
Qingyi duduk dengan kekesalan mengganjal hatinya yang sempit.
Beberapa orang pria berseragam khusus menunggunya di depan restoran lalu memaksanya masuk ke dalam kereta berbendera mansion Raja Changle. Rupanya, Baili Qingchen menyuruh para pengawalnya mencari dan menjemput permaisuri keduanya yang tidak pulang-pulang setelah berkunjung ke istana.
Tidak peduli bagaimanapun Qingyi menyamar, orang-orang dari mansion Raja Changle tetap mengenalinya karena manipulasi ingatan dari Yinghao sudah habis masa efektivitasnya.
“Yang Mulia, jika kau melakukan ini lagi, mansion Raja Changle akan benar-benar kehilangan muka,” ucap Cui Kong, pengawal pribadi Raja Changle yang diutus mengawal sang permaisuri kedua Raja Changle kembali ke kediaman.
“Tempat itu sudah kehilangan muka sejak awal karena pemiliknya yang aneh!” seru Qingyi dari dalam kereta.
Cui Kong tidak menimpali lagi. Walaupun orang lain tidak melihat ekspresinya saat ini, Cui Kong tidak bisa memungkirinya. Hati kecilnya mengiyakan perkataan Qingyi, namun sebagai bawahan yang telah membersamai sejak kecil, Cui Kong tidak berani mengungkapkannya terang-terangan.
Tidak dipungkiri kalau dia juga merasa mansion Raja Changle telah kehilangan kehormatan sejak awal. Hanya demi seorang pria yang mengandalkan mulut dan wajah, Raja Changle alias Baili Qingchen sampai harus melepaskan pasukannya dan rela dibatasi kekuasaannya.
Karena itulah, saat kaisar mengirimkan seorang wanita untuk menikah ke kediaman Raja Changle melalui dekret, walaupun alasannya tidak logis, Cui Kong turut merasa senang. Jikalau pun tidak bisa mengembalikan tuannya seperti dulu, setidaknya mansion Raja Changle tidak akan dikuasai para pria.
Awalnya dia tidak yakin, namun setelah melihat tindakan Liu Qingyi di hari pernikahannya, semua ketidakyakinan itu perlahan memudar, lalu berpendar menjadi sebuah harapan baru. Cui Kong punya firasat kalau gadis ini bisa mengendalikan keseimbangan di dalam mansion Raja Changle.
“Yang Mulia begitu pandai berbicara. Kau tidak sama seperti yang dirumorkan orang,” ujar pengawal tersebut. Qingyi mendecih.
Orang dalam zaman seperti ini mengapa begitu mudah terpengaruh rumor?
“Apa kalian salah pergaulan? Bahkan para pria pun ternyata suka bergosip.” Qingyi mencibir. Cui Kong hanya terdiam.
“Kalau begitu, apa Yang Mulia sudah punya rencana?” tanya sang pengawal. Pertanyaan itu mempunyai maksud lain di belakangnya.
Qingyi tertawa kecil. Rupanya, pengawal Baili Qingchen yang dijuluki Si Pedang Mata Elang ini tidak hanya pandai berkelahi, tapi juga punya pemikiran yang dalam.
Dia tidak seperti pengawal yang hanya menganggukkan kepala dan bertindak sesuai perintah. Cui Kong memiliki suatu hal seperti empati dan simpati yang besar terhadap majikannya, dan Qingyi mengetahui semua itu.
“Kongkong, apa kau mau bertaruh? Jika hari ini Baili Qingchen tidak memarahiku, kau harus menjadi pelayanku selama satu minggu, jika kau menang, aku akan memanggil Xiao Junjie kakak selama satu minggu. Bagaimana?” tawar Qingyi.
Cui Kong menggelengkan kepalanya karena heran. Tidak mungkin pangerannya tidak marah ketika permaisuri keduanya kabur seperti ini. Seingatnya, selama ini Baili Qingchen tidak pernah mengampuni siapapun yang berani melarikan diri tanpa izin darinya. Kendati kekuasaannya dibatasi dan pasukannya diambil, Baili Qingchen masih tetap mengeluarkan aura membunuhnya ketika hatinya tidak senang.
“Tapi, bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan itu?” ucap Cui Kong.
“Panggilan? Kongkong? Kenapa?”
“Aku hanya tidak suka.”
“Oh. Kongkong, Kongkong, Kongkong, Kongkong.”
Qingyi malah sengaja memanggilnya dengan sebutan tersebut. Sang pengawal menutup kedua telinganya, tidak ingin mendengar panggilan yang begitu menggelikan dan menjijikan seperti itu. Cui Kong menyuruh kusir agar lebih cepat lagi karena hari sebentar lagi gelap. Langit juga mendung. Dia tidak ingin putri permaisurinya kehujanan.
__ADS_1
Ketika kereta kuda tiba di depan gerbang mansion Raja Changle, hujan tiba-tiba turun dengan deras. Cui Kong melompat mengambil payung yang dibawa oleh pelayan. Kakinya melangkah lebar, menghindari basah dan cipratan air. Namun, ketika tirai penutup kereta terbuka, sosok Qingyi keluar membawa sebuah benda bening yang terlihat mirip dengan payung yang dia bawa.
Gadis itu turun dari kereta memakai sebuah payung bening yang kerap digunakan di masa modern. Payung ini lebih berguna menahan basah ketimbang payung tradisional di tangan Cui Kong. Sia-sia saja Cui Kong membawa benda tersebut, karena nyatanya Putri Permaisuri Changle telah memiliki pelindung tubuhnya sendiri.
Qingyi berjalan menyusuri setiap lorong mansion. Dengan hujan yang masih turun dengan deras, dia yakin Baili Qingchen tidak akan repot-repot menunggunya di halaman barat hanya untuk memarahinya.
Dia menebak pria itu pasti sedang berada di ruang belajarnya atau di kediaman Xiao Junjie. Sepasang lovebirds itu pasti senang karena Qingyi tidak datang menganggu mereka.
Dugaannya benar. Di halaman barat tempat dia tinggal, Baili Qingchen tidak ada. Qingyi bersorak karena itu artinya dia menang taruhan dan Cui Kong harus menjadi pelayannya selama satu minggu.
Dua pelayan penjaga pintu memberitahunya kalau siang tadi Baili Qingchen mencarinya ke mana-mana, lalu memerintahkan orang untuk mencari di tengah kota. Kedua pelayan sangat senang karena kalau Qingyi tidak kembali, mereka tidak akan bisa beristirahat.
Kamar yang kemarin hancur sudah diperbaiki. Ranjang yang roboh sudah diganti dengan yang kokoh. Perabotan yang pecah juga sudah diganti dengan yang baru.
Singkatnya, ruangan itu sekarang tampak lebih pantas disebut sebuah kamar dibandingkan kemarin. Liu Qingyi berdecak mengagumi kecepatan kerja orang-orang di dalam mansion ini.
“Tuan, misi sampingan baru telah aktif. Kau harus pergi ke kediaman Perdana Menteri dan merebut kembali semua mahar ibumu dari tangan istri Perdana Menteri,” ucap Yinghao ketika telinganya bergerak seperti sebelumnya.
“Bolehkah aku melewatkannya?”
“Tidak boleh. Kau harus menagih janji pada kediaman Perdana Menteri selagi menyelesaikan misi.”
Qingyi sangat jengah. Kesan pertamanya terhadap kediaman perdana menteri sangat buruk. Tempat itu seperti neraka yang penghuninya siluman semua.
Di koridor, dia sayup-sayup mendengar Baili Qingchen tengah berbicara ketus pada seseorang. Lilin yang menyala dari dalam sana membuat Qingyi bisa menebak kalau orang yang diajak bicara oleh pria itu adalah wanita, karena cahaya di dalam sana telah menciptakan siluet tubuh seorang wanita. Namun, anehnya, wanita itu sepertinya sedang duduk di kursi.
“Mengapa kau masih di sini?” tanya Baili Qingchen kesal.
Luo Niang mengantuk-antukkan kepalanya ke meja dengan frustasi. Jidatnya memerah dan rambut panjangnya sesekali terurai ke depan. Wanita itu sedang kesal setengah mati hingga melarikan diri ke mansion sepupunya. Sampai saat ini, hatinya masih diliputi perasaan itu.
“Aku lebih baik mati saja daripada harus menikahkan adikku!” ujar Luo Niang.
“Kalau kau mau mati, jangan di sini!” ketus Baili Qingchen.
Luo Niang berteriak kesal. Pasalnya, dia tiba-tiba kedatangan tamu tak diundang. Adiknya, Luo Mingyue masuk ke istana bersama pelayannya dan mengatakan ingin menikah. Tak tanggung-tanggung, adiknya itu mengatakan kalau dia ingin menikah dengan tuan muda keluarga perdana menteri.
Tidak ada guntur tidak ada angin, pernyataan Luo Mingyue tentu saja membuat Luo Niang marah. Bahkan Janda Selir Sun, bibinya itu, juga sangat terkejut.
“Apa kediaman Perdana Menteri ingin mengikat seluruh keluarga kekaisaran bersamanya? Mengapa adikku juga malah ikut terjerat?” tanya Luo Niang frustasi.
Baili Qingchen menggelengkan kepalanya. Baginya, tidak peduli perdana menteri menjerat berapa orang, semuanya tidak ada hubungannya dengan dia.
Menikah dengan salah satu putrinya bukan berarti dia harus terikat dengan keluarga itu. Baili Qingchen sudah cukup dibuat kesal karena Qingyi tidak pulang, dan suasana hatinya semakin buruk dengan kedatangan Luo Niang yang mengeluh perihal adiknya.
__ADS_1
“Itu urusanmu. Pergi, aku harus menyelesaikan urusanku!” usir Baili Qingchen. Luo Niang sangat enggan.
“A-Chen, sepupuku yang tampan, tidakkah kau kasihan padaku?”
“Tidak. A-Luo, cepat pulang ke istana!” Baili Qingchen kembali mengusirnya.
Di luar, walaupun Liu Qingyi tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, tapi dia cukup tahu kalau wanita di dalam sana adalah Luo Niang, sepupu dari Baili Qingchen. Selain wanita itu, Baili Qingchen tidak pernah membiarkan wanita lain masuk ke dalam ruang belajarnya dengan bebas.
Seorang pelayan datang menghampirinya dan menanyainya. Qingyi memberitahu kalau dia ingin bertemu dengan Raja Changle, lalu pelayan itu mengetuk pintu dan masuk untuk melaporkannya. Sembari menunggu pelayan kembali, Qingyi membuang jauh pandangannya ke bangunan di depannya, yang difungsikan sebagai kamar utama milik Baili Qingchen.
“Yang Mulia, silakan masuk,” ucap si pelayan ketika kembali. Qingyi langsung memasuki ruang belajar Baili Qingchen yang sangat besar.
Di hadapannya, Baili Qingchen tengah berdiri membelakangi meja belajar.
Tidak jauh dari sana, seorang wanita berpakaian sutera merah muda sedang duduk menatapnya, namun tatapan itu bukan tatapan tanya, melainkan tatapan frustasi. Tampaknya, Luo Niang masih belum melupakan masalahnya.
“Apa kau datang untuk meminta hukuman setelah tidak kembali seharian?” Pria itu langsung menodongnya dengan pertanyaan. Eskpresinya begitu dingin.
“Tidak. Aku datang untuk memberitahu kau bahwa besok adalah hari kunjungan ke keluarga pengantin wanita,” bantah Qingyi.
Sepasang pengantin baru itu saling melemparkan tatapan tajam persis dua musuh bebuyutan yang baru bertemu setelah bertahun-tahun. Baili Qingchen berniat memarahi gadis ini, namun urung karena Luo Niang ada di sini.
Sepupunya akan menertawakannya dan mengejeknya kembali seperti pagi tadi. Baili Qingchen hanya bisa menahannya di dalam hati.
“A-Chen, istri keduamu begitu cantik dan berani. Menurutmu apakah aku harus menjadikan dia adik angkatku?” tanya Luo Niang dengan nada putus asa.
Pandangan matanya terfokus pada sosok tinggi semampai yang berdiri di hadapan Baili Qingchen.
“Putri Luo?” tanya Qingyi, sekadar basa-basi karena dia pada awalnya sudah tahu.
“Kau mengenalku?” Luo Niang bertanya kembali masih dengan nada yang sama.
“Semua orang di istana tahu, hanya Putri Luo yang bisa memasuki ruang belajar Raja Changle sesuka hati.”
Luo Niang bangkit, lalu menganggukkan kepala. Ekspresinya masih sama, begitu putus asa.
“Benar. Karena itulah sepupuku juga sesuka hati. Tidak, dia tega hati!”
Setelah mengatakannya, Luo Niang menyeret langkahnya keluar dari ruang belajar. Dengan langkah gontai itu, Qingyi diam-diam tersenyum. Karakter Luo Niang memang tidak berbeda jauh dengan yang sudah dia rencanakan. Meskipun dia tidak tahu masalah apa yang menimpa wanita itu, namun melihatnya saja Qingyi bisa tahu kalau permasalahan yang dihadapi wanita itu tidak sederhana.
“Kalau begitu, Yang Mulia, aku akan kembali ke kediamanku,” ujar Qingyi selang beberapa lama. Pria itu hanya berdehem. Sudah tidak ada selera memarahi orang.
...****************...
__ADS_1