
“Periksa dengan teliti! Tangkap orang itu hidup-hidup!”
Komandan Pengawal Istana, Xiao Qi memimpin pasukan untuk menggeledah Balai Pengobatan Istana dan menginterogasi setiap orang yang ada di sana.
Sang komandan mendapat perintah untuk menangkap pelaku yang telah menyebabkan hilangnya kesuburan para selir istana dari Kaisar Baili, sebagai reaksi atas laporan yang diberikan oleh Baili Qingchen.
Balai Pengobatan Istana yang dipenuhi dengan obat-obatan diperiksa dengan teliti. Semua orang dikumpulkan di satu tempat dan diinterogasi.
Para pegawai dan tabib tidak tahu mengapa mereka tiba-tiba dikumpulkan dan ditanyai satu persatu. Kemarin, Kaisar Baili meminta buku catatan penggunaan obat, dan hari ini mereka dikumpulkan atas perintah orang yang sama.
“Bagaimana?” tanya Baili Qingchen saat dia mendatangi Balai Pengobatan Istana untuk melihat hasil pemeriksaan.
“Yang Mulia, ada satu tabib yang tidak ada di tempat,” jawab Xiao Qi.
“Siapa?”
“Tabib Shen. Dia menghilang sejak dua hari yang lalu.”
“Turunkan perintah penangkapan. Laporkan ini kepada Yang Mulia Kaisar!”
“Baik, Yang Mulia.”
Sebelum meninggalkan istana, Baili Qingchen meminta kepala tabib untuk memberikan informasi terkait Tabib Shen yang hilang itu.
Kemungkinan besar dia sudah tahu bahwa pihak istana akan menyelidiki keanehan atas harem yang tak kunjung memberi kaisar keturunan, sementara seorang anak kaisar dari luar yang berusia tujuh tahun datang mengungkapkan identitasnya.
Dalam waktu singkat, perintah penangkapan Tabib Shen telah menyebar ke seluruh penjuru kota kekaisaran. Posternya sebagai buronan telah ditempel di mana-mana, di setiap dinding, papan pengumuman, dan juga tiang-tiang bangunan yang mudah dilihat banyak orang.
Siapapun yang bisa menemukannya atau memberi petunjuk, maka pihak istana akan memberikan hadiah yang besar.
Baili Qingchen membawa pasukan untuk menyusuri tempat tinggal Tabib Shen berdasarkan informasi yang ia peroleh. Katanya, Tabib Shen pernah tinggal di Gunung Changsan, gunung yang terletak di sebelah barat kota kekaisaran. Tempatnya memang cukup jauh namun mudah diakses dengan kuda dan kereta.
Rombongan berkuda melaju dari arah istana menuju tembok kota. Semua penduduk menyingkir, menyaksikan iring-iringan Raja Changle dan pasukan istana keluar dari kota kekaisaran. Debu-debu yang beterbangan akibat pijakan kaki kuda tertinggal selama beberapa menit, lalu menghilang diterpa angin.
Iring-iringan Baili Qingchen memasuki area hutan Gunung Changsan yang lebat. Pepohonan tinggi menjulang, menutup sinar matahari.
Jalan tanah yang datar mulai menanjak seiring naiknya ketinggian daerah tersebut. Pada saat tengah hari, mereka tiba di lereng Gunung Changsan.
Ada bukit-bukit kecil dan tebing yang tinggi mengelilingi gunung itu. Jauh di sebelah selatan terdapat sebuah sungai yang mengalir menuju arah barat, yang menyambungkan kota kekaisaran dengan Kota Yangzhou. Sungai itu diapit dua tebing tinggi, dan di sanalah Baili Qingchen berhenti sejenak untuk mengistirahatkan diri.
“Yang Mulia, ada sebuah pondok kayu di sebelah sana. Mungkin saja itu tempat tinggal Tabib Shen,” ucap Xiao Qi.
“Periksa!”
Pasukan lantas mengepung tempat yang disebutkan oleh Xiao Qi. Sebuah pondok kayu yang terletak di lereng gunung itu tampak tidak terawatt, bahkan sudah bobrok dan hampir runtuh.
Baili Qingchen bergegas masuk untuk memeriksa, sayangnya tidak ada apapun di sana. Pria itu memeriksa kembali, lalu menemukan petunjuk bahwa pondok ini pernah disinggahi seseorang.
__ADS_1
Pasukan lengah. Seseorang melemparkan api ke halaman pondok yang dipenuhi jerami kering. Area pondok langsung terbakar dan Baili Qingchen terjebak di dalam. Dia menutup hidungnya, kemudian melompat melewati api. Pengawal dan Xiao Qi segera bertindak. Mereka terlebih dahulu menanyakan kondisi Baili Qingchen.
“Padamkan apinya dan jangan biarkan menyebar. Aku akan menangkap orangnya!” titah Baili Qingchen.
“Tapi, Yang Mulia, bagaimana caranya menangkap orang sendirian?”
“Itu mudah. Cepat padamkan apinya dan minta pasukan untuk menyisir area Gunung Changsan!”
Baili Qingchen berlari mengejar orang itu. Bayangannya masih tertangkap oleh matanya, lalu bergerak menuju arah selatan lereng Gunung Changsan.
Area ini tidak banyak ditumbuhi pohon hingga gerakan sekecil apapun masih bisa terlihat. Orang itu adalah pria, dan bisa dipastikan dia adalah Tabib Shen.
“Berhenti!” seru Baili Qingchen.
Dia melemparkan pedangnya, lalu menyabet kaki Tabib Shen. Tabib Shen terjatuh, kemudian bangkit dan berlari sambil menyeret kakinya walau rasa sakit dan perih menjalar ke seluruh tubuh.
Sampai di kawasan yang agak datar, Baili Qingchen berhenti. Tabib Shen sudah tidak sanggup melarikan diri. Dia duduk di hamparan dedaunan yang mulai memerah karena darah memercik dari lukanya. Baili Qingchen mengacungkan pedang ke leher Tabib Shen, melarangnya untuk tidak menggunakan trik lagi.
“Ikut aku kembali ke istana!” ucapnya. Tabib Shen yang tadinya ketakutan kemudian tertawa.
“Kembali? Kembali untuk mati?”
“Jika kau menjawab jujur, aku bisa mengampuni nyawamu!”
Melihat reaksi Tabib Shen, Baili Qingchen merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Sebuah anak panah kemudian melesat menyasar lehernya.
Pada saat kesempatan datang, Tabib Shen melarikan diri. Para pembunuh menyerang Baili Qingchen bersama-sama. Sial, taktiknya cukup hebat!
Tabib Shen sengaja membakar pondok untuk mengalihkan perhatian, agar para pengawal sibuk memadamkan api sementara Baili Qingchen dipancing hingga kemari, ke tempat yang cukup jauh dari posisi para pengawal.
Satu sabetan menumbangkan beberapa orang. Baili Qingchen mengeluarkan kemampuan bertarungnya seperti di medan perang. Gerakannya cepat dan akurat. Lima pembunuh tumbang dalam tiga menit. Namun, lima pembunuh lain datang lagi menggantikan kawan mereka.
“Dasar tidak tahu malu! Beraninya mengeroyok seorang raja?” ucap seseorang.
Orang itu kemudian melemparkan sebuah kayu lonjong mirip sebuah pemukul baseball ke salah seorang pembunuh dan berhasil membuatnya pingsan.
“Qingyi?” gumam Baili Qingchen.
Dia melihat Qingyi dalam balutan busana pria berwarna hitam melompat turun dari cabang pohon akasia.
“Hai! Butuh bantuan?” ucap Qingyi diiringi seringaian anehnya.
“Sejak kapan kau di sini?”
“Sejak kau melemparkan pedangmu pada tabib sialan itu.”
“Kembalilah! Ini sangat berbahaya!”
__ADS_1
Qingyi menggelengkan kepala.
“Kau bisa mati jika aku pergi sekarang.”
Pembunuh itu lalu berkata, “Apa kalian sudah selesai berbincang? Kalau begitu, temuilah Raja Neraka bersama-sama!”
“Kalian tidak tahu? Akulah Raja Neraka untuk kalian!”
Pedang indah milik Dewa Perang Bingyue menari di udara, melawan setiap sabetan pedang lain yang mengarah kepada penggunanya. Baili Qingchen dan Qingyi bertarung bersama-sama melawan para pembunuh. Baili Qingchen berkali-kali menangkis serangan yang tertuju pada Qingyi, begitu pula sebaliknya.
Seperti biasa, Qingyi tidak berniat membunuh mereka. Dia hanya melukai tubuh pembunuh dan memukulnya dengan keras sampai tidak sadarkan diri.
Seni penggunaan pedang dan teknik yang digunakan sepasang suami istri tersebut lambat laun membuat para pembunuh kewalahan. Tidak disangka ilmu bertarung Raja Changle dan istrinya sangat baik. Mereka butuh bantuan lebih banyak jika ingin menyingkirkan Baili Qingchen dan Qingyi.
Suara mirip peluit menggema. Tanda pemanggilan bantuan sudah diutarakan dan beberapa saat kemudian, rombongan pembunuh lain datang.
Sekuat apapun kondisi fisik Qingyi dan Baili Qingchen, sebaik apapun ilmu bela diri mereka, semuanya tidak akan bertahan lama jika jumlah pembunuh lebih dari lima belas orang. Qingyi dan Baili Qingchen saling memandang, lalu mengangguk.
Granat kecil meledak menghempaskan kumpulan pembunuh. Pada saat itu, Qingyi dan Baili Qingchen melarikan diri. Namun, mereka masih mengejarnya. Sepasang suami istri itu terpojok hingga didesak ke tepi tebing yang curam.
Qingyi dan Baili Qingchen kembali melawan sisa pembunuh di tepi tebing. Pedang mereka mengayun di udara, memercikkan darah.
“Mengapa kau hanya melumpuhkan mereka?” tanya Baili Qingchen yang heran karena sejak tadi, Qingyi tidak pernah menusukkan pedangnya pada dada, perut, atau leher para pembunuh.
“Aku tidak pernah membunuh orang!” seru gadis itu.
Benar juga, dalam beberapa pertarungan, istrinya itu tidak pernah membunuh lawan, dan hanya membuat mereka lumpuh atau terluka parah.
Karena senjata api di ruang dimensi digadaikan untuk meminta tambahan waktu, Qingyi tidak dapat menggunakannya. Dia hanya bisa menggunakan senjata lain dan pedang untuk melawan, sampai membuatnya kewalahan sendiri. Qingyi melampiaskan kekesalannya atas perilaku sistem kepada para pembunuh.
Saat itu, seorang pembunuh berhasil melukai dada kiri Baili Qingchen. Pria itu menahan pedang agar tidak menembus lebih dalam ke dalam jantungnya, sampai langkahnya mundur menuju tepi tebing. Akibat dorongan tenaga yang kuat, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan kakinya tergelincir.
“Baili Qingchen!”
Qingyi berteriak, melompat menyingkirkan pembunuh yang berusaha menyerang Baili Qingchen. Qingyi menangkap tangan Baili Qingchen, hampir saja meleset.
Aliran darah mulai membasahi pakaian mereka. Sekuat tenaga Qingyi berusaha menahan berat tubuh Baili Qingchen yang tergantung di tepi tebing.
“Lepaskan aku! Kau masih bisa melawan mereka dan lari!”
“Bodoh! Itu sama saja dengan mati!”
“Xiao Qi dan pasukan pengawal akan segera tiba untuk menolongmu!”
“Tidak ada gunanya! Kalau begitu, kita mati bersama saja!”
Qingyi melepaskan kendali tubuhnya dan memilih terjun bebas bersama Baili Qingchen. Tubuh mereka bergerak secepat angin dari tebing setinggi lima ratus meter. Pada saat itu, Baili Qingchen memegang tangan Qingyi dengan erat, perlahan ia mulai kehilangan kesadaran.
__ADS_1