
Masih di hari penangkapan Fania...
"Qian, apa kita mau ke rumah dulu atau langsung ke lokasi? Sania belum memberiku kabar," ucap Rania.
"Oh, aku lupa memberitahumu. Mulai hari ini, semua pekerjaan Sania kamu yang pegang. Jadi, jadwalku sepenuhnya kamu yang ambil."
"Lho, kenapa? Sania ke mana?" tanya Rania heran.
"Kamu pasti belum mendengar kabar terbaru, ya? Ya sudah, kita pulang ke rumah dulu, setelah itu baru ke lokasi meeting."
Dalam perjalanan pulang, Sania merasa canggung duduk di mobil BMW mewah itu. Padahal, dulu ini adalah mobil pribadinya. Apa karena kali ini dia duduk di sebelah supir, ya?
"Rania, sebaiknya mulai sekarang kamu tinggal di rumah ku saja," ucap Qiandra membuka pembicaraan.
"Tinggal di rumah? Aduh, nggak perlu seperti itu," tolak Rania.
"Kamu sekarang sepenuhnya asistenku, bukannya lebih efisien kalau kita tinggal bersama. Kamu juga bisa sering ketemu dengan kakek," ujar Qiandra.
"Ada apa ini? Orang yang selalu tegas menentangku, bahkan menuduhku melakukan ilmu hitam, kini malah mengajakku ke rumahnya?" pikir Rania curiga.
"Hm.. Begini Nona. Saya kan mesti izin dulu kepada orang tua saya. Selain itu..."
"Udah, nggak usah pakai Nona-nonaan kalau di depan Wilbert dan juga Musliha. Aku udah cerita semuanya. Kamu cukup bicara formal kalau di depan para kolega."
Qiandra memotong ucapan Rania.
"Ini lebih aneh lagi. Dia bukan tipe orang yang bisa dianggap setara sama orang lain, apalagi sampai cerita rahasia ini pada orang lain. Apa yang sedang ia rencanakan?" pikir Rania lagi.
"Hei, kenapa diam? Kamu pasti berpikir aku lagi merencanakan sesuatu, ya? Bukan seperti itu. Aku tadi malam tanpa sengaja bertemu dengan ayahmu," celetuk Qiandra.
"Ehm. Maaf, Qian. Baiklah, akan aku pikirkan lagi tawaranmu," ujar Rania.
Rupanya rasa terkejut Rania tidak berhenti sampai di situ. Sesampainya di rumah keluarga Austeen, ia pun mendapat kabar bahwa Sania telah ditangkap, bersamaan dengan Fania, atas dugaan pembuatan dan perdagangan narkoba jenis tertentu.
"Apa ini? Kenapa bisa sampai seperti ini? Sania? Ini tidak mungkin. Pasti ada yang salah," jerit Rania dalam hati.
"Dan lagi, Qiandra menjebloskan Fania dalam penjara? Itu bukan sesuatu yang baik, jika ia mengingat semuanya?" pikir Rania lagi.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
"Fania, aku pasti akan membawakan pengacara terbaik untukmu. Kamu akan segera bebas. Bersabarlah sebentar," bisik Malfoy, ketika polisi mengizinkan mereka untuk bicara selama dua menit.
__ADS_1
Fania hanya diam. Tidak menjawab dan juga tidak mengangguk. Setelah itu, ia pun digiring ke dalam sebuah ruangan untuk dimintai keterangan.
Ttuuutt... Ceklek!
"Halo?"
"Hei, Darrent. Ini aku, Malfoy. Fania baru saja ditangkap," ujar Malfoy to the point.
"Apa kamu bilang?" Darrent terdengar sangat terkejut.
"Entah bagaimana, mereka menemukan bukti-bukti di email Fania. Dsn sekarang dia berada di kantor polisi."
"Lalu bagaimana?"
"Pergilah ke tempat pujaan hatimu hari ini juga. Buang semua jabatan dan identitasmu di sini. Jadilah orang yang baru," ucap Malfoy datar.
"Brengs*k! Apa maksudmu! Kita merencanakan ini bersama-sama! Kenapa harus kalian berdua saja yang menanggungnya?" Darrent menolak tawaran Mafoy.
"Kau bod*h, ya? Setengah nyawaku ada di sini. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. Aku harus menyelamatkannya dari balik jeruji besi," marah Malfoy.
"Sedangkan kamu? Wanitamu masih hidup di luar sana. Ia sangat mengharapkan kehadiranmu. Kalau kamu berada di sini bersamaku, aku tak bisa janji untuk menyelamatkan hidupmu," lanjut Malfoy lagi. Suara pria itu terbata-bata. Sepertinya ia menangis.
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Dua puluh tiga tahun yang lalu, sebuah barak pekerja tambang minyak milik perusahaan Amerika Serikat, mulai ditinggalkan oleh para pekerjanya karena mengalami kebangkrutan.
Sebagian besar pekerja yang merupakan tenaga kerja asing, kembali ke negara mereka. Ada juga yang merintis usaha sendiri, di tanah khatulistiwa ini.
Tapi, tiga pemuda ini berbeda. Mereka masih tetap bertahan di barak yang hampir toboh dan berteman dengan para tikus itu.
Bukan tanpa alasan, mereka sama sekali tidak punya tempat lain untuk dituju. Pulang ke negara asal pun, mereka tidak memiliki biaya yang cukup.
"Hei, sudah kuduga. Kalian makan nasi kecap lagi. Nih, aku belikan mi instan."
Seorang pemuda yang memiliki finansial lebih baik diantara kedua temannya, memberikan sekardus mi instan khas Indonesia.
"Malfoy, terima kasih. Kamu memang malaikat penyelamat kami," ucap Darrent.
"Apa, sih? Cringe tahu. Lagian, masa baru pertengahan bulan uang kalian sudah habis?" ucap Malfoy.
"Kau kan tahu, kami juga mencoba merintis usaha seperti teman-teman kita yang lain," jawab Darrent.
__ADS_1
"Lalu?"
"Yah... Anggap saja Dewi Fortuna belum melihat kami," kilah Darrent.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Geffie.
"Aku?"
Malfoy membuka botol air mineral dan menenggaknya hingga setengah.
"Ya ini rumahku," jawab Malfoy kemudian.
"Kamu kan sudah punya bisnis sendiri. Kamu tabungan kamu juga sudah cukup untuk pulang. Untuk apa lagi kamu di sini?" ujar Geffie.
"Yah... Aku masih betah di sini," jawab Malfoy santai.
"Jangan buang-buang waktumu di sini, bod*h! Kamu berbeda dengan kami. Finansialmu sudah cukup stabil. Masa depanmu jelas. Untuk apa lagi kamu tinggal di gubuk reot ini?" marah Geffie.
"Aku tidak membuang waktu di sini. Bisnisku tetap berjalan, kok. Tetapi aku masih betah tinggal di sini," ujar Malfoy.
"Kamu juga, seharusnya kamu lebih fokus dengan beasiswa itu. Meski pun aku tak begitu memahaminya, tapi aku tetap mendukungmu. Aku yakin kamu bisa meraihnya," lanjut Malfoy.
Dan kamu, Darrent. Kenapa kamu tidak melanjutkan pelatihan waktu itu? Aku yakin itu cukup berguna nanti," lanjut Malfoy.
Geffie dan Darrent terdiam.
"Hei, aku mau masak mi. Apa kalian mau juga?" Malfoy berpindah ke dapur seakan tak ada kejadian apa-apa.
"Dasar Malfoy bod*h! Aku tahu dia seperti itu karena tidak mau meninggalkan kita berdua di sini," bisik Geffie pada Darrent.
"Kita harus berhasil dari garis kemiskinan ini, kalau ingin dia beralih memikirkan diri sendiri," balas Darrent.
Satu tahun kemudian, Geffie berhasil menerima beasiswa di bidang bisnis sementara Darrent bekerja di sebuah bank lokal sebagai petugas keamanan.
Dan bisa ditebak, Malfoy pun bisa meninggalkan kedua temannya dengan perasaan lega. Ia pun menjalankan bisnisnya, hingga mampu mengoleksi banyak mobil langka.
Tapi persahabatan itu tak bertahan lama, perlahan-lahan mulai luntur sejak Malfoy jatuh cinta pada Fania.
(Bersambung)
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa lagi.
__ADS_1