Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 50: Hukuman Mandiri


__ADS_3

Sungguh aneh tapi nyata. Seharusnya, Qingyi yang dihukum oleh Baili Qingchen atas tindakannya. Akan tetapi, hal berbeda justru terjadi setelah mereka semua tiba di mansion Raja Changle. Orang yang seharusnya dihukum bukanlah Qingyi, melainkan Baili Qingchen sendiri.


Di aula utama mansion Raja Changle, Qingyi menyuruhnya berlutut sementara dia duduk di kursi. Itu tentu saja ditentang keras oleh Baili Qingchen dan Xiao Junjie. Mereka bilang, Raja Changle tidak pernah berlutut pada siapapun, kecuali pada kaisar-kaisar sebelumnya. Bahkan pada dinasti ini saja, dia diperbolehkan berdiri setiap kali menyambut Kaisar Baili.


Jadi, lebih tidak mungkin berlutut kepada seorang wanita.


Suasana di dalam aula tersebut tak ubahnya dengan pengadilan. Qingyi, sang Putri Permaisuri Changle sedang bersiap untuk memarahi suaminya, Raja Changle yang terhormat. Itu adalah buntut dari kejadian di pusat kota tadi. Ia rasa, ia perlu menanyakan dengan jelas mengapa dua pria dari mansion tersebut malah diam dan menyaksikan bak sebuah pertunjukan yang seru.


Yah, meskipun dia tidak butuh bantuan, tapi dirinya merasa konyol. Qingyi merasa kalau Baili Qingchen dan Xiao Junjie menganggap dirinya seperti badut. Untuk melampiaskan kekesalannya, dia melakukan ini. Di ruangan itu, Luo Niang juga masih ada dan terpaksa ditahan di sana atas perintah Baili Qingchen.


“Jadi, katakan, apa kalian puas menyaksikan pertunjukanku?” tanya Qingyi. Sindirannya sungguh sangat terbuka. Xiao Junjie maju selangkah, menarik napas sejenak sebelum membalas perkataan wanita menyebalkan itu.


“Kau membuat Yang Mulia Changle seperti ini, sungguh tidak bermoral!” balas Xiao Junjie.


Alih-alih marah, Qingyi justru tertawa terbahak-bahak.


“Yo, seorang Pangeran Kecil membicarakan moral denganku?”


Pertanyaannya sukses membuat Xiao Junjie bungkam. Ia tahu dia tidak akan menang jika membicarakan moral dengan wanita ini. Bagaimanapun, mereka bukan orang yang sama. Pria dan wanita memiliki beberapa perbedaan, yang tidak mungkin dipungkiri oleh Xiao Junjie. Sedikit saja lidahnya terpeleset, maka Qingyi akan membalasnya dengan perkataan yang lebih tidak menyenangkan.


“Tahu apa kau tentang moral? Diam saja jika tidak tahu!” seru Qingyi. Luo Niang mendekat kepada Xiao Junjie, lalu berbisik, “Biar kuberitahu dua prinsip yang mungkin bisa menyelamatkan hidupmu.”


“Prinsip apa?” tanya Xiao Junjie pelan.


“Pertama, wanita itu selalu benar. Kedua, jika wanita salah, maka kau harus kembali ke perihal pertama.”


Xiao Junjie membuang napasnya dengan kasar. Ia memalingkan muka, menghindari tatapan Luo Niang yang tengil. Baili Qingchen masih berdiri berhadapan dengan Qingyi, tidak terlihat sama sekali kalau pria itu marah. Pelan-pelan, dia duduk di kursi seberang, menyeruput secangkir teh dingin yang lumayan manis.


“Kita sama-sama bersalah,” ujar Baili Qingchen.


“Tidak. Kau yang bersalah,” tolak Qingyi. “Aku menghukum penipu itu, sementara kau datang seperti pahlawan kesiangan. Jelas di sini kau yang bersalah.”

__ADS_1


“Bukankah kau bisa melawannya? Kemampuanmu lebih dari cukup untuk menaklukkan mereka,” sahut Baili Qingchen.


Perdebatan itu tidak akan menemui ujung. Siang sudah beranjak menuju sore hari. Qingyi dan Baili Qingchen sama-sama tidak mau mengalah. Sampai saat ini, tidak ada satupun yang mau mengaku bersalah. Jika keduanya masih keras kepala seperti ini, sampai malam pun tidak akan selesai. Pekerjaan mansion pun bisa-bisa tertunda.


Pada beberapa menit kemudian, Luo Niang maju ke depan. Berdiam di mansion dan menunggu sepupunya bertengkar hanya membuang waktu. Dia membutuhkan waktu untuk kembali ke istana dan menemani kembali bibinya. Masa bodoh dengan situasi saat itu, dia hanya perlu menengahi keduanya saja.


“Bagaimana jika kalian sama-sama menghukum diri sendiri?”


Sontak Luo Niang mendapat tatapan dari ketiga orang itu. Tidak masuk akal, tapi boleh dicoba. Lagipula Qingyi tidak mungkin mengalah, Baili Qingchen lebih tidak mungkin lagi. Padahal, pokok permasalahannya begitu sederhana. Oh, pasangan bangsawan kekaisaran memang suka memperumit masalah.


“A-Chen, kau bersalah karena membiarkan istrimu digertak harus berkelahi dengan sekumpulan pria sementara kau hanya menonton. Qingyi, kau juga bersalah karena selalu terbawa emosi. Dan kau, Xiao Junjie, kau juga bersalah karena sikapmu sama seperti A-Chen. Jadi, kalian semua bersalah.”


Qingyi mendelik. “A-Luo, kau juga bersalah. Jika kau tidak mengajakku keluar mansion, itu tidak akan terjadi.”


“Baiklah, kita semua bersalah, oke? Aku akan mengurung diriku di istana selama satu minggu. Hukuman untuk kalian, kalian putuskan sendiri, sepakat?”


Boleh juga, pikir mereka. Akhirnya, pada sore hari yang cerah itu, semua orang akhirnya bisa keluar dari aula utama. Baili Qingchen menghukum dirinya dengan memberikan ganti rugi berupa empat peti perhiasan kepada Qingyi. Qingyi menghukum dirinya dengan menyumbangkan semua kompensasi Baili Qingchen ke panti sosial. Sementara itu, Xiao Junjie menghukum dirinya dengan tetap diam di halaman utara dan menyalin sutera.


Raut wajah gadis itu belum juga membaik meskipun semua orang telah mendapatkan hukumannya. Bagaimana tidak, dia baru saja menerima kompensasi yang begitu besar, tapi dalam sekejap semuanya langsung hilang. Qingyi bahkan belum sempat menyentuh peti-peti perhiasan itu, sebelum akhirnya kepala pengurus membawanya untuk disumbangkan.


Menyebalkan! Harta sebanyak itu bernilai jutaan tael perak!


“Tuan, kau masih punya banyak kekayaan di ruang dimensi. Jadi, untuk apa kau khawatir?” tanya Yinghao.


“Wanita tidak pernah merasa cukup. Menurutmu, bagaimana jika aku menjual semua herbal di ruang dimensi kepada penjual obat? Bahan-bahan itu bernilai ratusan tael perak setiap satu gramnya. Aku mungkin bisa jadi orang terkaya di Bingyue ini.”


“Jangan harap. Sistem akan mencabut semua fasilitas jika kau menyalahgunakannya!”


Qingyi berdecak. Dia berdiri menatap langit yang mulai menyemburkan warna merah-kuning, sebagai pantulan dari matahari yang hendak terbenam. Aih, sebenarnya urusan itu belum selesai begitu saja. Qingyi, sejak awal telah menaruh sebuah kecurigaan pada penjual jepit rambut tersebut. Ia melihatnya bukan sebagai penjual biasa, tapi…Lebih seperti seorang pendekar!


Bagaimana mungkin seorang penjual jepit rambut memiliki tubuh yang begitu kekar dan juga rekan yang pandai berkelahi? Kemudian, pengamatannya yang saksama telah memberitahu kalau pria penjual jepit rambut itu bukanlah seorang penduduk biasa. Mustahil pula baginya mendapat perhiasan semahal itu dari wilayah selatan jika dia tidak punya koneksi.

__ADS_1


Tampaknya, bukan hanya Qingyi yang punya pemikiran seperti itu. Saat dia asyik melamun, Baili Qingchen memasuki halaman kediamannya dengan langkah yang teratur. Tujuannya pasti untuk membicarakan permasalahan tadi.


Jika dia tidak menaruh kecurigaan, tidak mungkin dia menyuruh Cui Kong menangkap mereka secara langsung. Cui Kong adalah pengawal pribadi sekaligus komandan pasukan Raja Changle. Ketika dia dipercaya untuk menangkap orang, maka orang itu pasti sangat bermasalah.


“Kau bukan hanya ingin memberi pelajaran pada penipu itu semata, bukan?” tanya Baili Qingchen. Seolah sudah biasa dengan kehadirannya yang tiba-tiba, Qingyi bereaksi biasa. Tidak ada keterkejutan sama sekali, tidak seperti pada awal-awal mereka menikah. Dia mengangguk.


“Bukankah kau juga menyuruh Kongkong menginterogasi mereka? Lalu, hasil apa yang telah kau dapatkan?”


Baili Qingchen belum bersedia menjawab. Kecurigaannya sejak awal telah tertanam begitu dia melihat penjual itu. Postur tubuh dan konstruksi wajahnya tidak biasa, tidak seperti orang asli Bingyue. Lalu, dia diam-diam merasakan gelombang kecurigaan yang sama terhubung dengan Qingyi, lantas mengamati sampai gadis itu menyelesaikannya sendiri.


Jadi, orang mungkin menganggap mereka sama-sama saling mendiamkan. Padahal, sejatinya mereka telah bekerja sama secara tidak langsung. Qingyi memberi pelajaran dengan membongkar kepalsuan di hadapan banyak orang, agar mereka yang tertipu tahu bahwa diri mereka telah dibohongi. Sementara itu, Baili Qingchen menangkap mereka untuk diselidiki atas pemalsuan barang dan beberapa hal lainnya.


“Mereka memalsukan identitas mereka, bukan?” tanya Qingyi. Baili Qingchen cukup terkejut atas tebakan itu, namun ia tetap mengangguk.


“Jepit rambut emas palsu dari selatan. Hah, hanya ada dua kemungkinan.”


“Apa saja?” Baili Qingchen penasaran. Dia siap jadi pendengar tebakan Qingyi.


“Satu, kekuasaan di selatan melemah dan mereka kabur lalu memalsukan barang.”


“Yang kedua?”


“Ada orang di pemerintahan yang sengaja menyelundupkan mereka.”


Dari yang diingat Qingyi dalam naskah itu, dikatakan bahwa ada sebuah wilayah di selatan yang menambang emas dan perak lalu membentuknya jadi perhiasan. Dalam naskah disebutkan bahwa Kaisar Baili sempat mengirim utusan ke selatan untuk bekerja sama dalam perdagangan emas dan perak, namun pulang dengan kekecewaan karena syarat yang diajukan oleh selatan sangat memberatkan Bingyue, dan wacana kerja sama itu hanya jadi perbincangan yang tertimbun dan tidak pernah dibahas sampai cerita selesai.


Permainan kekuasaan yang terjadi di tanah ini sepertinya tidak begitu sederhana, pikir Qingyi. Apa yang tertulis di naskah dan kejadian aslinya tidak sama persis. Selain karena perubahan alur, mungkin juga ini merupakan bagian-bagian dari detail yang terlupakan. Kalau begitu, ini akan jadi petualangan yang lebih pelik namun menarik.


“Aku akan menyelidikinya,” ujar Baili Qingchen.


Pria itu mengeluarkan sesuatu dari jubahnya. Sesuatu itu berbentuk persegi panjang dari kayu yang diukir dengan tangan yang sangat terampil. Dia menyodorkannya pada Qingyi, dan dengan sedikit keengganan gadis itu menerimanya. “Apa ini?” tanyanya.

__ADS_1


“Jepit rambut emas asli,” jawab Baili Qingchen. Qingyi membukanya, dan matanya seketika berbinar cerah.


__ADS_2