Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 148: Bersabarlah, Adik!


__ADS_3

Malam harinya, Qingyi dan Yinghao menyelinap masuk ke dalam istana. Karena istana kekaisaran diambil alih oleh wanita itu, penjagaan menjadi lebih ketat sampai membuat Qingyi harus ekstra berhati-hati. Namun, seketat apapun penjagaannya, itu bukan masalah besar untuk seorang Liu Qingyi.


Halaman istana Liu Erniang tampak sepi. Ada beberapa penjaga yang datang hilir mudik. Qingyi beberapa kali bersembunyi di balik tembok, pohon, tiang, dan juga semak-semak yang rumpun untuk menghindari penjagaan. Setelah situasi dirasa aman, ia baru keluar dan langsung masuk ke dalam istana.


Saat itu, Liu Erniang baru selesai membersihkan dirinya. Wajahnya yang putih terus tersenyum sepanjang waktu.


Kurang dari dua hari, ia sudah berhasil menaklukkan Kaisar Baili, mengambil alih kendali istana dan melemparkan tuduhan palsu kepada Raja Changle dan mengepung mansionnya. Hatinya bersorak karena ia berhasil menekan kakaknya yang dibencinya itu.


Namun, senyumnya langsung hilang saat sosok Qingyi datang dengan senyuman di wajahnya. Liu Erniang mengepalkan tangan, matanya memerah.


“Kau! Bagaimana bisa kau keluar?”


Qingyi duduk di kursi dengan santai, menatap adik laknatnya dari atas dan bawah.


“Yo, mengapa kau semakin kurus? Apa bayimu tidak tumbuh dengan baik?” ejek Qingyi.


Ia merasakan keanehan karena tubuh Liu Erniang tidak berubah, padahal ia sedang hamil.


“Ah, Dewa pasti tidak ingin bayi itu lahir dari rahimmu yang kotor. Ckck, kasihan sekali,” ejeknya sekali lagi.


Liu Erniang marah, lalu melemparkan gelas ke arah Qingyi.


“Kau! Beraninya kau datang kemari! Pengawal! Pengawal!”


Sebelum dia berteriak lebih kencang, Qingyi terlebih dahulu melompat dan menendang kaki Liu Erniang, membuatnya berlutut di lantai yang dingin. Lutut Liu Erniang merasakan sakit karena tulangnya langsung berbenturan dengan lantai tanpa persiapan.


“Aduh! Adik, aku tidak bisa menerima penghormatan darimu!” ucap Qingyi sambil berpura-pura hendak menolong Liu Erniang.


Ia berjongkok di hadapan Liu Erniang, kemudian mengangkat wajah adiknya sampai kedua matanya bertemu. Ada sorot membunuh yang sangat tajam terpancar dari mata bening Qingyi.


Tubuh Liu Erniang mulai menggigil, wajahnya pucat tanpa alasan. Tangannya bergerak untuk menepis tangan Qingyi, namun tangan itu begitu kuat.


“Cantik. Hanya saja otakmu tidak berfungsi dengan baik. Kau pikir, kau bisa mengurungku hanya dengan mengandalkan pengawal-pengawal bodoh itu?”


Selain mencengkram dagu Liu Erniang, sebelah tangannya mencengkram pergelangan tangan Liu Erniang dan memeriksa denyut nadinya diam-diam.


Liu Erniang emosi, napasnya memburu. Ia sudah bersiap untuk berteriak dan mendorong Qingyi, namun tenaganya seperti disedot habis oleh sesuatu.


“Apa yang kalu lakukan, Liu Qingyi?” tanyanya dengan marah.

__ADS_1


“Eh, kau lupa lagi. Margaku Zhao, bukan Liu. Aku tidak mau mengakui ayahmu sebagai ayahku. Ayo, panggil aku Zhao Qingyi!”


“Wanita sialan! Beraninya kau menyakiti calon Permaisuri Bingyue!”


“Permaisuri Bingyue? Ah, itu ya.  Hm, biar kupertimbangkan dulu, calon Permaisuri Bingyue.”


Qingyi berpura-pura berpikir. Liu Erniang semakin emosi, ia sangat marah. Suasana hati yang baik berubah jadi sangat buruk.


Kedatangan Qingyi menjungkirbalikkan kesenangannya. Sekarang, Liu Erniang sangat ingin menyuruh pengawal untuk memenggalnya secara langsung.


Suasana di dalam istana itu jadi tegang. Liu Erniang dan Qingyi sama-sama dikuasai emosi, hanya saja cara pengekspresian mereka berbeda.


Qingyi cenderung bermain-main dengan emosinya, menekan dan menindas orang yang membuatnya emosi, sementara Liu Erniang menunjukkannya secara langsung tanpa berani bertindak.


Sepasang kakak-adik yang saling bermusuhan itu saling beradu aura di dalam istana. Ketegangan di dalam sana bisa membuat orang ketakutan, mengigil, dan lari.


Qingyi dengan tatapan tajamnya kembali mencengkram dagu Liu Erniang. Dengan dingin dia berkata di dekat telinga adiknya, “Adik, kau harus lebih bersabar. Posisi itu tidak akan pernah menjadi milikmu.”


Sungguh, Qingyi sudah tidak tahan dengan perlakuan Liu Erniang yang semakin menjadi-jadi. Wanita ini sudah bermimpi sangat tinggi sampai mengacaukan kesenangannya.


Sudah saatnya Qingyi menyadarkan adiknya ini, menariknya jatuh dari tempat yang tinggi itu. Lagipula, sebentar lagi kisah ini akan selesai. Qingyi lebih baik membereskannya secepat mungkin.


Qingyi mendecih, membuang air liur yang sudah tercampur darah dari sudut mulut sambil menyeringai. Tamparan ini seperti cubitan, tidak membekas di hatinya. Ia justru semakin tertantang untuk melawan adiknya ini.


Qingyi tiba-tiba mengeluarkan sebilah belati tajam dari balik bajunya, menyerahkannya kepada Liu Erniang dan memaksanya mengarahkan belati tersebut ke lehernya. Tangan Liu Erniang bergetar dan sulit memegang belati tersebut.


“Ayo, bunuh aku. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi pada calon permaisuri Bingyue yang membunuh Putri Permaisuri Changle saat Raja Changle tidak ada di sini.”


Liu Erniang sangat ingin menusukkan belati tersebut, tetapi entah mengapa tangannya justru malah bergetar. Liu Erniang seperti memegang sebilah besi panjang yang berat.


Qingyi menyeringai, mendekatkan belati tersebut ke lehernya sampai menggores kulitnya. Darah keluar, Liu Erniang membelalak dan seketika melemparkan belati tersebut ke lantai.


“Kau! Kau benar-benar gila!” teriak Liu Erniang panik.


“Aish, adik, kau sungguh tidak berguna. Kau tahu? Kau haus menjadi lebih kejam jika kau ingin menduduki posisi itu. Melihatmu sekarang, sepertinya kau tidak akan bertahan lama.”


Liu Erniang tidak menyangka jika sekarang Qingyi bahkan berani mengancam nyawanya sendiri. Dulu mungkin hanya tangannya saja yang menahan pecahan porselen, namun kini menjadi belati dan lehernya terluka. Liu Erniang mungkin gila, tetapi kakaknya ini lebih gila lagi.


“Oh, sudah malam rupanya. Adik, pikirkan baik-baik. Aku akan menunggu sampai hari kau dinobatkan menjadi Permaisuri Bingyue.”

__ADS_1


Setelah itu, Qingyi melompat keluar dari jendela. Liu Erniang mengigil, dengan suara yang keras ia berteriak, “Pengawal! Cepat tangkap Putri Permaisuri Changle!”


Pengawal yang terkejut lalu mendatangi Liu Erniang. Mereka bertanya-tanya apa maksud dari Liu Erniang.


“Nyonya, Putri Permaisuri Changle tidak ada di sini. Pengawal yang bertugas mengepung mansion Raja Changle mengatakan bahwa Putri Permaisuri tidak pernah keluar dari mansion.”


Liu Erniang membelalak. Ia marah lagi. Jika dilanjutkan, pengawal-pengawal ini mungkin akan menganggapnya gila atau berhalusinasi.


Liu Erniang hanya bisa menahannya di dalam hati, lalu mengusir para pengawal pergi. Ia buru-buru membersihkan tangannya yang habis memegang belati.


Sementara itu, Qingyi pergi diam-diam ke istana Kaisar Baili. Penjagaan di sana sangat ketat, lebih ketat daripada istana lain.


Qingyi bisa melihat banyak pengawal bertubuh kekar berdiri di gerbang, beberapa yang lain berpatroli. Melihat situasi sedikit sulit, Qingyi akhirnya memikirkan sebuah ide.


Ia melemparkan sebuah bom gas air mata ke tengah, membuat para pengawal kelimpungan karena mata mereka perih dan napasnya sesak. Saat itulah ia menyelinap masuk ke dalam istana.


Kasim Li yang sedang berjaga di sisi ranjang Kaisar Baili terkejut dengan kedatangan Qingyi.


Wajah keriputnya yang pucat dan khawatir mulai berubah. Ia seperti mendapat oasis di tengah gurun. Qingyi menyuruhnya untuk tidak ribut.


Di ranjang besar yang kokoh dan mewah tersebut, Kaisar Baili terbaring dengan wajah pucat. Di samping ranjang terdapat sebuah baskom berwarna emas berisi air hangat yang sudah memerah. Saputangan sutera putih sudah ternoda.


“Yang Mulia Putri, tolong selamatkan nyawa Yang Mulia Kaisar!”


“Jangan berisik. Kau minggirlah dulu.”


Qingyi memeriksa nadi Kaisar Baili. Sesekali keningnya mengernyit. Kaisar Baili yang berwajah sangar ini sekarang pucat pasi. Matanya terpejam rapat. Dadanya naik turun, menandakan bahwa orang  ini masih hidup.


Qingyi berkespresi dingin. Dia membenci Kaisar Baili, jika orang ini mati, bebannya bisa berkurang. Tapi, tidak ada gunanya. Kaisar Baili harus sembuh untuk mempertanggungjawabkan semua keputusan yang membuat situasi menjadi kacau.


“Racun pembunuh hati? Hah, dia sungguh cerdas. Berikan obat ini tiga kali sehari. Kaisarmu mungkin tidak bisa sembuh dengan cepat, tapi setidaknya dia bisa bertahan.”


Qingyi memberikan beberapa obat herbal kualitas super dari ruang dimensi. Sebelum pergi, ia membisikkan sesuatu di teliga Kasim Li. Kasim Li tampak mengangguk mengerti.


Di luar, para pengawal menggedor pintu istana dan berteriak bahwa seorang penyusup telah masuk ke dalam istana dan menyuruh Kasim Li untuk berhati-hati.


“Ingat apa yang kukatakan. Aku akan menghitung semua perlakuan Kaisarmu setelah semua ini selesai.”


Kasim Li yang tahu dendam di antara keduanya hanya menurut.

__ADS_1


“Terima kasih, Putri Permaisuri.”


__ADS_2