Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 28: Petunjuk Misi


__ADS_3

Sesuai dugaan, keesokan harinya Qingyi terperanjat saat menyadari kalau dirinya memeluk Baili Qingchen dalam tidurnya semalaman. Untung saja pria itu masih menutup matanya, jadi dia bisa berpura-pura dan diam-diam keluar dari kamar lebih awal.


Dia meregangkan tubuhnya di depan pintu, lalu menguap beberapa kali. Langit saat itu sudah cukup terang dan cahaya matahari sudah masuk ke halaman dalam suhu hangat.


Qingyi meregangkan tubuhnya. Ah, rasanya nyaman sekali. Udara di sini segar, tidak seperti di ibukota. Tidak bising, tidak ada suara pelayan atau Xiao Junjie yang sedang bergelayut manja pada Baili Qingchen di ruang belajar. Juga, tidak ada banyak orang yang berlalu lalang. Pagi berjalan semestinya, dengan suasana yang berbeda.


Yinghao muncul di pundak Qingyi. Hewan kecil itu juga menguap lebar-lebar layaknya manusia yang baru pulih dari tidur semalaman. Qingyi mendecih, panda kecil itu hanya sekumpulan kabel tetapi perilakunya sudah seperti makhluk hidup saja.


“Bagus. Karena kau sudah bangun, beritahu aku sebuah petunjuk misi!”


Giliran Yinghao yang berdecak. Tuannya ini selalu memaksanya setiap saat, membuatnya kesal tanpa tahu harus berbuat apa.


“Kau tidak ingin mengatakannya?”


Kesabaran Qingyi yang setipis kertas diuji oleh Yinghao. Panda kecil itu tidak mau membuka mulut dan memberitahunya meskipun Qingyi sudah memaksanya. Tapi, Yinghao bermain dengan orang yang salah.


Qingyi yang kehabisan kesabaran menarik kedua telinga Yinghao sampai panda kecil tersebut meronta minta dilepaskan. Barulah setelah memohon dan berkata tentang petunjuk, Qingyi baru melepaskannya.


“Mana ada tuan yang menganiaya pengurus rumah kecilnya. Kau ini bar-bar sekali,” keluh Yinghao. Qingyi tidak peduli.


“Sudah terlambat untuk menyesalinya. Katakan atau tidak?”


“Arah jam dua belas. Di sana kau bisa menemukan petunjuknya.”


Qingyi mengukur dengan mata dan jarinya. Arah jam dua belas itu mengarah pada kamar Nyonya Zhao. Qingyi memicing, lalu menjewer kembali telinga Yinghao.


Jelas-jelas kemarin dia sudah mengobrak-abrik kamar tersebut sampai berantakan dan tidak menemukan apapun. Yinghao meronta kembali, lalu berkata kalau Qingyi mungkin melewatkan sesuatu karena jelaslah bahwa petunjuk sistem adalah yang paling kongkret.


“Sistem sialan!” umpatnya sambil berjalan menuju kamar Nyonya Zhao.


Nyonya Zhao tampak sedang membereskan tempat tidurnya. Melihat putrinya datang dengan wajah tidak bersahabat, dia segera menghampirinya dan bertanya, “Qing’er, ada apa?”


“Apa Ibu punya benda yang selalu Ibu bawa sejak sebelum sampai keluar dari kediaman Perdana Menteri?” tanyanya langsung.


“Selain mahar, Ibu tidak membawa apapun. Untuk apa kau menanyakannya?”


“Ada sesuatu yang harus kupastikan. Ibu, apa kau yakin tidak punya sesuatu?”


“Tidak ada.”


Nyonya Zhao heran dengan pertanyaan putrinya. Pagi-pagi buta begini bukannya tidur bersama suami, malah datang dan menanyakan hal-hal aneh. Sebelumnya Nyonya Zhao hanya fokus pada kebebasan Qingyi, sampai tidak menyadari kalau putrinya itu sudah banyak berubah. Terutama dari tutur kata dan perilakunya yang tidak seperti biasa. Nyonya Zhao ragu, tapi dia juga tidak bisa mencurigai putrinya sendiri.


Udara di kamar itu agak pengap. Debu-debu dari atap turun ke bawah karena terbawa angin dan masuk ke dalam hidung Nyonya Zhao sampai bersin. Nyonya Zhao kemudian menggunakan sebuah saputangan berwarna biru muda untuk menutupi hidungnya.


Qingyi melihat saputangan itu, lalu otaknya langsung tersambung. Dia meminta saputangan tersebut, kemudian membentangkannya. Ujung saputangan tersebut memiliki sebuah corak yang mirip seperti lambang sebuah keluarga.


“Dari mana Ibu mendapatkan saputangan ini?” tanyanya.


“Itu saputangan yang selalu aku bawa sepanjang waktu. Hanya sebuah saputangan usang, untuk apa kau membutuhkannya?”


“Oh, aku akan segera kembali!”

__ADS_1


Qingyi berlari keluar dari kamar Nyonya Zhao seperti anak kecil yang baru dapat permen. Tingkahnya dilihat oleh Baili Qingchen yang baru bangun. Melihat permaisurinya berlari seperti itu, sudut bibirnya terangkat dan membuat mulutnya seperti bulan sabit. Gadis itu bangun lebih awal, mungkin karena tidak ingin ketahuan telah tidur dengan memeluknya semalaman.


“Mengapa dia begitu bersemangat hari ini?” gumamnya.


Baili Qingchen kemudian segera membersihkan dirinya dan bersiap pergi ke Akademi Xizhou.


Sementara itu, Qingyi sudah sampai di pusat kota. Keramaian orang-orang menyapanya di pagi hari yang cerah ini. Qingyi kembali dibuat terpesona oleh pemandangan yang dilihatnya. Pasar Kota Xizhou kelihatan lebih ramai daripada pasar di ibukota. Padahal, hari belum terlalu siang.


Gadis itu segera menghampiri sebuah toko kain sutera. Ketika pemiliknya menghampirinya, Qingyi langsung mengeluarkan saputangan Nyonya Zhao dan bertanya terkait jenis kain yang digunakan untuk membuatnya.


Pemilik toko kain itu menjawab bahwa saputangan tersebut terbuat dari sutera premium, yang sering dipakai oleh kaum aristokrat di Kota Xizhou. Tetapi, variannya merupakan varian yang sudah sangat lama sekali.


“Apa kau bisa menunjukkan katalog kain di sini?” pinta Qingyi. Dia harus memastikan sesuatu. Pemilik toko yang baik hati kemudian membawakannya buku katalog kain-kain sutera beserta tahun pertama dan model pembuatannya.


Setelah dicari di halaman sekian, akhirnya Qingyi menemukan sesuatu. Kain sutera sejenis dibuat lebih dari dua puluh tahun lalu. Dia menghitung perkiraan usia Nyonya Zhao, lalu mencocokkannya dengan tahun pembuatan kain tersebut. Hasilnya, pada saat tahun pembuatan, Nyonya Zhao masih berusia sekitar sembilan sampai sepuluh tahun.


Pada usia itu, orang cenderung melupakan sebagian ingatan mereka karena memasuki fase remaja. Apalagi di zaman ini, untuk orang yang kurang beruntung seperti Nyonya Zhao, ingatan yang ada di otak mudah hilang. Qingyi punya keyakinan kalau identitas asli dari ibunya itu tidak sederhana. Orang tua kandungnya pasti orang besar, karena kain saputangan ini terbilang langka dan mahal.


Qingyi menunda sejenak pencariannya karena lapar. Di restoran yang besarnya tidak seberapa itu, dia memesan beberapa menu makanan. Tidak lupa, dia menyuruh Yinghao pergi terlebih dahulu supaya panda kecil itu tidak mengganggunya. Dia makan dengan lahap sendirian.


Suapannya terhenti kala tangan seseorang menahan sumpitnya masuk ke mulut. Qingyi menoleh, lalu mendapati Baili Qingchen berdiri dengan wajah datarnya. Mood Qingyi seketika menurun drastis. Ayolah, ini masih pagi.Tidakkah pria itu punya kesibukan lain selain mengganggunya?


“Kau tidak punya pekerjaan sampai mengikutiku kemari?”


Baili Qingchen malah duduk di depan Qingyi.


“Menu makanannya terlalu banyak untuk sarapan pagimu.”


“Nafsu makanku besar. Kau tahu itu,” seloroh Qingyi.


“Kau mencari asal saputangan ini?”


“Bagaimana kau tahu?”


“Kau membuatnya terlihat dengan jelas.”


Penglihatan dan daya tangkap Baili Qingchen memang bagus. Itu tidak perlu diragukan lagi karena semua orang di Kekaisaran Bingyue tahu itu. Pria itu menatap sejenak pada Qingyi.


Dia salut padanya, Qingyi bertindak seolah tidak terjadi apa-apa semalam pada mereka. Atau mungkin, gadis itu sengaja berpura-pura tidak terjadi apa-apa.


“Ikutlah bersamaku ke Akademi Xizhou.”


“Tidak mau. Aku masih punya pekerjaan yang harus aku selesaikan,” tolak Qingyi.


Baili Qingchen tidak menerima penolakan. Dia menarik Qingyi keluar dari restoran setelah membayar total tagihan makanan. Qingyi dibawa masuk ke dalam kereta, lalu kereta tersebut melaju menuju Akademi Xizhou. Qingyi tidak berkutik karena Baili Qingchen mengatakan kalau dia akan membuatnya tetap di Xizhou dan tidak akan membawanya pulang ke ibukota jika melawan.


Kereta itu sampai di depan gerbang Akademi Xizhou. Penjaga di sana tidak bertanya ketika mereka masuk, mungkin karena kemarin Baili Qingchen telah kemari lebih dulu. Baili Qingchen segera pergi ke kantor guru Akademi Xizhou. Di sana, mereka telah berkumpul sesuai dengan instruksi Baili Qingchen kemarin.


Kepala Akademi Xizhou, Zhao Peng menyambut dengan keramahan yang sangat luar biasa. Qingyi mundur sedikit, lalu sedikit bersembunyi di belakang punggungnya.


Melihat guru-guru Akademi Xizhou membuatnya ingat pada pelajarannya di sekolah dulu. Dia bukan murid pintar, dan sering dipanggil ke ruang guru karena nakal. Mungkin itu membuatnya sedikit bernostalgia.

__ADS_1


“Apakah ini adalah Putri Permaisuri Changle?” tanya Zhao Peng.


“Ya,” jawab Baili Qingchen.


“Ah, selamat datang, Yang Mulia. Saya Zhao Peng, kepala Akademi Xizhou.”


“Oh, hai.”


Sekarang Qingyi berdiri sejajar dengan suaminya. Zhao Peng lalu memberitahukan tujuan kedatangan Baili Qingchen kemari karena kemarin, semua guru sedang sibuk mengajar di kelasnya. Usai semua orang tahu, mereka dipersilakan kembali ke kelas sementara Baili Qingchen berkeliling akademi. Pria itu tidak memberikan kesempatan untuk melepaskan Qingyi dan membuatnya terus mengikutinya di belakang.


“Aku datang bukan untuk jalan-jalan di sini. Baili Qingchen sialan, dia membuatku mengikutinya seperti anjing kecil!” gerutu Qingyi.


Sampai di depan perpustakaan, mereka berhenti.


“Bukankah kau ingin mengetahui asal-usul saputangan itu?” tanya Baili Qingchen pada Qingyi.


Qingyi mengangguk, tapi tidak terlalu mengerti.


“Tanyakan padanya,” tambahnya. Qingyi masih tak paham. Otaknya tidak bekerja untuk sesaat. Baili Qingchen mengernyit, begitu pula dengan Zhao Peng.


“Berikan saputangannya!”


Qingyi lalu menyodorkan saputangan sutera tersebut dan menunjukkannya pada Zhao Peng.


“Apa kau tahu sesuatu tentang saputangan ini?”


“Biar saya lihat, Yang Mulia.” Zhao Peng mengamati setiap inci dari saputangan tersebut. Ia juga memperhatikan pola sulaman yang ada di ujungnya, dan pola itu sangat familier sekali.


“Dari mana Yang Mulia mendapatkannya?”


“Itu milik ibuku.”


“Pola sulaman ini adalah lambang Keluarga Zhao.”


Sekejap kemudian, Qingyi sudah bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Zhao Peng. Pola sulaman pada saputangan itu adalah milik Keluarga Zhao, kebetulan marga Nyonya Zhao juga sama. Segala kemungkinan menjadi masuk akal karena Qingyi tahu kejadian apa yang menumpa Nyonya Zhao sebelum masuk ke kediaman perdana menteri. Putri angkat pedagang, mungkin saja itu identitasnya yang lain.


“Kudengar Keluarga Zhao pernah kehilangan putrinya dua puluh lima tahun yang lalu,” ujar Baili Qingchen.


Zhao Peng mengangguk. Putri yang dikatakan hilang itu adalah Nona Besar Keluarga Zhao, yang hilang saat perjalanan menuju ibukota. Saat itu Zhao Peng baru berusia delapan tahun, dan nona besar tersebut adalah kakak sepupunya. Kabarnya kereta yang membawanya jatuh ke jurang karena serangan bandit gunung.


“Yang Mulia, bolehkah saya menemui Ibu Yang Mulia Putri?” pinta Zhao Peng.


Qingyi mengangguk. Ada seringaian aneh tersungging di bibirnya yang membuat Baili Qingchen merinding. Seriangan itu lebih menyeramkan ketimbang tawa Kaisar Baili ketika memarahi para menteri.


Setelah menyelesaikan beberapa urusan, Zhao Peng dan Qingyi beserta Baili Qingchen pergi ke rumah Nyonya Zhao. Pelanggan yang saat itu belum menyelesaikan transaksi kainnya disuruh pulang. Nyonya Zhao membawa putri dan menantu serta Zhao Peng ke dalam, lalu menanyakan mengapa kepala Akademi Xizhou repot-repot datang kemari.


“Nyonya, apa Nyonya pernah mengalami kecelakaan sewaktu berusia sepuluh tahun?” tanya Zhao Peng.


“Aku tidak tahu. Tapi, sepertinya memang ada kecelakaan kecil yang membuatku kehilangan ingatan,” jawab Nyonya Zhao.


“Apa benar saputangan ini milik Nyonya?” tanyanya lagi. Nyonya Zhao mengangguk.

__ADS_1


“Apa Nyonya juga punya tanda lahir di tangan kiri?”


Sekali lagi, Nyonya Zhao mengangguk.


__ADS_2