Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 132: Otak Perencana


__ADS_3

“Selir Xian, kau harus membantuku.”


Zhao Ping’er mendatangi Liu Erniang setelah perjamuan pensiun ayahnya selesai. Rasa malu yang ditanggungnya lebih besar daripada sebuah gunung. Hari ini, Liu Erniang harus bertanggungjawab untuk membantunya, karena wanita itulah yang telah memberikan rencana ini padanya sejak awal.


Liu Erniang sengaja memanfaatkan Zhao Ping’er agar dia bisa merusak hubungan antara kakaknya dengan kakak iparnya. Jika seseorang masuk ke mansion Raja Changle sebagai selir dan berada di bawah kendalinya, maka Liu Erniang bisa dengan mudah mengetahui situasi di dalam kediaman itu, dan dia bisa menghancurkan kakaknya agar tidak ada orang yang bisa menghalanginya lagi.


Kebetulan, Zhao Ping’er hadir dan dia memanfaatkan gadis itu. Liu Erniang tidak mengetahui kalau rencana yang dibuatnya untuk Zhao Ping’er sudah gagal total. Bukan hanya gagal, bahkan rencana itu berbalik kepada pionnya sendiri. Zhao Ping’er berakhir menyedihkan dan dia kalah telak.


“Bukankah kau seharusnya berterima kasih padaku?” tanya Liu Erniang yang merasa sombong karena telah memberikan rencana sempurna untuk Zhao Ping’er.


“Berterima kasih?” dahi Zhao Ping’er berkerut. “Seharusnya kau yang berterima kasih padaku karena aku tidak menyebut namamu di perjamuan tadi.”


“Apa maksudmu?” Liu Erniang mulai tampak khawatir.


“Putri Permaisuri Changle terlalu hebat. Aku tidak bisa mengalahkannya.”


“Jadi, kau gagal?”


Zhao Ping’er mengangguk ringan. Dia menyesal tidak mengenali lawannya lebih awal. Jika saja saat itu dirinya lebih pintar dalam mengenali Putri Permaisuri Changle, kejadian ini mungkin tidak akan terjadi.


Setidaknya dia masih punya peluang untuk masuk ke mansion Raja Changle, meskipun kemungkinannya sangat kecil. Sekarang, kemungkinan yang kecil itu bahkan sudah menjadi debu dan terbang bersama udara, mengantarkannya menuju pengasingan di Xizhou dan menjadi pelayan Putri Yilan.


Putri Yilan terkenal dengan keberanian dan keterbukaannya. Zhao Ping’er mendengar bahwa adik perempuan Kaisar Baili itu berani mengacungkan belati pada lehernya sendiri dan mengancam semua orang untuk membatalkan pernikahan Raja Changle dengan Putri Permaisuri saat itu.  Berkaca pada situasi itu, sudah dipastikan jika Putri Yilan ini ada di pihak Putri Permaisuri Changle.


Jika dia mengetahui pelayan baru yang dikirim untuknya adalah seorang gadis yang mencoba masuk ke mansion pamannya dan telah menghina permaisuri pamannya, apakah itu akan menjadi hari yang baik untuknya?


Zhao Ping’er bergidik ketika memikirkan situasi terburuk yang akan menimpanya begitu sampai di Xizhou. Beberapa saat yang lalu dia baru berhasil memadamkan api di dalam dirinya akibat obat yang ia berikan pada Raja Changle. Zhao Ping’er sampai harus meminta izin di hadapan semua orang karena tubuhnya sudah sangat tidak nyaman.


“Dia mengirimku ke Xizhou untuk melayani Putri Yilan,” ucap Zhao Ping’er sembari menahan kemarahannya.


Liu Erniang menggebrak meja dan mengepalkan tinjunya.


“Sialan! Tampaknya kakakku benar-benar telah menjadi seekor siluman rubah.”


Tidak disangka, rencana itu bisa diendus dan digagalkan dengan mudah. Sebelumnya Liu Erniang berpikir kewaspadaan kakaknya berkurang karena dia tidak bergerak, namun ternyata analisanya salah besar. Kakaknya itu sangat pintar menilai situasi dan tahu kapan saat yang tepat untuk bertindak.


“Aku tidak mau dikirim ke Xizhou. Selir Xian, kau harus membantuku!”

__ADS_1


Liu Erniang menatap jijik pada Zhao Ping’er. Dia pikir dia siapa?


Zhao Ping’er hanyalah putri seorang jenderal yang sudah pensiun, ditambah dengan kejadian ini, reputasinya akan jatuh ke tempat paling rendah dan buruk. Liu Erniang bukan wanita yang berpegang pada orang yang tidak kuat, dia tidak akan membiarkan dirinya terseret dalam permasalahan Zhao Ping’er.


“Jangan pernah mencoba untuk melibatkanku. Tanpa rencanaku, kau tidak akan memiliki tempat di istana ini. Zhao Ping’er, kau pikir seekor burung pipit bisa menggertak seekor murai?”


Mendengar penuturan itu, wajah Zhao Pinge’er kembali memucat. Sekarang kemarahan yang sempat tertunda itu kembali datang. Jadi, wanita ini tidak mau membantunya setelah rencana sempurna yang diberikan olehnya gagal? Zhao Ping’er tidak habis pikir, ternya wanita-wanita dari Keluarga Liu semuanya sangat licik!


Zhao Ping’er tidak punya bantuan lain selain Liu Erniang. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya dari pengasingan ke Xizhou mungkin hanya Liu Erniang.


Wanita itu cukup disukai Kaisar Baili, Zhao Ping’er hanya ingin dia membujuk kaisar untuk mengubah hukumannya. Tampaknya, harapannya ini sia-sia.


“Tidak kusangka, Selir Xian ternyata mudah melepaskan tangan untuk melepaskan diri. Kalau bukan karena rencanamu, aku tidak akan dipermalukan sampai seperti ini!” sungut Zhao Ping’er yang marah karena Liu Erniang tidak mau membantunya.


Liu Erniang berdecih, kemudian mendorong Zhao Ping’er sampai gadis itu tersungkur di lantai istananya. Senyumnya berubah menjadi seringaian iblis yang tidak kalah mengerikan dari seringaian kakaknya. Liu Erniang maju selangkah, kemudian berjongkok di depan Zhao Ping’er.


“Kau pikir kau siapa hingga berani meninggikan suara padaku?” tanya Liu Erniang.


Jarinya meraih dagu Zhao Ping’er. “Aku adalah Selir Xian. Bukan hanya tidak berterima kasih, kau justru menghardikku dengan mulutmu yang manis ini! Gadis, kau tahu akibat menyinggung seorang Selir Xian?”


Zhao Ping’er menatap penuh amarah. Selir Xian? Ya, dia memang Selir Xian. Lalu kenapa? Di dunia ini, Zhao Ping’er paling membenci tunduk.


“Kau hanya selir yang gelarnya ditangguhkan! Apakah rasa malumu saat itu sama dengan rasa malu yang kutanggung hari ini? Haha, kutebak, itu pasti lebih besar,” ejek Zhao Ping’er, dia mengungkit kembali hari ketika Liu Erniang kehilangan gelar yang bahkan belum sempat dia terima akibat ulah kakaknya yang memunculkan seorang pangeran tiba-tiba.


Tatapan Liu Erniang berubah. Sudut matanya memerah. Dia membenci itu!


Liu Erniang kemudian menampar Zhao Ping’er sebanyak dua kali. Bekas tamparan itu membentuk sebuah jemari merah yang menapak di pipi mulus Zhao Ping’er, persis seperti yang ia terima ketika Qingyi menamparnya di hadapan Baili Qingchen. “Beraninya seorang gadis rendahan sepertimu mengejekku! Kau pikir kau siapa?”


Tidak terima ditampar dan ditindas, Zhao Ping’er kemudian mendorong balik Liu Erniang dan membuatnya ikut tersungkur di lantai. Gadis muda tersebut lalu balas menampar wajah Liu Erniang dua kali dan kini mereka sama sama punya tato berbentuk jari tangan di wajah mereka.


Liu Erniang menggeram marah, dia benci seseorang menampar wajahnya!


“Kurang ajar! Akan kuajari kau sopan santun, gadis sialan!” cercanya sembari menjambak rambut Zhao Ping’er.


Zhao Ping’er tidak mau kalah. Dia juga menarik rambut Liu Erniang dan keduanya saling menjambak sambil melontarkan kata-kata kasar. Liu Erniang menghina Zhao Ping’er, dan Zhao Ping’er mengejek Liu Erniang dengan sengit. Keduanya sampai berguling-guling di lantai.


“Dasar selir gatal! Kau pasti mengandalkan kecantikanmu untuk menggoda Kaisar, bukan? Kalau begitu, aku akan merusak wajahmu!” ucap Zhao Ping’er sambil menarik kuat rambut Liu Erniang.

__ADS_1


“Coba saja jika kau bisa, gadis rendahan!”


Dua wanita bodoh itu berkelahi dan saling menjambak rambut. Mereka seperti dua ekor beruang yang memperebutkan makanan. Satu tidak bermoral, yang satu lagi tidak tahu malu. Dua wanita itu cocok menjadi lelucon untuk menghibur rakyat dengan menjadi pemain opera.


Tidak lama kemudian, suara gelak tawa disertai tepuk tangan menginterupsi aksi mereka dan mereka seketika terdiam. Qingyi berjalan masuk melewati pintu utama, tawanya terbahak menghiasi wajah cantiknya yang tampak lelah.


Beberapa saat yang lalu dia baru saja berhasil memadamkan api di tubuh Baili Qingchen. Tidak disangka, dia mendapat hiburan dari dua wanita menyebalkan yang sangat ingin ia hilangkan ini!


“Oh, aku tidak tahu jika Selir Xian dan putri Jenderal Zhao berteman. Kalian sugguh mengejutkanku!”


Qingyi menduga jika Zhao Ping’er pasti mendapat bantuan seseorang di istana. Dia datang untuk memastikan, dan dugaannya tidak meleset.


Rupanya, gadis manis yang payah itu benar-benar dibantu oleh adiknya! Otak perencana dari Zhao Ping’er adalah Liu Erniang, si wanita licik yang punya seribu wajah itu!


“Untuk apa kau kemari?” tanya Liu Erniang tidak suka. Istananya hari ini ternyata kedatangan banyak tamu. Ah, tiba-tiba saja kemarahannya jadi bertambah.


“Mencari murai yang membantu seekor pipit. Ah, aku lupa kalau mereka sudah bermusuhan,” sindirnya diiringi tawa kecilnya.


Liu Erniang dan Zhao Ping’er marah, mereka menunda perkelahian sementara akibat kedatangan Qingyi.


Qingyi menghampiri mereka, lalu berjongkok di depan keduanya. Ditatapnya kedua wajah yang sudah memiliki tato itu, lalu dia tertawa kembali. Rasanya tidak perlu turun tangan karena kedua wanita sialan ini sudah saling menampar.


Benar-benar bodoh! Apa otak mereka selalu dipenuhi dengan cara menggoda seorang pria?


“Alih-alih berkelahi di sini, mengapa kalian tidak membuka arena tanding di taman kekaisaran saja? Di sana lebih luas dan banyak orang bisa melihat kehebatan kalian. Aku yakin, salah satu di antara pria itu mungkin akan menyukai kalian.”


“Tutup mulutmu! Jika bukan karena kau, posisi Putri Permaisuri Changle mungkin sudah menjadi milikku!” sungut Zhao Ping’er. Sekarang gadis itu menunjukkan wajah aslinya.


“Eh, jangan terburu-buru. Lawan di sampingmu juga pernah mengatakan hal yang sama,” ucap Qingyi, sudut matanya melirik Liu Erniang. “Bukankah begitu, adikku tersayang?”


Liu Erniang hendak berkata kasar, namun Qingyi buru-buru mencegahnya. “Apa kalian haus setelah bertarung? Kebetulan, aku punya minuman segar yang sengaja kubawa untuk kalian.”


Kemudian, Qingyi meminumkan secara paksa anggur yang sudah dicampur oleh obat perangsang ke mulut Liu Erniang dan Zhao Ping’er. Dia orang yang tidak puas sebelum membalas sampai ke akar.


Dosis di anggur itu sudah ia tambah dua kali lipat dengan ramuan buatan dari ruang dimensi. Efeknya mungkin tidak bisa dihilangkan selain dengan hubungan itu.


Setelah berhasil meminumkan anggur, Qingyi mengelap tangannya dengan saputangan seolah-olah dua wajah yang baru saja dipaksanya mengandung banyak kuman. Wanita itu berdiri, mengabaikan Liu Erniang dan Zhao Ping’er yang tersedak dan terbatuk-batuk.

__ADS_1


“Murai atau pipit, mereka sama-sama kecil. Jangan pernah berpikir untuk bisa mengalahkanku,” desis Qingyi dengan dingin. Wanita itu kemudian berjalan meninggalkan istana dengan hati yang sangat puas.


__ADS_2