Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 52: Interogasi


__ADS_3

“Apa Baili Qingyan sudah berangkat?”


Baili Qingchen mengangguk menanggapi pertanyaan Qingyi. Saat ini, mereka tengah berada di aula utama mansion Raja Changle. Secara tidak sengaja, semua orang bertemu di sini.


Xiao Junjie juga kebetulan berada di sana. Tadinya Qingyi ingin menyindirnya karena pria itu keluar dari halaman utara dan melanggar sendiri hukumannya. Tapi, karena suasana hatinya sedang baik, maka Qingyi meloloskan Xiao Junjie. Kali ini saja, biarkan pria itu hidup damai tanpa berdebat dengannya.


“Kakakmu juga ikut,” ucap Baili Qingchen.


Qingyi mengangguk, tapi dua detik kemudian melongo. Apa katanya tadi?


“Maksudmu, si botak itu ikut pergi ke Chen?” tanya Qingyi memastikan.


“Ya.”


Qingyi menggebrak meja. Plot twist macam apa ini! Bisa-bisanya si botak itu pergi tanpa memberitahunya! Qingyi masih berpikir untuk membuat kakaknya masuk mansion ini, tapi siapa sangka kakaknya itu malah lari duluan. Tiba tiba saja Qingyi jadi penasaran seberapa dalam hubungan pertemanan antara Liu Qingti dan Baili Qingyan. Otaknya memikirkan yang tidak-tidak, ketika ia mengingat dan membandingkannya dengan Baili Qingchen.


Itu jatuh pada tatapannya. Merasa ditatap dengan aneh, Baili Qingchen sedikit tidak nyaman. Ekspresi Qingyi yang aneh itu juga membuatnya berpikir kacau. Baili Qingchen berdehem menenangkan diri, menormalkan situasinya sendiri. Lalu, dia menatap sekilas, dan tatapan akhirnya dilemparkan ke luar pintu yang terbuka.


“Baili Qingyan adalah pria tulen,” ucap Baili Qingchen, seolah menjawab pertanyaan dan tebakan yang ada di otak Qingyi.


Xiao Junjie menggelengkan kepalanya berkali-kali, dan dengan anggun menyeruput minumannya secara perlahan. Jubah lengannya menutupi prosesi itu, membuat pria itu benar-benar terlihat seperti beradab. Maksud Baili Qingchen, tentu saja ia mengerti. Ia hanya merasa kurang nyaman ketika A-Chen tersayangnya itu mengatakannya sendiri.


“Oh, baiklah. Bagus kalau dia masih normal. Jika tidak, seluruh keturunan kekaisaran Baili akan musnah,” seloroh gadis itu.


“Kau! Jaga bicaramu!” peringat Xiao Junjie.


Qingyi mengedikkan bahu. Apa yang ia katakan adalah kebenaran. Jika anggota keluarga kekaisaran semuanya tidak normal, maka klan Baili sebagai penguasa kerajaan selama beberapa generasi akan lenyap. Ada-ada saja pemikirannya ini!


“A-Jie, jangan diributkan lagi. Bicaranya memang kasar, tapi tidak juga salah.”


Xiao Junjie diam. Lagi-lagi seperti ini. Setiap kali dia berdebat dengan Qingyi di depan Baili Qingchen, Baili Qingchen pasti selalu membiarkannya. Bahkan, responnya tidak beda jauh dengan sebuah pembenaran. Dengan kata lain, Baili Qingchen selalu membenarkan pendapat Qingyi tanpa mengingat pendapatnya terlebih dahulu.


Baili Qingchen jadi sering menuruti perkataannya. Baik itu perihal makanan atau apapun, sahabat tersayangnya, tidak, orang tersayangnya selalu menurut. Entah sihir apa yang dimiliki gadis itu, hingga Baili Qingchen seolah menjadi penurut. Bahkan, Baili Qingchen seperti menurunkan egonya sendiri. Padahal, ini tidak pernah terjadi sebelumnya.


“A-Chen, kau membelanya lagi.”


“Sudahlah, A-Jie. Hanya  masalah kecil.”


Baili Qingchen merapikan jubahnya, kemudian hendak keluar. Melihat itu, Qingyi langsung bertanya, “Kau mau ke mana?”


“Penjara,” jawab Baili Qingchen.


“Oke. Aku ikut denganmu!”


Kalau tujuannya penjara, maka itu sudah pasti. Baili Qingchen hendak menginterogasi kembali penipu perhiasan itu hari ini. Qingyi tidak mau lepas tangan, apalagi dia sendiri yang melumpuhkan mereka lebih dulu. Baili Qingchen ini hanya melanjutkan saja.


Orang yang bekerja lebih keras tetap dirinya, dan dia jelas tidak mau kalah dari Baili Qingchen. Qingyi harus menyaksikan sendiri seperti apa proses interogasi di zaman ini, dan bagaimana cara Baili Qingchen membuat mereka mengaku.

__ADS_1


“Xiao Junjie, kau tidak tertarik?” tanya Qingyi, karena pria menyebalkan itu masih duduk dengan patuh di kursinya. Dia tidak menjawab, tetapi wajahnya sudah memberitahu Qingyi kalau pria itu tidak akan ikut.


“A-Jie tidak suka ikut campur masalah seperti ini,” tukas Baili Qingchen.


Baiklah, Qingyi tidak akan bertanya lagi.


Sesampainya di penjara, seorang penjaga bawahan Raja Changle menyambut mereka dan langsung menunjukkan jalan. Pada awalnya, penjaga bawahan itu terkejut karena tuannya datang bersama seorang wanita. Tapi, setelah berpikir sebentar, akhirnya dia mengerti.


Sosok wanita yang bisa berdiri di samping Raja Changle tanpa rasa takut pastilah hanya ada satu, Putri Permaisuri Changle. Wanita itu pasti Putri Permaisuri, yang sejak masuk mansion telah menggemparkan kota kekaisaran.


Penjaga bawahan langsung menunjukkan jalan. Tepat di sel yang letaknya lebih jauh dari gerbang masuk, beberapa orang yang dipukuli Qingyi hari itu terlihat sedang menikmati jatah makan pagi mereka. Walau mereka dipenjara, mereka tetap mendapatkan makanan yang layak. Ini adalah penjara yang dibangun di bawah kuasa Raja Changle, jadi makanan yang mereka terima juga berdasarkan pengaturannya.


Qingyi melihat-lihat kondisi penjara itu selama beberapa waktu. Penjara ini memiliki banyak ruang tahanan, tetapi yang mengisinya hanya orang-orang itu. Sel yang lainnya kosong. Entah mereka telah dihukum karena mengaku, sedang disiksa, atau memang benar-benar tidak ada tahanan lain lagi, Qingyi tidak tahu dan tidak mau tahu.


“Bagaimana? Apa kalian makan dengan baik di sini?” tanya Qingyi setelah tiba di depan sel.


Sekumpulan orang itu, beserta bos mereka – penjual penipu, seketika meletakkan piring mereka. Beberapa orang sampai tersedak karena terkejut akan kedatangan wanita yang membuat mereka dijebloskan ke dalam penjara.


“Kau! Kau gadis gila itu!” seru si penjual.


“Eh, kau mengingatku dengan baik. Lihatlah bicaramu ini, begitu kejam. Aku ini sedang menolongmu, kau tahu?”


“Omong kosong! Dasar gadis gila!” seru si penjual kembali, dibarengi dengan sorakan teman-temannya.


“Lancang! Beraninya kalian berteriak di depan Raja Changle!” seru penjaga bawahan. Seketika, semua orang di dalam sel tersebut membelalakkan mata.


“Ra…Raja Changle? Itu artinya kau…”


Orang-orang itu bergidik ngeri. Oh, candaan Putri Permaisuri Changle sama sekali tidak lucu. Itu tidak terlihat seperti candaan, tapi lebih mirip dengan ancaman. Rasa takut mulai menjalar ke dalam tulang dan sendi mereka, ketika mereka mencoba mengingat perkataan orang-orang tentang siapa Raja Changle.


Apalagi, mereka juga berhadapan langsung dengan permaisurinya. Mereka tidak tahu kekuatan besar apa yang ada di balik wajah manis tersebut, yang membuatnya terlihat seperti pembunuh berantai yang pandai bersembunyi.


Rasanya, kepala mereka akan terpisah dari badan mereka hari ini.


“Jadi, Yang Mulia, bisa kita mulai acaranya?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen.


“Tentu. Bawa mereka satu persatu!”


Si penjaga membawa seorang yang paling kekar, juga yang paling banyak bekas pukulan ke ruang interogasi. Di sana, terdapat sebuah papan pengikat berbentuk seperti salib dengan rantai besi yang sudah hampir karatan. Ukurannya setinggi manusia dewasa. Jika seseorang diikat di sana, maka akan terlihat seperti direkatkan secara langsung. Lantai bawahnya yang usah dipenuhi dengan bekas darah yang mengering.


Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah meja yang di atasnya disimpan berbagai benda tajam. Fungsinya mungkin untuk menyiksa. Gunting, pisau, rantai, cambuk, belati, paku, semua benda mengerikan tertata rapi. Selain itu, terdapat sebuah ember besar yang di atasnya terdapat tiang gantungan. Ember kecil lainnya ada di bawah meja, mungkin digunakan untuk menyiram tahanan yang pingsan saat interogasi.


Uh, kasar sekali, pikir Qingyi.


“Tunggu! Bukankah kubilang aku ingin menghabiskan waktu dan seru-seruan? Bawa mereka semua!” ucap Qingyi.


Penjaga bawahan bimbang. Namun, Baili Qingchen menyuruhnya menuruti perkataan Putri Permaisuri. Semuanya digiring ke ruang interogasi sesuai perintah Qingyi. Gadis itu menyuruh penjaga untuk mengikat mereka di kursi satu persatu. Setelah itu, Qingyi mengeluarkan beberapa botol garam, madu, bubuk sitrun, bulu ayam, lalu menyuruh penjaga mencarikan dua ekor angsa.

__ADS_1


“Kau percaya padaku, bukan?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen sebelum memulai interogasi.


“Kau yakin bisa membuat mereka mengaku dengan cara ini?”


“Serahkan padaku. Alat penyiksaan milikmu tidak seru.”


“Baiklah. Aku akan menemanimu.”


Pertama, Qingyi menyuapkan satu sendok kecil garam ke mulut orang-orang itu, dan membuat mereka merasakan asin yang luar biasa.


“Kalian mau mengaku atau tidak?” tanya Qingyi. Semuanya menggeleng, menolak menjawab meski lidah mereka masih merasakan asin yang luar biasa.


“Baiklah. Garam ini tidak berguna. Gunakan ini saja!”


Qingyi melemparkan sebotol besar garam ke dalam ember besar, kemudian mengambil botol berisi bubuk sitrun. Dia kembali menyuapi mereka dengan sitrun yang asamnya begitu luar biasa. Lidah mereka sampai terjulur saking asamnya. Kemudian, Qingyi bertanya pertanyaan yang sama, dan mereka kembali menggelengkan kepalanya.


“Ini juga tidak berguna. Ah, yang ini saja!”


Madu juga tidak berguna. Wajah orang-orang itu sudah seperti sarang lebah, dan jika saja di sini ada, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan kehilangan wajahnya. Qingyi terbahak saat melihat madu yang manis nan lengket menempel pada sekumpulan penipu. Namun, sampai saat ini mereka tetap bungkam dan tidak mau buka mulut perihal siapa yang telah membantu mereka masuk ke Bingyue.


Lalu, Qingyi mengambil bulu ayam. Dia juga menyuruh Baili Qingchen dan penjaga itu untuk membantunya. Beberapa menit kemudian, suara tawa yang menggelegar terdengar menggema dari ruang interogasi. Mereka, para penipu itu dilucuti pakaian atasnya dan mulai digelitiki bulu ayam.


Air mata mereka tidak terbendung dan kulit perutnya sudah sangat sakit. Tidak berhenti sampai di situ, mereka juga mendapat gelitikan di kaki dan leher mereka sampai tubuh mereka bergerak seperti cacing kepanasan.


“Apa kalian masih ingin tertawa?” tanya Baili Qingchen.


“Ampun, ampun, Yang Mulia Changle. Tolong hentikan Yang Mulia Putri, kami sudah tidak tahan,” mohon si penjual penipu.


Baili Qingchen lalu menyuruh Qingyi berhenti. Si penjual yang sudah tidak kuat menahan gelitikan itu mangap-mangap seperti ikan kehabisan napas. Dia seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi begitu bimbang sampai harus menunggu hingga beberapa menit lamanya. Itu membuat Qingyi kembali menjadi, lalu memikirkan untuk merealisasikan ide gilanya.


“Sepertinya kalian terlalu banyak makan sampai tidak bisa bicara. Kalau begitu, sedikit olahraga mungkin bisa membantu kalian mencerna,” ujar Qingyi. Dia, Baili Qingchen, dan juga si penjaga keluar dari ruang interogasi. Qingyi melepaskan dua ekor angsa yang suka mengejar orang.


Seketika, mereka panik. Gigi-gigi angsa itu walau kecil, tapi sangat tajam. Kalau sampai terkena kulit, mungkin bisa berdarah juga. Angsa-angsa putih itu bersuara ‘kwak-kwak-kwak’ ketika dilepaskan, dan langsung berlari di dalam ruang interogasi. Akibatnya, mereka menggelinjang dan berusaha melepaskan diri. Tidak, mereka tidak mau dikejar angsa!


“Caramu menginterogasi sungguh unik,” ujar Baili Qingchen pada istrinya.


Ia pikir, gadis itu akan memberi mereka siksaan yang berat agar mereka mau mengaku. Dengan temperamennya yang tidak sabaran, siapa yang menyangka kalau Qingyi malah menggunakan cara tak biasa seperti ini.


“Penyiksaan hanya akan meninggalkan cacat fisik. Tapi jika mental mereka lemah, jalannya bisa lebih mudah,” ucapnya menimpali ujaran Baili Qingchen.


Ketiga orang tersebut menonton pertunjukkan dari jauh. Angsa-angsa yang mulai bergerak menodongkan patuk mereka kepada orang-orang itu. Pekikkan kesakitan terdengar menggema kala salah seorang di antara mereka dipatuk angsa pada bagian perutnya. Yang lainnya semakin panik. Jika bisa, mereka lebih memilih disiksa dengan benda-benda tajam dan cambuk daripada dipermainkan seperti ini.


“Yang Mulia! Aku akan katakan!”


Akhirnya, ada orang yang tidak tahan. Qingyi melompat masuk ke dalam ruangan interogasi, menangkap kedua angsa putih dan menyerahkannya pada si penjaga. Disuruhnya si penjaga keluar dan hanya tinggal Qingyi dan Baili Qingchen yang membersamai orang-orang itu. Qingyi menyeringai, lalu mulai menatap mereka satu persatu.


“Putri Permaisuri, mundurlah. Biar aku yang menanyai mereka,” titah Baili Qingchen.

__ADS_1


Qingyi mundur selangkah, memberikan ruang pada pria itu. Ekspresi Baili Qingchen yang dingin dan tanpa emosi membuat mereka semakin ketakutan. Celaka, jika mereka tidak bicara jujur, Raja Changle si Dewa Perang Bingyue ini akan benar-benar marah!


“Y-Yang Mulia, begini….”


__ADS_2