
Dalam sekejap, semua pelayan di mansion Raja Changle dipaksa berkumpul di taman halaman barat. Semua pelayan dari semua bagian harus berlutut dan menurut. Wajah mereka dipenuhi kekhawatiran, seakan-akan hari ini mereka akan mati di tangan raja mereka sendiri.
Ya, tentu saja. Jika ada sedikit kesalahan dalam berkata, atau ada sesuatu yang berusaha ditutupi, Raja Changle tidak akan mengampuni mereka. Dewa Perang Bingyue yang terkenal dengan keganasannya di medan perang tentu tidak akan berbelas kasih atas nyawa seorang pelayan rendahan seperti mereka.
Xiao Junjie yang terkejut karena Cui Kong menarik paksa semua pelayannya tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia mengikuti rombongan pelayan dan tidak bertanya karena ia ingin Baili Qingchen sendiri yang menjawabnya.
Cui Kong tidak mungkin bertindak di bawah perintah Putri Permaisuri, bukan?
Namun, dia terkejut ketika tempat yang dituju oleh semua pelayan adalah halaman barat. Tempat ini membuat suasana hatinya memburuk.
Lagi-lagi Putri Permaisuri. Apakah Cui Kong benar-benar sudah tunduk padanya? Xiao Junjie geram, kemudian terpaksa melangkahkan kaki ke dalam halaman barat.
Dia kembali terkejut karena Baili Qingchen juga ada di sana. Mata tajam pria kesayangannya itu diselimuti api kemarahan yang belum pernah dilihat olehnya.
Melihatnya dari jarak yang cukup jauh sudah membuatnya merinding. Dalam tiga tahun terakhir, baru kali ini Xiao Junjie melihat ekspresi marah Baili Qingchen yang mengerikan.
“A-Chen, apa yang terjadi?” tanyanya sembari berjalan ke arah Baili Qingchen.
“Berhenti dan jangan mendekat!” sentak Baili Qingchen.
Dalam kemarahan, Baili Qingchen tidak bisa membedakan orang. Semua yang ada di hadapannya bisa saja menjadi bersalah, termasuk Xiao Junjie. Pria itu seketika menghentikan langkah dan jantungnya hampir meloncat keluar akibat tingginya nada suara Baili Qingchen.
Baili Qingchen baru saja membentaknya dan hati Xiao Junjie tiba-tiba seperti ditusuk jarum. Rasanya ada yang sakit, namun tidak mengeluarkan darah.
Rasa sakit itu menyebar ke seluruh bagian tubuh, hingga Xiao Junjie secara alami berhenti dan menuruti perkataannya. Matanya yang jernih menatap Baili Qingchen dari jarak sepuluh meter, di antara para pelayan yang berlutut.
“Serahkan diri kalian atau aku yang akan memeriksanya sendiri?” ucap pria itu penuh penekanan.
Semua pelayan menunduk, tidak berani berbicara sepatah kata pun. Mereka takut jika salah berkata, Raja Changle akan membunuh mereka.
Baili Qingchen mengepalkan tangannya dan sudut matanya memerah. Saat ini, dia seperti iblis yang telah dikuasai kemarahan. Cui Kong lalu memeriksa satu persatu pelayan dan menggeledah mereka selagi Baili Qingchen sibuk dengan ancaman yang disertai kemarahan itu. Bagaimanapun, pelakunya pasti masih ada di sini.
“Yang Mulia, pelayan ini mencurigakan!”
__ADS_1
Cui Kong menyeret seorang pelayan wanita berwajah bulat ke hadapan Baili Qingchen. Saat pemeriksaan, pelayan ini tampak gelisah dan seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Cui Kong memeriksa tubuhnya, kemudian menemukan sebuah botol kecil berisi cairan yang tidak berwarna dan tidak berbau.
Baili Qingchen menatap pelayan itu dengan marah.
“Katakan! Siapa yang menyuruhmu?”
Pelayan itu membisu.
“Apa kau tuli? Siapa yang menyuruhmu?”
Sampai beberapa kali ditanya, pelayan tersebut tetap diam layaknya patung. Hal ini membuat Baili Qingchen semakin marah. Dengan gerakan cepat, dia mencabut pedang di tangan kanan Cui Kong dari sarungnya dan mengarahkannya ke leher pelayan tersebut. Tubuh pelayan mulai bergetar.
Cahaya bulan memantul di atas permukaan pedang yang bening. Semua orang jatuh dalam ketakutan yang dalam. Kesabaran Baili Qingchen habis, lalu tangannya mengayunkan pedang dalam gerakan sepersekian detik.
Leher pelayan tersebut tersayat dan darah memuncrat keluar, membuat semua pelayan yang berlutut meringkuk ketakutan.
“Orang yang berani menyakiti Putri Permaisuriku akan berakhir dengan mati!”
Xiao Junjie termangu di tempatnya berdiri. Dirinya belum bisa mempercayai kejadian beberapa detik lalu. Baili Qingchen, dia… baru saja membunuh seorang pelayan dengan satu tebasan pedang?
Selama hidup bersamanya, Xiao Junjie tidak pernah melihat Baili Qingchen semarah ini. Dia memang Dewa Perang, tetapi ketika seorang pelayan berbuat kesalahan, paling-paling dia hanya akan mengusirnya dari kediaman atau memenjarakannya. Tidak pernah sekalipun membunuh secara terbuka.
“Bukankah itu adalah pelayan dari kediaman Pangeran Permaisuri?” ucap salah seorang pelayan yang lain. Yang lainnya mengangguk mengiyakan.
Xiao Junjie sontak terkejut. Dia berjalan mendekat, lalu melihat dengan jelas jasad pelayan yang baru saja dipenggal. Matanya membelalak tak percaya. Pelayan ini benar-benar berasal dari kediamannya di halaman utara! Xiao Junjie mematung, sementara Baili Qingchen menatapnya dengan tajam.
“Xiao Junjie, apa itu benar?”
Pria itu bahkan memanggil Xiao Junjie dengan nama lengkapnya, bukan dengan nama panggilan yang biasa diucapkan atau panggilan gelar. Hal itu menunjukkan bahwa kemarahan Baili Qingchen tidak main-main.
Ekspresi Xiao Junjie perlahan berubah, dia berbalik dan memandang Baili Qingchen dengan ragu.
“Itu benar. Tapi, aku benar-benar tidak menyuruhnya. Bagaimana mungkin aku melakukan hal sekeji itu?”
__ADS_1
Suara Xiao Junjie bergetar. Bagaimana bisa seorang pria lemah yang bahkan tidak berani menginjak sekumpulan semut menyuruh pelayan untuk mencoba membunuh seseorang?
Sekalipun dia membenci Qingyi, dia tidak akan bertindak bodoh seperti meracuninya secara langsung. Sial, mengapa jadi seperti ini?
Semakin malam, aura Baili Qingchen semakin menyeramkan. Kecuali Cui Kong, pria itu melihat semua orang seperti musuh di medan perang.
“A-Chen, aku benar-benar tidak melakukannya,” ucap Xiao Junjie sekali lagi.
Akan tetapi, telinga Baili Qingchen telah tertutup oleh gelombang amarah yang sangat besar. Ucapan Xiao Junjie tidak masuk ke dalam hatinya.
Pria yang tiga tahun mendampinginya sekarang seperti orang asing. Mengingat ini, dan juga situasi ini, Xiao Junjie tampak sangat menyedihkan.
“Aku tahu, tapi kau tetap bersalah. Sebagai majikan, kau bahkan tidak bisa mengatur bawahanmu sendiri sampai berani menyakiti Putri Permaisuri Changle. Pergi dan renungkan baik-baik kesalahanmu!” tegas Baili Qingchen. Semua orang sontak mendongak dan menatap tak percaya.
Raja Changle baru saja memarahi Pangeran Kecil! Ini adalah yang pertama kalinya raja mereka begitu marah pada sang Pangeran Kecil yang disayanginya!
Semua orang berharap ini hanya mimpi, namun darah dari jasad pelayan yang mati dipenggal menyadarkan mereka bahwa ini bukanlah mimpi. Ini adalah malam berdarah yang sangat bersejarah!
“A-Chen, kau benar-benar ingin mengurungku?”
“Apa aku tidak mengatakannya dengan jelas? Pergi dan renungkan baik-baik kesalahanmu, Pangeran Kecil!”
Tanpa menatap lagi, Raja Changle langsung berbalik dan pergi dari taman halaman barat. Langkah kakinya yang lebar menginjak pelataran bangunan tempat kediaman Putri Permaisuri.
Cui Kong lalu memerintahkan agar jasad pelayan tadi segera dikubur dan tempat itu harus segera dibersihkan. Jangan sampai Putri Permaisuri marah karena halamannya kotor setelah sadar nanti.
Di dalam kamar, tatapan mata Baili Qingchen jatuh pada tubuh Qingyi yang sedang berbaring telentang di tempat tidur. Wajah itu masih pucat, namun sudah mulai berwarna kembali.
Tabib istana berpesan agar Baili Qingchen tetap menjaganya sampai sadar dan harus segera memberinya obat setelah siuman nanti, sebelum tabib itu dikirim kembali ke istana.
Napas pria itu berhembus pelan dan terasa sangat lelah. Kemarahannya perlahan meredup seiring waktu. Untuk beberapa saat, dia masih bergeming.
Lalu, tangan Baili Qingchen mengambil satu set pakaian bersih dari dalam lemari. Dia menutup matanya dengan kain, kemudian mulai menarik simpul pakaian Qingyi satu persatu dan menggantinya dengan yang baru.
__ADS_1
“Pakaian ini terlalu kotor. Pakaian Putri Permaisuriku tidak boleh ternoda dengan darah apapun,” gumamnya setelah selesai.
Baili Qingchen juga mengelap sisa-sisa darah yang mengering di beberapa bagian tubuh gadis itu. Malam itu, Baili Qingchen terjaga dan terus merawat Qingyi.