Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 99: Dilema Sang Raja


__ADS_3

Sekelebat bayangan hitam melesat melompati gerbang istana dan mendarat di taman yang disinari cahaya bulan. Ketika sosok itu menapakkan kakinya, angin yang kecil berhembus menggoyangkan tumbuhan dan rumput di sekitarnya, menimbulkan suara gemerisik.


Baili Qingchen terdiam sebentar, kemudian mulai melangkahkan kakinya menapaki pelataran istana yang megah dan terang. Tidak ada penjaga atau pelayan, sekalipun ada, mereka tidak akan berani menghentikannya. Pintu besar istana itu ia buka secara perlahan, lalu dia masuk ke dalamnya.


Di sana, Janda Selir Sun tengah duduk di meja riasnya. Wanita setengah baya itu mematut dirinya di depan cermin, melihat ke dalam bayangannya sendiri. Cermin kuning tembaga itu memantulkan wajahnya yang masih mulus meski usianya sudah hampir setengah abad.


“Putraku, kau sudah datang,” ucapnya ringan.


Baili Qingchen duduk di kursi yang berdekatan dengan meja rias tersebut. Istana ini dulunya dipenuhi dengan barang-barang mewah. Namun, sejak ayah Baili Qingchen meninggal, semua barang-barang itu dikemas dan diletakkan di dalam peti. Kini, yang tersisa hanyalah beberapa barang dari keramik dan porselen biasa.


Ah, tiba-tiba saja ibunya ini hidup begitu sederhana dalam waktu yang lama. Padahal, dia adalah selir kesayangan ayahnya. Bahkan, kakaknya, ayah Kaisar Baili juga begitu menghormatinya.


Ibunya bisa saja hidup seperti janda selir yang punya kehidupan mewah karena dia telah melahirkan seorang putra seperti Baili Qingchen, yang telah membangun reputasinya sendiri di medan perang dan menjadi satu-satunya raja yang bertahan di istana kekaisaran.


Wanita itu membalikkan tubuhnya, kemudian berjalan ke hadapan putranya. Gejolak emosi yang tertahan menyesakkan dadanya, dan ekspresinya sulit diartikan. Baili Qingchen terus menatap ibunya, berharap malam ini ia sungguh tidak akan membuatnya menerima hukuman.


"Ibu, sudah cukup. Hentikan semua permainanmu dan suruh semua bawahanmu untuk berhenti.”


“Apa maksudmu?”


Baili Qingchen memejamkan mata sesaat untuk mengendalikan emosinya. Dia datang secara diam-diam karena tidak ingin mengejutkan begitu banyak orang. Tujuannya datang kemari hanya untuk meminta ibunya agar berhenti bermain trik, agar hukumannya bisa lebih ringan.


Namun, sepertinya ibunya ini belum mau berhenti.


“Jangan mengganggu selir-selir keponakanku lagi.”


Awalnya Baili Qingchen tidak percaya bahwa ibunyalah yang mendalangi semua kejadian ini. Petunjuk yang didapat dari Tabib Shen menyulitkan penyelidikan, namun Baili Qingchen selalu punya cara untuk menemukan petunjuk lain. Lalu, dengan bantuan Qingyi, semuanya menjadi semakin jelas.


Orang di balik Tabib Shen adalah ibunya sendiri, Janda Selir Sun. Satu-satunya orang yang bisa melakukan itu hanyalah wanita dari harem itu sendiri, karena dialah yang mengetahui semua kondisi selir dengan jelas.


Selama bertahun-tahun ini, ibunya melakukan itu sendirian dan begitu pandai bersembunyi.


“Ah, putraku memang selalu cerdas.”


“Jadi, berhentilah.”

__ADS_1


Janda Selir Sun terdiam sesaat. Matanya dihiasi berbagai penafsiran yang sulit diungkapkan. Percuma saja, putranya ini tidak akan melepaskan siapapun. Temperamen Baili Qingchen, ia sungguh tahu dengan jelas.


Orang yang berdiri di hadapannya ini bukan lagi Baili Qingchen yang akan bergelayut manja dan menangis di hadapannya. Orang di hadapannya ini adalah Raja Changle, pangeran Bingyue yang menjabat sebagai Pengawas Negara.


“Aku hanya tidak senang. Jadi, aku terpaksa melakukannya,” ucap Janda Selir Sun.


Pria itu kembali memejamkan mata untuk menahan emosi. Alasan konyol, pikirnya. Hanya karena ibunya tidak senang atas perilaku Kaisar Baili terhadapnya, dia mencelakai banyak orang.


Janda Selir Sun tidak suka cara Kaisar Baili mengancam dan menekan Baili Qingchen, membuatnya jatuh dan membuatnya merusak reputasinya sendiri.


Janda Selir Sun tidak tertarik pada kekuasaan dan tidak ingin berebut dengan siapapun. Tapi, dia tidak akan diam melihat putranya ditindas di depan matanya.


Janda Selir Sun tidak ingin putranya menjadi kaisar, tetapi bukan berarti putranya itu harus hidup seperti orang buangan. Sebagai ibu, dia ingin putranya memiliki kehidupan yang sangat baik.


“Kau tidak seharusnya mencelakai mereka. Mereka tidak bersalah padamu.”


“Siapa bilang? Jika mereka berhati murni, bagaimana mungkin aku bisa melakukan semua ini sendiri?”


Baili Qingchen tahu, orang yang membantu ibunya adalah Selir Sui. Selama ini, dialah yang memberi informasi kepadanya terkait kondisi di dalam Istana Dalam. Karena itulah, Selir Sui masih sehat.


Janda Selir Sun tidak mencelakai Selir Jia, karena selir itu adalah teman dekat Selir Sui. Terkait Selir Xian, dia baru saja datang ke istana dan belum lama tinggal. Jika begitu, sekarang masuk akal jika ketiganya masih selamat.


“Karena dia bodoh. Jika aku tidak membunuhnya, bagaimana mungkin aku bisa menghukum Selir Xian?”


Taktiknya cukup bagus. Dia menggunakan racun dingin sebagai umpan untuk mendorong Selir Xian ke dalam hukuman.


Janda Selir Sun juga tidak senang pada selir baru itu, karena tingkahnya sangat sombong dan sok berkuasa. Meskipun harus menyingkirkan Selir Sui, nilainya juga sepadan.


Baili Qingchen mengepalkan tangannya. Emosinya bergejolak, hatinya dibakar api yang sangat membara. Dia semakin merasa bahwa ibunya benar-benar sulit dimengerti.


Orang yang selalu diam dan bertindak seolah-olah tidak peduli pada dunia, ternyata melakukan hal yang begitu mengerikan di belakang semua orang. Walau alasannya untuk melindungi putranya, tetapi tidak bisa dibenarkan.


Kekecewaan Baili Qingchen memuncak kala ia mengingat hari ketika dirinya dan Qingyi diserang pembunuh Paviliun Litao. Mereka berdua hampir saja mati saat itu.


Sungguh mengerikan karena ibunya ternyata memiliki akses untuk menyewa pembunuh Paviliun Litao. Tidak disangka, orang yang menyuruh mereka ternyata Janda Selir Sun. Apa wanita ini ingin membunuh putra dan menantunya sendiri?

__ADS_1


“Lalu, katakan alasan mengapa kau juga ingin menyingkirkan Putri Permaisuriku!”


Janda Selir Sun tercekat. Ah, benar juga. Dia baru saja mencoba menyingkirkan gadis itu. Janda Selir Sun tidak ingin melakukannya, tetapi ia harus menyingkirkan segala resikonya.


Qingyi, menantunya itu, memang sangat hebat dan dia mengaguminya. Dia bahkan menjatuhkan kepercayaannya. Namun, kehebatan itu justru membuat Janda Selir Sun berada dalam posisi berbahaya.


“Karena dia tahu terlalu banyak.”


Jika hanya bersikap arogan, itu masih dapat diterima. Janda Selir Sun tidak suka atas rasa penasaran Qingyi yang begitu tinggi. Gadis itu bahkan berani melepaskan Wang Yiyuan dan mengirimnya ke istananya malam-malam.


Ia yakin, penyebab putranya menjadi jelas dalam penyelidikan ini juga atas bantuannya. Janda Selir Sun senang, namun dalam waktu yang sama dia juga terancam.


“Ibu, kau sudah keterlaluan. Tidak apa-apa jika kau mengirim pembunuh Paviliun Litao untuk membunuhku. Tapi, jangan pernah berpikir untuk menyakiti Putri Permaisuriku!”


Rasa sakit di hati Baili Qingchen, semuanya ditorehkan oleh ibunya sendiri. Janda Selir Sun melenyapkan rekannya yang setia, Wang Lingshan dengan cara yang keji dan dengan alasan yang konyol.


Ibunya bahkan ingin melenyapkan satu-satunya wanita yang dipedulikan Baili Qingchen. Perlukah ibunya melenyapkan semua orang di sisinya agar dia merasa puas?


Tiba-tiba terpikirkan olehnya sebuah pertanyaan, mengapa ibunya ini tidak mencoba membunuh Xiao Junjie. Padahal, pria itu juga ada di sisinya selama ini. Apakah ibunya memang pemilih?


Janda Selir Sun tersenyum kecil. Ia pikir, mungkin sudah saatnya dia berhenti. Usahanya berakhir sia-sia, karena Kaisar Baili tetap memiliki keturunan.


“Jadi, kau akan menghukum ibumu sendiri?” tanyanya.


Baili Qingchen terdiam. Dia jatuh dalam dilema yang rumit. Ibunya melakukan kesalahan besar dan telah berbuat keji.


Hukumannya tidak bisa lebih dari hukuman mati. Publik tidak akan menerima permintaan maafnya. Kaisar Baili juga tidak akan melepaskannya. Apalagi Qingyi, gadis itu juga sudah mengetahui bahwa mertuanya adalah dalang dari semuanya.


Namun, jika benar harus menghukum ibunya sendiri, Baili Qingchen akan menjadi orang yang sangat tidak berbakti. Terlebih, Janda Selir Sun adalah ibu kandungnya, yang telah melahirkan dan membesarkannya.


Kasih dan sayangnya tulus. Akan tetapi, semuanya menjadi ternoda hanya karena keinginan tidak masuk akal yang membuatnya berubah menjadi seorang pendosa.


“Aku tidak tahu cara apa yang pantas digunakan untuk menghukummu,” ucap Baili Qingchen.


Suaranya tercekat karena menahan emosi. Janda Selir Sun kembali tersenyum, memahami arti perkataan putranya. Jadi, dia sepertinya belum memutuskan menghukumnya atau tidak. Putranya benar-benar jatuh dalam dilema.

__ADS_1


“Pikirkanlah baik-baik. Kau masih punya waktu sampai kau memutuskan hukuman apa yang ingin kau berikan kepadaku.”


Setelah mengatakan itu, Janda Selir Sun bangkit, kemudian berjalan masuk ke dalam kamarnya. Baili Qingchen masih terdiam. Beragam perasaan bergejolak di dalam hatinya.


__ADS_2