Jungkir Balik Dunia Rania

Jungkir Balik Dunia Rania
Episode 122 - Kawan dan Lawan


__ADS_3

"Kok nggak terjadi apa-apa, ya? Padahal kan aku sudah menemukan kedua gelangnya dan juga membaca arti simbol yang terukir di sana?"


Rania menatap sekeliling kamarnya dengan bingung. Atap kamarnya masih sedikit bocor. Cat di dindingnya terkelupas, lemari coklat tua yang miring ke kanan serta benda-benda lain yang masih berada di posisi yang sama sebelum ia tidur.


Setelah menemukan gelang miliknya, Rania pun menerjemahkan bahasa simbol itu, dengan cara sama yang ia lakukan pada gelang satunya lagi.


"Teman sejati adalah mereka yang saling percaya dan saling membantu di masa sulit.


Bermusuhan hanyalah teman para kegelapan."


Itulah arti simbol yang terukir di gelang miliknya. Ia pun tidur nyenyak dengan kedua gelang itu ditangannya.


"Apa jangan-jangan, gelang ini tidak berfungsi apa pun untuk mengembalikan sihir ini ke keadaan semula?" pikir Rania bingung.


"Ah, gak tahu deh. Nanti saja aku diskusi lagi dengan Bang Arka. Sekarang aku harus ke sekolah."


Rania terpaksa menyerah dengan keadaan ini untuk sementara.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Selamat pagi, Qiandra."


"Selamat pagi, Kakek," balas Qiandra.


"Kok kamu mata panda gitu? Tadi malam begadang, ya?" tanya Nico.


"Nggak. Aku bisa tidur, kok. Cuma nggak nyenyak aja," jawab Qiandra.


Tadi malam, Felix akhirnya memanggil Musliha untuk menemani Qiandra tidur. Meski sudah cukup tenang, karena tidak sendirian lagi di kamar besar itu, Qiandra masih juga tidak bisa terlelap. Berbagai pikiran menggelayut di kepalanya.


"Nih, kakek bikinkan martabak mesir. Katanya kamu suka daging, kan?"


"Ini Kakek yang masak?" tanya Qiandra.


Nico mengangguk, "Kakek lihat sejak kemarin kamu sedih sekali. Tetapi saat Kakek datang untuk menemani, rupanya kamu masih sibuk bersama Felix dan Wilbert."


"Semoga ini bisa mengobati hatimu. Maaf Kakek hanya bisa memasak ini," lanjut Nico


"Hemm... Ini enak sekali, Kek. Aku tambah, ya," ujar Qiandra senang.


"Syukurlah kalau kamu suka. Ambil aja sebanyak yang kamu mau," seru Nico senang.


"Besok-besok buatkan lagi, ya. Ah, tidak! Aku akan belajar pada Kakek cara memasaknya," kata Qiandra di sela kesibukannya mengunyah makanan.

__ADS_1


"Tentu saja. Katakan saja kapan kamu mau," jawab Nico.


Tiba-tiba raut wajah Qiandra berubah menjadi sedih, "Tapi... Kalau aku masih tinggal di sini," ucapnya pelan.


"Hei, kamu ngomong apa? Kamu akan tetap jadi cucu Kakek, siapa pun dirimu sebenarnya?" kata Nico.


"Kakek yakin?"


"Yakin," tegas Nico.


"Walau pun aku ini orang jahat?"


"Iya, walau pun dulu kamu orang jahat," jawab Nico tegas.


"Uh, masa? Padahal waktu Kakek baru datang, selalu aja bilang kalau aku bukan cucu Kakek.


"Maaf, saat itu Kakek masih belum tahu apa yang terjadi. Tapi sekarang Kakek senang, karena mempunyai dua cucu yang cantik dan baik hati.


" Lho, Rania? Tumben kamu ke sini," ucap Qiandra melihat seorang gadis remaja berdiri mematung depan ruang makan.


"Aku ada perlu sedikit denganmu. Aku butuh mencari surat cincin ini untuk di jual. Boleh kan aku masuk kamarmu?"


"Boleh saja. Tapi kenapa di jual? Kamu butuh uang berapa?" kata Qiandra.


"Ini bukan hanya soal uang. Tapi juga harga diri ayaj dan ibu sebagai orang tua. Kamu orang kaya gak akan mengerti," ucap Rania agak ketus.


Apa ia cemburu melihat kedekatannya dengan kakek?


"Ayo ke kamar. Kita harus segera ke sekolah sebelum bel masuk," ajak Qiandra.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Qian, apa maksudmu mengangkat kasus tabrak lari itu?" tanya Rania ketika di mobil menuju ke sekolah.


"Tentu saja untuk menyelesaikan masalah ini, kan?" ujar Qiandra.


"Apa kamu tahu konsekuensinya?"


"Hmm?"


"Kalau sampai masalah ini maju dalam sidang berikutnya, apa kamu tahu konsekuensinya? Keluarga Austeen akan kembali menjadi perbincangan besar. Dan kamu sama aja membuka kedok dirimu sendiri di depan publik," ucap Rania.


"Ya tidak apa-apa, kan? Cepat atau lambat, semua orang juga akan tahu, kalau aku bukan putri kandung Austeen. Dan bukannya kamu ingin masalah ini segera selesai?" sahut Qiandra datar.

__ADS_1


"Masalahnya gak sesimpel itu, Qian. Kamu mengatakan bahwa kamu terkena kasus tabrak lari. Mana buktinya? Yang ditabrak itu Rania Putri, bukan keturunan Austeen," seru Rania.


"Ah... Jadi kamu juga tahu masalah ini? Lalu apa kamu tahu siapa tersangkanya?" Qiandra balik bertanya.


"Aku masih belum yakin. Tapi jangan bilang... apa i-itu Fania? Karena yang sedang di sidang adalah dia," tebak Rania.


Rania memang beberapa kali memimpikan kecelakaan. Dan ia selalu merasa kalau orang yang melakukan itu sangat dikenalnya.


"Ya. Para intel menemukan black box itu di TKP. Dan diduga itu milik dia," jawab Qiandra.


"Tidak. Jangan sampai kamu yang membuka kasus ini. Walau pun belum tentu benar dia pelakunya," ujar Rania.


"Kenapa? Dengan para koneksiku saat ini, pekerjaan kita akan jauh lebih mudah," ucap Qiandra.


"Tidak. Jangan! Sebaiknya ayah dan ibuku saja yang melaporkannya. Kamu harus cabut laporan itu selagi belum masuk ke meja sidang."


"Tidak bisa, Rania. Aku sudah mengatakan hal itu di persidangan kemarin. Dan saat ini pihak berwajib sedang melakukan penyelidikan, dan Malfoy daftar orang hilang," jelas Qiandra.


"Astaga! Qian, kenapa kamu lakukan itu? Apa yabg sedang kamu lakukan?" ujar Rania panik.


"Hei, kau kenapa sih? Bukannya senang karena aku sudah membantumu. Aku sedang mempertaruhkan posisiku lho," ucap Qiandra bingung.


"Apa ada yang sedang kamu sembunyikan? Semua yang terjadi sama kita ini nyata, kan? Bukan cuma karanganmu saja, kan?" lanjut Qiandra dengan nada cemas.


Rania hanya menundukkan kepala tanpa berbicara sepatah kata pun.


"Rania?" bisik Qiandra lagi.


"Harusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang telah kamu lakukan? Mendekati kakek dan apa itu buku-buku di kamar? Kamu belajar ilmu sihir? Untuk apa? Bukannya kamu dulu menuduhku menghunakan sihir dan ilmu hitam?" marah Rania.


Qiandra benar-benar terkejut melihat sikap Rania yang sangat berbeda. Tetapi Qiandra memilih diam. Di saat seperti ini, Rania tidak bisa diajak bicara dengan kepala dingin.


...🌺🌺🌺🌺🌺...


"Jadi gimana?" tanya Rania.


Pada akhirnya, Rania mengatakan soal gelang kedua pada Bang Arka dan juga Mikko.


"Hmm... Kalau menurutku sih wajar aja, karena sihir itu memang tidak bisa diterima nalar," gumam Mikko.


"Lalu aku apa? Aku ini bukti nyata dari keberadaan sihir itu sendiri. Kamu juga pernah masuk ke ruang bawah tanah, kan? Di sana ada jasad nenek yang dilindungi benda-benda bermantra agar ilmu sihir hitamnya tidak mencelakai orang lain," kata Rania.


"Apa, jadi dalam peti itu memang ada isinya?" seru Mikko.

__ADS_1


"Begini saja, bagaimana kalau kita ke hutan menemui nenek yang kami ceritakan itu. Dia teman kecil nenekmu, kan?" usul Bang Arka.


(Bersambung)


__ADS_2