
Siang hari, restoran yang paling terkenal di kota kekaisaran ini begitu ramai. Padahal, musim dingin sudah hampir tiba, tetapi para pelancong ini memilih menghabiskan uang mereka di kota kekaisaran yang konsumtif.
"Tuan Muda, pesanannya sudah siap. Silakan dinikmati," kata pelayan.
Liu Qingti mengangguk dan mempersilakan pelayan pergi. Meskipun dia dihukum oleh ayahnya akibat pertengkaran hari itu, itu tidak membuatnya kapok dan menjadi tuan muda yang penurut. Dia terbiasa hidup bebas dan memberontak. Hukuman kecil tidak mampu menahannya. Liu Qingti bahkan masih bisa melarikan diri setelah dicambuk puluhan kali oleh Perdana Menteri.
Dia makan dengan lahap. Sajian utama di restoran ini menjadi favoritnya. Di kediaman, ia tidak pernah bisa makan dengan tenang karena ayah dan ibunya selalu memarahinya dan mengatakan bahwa dia tidak berguna. Semasa Liu Qingyi masih ada di kediaman, dia suka diam-diam datang padanya dan berbagi makanan.
Yah, orang yang memiliki keluhan yang sama kadang menjadi teman bicara yang santai.
"Yo, Tuan Muda Kedua Liu ternyata ada di sini," sapaan yang tidak asing di telinganya membuat Liu Qingti menghentikan aktivitasnya.
Dia menoleh dan melihat Pangeran Ketiga, Baili Qingyang, tengah berdiri di belakangnya dengan tatapan jahil.
"Untuk apa kau kemari?" ketus Liu Qingti.
"Restoran ini bukan milik ayahmu. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa aku dilarang masuk kemari."
"Cih, masih saja berdalih."
"Kau! Mengapa kau masih menyebalkan?"
"Aku memang menyebalkan. Jika tidak, aku tidak akan menjadi Tuan Muda Kedua Liu yang tidak berguna."
Baili Qingyan yang tidak sabaran mulai tersulut emosi. Selama ini dia hidup di dalam istana dengan kehormatan ganda. Tidak pernah ada orang yang melawannya atau membuatnya merasa semarah ini.
"Kau sepertinya harus dihajar! Hukuman dari kakak ipar sepertinya belum cukup!"
Namun, Jingling segera mencegahnya. "Pangeran, kau tidak boleh menghajarnya. Yang Mulia Putri Permaisuri berkata bahwa dia akan mematahkan tangan dan kaki kalian berdua jika bertengkar lagi."
Oh, benar. Kakak iparnya itu sangat mengerikan. Dia tidak hanya berani menjewernya di depan umum. Liu Qingyi bahkan berani mempermalukan adiknya sendiri dan ibu tirinya. Tidak ada yang tidak bisa ia lakukan. Apa yang ia inginkan pasti selalu tercapai. Daripada tangan dan kakinya patah, lebih baik dia tidak mencari masalah.
Liu Qingti mendelik. "Tidak mau memukul lagi?"
"Tidak. Aku masih menginginkan tangan dan kakiku."
Liu Qingti mengira Baili Qingyan akan meninggalkannya. Dia justru melihat Baili Qingyan duduk di depannya, dan mulai makan makanannya. Saat Baili Qingyan hendak menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya, Liu Qingti memukul tangannya.
"Jangan menyentuh makananku! Jika kau ingin, pesan saja sendiri!"
Baili Qingyan terkekeh.
__ADS_1
"Jadi orang itu harus murah hati. Makanan ini tidak akan membuatmu kelaparan jika berkurang sedikit."
Oh, tidak disangka dia masih begitu menyebalkan! Liu Qingti paling tidak suka diganggu ketika makan. Baili Qingyan dengan datar memakan makanannya lagi dan lagi.
"Dasar pangeran tidak tahu malu!"
"Eh, kau sama pedasnya dengan kakak ipar. Bagaimana jika kita bertaruh?"
"Maksudmu?"
"Jika kau menang, aku akan pergi dan membayar semua makananmu. Tetapi jika kau kalah, kau harus menuruti permintaanku."
"Kau tidak akan berbuat curang, kan?"
"Aku, Baili Qingyan, selalu hidup jujur. Jika kau meragukanku, aku mempertaruhkan reputasiku sebagai Pangeran Dua Kerajaan."
"Baiklah. Kau tidak boleh mengingkari janjimu!"
"Tentu saja."
Mereka lantas mulai bermain dadu. Liu Qingti bertaruh pada angka besar. Ia yakin ia akan menang. Sayangnya, prediksinya salah. Angka yang ditunjukkan dadu justru kecil.
Liu Qingti tidak terima. "Sekali lagi!"
"Baiklah, aku mengaku kalah. Katakan, apa permintaanmu?"
Baili Qingyan terkekeh lagi. Senyumnya manis, namun tidak semanis Baili Qingchen.
"Pergi ke rumah bordil dan tiduri seorang wanita untukku!"
Raut wajah Liu Qingti seketika berubah. Baili Qingyan ternyata mempunyai pemikiran cabul dan vulgar. Dia menolak dengan tegas.
"Tidak. Meskipun aku tidak berguna dan suka berfoya-foya, aku tidak pernah melecehkan atau menodai wanita manapun."
"Hm, benar juga. Kakak ipar bisa menggorokmu jika kau melakukan itu. Kalau begitu, ganti permintaan lain. Bagaimana jika kau mencuri ****** ***** ayahmu?"
"Sialan! Itu sama saja, bodoh!"
"Bagaimana jika kau mencuri kotak riasan adikmu yang cantik itu, Liu Erniang?"
"Bicara yang jelas!"
__ADS_1
"Ck. Itu tidak bisa, ini juga tidak bisa. Kau ini bisanya apa?"
"Katakan permintaan yang masuk akal!"
Tiba-tiba saja Baili Qingyan menyeringai jahat. Liu Qingti masih merasakan firasat buruk, ia menduga Baili Qingyan masih akan memintanya melakukan sesuatu di luar nalar manusia berakal.
"Kalau begitu, cukur saja rambutmu sampai habis. Bukankah itu tidak merugikan orang lain?"
Benar, bukan?
Pangeran menyebalkan ini sengaja mempermainkannya! Liu Qingti tidak bisa mengelak sekarang. Meskipun rambut adalah aset berharga yang mempengaruhi ketampanan seorang pria, dia tidak bisa mengingkari janji. Dia sudah kalah dari Baili Qingyan. Permintaannya kali ini juga tidak seburuk sebelumnya.
"Baik. Aku turuti permintaanmu."
Dengan suasana hati yang buruk, Liu Qingti pergi meninggalkan restoran dan mencari seseorang untuk mencukur rambutnya. Dia mencukurnya sampai habis, sampai tidak ada sehelai pun yang tersisa. Tampilannya sekarang sudah mirip seperti seorang pendeta Buddha.
Pencukur itu dengan berani bertanya, "Tuan, apa kau akan menjadi seorang biksu?"
"Diamlah! Jangan memberitahu siapapun tentang ini!"
Liu Qingti kembali ke restoran dengan kepala tertutup kain. Baili Qingyan penasaran dengan hasilnya. Dia meminta Liu Qingti membuka kain penutup kepala, dan sesuatu seperti bola lampu taman besar terpampang dengan jelas.
Baili Qingyan tertawa terbahak-bahak.
"Astaga! Aku tidak menyangka Tuan Muda Kedua Liu adalah orang yang menepati perkataannya! Kau benar-benar mencukur habis rambutmu? Hei, kau membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkannya kembali!"
"Bukankah ini permintaanmu? Agar kita impas, bayar semua tagihannya."
"Haha, baiklah. Jingling, bayar tagihannya. Aku masih ingin bermain di sini. Kau bisa pergi lebih dulu."
Jingling mematuhi perintah dan keluar lebih dulu dari restoran.
Liu Qingti terlihat sangat kesal. Rambut yang ia rawat bertahun-tahun menghilang begitu saja. Namun meskipun ia botak, ia tetap tampan.
"Sebenarnya, kau cukup asyik diajak bicara. Orang-orang bilang Tuan Muda Kedua Liu selalu berfoya-foya dan hidup nyaman, meski seringkali dimarahi Perdana Menteri. Tampaknya itu memang benar," ucap Baili Qingyan.
"Tidak ada gunanya jika aku gagal memenuhi harapan ayahku. Selain itu, ia sudah punya Kakak Pertama dan Adik Ketiga yang bisa membuatnya bangga. Tidak masalah baginya memiliki satu anak gagal sepertiku."
"Eits, tidak. Dia punya satu anak yang berdiri di tengah. Kakak iparnya bisa saja membuatnya bangga, tapi aku merasa bahwa dia akan membuat keluarganya jatuh."
"Tidak apa-apa. Adikku sudah cukup menderita hidup di bawah tekanan kediaman Perdana Menteri. Jika dia ingin membalas dendam, biarkanlah saja."
__ADS_1
"Wah, kau cukup mengerti."
Liu Qingti mengedikkan bahu. Baili Qingyan menatapnya sejenak, lalu beralih mengambil makanan dengan sumpit. Sepertinya ia harus menjadikan Liu Qingti teman barunya. Pria ini memiliki kesamaan dengannya: sama-sama menikmati kebebasan dan tidak ingin terkekang oleh aturan keluarga. Siapa tahu, suatu saat mereka benar-benar bisa bebas.