Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 60: Pemakzulan


__ADS_3

“Perdana Menteri, mundurlah dari posisimu.”


Perdana menteri seperti tersambar petir di pagi hari ketika mendengar perkataan Kaisar Baili. Rapat pengadilan belum dimulai, dia bahkan belum sampai di aula. Tapi, Kaisar Baili malah memberinya kejutan yang sangat tidak terduga. Saking terkejutnya, perdana menteri sampai tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


“Apa yang baru saja Yang Mulia katakan?” tanyanya tak yakin.


“Apa aku harus mengulang perkataanku?”


Perdana menteri menutup mulutnya untuk beberapa saat. Keagungan Kaisar Baili membuatnya kehilangan kata-kata dalam beberapa situasi. Dia menatap sosok kaisar yang berdiri memunggunginya di taman istana, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan Kaisar Baili saat ini.


Matahari padahal belum sepenuhnya naik, tetapi perdana menteri sudah merasa gerah. Panas, hatinya merasa panas. Perdana menteri ingin memanggil tabib kekaisaran dan menyuruhnya memeriksa Kaisar Baili, kalau-kalau dia sedang sakit sampai otaknya bermasalah. Aneh, padahal kemarin baik-baik saja.


“Tapi, mengapa? Bisakah Yang Mulia memberitahuku alasannya?”


Kaisar Baili menghela napasnya agak panjang. Helaan itu terdengar sangat lelah. Kaisar tidak tidur semalaman, memikirkan hukuman yang harus ia berikan kepada perdana menteri atas kesalahannya yang sangat fatal ini.


Kaisar tidak bisa memejamkan mata barang sesaat saja setiap kali ia ingat kalau ia harus memberikan jawaban kepada Raja Changle pagi ini juga, atau masa depannya dipertaruhkan.


Sebenarnya ia merasa berat, tetapi ia tidak berdaya. Mungkin, ini juga bisa menjadi kesempatan untuk menekan pengaruh perdana menteri yang sudah terlalu besar.


Saking besarnya, orang itu bahkan sampai suka mengambil keputusan sendiri dan kerap membuat Kaisar Baili marah. Ia pikir, mungkin ada bagusnya jika perdana menteri melepas jabatannya meskipun belum sampai masanya untuk pensiun.


“Kau masih berani bertanya?” ucap Kaisar Baili.


“Coba renungkan baik-baik kesalahan apa yang telah kau perbuat sampai aku harus melengserkanmu dari posisimu!”


Perdana menteri berlagak seperti orang bodoh. Otaknya berputar cepat, lalu dalam beberapa detik ia menemukan satu-satunya kemungkinan yang membuat Kaisar Baili marah dan menyuruhnya turun dari posisinya. Benar, imigran gelap itu! Raja Changle pasti sudah melaporkan semuanya kepada Kaisar Baili sebelum perdana menteri menemuinya! Sial, ia kalah cepat dan sekarang tidak bisa menjelaskan!


“Kau bukan hanya berkolusi dengan penguasa pasar gelap, bahkan membantunya menyelundupkan orang selatan! Kau bahkan meminta Putri Permaisuri Changle untuk membujuk pamanku melepas mereka! Perdana menteri, apa kau sudah tahu kesalahanmu?!”


Kemarahan Kaisar Baili yang seperti ini mau tidak mau membuat perdana menteri bertekuk lutut. Bukan hanya dia, bahkan para pelayan dan kasim pun terkena imbas dan ikut berlutut di belakang. Kalau amarah sang kaisar tidak mereda juga, mereka bisa kehilangan nyawanya hari ini!


“Yang Mulia, ampuni pejabatmu ini. Putri Permaisuri Changle menjebakku! Harap Yang Mulia menyelidikinya dengan jelas!” mohon perdana menteri. Dirinya tidak terima jika harus mundur saat ini.

__ADS_1


“Kau masih berani berdalih? Apa kau tahu, siapa yang menyuruh paman untuk menyelidiki kasus ini?”


Perdana menteri seketika membelalak. Awalnya ia pikir penyelidikan itu adalah ide dari Raja Changle sendiri. Tapi, ia sungguh tidak menduga bahwa Kaisar Baili sendiri yang memerintahkannya. Perdana menteri berpikir dirinya sangat pintar, tapi sebenarnya sangat bodoh dan ceroboh! Kali ini, ia kalah telak!


Sepertinya sudah tidak ada jalan mundur. Wang Yiyuan sudah ditangkap dan dipenjara di penjara kekaisaran yang penjagaannya sangat ketat. Jika perdana menteri ingin membunuhnya dan Wang Yiyuan mati, itu hanya akan memverifikasi kalau ia memang terlibat dan ingin lepas tangan.


Di rumahnya juga terdapat beberapa buku transaksi antara dia dengan Wang Yiyuan. Selain itu, bukti-bukti yang lebih kuat dari itu sudah diserahkan Raja Changle kepada Kaisar Baili.


Kalau perdana menteri bersikeras menentangnya, ia hanya cari mati. Kejahatan menyelundupkan orang asing atau membantu mereka masuk sama saja dengan sebuah pengkhianatan dan harus dihukum mati. Kaisar Baili tidak berniat untuk mengeksekusinya dan hanya memintanya mundur dari posisi Perdana Menteri Bingyue. Itu sudah termasuk pengampunan yang sangat besar.


Tapi, jika dia mundur, bukankah semuanya akan berakhir? Seluruh kekuasaan yang telah ia raih dengan kerja keras selama puluhan tahun akan lepas begitu saja. Jika tiba-tiba dia mundur, bagaimana orang lain akan memandangnya?


Masa depan Keluarga Liu juga akan terancam, terutama setelah semua orang tahu kalau kediaman perdana menteri selalu berselisih dengan mansion Raja Changle.


“Aku berkali-kali menoleransimu, tetapi kau sangat tidak tahu diri. Paman berkata bahwa ia bisa saja melupakan kejadian terkait insiden percobaan pembunuhan dari Paviliun Litao yang kau atur. Tetapi jika kau masih tidak menyadari kesalahanmu dan menanggungnya, bukan hanya aku, tetapi seluruh Bingyue yang akan terancam! Kau tahu betapa mengerikannya paman jika ia sudah marah?”


Kaisar Baili menjeda ucapannya.


“Yang Mulia, aku-”


“Kau ingin mundur atau aku yang akan menyeretmu ke pengadilan tinggi?”


Perdana menteri terduduk lesu. Jubah pejabatnya yang semula berkibar ditiup angin, kini seperti layu bersama semangatnya. Dia menghela napas berkali-kali. Sungguh, ia tidak menduga Kaisar Baili akan setegas ini kepadanya.


Ia pikir, Kaisar Baili masihlah muridnya yang masih bisa dikendalikan. Burung yang ia besarkan selama ini telah berani mengepakkan sayapnya dengan bebas, terbang tanpa menghiraukan orang yang telah mengajarinya.


Perkataan Kaisar Baili, tegas tanpa bantahan. Wibawanya sebagai kaisar baru muncul ketika ia menghadapi situasi seperti ini. Kaisar Baili berbalik, menatap perdana menteri yang berlutut di tanah sejak setengah jam yang lalu.


Perdana menteri menunduk, semua keangkuhan dan kesombongannya seakan sirna hanya dengan satu kalimat dari Kaisar Baili. Berakhir, apa semuanya benar-benar berakhir?


“Sebagai gantinya, aku akan memenuhi janjiku untuk mengizinkan putrimu memasuki istana,” ucap Kaisar Baili.


Mendengar itu, wajah perdana menteri perlahan terangkat. Ia masih punya secercah cahaya di tengah kegelapan yang melandanya tiba-tiba.

__ADS_1


“Hambamu ini menerima perintah,” ucap perdana menteri, lalu ia bersujud di depan kaki Kaisar Baili.


Pada hari itu juga, di aula pengadilan yang besar dan megah, Kaisar Baili menyuruh perdana menteri mengundurkan diri dari posisinya di hadapan semua menteri. Keputusan mendadak itu membuat semua orang sontak terkejut dan bingung bereaksi.


Ada yang senang, ada yang tidak, ada juga yang bertanya-tanya. Selama ini perdana menteri memiliki posisi yang sangat kuat dan selalu menang dari lawan politiknya, kecuali melawan Raja Changle.


Mereka mempertanyakan keputusan kaisar yang tidak diduga ini. Bukankah perdana menteri adalah gurunya dan menteri terbaik yang ada di sisinya? Mengapa Kaisar Baili mendadak ingin memakzulkannya? Mungkinkah, mungkinkah kaisar sudah merasa hebat dan tidak ingin disokong lagi oleh perdana menteri?


Tetapi, mereka bahkan tidak berani mengungkapkannya. Spekulasi hanya bisa dipendam di dalam hati. Beberapa menteri tinggi memang ada yang bertanya, namun Kaisar Baili membungkam mereka dengan jawaban yang sangat retoris. Tetap saja banyak yang tidak senang dengan keputusan itu. Selain itu, perdana menteri juga hanya diam saja dan tidak bicara sepatah kata pun.


Selain pemakzulan, Kaisar Baili juga memberitahu bahwa perdana menteri secara resmi akan dimakzulkan setelah putri bungsunya, Liu Erniang, memasuki istana. Setelah itu, maka perdana menteri akan benar-benar kehilangan jabatannya di pengadilan kekaisaran selamanya. Dia harus pulang kampung dan dilarang pergi ke kota kekaisaran tanpa izin resmi dari pemerintah.


Bukankah itu sama saja dengan pengasingan?


Para menteri tinggi akhirnya mengerti satu hal: Kaisar Baili benar-benar sedang menghukum perdana menteri! Hanya saja caranya dilakukan dengan begitu elegan dan terhormat. Pada kesimpulan ini, mereka semakin yakin kalau perdana menteri benar-benar telah melakukan kesalahan yang besar.


 “Jangan pernah berpikir untuk bermain api di belakangku. Aku tidak berniat mencari pengganti Perdana Menteri Liu. Karena posisi perdana menteri kosong, maka aku akan menunjuk Paman Kedua, Raja Changle, sebagai Wali Kuasa Kaisar dan Pengawas Negara. Paman, apa kau akan menuruti perintahku?” ucap Kaisar Baili setelah situasi dalam kendali.


Baili Qingchen maju selangkah. Ia kemudian menunduk dan berkata, “Yang Mulia, tugas Pengawas Negara, aku bisa terima. Tetapi mengenai Wali Kaisar, aku tidak bisa menerimanya.”


“Mengapa?” tanya Kaisar Baili.


“Yang Mulia sudah bisa menjalankan pemerintahan sendiri. Tidak adil jika masih ada Wali Kuasa Kaisar. Selain itu, aku juga tidak tertarik dengan posisi ini,” jawab Baili Qingchen.


Jawaban itu sekaligus sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa Raja Changle, Baili Qingchen, sama sekali tidak berminat terhadap takhta. Menjadi Wali Kuasa Kaisar sama artinya menjadi penguasa yang mengendalikan takhta, seperti seorang ibu suri jahat yang membuat putranya menjadi kaisar boneka.


Baili Qingchen tidak pernah punya pemikiran sejauh itu. Dia masih bertahan di sini hanya karena tanggungjawabnya sebagai paman dan juga adik dari kaisar sebelumnya, juga tanggungjawabnya sebagai satu-satunya pangeran dari ayahnya yang masih ada di Bingyue. Dia tidak peduli seperti apa pemikiran orang-orang terhadapnya, ia hanya ingin mendampingi keponakannya memerintah dengan baik.


Itu saja. Tidak ada yang lain.


“Kalau begitu, terserah padamu saja,” ujar Kaisar Baili.


Dia puas dengan jawaban pamannya. Semua keraguannya sedikit demi sedikit menghilang, tapi bukan berarti ia tidak waspada. Dia sudah kehilangan seorang perdana menteri, dan hari-hari ke depannya belum pasti. Entah akan tetap tenang, atau berubah sesuai perkembangan situasi.

__ADS_1


__ADS_2