sih? Yang antagonis aku atau kamu?" kata Qiandra semakin kesal.
"Udah gak zaman lagi yang dibully itu cuma bisa nangis," balas Rania.
Rasanya Qiandra ingin sekali menumpahkan kuah siomay pada cewek di depannya. Kemudian menjambak rambutnya. Tetapi semua itu ia tahan. Pasalnya, beberapa hari yang lalu ia dipanggil Bu Elya karena kasus bully. Dan yang lebih mengejutkan, yang melaporkan kejadian itu adalah mamanya.
"Dari mana sih mama tahu kalau aku pernah membully Rania? Dan Rania juga banyak tahu seluk beluk keluarga kami. Apa jangan-jangan dia anak mama dari lelaki lain?" pikir Qiandra. Ia sudah tidak terlalu memperhatikan sepatunya yang kotor.
"Kenapa lihat aku kayak gitu? Lebih cantik dari kamu, ya?" ucap Rania yang masih belum beranjak dari posisinya.
"Ih, apaan. Cantikan juga aku," sahut Qiandra. Tetapi wanita itu kemudian memperhatikan Rania dari ujung rambut hingga ujung kaki.
__ADS_1
"Benar juga. Warna rambut Rania mirip dengan mama, warna kulitnya juga. Jangan-jangan ia emang beneran anak mama. Tetapi kemudian identitasnya ditukar dan dirawat oleh orang lain. Aku harus pastikan pada Felix, nih," ucap Qiandra dalam hati.
"Hei, mau ke mana kamu?" tanya Qiandra.
"Ya terserah aku dong mau ke mana. Masa ngelap sepatu kamu?" balas Rania.
"Tunggu dulu. Aku mau tanya, kamu tahu dari mana tentang seluruh keluargaku. Nggak mungkin kan kamu punya informan orang dalam," pancing Qiandra.
"Ya kali pakai orang dalam, emangnya mau lamar kerja. Aku tahu semuanya karena..."
"Kamu anak Chloe alias anak mama?" potong Qiandra.
"Da-dari mana kamu tahu?" tanya Rania terkejut. Mungkinkah Qiandra sudah mengetahui semuanya?
"Lalu ayahmu?" Qiandra tak menjawab pertanyaan Rania, justru balik bertanya.
"Hah, apa maksudmu?" Rania bingung. "Sejauh mana yang kamu tahu?" tanya Rania.
"Itu urusanku. Kamu jawab saja pertanyaanku," ujar Qiandra.
Rania terdiam. Hatinya mulai gelisah. Apa yang sedang dirahasiakan anak ini?
"Qiandra, aku ingin melihat foto-foto masa kecilmu," ujar Rania tiba-tiba.
"Untuk apa? Kamu mau melaporkan kami? Aku hidup bergelimang harta sedangkan kamu bagai putri yang terbuang, begitu?" ucap Qiandra. "Kamu tak berhak meminta apa pun dariku. Jawab saja pertanyaanku tadi," lanjutnya.
"Oh, Tuhan... Bukan seperti itu. Dan aku juga tidak ada kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu," jawab Rania. Ia mulai kesal dan kehilangan kata-kata. "Aku hanya ingin melihat, seberapa menggemaskannya kamu waktu kecil," racau Rania.
"Oh, wow. Kita bahkan tidak terlalu dekat untuk saling bertukar foto. Aku tak akan membiarkanmu semakin mendekati keluargaku dengan cara apa pun. Walau pun kamu memang benar-benar anak mama," balas Qiandra.
"Katakan padaku, dari mana kamu tahu dan apa saja yang telah kamu ketahui, Qiandra Ansley," desak Rania.
"Apa kamu bilang tadi? Kamu menyebut nama belakangku dengan apa? Kamu menghinaku?" balas Qiandra.
Beberapa siswa mulai berkerumun menyaksikan pertengkaran kedua gadis itu. Namun obrolan mereka dihentikan oleh suara bel masuk. Qiandra kemudian bergegas ke kelas.
"Obrolan kita belum selesai. Aku akan mencarimu lagi nanti," ujar gadis pirang itu. Sepertinya super model itu sudah melupakan sepatunya yang bercorak kuah siomay.
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Perkemahan? Kalau kamu mau ikut perkemahan, ada dua ekstrakulikuler yang bisa kamu ikuti. Pramuka dan Pecinta Alam," jelas Pak Salamun, salah seorang pembina pramuka di sekolah mereka.
"Hmm... Begini, Pak," Rania mengatur kata-kata. "Saya hanya ingin bertanya tentang kegiatan perkemahan terakhir di sekolah kita," ujar Rania.
"Perkemahan terakhir? Hmm... Bapak tidak terlalu ingat. Itu kan sudah setahun yang lalu. Memangnya apa yang kamu ingin tahu?" tanya Pak Salamun.
"Setahun yang lalu? Bukannya seminggu yang lalu?" pikir Rania dalam hati.
"Maksud saya perkemahan di danau minggu lalu, Pak," kata Rania tidak menyerah.
"Nak, kalau yang kamu maksud perkemahan yang diadakan oleh suatu klub siswa tanpa pihak sekolah, Bapak tidak tahu," ujar Pak Salamun sambil membuka laptopnya.
"Tetapi kalau yang kamu maksud itu kegiatan resmi dari sekolah, perkemahan terakhir diadakan setahun yang lalu. Setelah itu kita mengentikan sementara kegiatan di luar," jelas pria usia empat puluh tahun itu dengan sabar.
"Kamu tahu kan, ada seorang siswi kita yang menghilang di danau? Meski sudah dicari berminggu-minggu, namun tetap tidak ditemukan jasadnya. Kami menghindari hal itu terjadi lagi," lanjut guru olahraga yang merangkap pembina pramuka itu.
Jantung Rania berdegup kencang mendengarnya. Menghilang berminggu-minggu? Jasad? Mana yang ia bisa percaya? Keluarganya atau gurunya saat ini? Apakah ia sempat menghilang satu tahun yang lalu, kemudian ia kembali lagi dalam keadaan hilang ingatan?
Tidak mungkin. Jelas-jelas bulan Januari lalu ia masih mengadakan show besar di Eropa bersama timnya.
Tetapi jika memang dirinya yang menghilang saat itu, kenapa seluruh keluarga dan pihak sekolah tidak ada yang heboh ketika dia masuk kembali?
"Bo-boleh saya lihat dokumentasi kegiatan pada saat itu, Pak?" tanya Rania.
Pak Salamun mengerutkan keningnya, tetapi kemudian ia mengalihkan pandangan ke arah laptop dan mencari folder kegiatan pada saat itu. Ia lalu menunjukkannya pada siswinya.
Rania memperhatikan setiap foto dengan seksama. Pada foto kesekian mata Rania membulat. Sorang siswi berseragam pramuka lengkap berdiri di barisan. Itu adalah Rania, namun jika diperhatikan baik-baik, warna mata gadis itu berwarna cokelat.
"Boleh saya minta fotonya, Pak?" ujar Rania.
"Baiklah, ada bawa flashdisk?" sahut Pak Salamun mengalah.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi
__ADS_1