Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 36: Meminjam Tangan


__ADS_3

Liu Qingti berteriak di depan gerbang mansion Raja Changle sampai menarik perhatian orang. Penjaga melarangnya masuk karena Putri Permaisuri Changle telah memerintahkan agar tidak memperbolehkan orang dari kediaman perdana menteri masuk. Padahal, Liu Qingti mempunyai sesuatu yang penting untuk dilaporkan kepadanya.


“Tuan Muda, kembalilah. Yang Mulia telah memerintahkan agar tidak membiarkan orang dari kediaman Perdana Menteri masuk,” usir penjaga gerbang.


“Aku ini kakaknya! Biarkan aku masuk!”


Seorang pelayan lalu membisikkan sesuatu pada penjaga. Liu Qingti lantas dipersilakan masuk dan disambut di halaman timur. Qingyi dan Baili Qingchen sudah ada di sana.


Xiao Junjie tidak ikut serta karena pria itu sepertinya sedang keluar mansion. Padahal Qingyi berharap pasangan Baili Qingchen yang menyebalkan itu ada di sini dan menyaksikan sendiri kalau Qingyi tidak mudah dikalahkan.


“Katakan, hal apa yang ingin kau sampaikan hingga ribut di depan mansionku?” tanya Qingyi.


“Aku tidak mau bicara padamu. Adik macam apa yang melarang kakaknya berkunjung ke mansionnya setelah menikah.”


Liu Qingti merajuk seperti anak kecil. Qingyi mengabaikannya dan memilih duduk diam mendengarkan sesuatu yang akan disampaikan oleh kakaknya.


Liu Qingti mengagumi Baili Qingchen sejak kecil, karena menurutnya Baili Qingchen itu adalah pahlawan besar. Meskipun reputasi Raja Changle rusak, tapi di mata Liu Qingti, Baili Qingchen tetaplah seorang bintang.


Hari ini dia bisa bertemu langsung bahkan masuk ke mansionnya, hatinya jelas sangat bahagia. Sejak ia tiba, Liu Qingti tak henti-hentinya menatap pemandangan mansion.


Raut wajahnya juga berubah seratus delapan puluh derajat saat melihat Baili Qingchen. Liu Qingti merasa sosok di depannya bukanlah manusia, tapi seorang dewa yang bereinkarnasi.


“Cih, benar-benar tidak berguna,” gumam Qingyi. Sadar akan tujuannya, Liu Qingti langsung memberitahukan sesuatu yang penting itu.


“Yang Mulia, ayahku mengutus pembunuh dari Paviliun Litao untuk mencelakaimu. Tapi, tujuan sebenarnya ialah ingin membunuh adikku,” tutur Liu Qingti.


“Sudah kuduga! Si tua bangka itu pasti pelakunya!”


Qingyi berseru marah. Sebaliknya, Baili Qingchen justru terlihat tidak terkejut sama sekali. Dia begitu tenang sampai sempat meneguk segelas teh.


“Protagonis selalu tampil dengan ketenangan yang elegan. Lihatlah ekspresinya itu,” gumam Qingyi. Yinghao yang duduk di pundaknya mengangguk mengiyakan.


Baili Qingchen bukan tidak terkejut. Cui Kong telah melaporkan hasil penyelidikannya beberapa hari yang lalu. Pembunuh dari Paviliun Litao yang menyerang mereka di perjalanan memang diutus oleh perdana menteri. Namun, Baili Qingchen tidak menyangka kalau informasi ini justru diverifikasi oleh putra perdana menteri sendiri.


Tadinya ia tidak akan memberitahukannya pada Qingyi. Gadis itu pasti bersikeras menuntut balas jika tahu dirinya menjadi target pembunuhan ayahnya sendiri.


Tapi, itu semua tidak berarti lagi karena Liu Qingti telah memberitahunya. Baili Qingchen berencana menuntut balas diam-diam dengan caranya, tetapi karena Qingyi sudah tahu, dia pasti memaksa ingin terlibat.


“Baiklah. Aku sudah tahu,” kata Baili Qingchen.

__ADS_1


“Yang Mulia, kau keren sekali,” puji Liu Qingti. Qingyi memutar bola matanya. Apa yang dikagumi pria bodoh ini dari Baili Qingchen?


“Qingyi, apa kau tidak berencana menuntut balas?’ tanya Liu Qingti.


“Kau begitu bersemangat melaporkan ayah dan ibumu sendiri. Apa kau sudah bosan hidup di kediaman Perdana Menteri?”


“Entahlah. Ayah dan Ibu tidak pernah benar-benar menganggapku ada. Mereka hanya peduli apakah aku berguna atau tidak untuk mereka.”


Qingyi mengerti apa yang dirasakan oleh kakaknya itu. Hidup di bawah tekanan memang sangat menyengsarakan. Liu Qingti dianggap sebagai sampah dan tidak disayangi hanya karena dia tidak pandai.


Liu Qingti adalah contoh produk yang gagal memenuhi ekspektasi di zaman semacam ini. Qingyi berpikir, alangkah baiknya jika Liu Qingti juga tidak terlahir di keluarga perdana menteri.


“Kudengar Erniang bersikap gila kemarin. Perdana menteri dan istrinya pasti sangat sedih,” seloroh Qingyi.


“Kau yang membuatnya seperti itu. Tapi, ada baiknya juga. Perempuan manja itu tidak akan bersikap kurang ajar lagi padaku.”


Kakak beradik yang sejenis, pikir Baili Qingchen. Baik Liu Qingyi maupun Liu Qingti, keduanya sama-sama produk hasil rumah tangga perdana menteri yang memberontak. Pantas saja hubungan kakak beradik itu begitu akrab, mereka punya persamaan nasib yang membuat Baili Qingchen akhirnya memahami penyebab dari sifat mereka.


Sekarang, Baili Qingchen mulai memikirkan cara untuk membalasa perdana menteri. Sejauh ini, apa yang dilakukan pria itu memang sudah keterlaluan. Jika bukan karena kasus Akademi Xizhou kemarin, orang tua itu pasti akan terus merasa dirinya ada di tempat yang tinggi. Tapi, tidak lagi karena Baili Qingchen tahu keponakannya tidak akan melepaskan perdana menteri dengan mudah.


“Saatnya meminjam tangan orang lain untuk membalasnya,” ucap Qingyi tiba-tiba.


“Kau ingin menggunakan Kaisar untuk menekannya?” tanya Qingchen.


Qingyi sudah tahu bahwa kemarin Kaisar Baili menegur perdana menteri karena kasus Pengawas Akademi Xizhou. Ditambah lagi dengan kehadiran Zhao Peng, posisi perdana menteri di istana jadi sedikit sulit. Jadi, dia memutuskan untuk menggunakan tangan kaisar untuk membalas perdana menteri.


“Karena kalian sudah memutuskan, maka lakukan saja. Qingyi, kau adalah cucu buyut Keluarga Zhao, juga Putri Permaisuri Changle. Mereka tidak akan menyeretmu jika terjadi sesuatu pada kediaman Perdana Menteri. Mungkin saat itu, aku bisa melakukan baktiku yang terakhir untuk mereka.”


“Apa ini semacam ucapan perpisahan? Aku tidak sekejam itu hingga melenyapkan satu keluarga. Bukankah begitu, Yang Mulia?” tanya Qingyi diiringi seringaian anehnya. Baili Qingchen berdehem kecil. Ekspresinya tidak berubah sama sekali.


Liu Qingti tersenyum getir. Walau dia anak yang tidak berguna, tapi dia juga masih punya sedikit kepedulian. Syukurlah jika Raja Changle sedikit mengampuni orang tuanya. Mungkin inilah saatnya ayahnya yang kejam itu turun dari kejayaannya.


Sudah saatnya ayah tuanya bertobat atas segala kejahatannya, terutama kejahatan yang dilakukannya kepada Raja Changle selama ini.


...***...


Siang ini, Baili Qingchen memasuki istana kekaisaran dan meminta bertemu dengan Kaisar Baili. Keponakannya sedang memeriksa dokumen di ruang belajar.


Dia sama sekali tidak berminat menyambut kedatangan pamannya. Hasil kinerja Baili Qingchen memang sangat baik, tetapi itu pula yang membuat suasana hatinya buruk karena pamannya itu terlalu menarik perhatian.

__ADS_1


“Yang Mulia,” sapa Baili Qingchen.


“Oh, Paman, kau datang. Apa yang membuatmu datang mencariku?”


“Aku ingin membicarakan masalah Perdana Menteri.”


“Bawahan yang direkomendasikannya sudah masuk penjara. Apa lagi yang ingin kau bicarakan?”


Jika Qingyi ada di sini, dia pasti langsung menghajar Kaisar Baili. Bersikap tidak sopan pada keluarga sendiri adalah tindakan yang tidak benar, meskipun tidak semuanya illegal. Setidaknya Kaisar Baili mengangkat wajahnya dan berbicara dengan bertatapan mata. Baili Qingchen terus menatapnya, mencoba bersabar atas sikap keponakan kaisarnya.


“Masalah ini tidak hanya terkait denganku, tapi juga terkait dengan martabat keluarga kekaisaran,” ucap Baili Qingchen. Kaisar Baili mendongak, lalu mulai mengubah sikapnya.


“Pembunuh Paviliun Litao yang diutus menyergap perjalananku adalah atas perintah Perdana Menteri,” lanjutnya.


“Dia ingin menghalangi pekerjaanmu?”


Baili Qingchen mengangguk.


“Perdana Menteri juga berniat membunuh Putri Permaisuri Changle. Kupikir, tindakannya sudah melampaui batas.”


Kaisar Baili meremas kertas yang ada di mejanya. Rasa kesalnya belum hilang pada orang tua penjilat itu. Tidak disangka, ternyata dia juga telah melakukan tindakan lain tanpa sepengetahuannya. Menyerang anggota keluarga kerajaan adalah kejahatan serius.


Meski tidak berniat membunuh, tapi jelas tidak bisa dibiarkan.


Kaisar Baili sangat memperhatikan ini. Ayahnya mengajarkan bahwa tidak peduli apapun yang terjadi, orang yang menyerang anggota keluarga kerajaan tidak bisa dibiarkan.


Selain meremehkan, itu juga berarti bahwa keluarga kerajaan lemah dan kaisar tidak memiliki kekuatan sama sekali. Orang seperti Kaisar Baili tidak akan mau dilangkahi orang lain.


Jadi, meskipun dia membenci pamannya, tapi dia tetap harus bertindak. Baili Qingchen melihat kebingungan di wajah keponakannya, dan seketika dia menjadi tenang.


“Hukuman apa yang Paman inginkan untuknya?”


“Yang Mulia mengetahuinya lebih jelas.”


Kaisar Baili bimbang. Menjatuhkan perdana menteri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Perkataan Baili Qingchen membuatnya merasakan gejolak amarah di dalam dada.


Kaisar Baili menggeram, karena perkataan itu sama persis dengan perkataan yang diucapkan oleh Qingyi saat kunjungan pertama setelah pernikahan hari itu.


Mengingat ini, Kaisar Baili semakin tidak ingin dilangkahi.

__ADS_1


“Baiklah. Aku akan mengaturnya,” putus Kaisar Baili.


Baili Qingchen mengangguk tenang. Lalu, dia keluar dari ruang belajar kaisar dengan langkah teratur. Ah, meminjam tangan orang lain memang memberikan sensasi yang berbeda ketimbang saat turun tangan sendiri.


__ADS_2