Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 46: Solusi untuk Pangeran Ketiga


__ADS_3

Saat matahari terbit menyinari semua dataran Bingyue, mansion Raja Changle yang mulai sibuk telah mendahului orang lain dalam aktivitasnya.


Meski semalam suntuk menunggu kepulangan tuan yang ditahan, pagi ini mereka bekerja seperti biasa. Hanya saja hati mereka tetap gelisah.


Kemudian, sebuah kereta kuda berhenti di depan gerbang. Pada penjaga bernapas lega saat orang yang mereka nantikan keluar dari kereta dalam balutan jubah istananya yang mewah. Kakinya menjejaki pekarangan mansion dengan irama tetap, tenang dan begitu bersahaja.


Sosok itu melengang memasuki pekarangan halaman barat yang masih sepi. Cahaya matahari baru sebagian kecil menyinari tanaman-tanaman rusak yang belum sempat diganti.


Embun-embun masih bergelayut manja di ujung dedaunan. Jalanan masih terlihat basah. Sepi, tetapi begitu damai.


Dia membuka pintu kamar Qingyi perlahan untuk mencegah timbulnya suara. Sosok Qingyi tampak masih tertidur pulas. Wajahnya telihat sangat lelah.


Baili Qingchen mendekat, mata indahnya asyik menatap gadis itu dengan tenang. Rasa bersalah muncul di hatinya karena selama beberapa hari ini, gadis itu selalu direpotkan olehnya. Bisa jadi dia baru bisa tidur malam tadi.


Saat hendak menyentuh wajah tertidur itu, kelopak mata Qingyi bergerak dan perlahan terbuka. Ia melihat sosok Baili Qingchen berdiri di depan ranjangnya, tenang tanpa ekspresi.


Qingyi melenguh sesaat, meregangkan tubuhnya dan bangkit secara perlahan. Setelah mengucek kedua mata, penglihatannya menjadi jelas.


“Kau sudah kembali.”


“Ya. Aku sudah kembali.”


“Aih, baguslah. Hoam…”


Qingyi menguap satu kali. Baili Qingchen masih berdiri di sana, dengan beragam perasaan aneh beserta perkataan yang tidak terucap. Terima kasih, ia ingin mengucapkan itu tapi lidahnya terasa kelu.


Aneh, padahal waktu itu ia bisa mengucapkannya dengan mudah walau suaranya pelan. Memang, hal paling sulit dilakukan di dunia ini adalah mengucapkan terima kasih dan maaf.


“Bersihkan dulu dirimu. Kita bicara setelah ini,” kata Baili Qingchen.


Qingyi mengangguk, lantas memanggil Yinghao. Seorang pelayan wanita muda kemudian masuk membawa sebaskom air untuk cuci muka. Baili Qingchen memicing, merasa asing dengan wajah pelayan yang satu ini.


“Dia pelayan barumu?” tanya Baili Qingchen.


“Oh, ya. Namanya Xiao Ying,” jawab Qingyi.


Yinghao merengut. Sembari menunggu istrinya selesai membersihkan diri, Baili Qingchen berjalan-jalan sebentar di taman halaman barat. Semilir angin menepuk pelan wajahnya.


Kali ini, ia harus bisa mengucapkannya, tidak boleh tidak. Qingyi sudah banyak membantunya akhir-akhir ini. Jika tidak mengucapkan terima kasih, rasanya agak tidak enak.


Tapi sampai gadis itu datang, ucapan itu tidak juga keluar dari mulutnya. Lidahnya mendadak terasa kelu dan ia hanya bisa menatap Qingyi dengan tatapan sulit dicari artinya.

__ADS_1


Qingyi heran karena sudah lima menit berlalu, Baili Qingchen tidak kunjung bicara juga. Astaga, apakah harus ia yang memulainya?


“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Qingyi yang sudah tidak tahan. Lama-lama dia gemas.


“Itu…Te-terima kasih.”


Qingyi meledakkan tawanya pagi itu. Suasana hatinya jadi baik karena Baili Qingchen memberinya kejutan seperti ini. Mendengarnya mengucapkan terima kasih dengan jelas membuat Qingyi bahagia tanpa sebab.


Ucapan itu pertama kali diucapkan secara jelas, tidak seperti waktu itu. Baili Qingchen tentu saja salah tingkah. Wajahnya hampir memerah.


“Aku hanya melakukan apa yang kau suruh. Kenyataannya, kita berhasil menakuti Kaisar Baili.”


“Bagaimanapun, terima kasih.”


“Aku tahu banyak yang ingin kau bicarakan denganku. Tapi, sekarang bukan saatnya untuk membicarakannya. Kita harus menemukan solusi untuk mencegah pernikahan itu.”


“Qingyan adalah keturunan campuran Chen dengan Bingyue. Pernikahannya tidak bisa diputuskan sepihak oleh Bingyue saja.”


“Yah, terlebih dia besar di Chen. Kemari pun hanya untuk berkunjung dan tidak akan menetap. Kaisar Chen akan menganggap Bingyue tidak berintegritas jika tetap memaksakan kehendak.”


Ternyata, pemikiran Baili Qingchen dan Qingyi sama. Baili Qingyan tidak boleh menikah dengan Liu Erniang. Selain karena statusnya khusus di dua negara, pernikahan itu hanya akan menjadi alat memperkuat kekuasaan. Perdana menteri semakin besar kepala dan tidak tahu diri. Kaisar Baili juga begitu tamak.


Satu-satunya solusi untuk mencegah pernikahan terjadi adalah menyuruh Baili Qingyan kembali ke Kekaisaran Chen. Tapi, dalih apa yang harus dipakai untuk meyakinkan semua orang?


“Aku punya ide!” seru Qingyi tiba-tiba.


“Oh? Coba beritahu aku!”


“Jika bisa meminta bantuan Kaisar Chen untuk memanggil kembali Baili Qingyan, masalahnya bisa selesai.”


“Tapi, pengiriman surat ke Chen membutuhkan waktu paling cepat satu pekan lewat pos.”


“Jangan khawatir tentang itu. Serahkan saja padaku.”


Mengapa Qingyi baru berpikir sekarang? Benar, dia punya ruang dimensi dengan banyak alat modern. Mengirimkan surat ke tempat yang jauh seharusnya bukan masalah besar.


Di ruang dimensi, ada sebuah alat mirip merpati pos yang bisa mengirimkan sesuatu dalam waktu singkat. Selama pengaturannya benar, surat itu pasti sampai di tempat yang tepat.


Untuk itulah, sore hari setelah Baili Qingchen dan Qingyi beristirahat memulihkan energi, keduanya langsung membuat janji temu dengan Baili Qingyan. Mereka bertemu di Restoran Jinfeng.


Lantai dua adalah tempat yang tepat untuk berbincang, tentu saja setelah mereka memesan ruangan khusus. Ketiganya sudah berkumpul, tapi belum bicara karena tatapan mereka sama-sama tertuju pada satu orang berkepala botak yang datang tanpa diundang.

__ADS_1


“Untuk apa kau ikut?” tanya Qingyi pada Liu Qingti.


“Tentu saja berdiskusi. Aku ingin tahu bagaimana cara kalian menyelesaikan permasalahan temanku,” jawab si botak ringan.


“Hah, dasar botak!” celetuk Qingyi. Liu Qingti mendelik.


“Biarkan dia ikut,” seloroh Baili Qingchen.


Setelah itu, mereka mulai berdiskusi. Baili Qingchen menyuruh adik ketiganya menuliskan sebuah surat permintaan bantuan yang ditujukan untuk kakeknya, Kaisar Chen. Dia juga diminta menuliskan kata-kata yang mendeskripsikan kondisinya saat ini.


Surat itu ditulis dalam kertas putih yang khusus digunakan para pangeran, lalu dilipat dan diberi stempel khusus Pangeran Ketiga Bingyue.


Selanjutnya, surat itu diserahkan pada Qingyi untuk dikirim. Terkait pengirimannya, gadis itu sengaja merahasiakannya karena tahu orang-orang ini pasti akan menanyainya terus menerus. Qingyi memasukannya ke saku bajunya, lalu memesan beberapa menu makanan yang lezat.


Khusus untuk Baili Qingchen, dia memesan menu khusus yang hanya diperuntukkan untuknya. Tak ayal, Baili Qingyan dan Liu Qingti langsung saling pandang dan tertawa diam-diam.


Mereka berpikir kalau perhatian Putri Permaisuri Changle pada Raja Changle sangat bagus sampai menu makanan pun dipilih secara khusus.


“Kakak, istrimu yang ini sangat perhatian. Menu makanmu hampir sama dengan makanan para biksu di kuil-kuil gunung,” canda Baili Qingyan.


Akibat candaannya, dia mendapat hadiah satu tendangan di kaki dari Baili Qingchen.


“Diamlah!”


“Asam lambungmu bisa kambuh jika terlalu banyak mengonsumsi makanan seperti ini. Kalau kau sakit, yang repot adalah aku,” cerocos Qingyi. Liu Qingti dan Baili Qingyan ber-oh ria tapi penuh dengan canda.


Baili Qingchen jadi kesal, lalu tanpa berkata ia merebut makanan di sumpit Qingyi dan memasukannya ke dalam mulutnya. Dengan wajah tenang, Baili Qingchen mengunyah dan menelannya.


Makanannya enak, gurih dan tidak terlalu asin. Itu membuat Baili Qingyan dan Liu Qingti kembali cengengesan. Sepertinya rumor yang mengatakan bahwa Raja Changle dan Putri Permaisuri Changle tidak aku hanyalah sebuah omong kosong belaka.


“Kau! Pencuri! Kembalikan makananku!”


“Bagaimana cara mengembalikannya? Merebutnya dari mulutku atau kau akan membedah perutku?”


Mendengar itu, ekspresinya jadi menggelap. Dia mengerucutkan bibirnya dan memakan makanan lain dengan sedikit emosi. Pipinya mengembung karena rongga mulutnya penuh dengan makanan.


Baili Qingyan dan Liu Qingti menyaksikan adegan mereka sejak tadi, lalu sama-sama merasa bahwa interaksi barusan tidak ada bedanya dengan sebuah romansa yang unik.


“Apa kau merasa ini seperti sebuah pertunjukan opera klasik?” tanya Baili Qingyan.


“Tidak. Ini adalah romantisme indah yang terbungkus konflik,” jawab Liu Qingti.

__ADS_1


__ADS_2