
Selir Jia kecewa. Dirinya mengeluh pada Baoning karena tidak berhasil memenangkan taruhan. Selir Jia lebih kecewa karena tidak ada seorang pun antara dia dan Qingyi yang memenangkan taruhan, dan taruhan tidak dimenangkan siapapun. Setidaknya, seseorang seharusnya memenangkan taruhan itu.
“Nyonya, menurutku hasil akhirnya bagus. Gadis putri jenderal itu tidak memasuki harem siapapun,” ucap Baoning, sambil menenangkan majikannya yang sejak bangun tidak henti-hentinya menghela napas.
“Memang benar, tapi rasanya tidak puas jika taruhannya berakhir imbang,” ujar Selir Jia.
“Meskipun kau memenangkan taruhannya, aku juga tidak akan memberikan apa yang kau inginkan.”
Selir Jia terperanjat, lalu menoleh mencari asal suara. Qingyi berjalan masuk ke dalam aula istananya dengan langkah ringan. Tangannya menenteng sebuah kotak berwarna putih yang bahannya mungkin bukan dari kayu.
Selir Jia pikir wanita itu datang sendiri, tapi ternyata salah. Dia melihat Raja Changle ada di belakangnya dan berjalan tak kalah ringan dengan penuh wibawa.
“Mengapa? Bukankah kita sudah sepakat?”
“Aku tidak pernah menyetujui taruhan itu.”
Baili Qingchen yang tidak mengerti terhadap arah pembicaraan kedua wanita itu hanya bisa mengerutkan keningnya. Qingyi tidak memberitahu apapun soal taruhan, ia sendiri tidak mencari tahu. Namun, Baili Qingchen begitu penasaran dengan taruhan tersebut.
Taruhan apa yang bisa membuat Putri Permaisurinya harus mengeluarkan obat berharga jika kalah?
“Taruhan apa yang kalian maksud?” tanyanya menyela pembicaraan.
“Apa dia tidak memberitahumu? Kami bertaruh perihal ke harem manakah Zhao Ping’er akan masuk,” jawab Selir Jia.
Astaga, selir itu tidak tahu situasi!
Baili Qingchen cukup sensitif jika menyangkut soal harem, tapi permaisurinya justru malah bermain-main dan menjadikannya objek taruhan! Qingyi tidak berani menoleh ke belakang, dan dia merasakan punggungnya seperti sedang ditusuk oleh tatapan tajam Baili Qingchen.
Selir Jia baru sadar dirinya melakukan kesalahan. Atmosfer di dalam aulanya perlahan terasa suram. “Ah, itu sudah berlalu. Lagipula, tidak ada satupun dari kami yang menang, bukankah begitu Putri Permaisuri?”
Qingyi hanya diam, dia tidak mau angkat bicara dan membuat Baili Qingchen marah lagi. Selir Jia pura-pura baik-baik saja, raut wajahnya mencoba dibuat setenang mungkin. Jika ia tahu bahwa Raja Changle akan datang lebih awal, dia mungkin bisa mempersiapkan diri dan menahan keinginan untuk membicarakan taruhan ini.
Akan tetapi, sudah terlambat. Lebih baik maju menantang angin daripada mundur masuk ke dalam jurang. “Putri Permaisuri, meskipun kita tidak bertaruh, bisakah kau memberitahuku mengapa kau tidak mau memberiku obat itu?”
“Karena kau tidak memerlukannya.”
Selir Jia terperanjat.
“Ah? Mengapa?”
“Kau sudah hamil. Hanya perlu pemeriksaan untuk memastikannya.”
Selir Jia dan Baoning membelalakkan mata mereka. Baili Qingchen juga sempat beraksi sama, namun pengendalian dirinya lebih cepat.
__ADS_1
Permaisurinya memberinya kejutan yang ke sekian kali. Dia dengan mudahnya mengetahui seorang wanita yang sedang hamil tanpa memegang tangan atau memeriksa denyut nadi.
Hati Selir Jia berbunga-bunga. Tapi, ini adalah hal besar. Dia harus memastikan kebenaran atas pernyataan Qingyi. “Baoning, cepat panggil tabib kemari!”
Baoning mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Sebelum pelayan itu benar-benar pergi, Qingyi terlebih dahulu menghentikannya dan menyuruhnya tetap diam.
Dia kemudian menyodorkan satu buah alat tes kehamilan berupa testpack berwarna putih. Selir Jia tidak tahu benda apa itu, bentuknya aneh.
“Bagaimana cara menggunakannya?” tanya Selir Jia.
“Kau hanya perlu mengencinginya,” jawab Qingyi.
“Putri Permaisuri, bukankah ini agak tidak pantas?” tanyanya lagi sembari melirik Baili Qingchen.
Baili Qingchen hanya berdehem kecil sebagai reaksi atas kata-kata permaisurinya.
“Apa yang kau takutkan? Raja Changle bukan orang yang tabu terhadap hal-hal seperti ini. Turuti saja perkataanku.”
Selir Jia tidak berniat melawan lagi, dan dia pergi bersama Baoning ke bagian belakang istana. Setelah beberapa menit, Selir Jia dan Baoning sudah kembali. Dia menyodorkan testpack itu kembali kepada Qingyi. Sebenarnya dia agak tidak nyaman, karena dia biasanya menggunakan pispot untuk buang air.
Qingyi mengangguk-ngangguk kecil saat melihat hasilnya. “Dua garis biru. Oke, kau memang sedang hamil.”
Selir Jia hampir melompat kegirangan jika Baoning tidak mencegahnya. Matanya berkaca-kaca, hampir saja ia menangis. Pada akhirnya, momen yang ia tunggu selama bertahun-tahun akhirnya tiba.
Selir Jia sudah lama mendambakan seorang anak, bukan hanya untuk mengamankan posisi, itu juga karena dia sangat menyukai anak-anak. Setelah usaha kerasnya selama bertahun-tahun, dia mendapatkan hasil.
Baili Qingchen tertarik pada benda kecil di tangan Qingyi. Benda itu sangat ajaib, bisa mengonfirmasi apakah seorang wanita sedang hamil atau tidak.
Rasanya lebih praktis dan lebih cepat ketimbang memanggil seorang tabib untuk memeriksa. Qingyi meliriknya dengan sudut mata, dia tidak suka cara Baili Qingchen yang penasaran namun ekspresinya tetap menyebalkan.
“Tidak juga. Hanya saja hasilnya bisa lebih cepat diketahui,” ujar Qingyi.
“Lalu, apa artinya jika garisnya berwarna merah?” tanya Baili Qingchen lagi.
“Artinya tidak ada kehamilan.”
Baili Qingchen mengangguk mengerti. Dia berangan-angan jika suatu saat Qingyi hamil, wanita itu juga akan menggunakan benda tersebut untuk mengeceknya. Tidak perlu repot memanggil tabib kekaisaran dan membuatnya menjadi hal besar yang diributkan istana dan seisi kediaman.
“Putri Permaisuri, mengapa kau bisa memiliki benda hebat seperti ini?” Selir Jia bertanya padanya dari mana dia mendapatkan alat tes kehamilan yang sangat praktis. Qingyi tidak memberitahunya, dia hanya berkata, “Aku hebat dalam segala hal.”
“Jangan memberitahu siapapun perihal kehamilanmu,” ujar Qingyi setelah Selir Jia sedikit tenang.
“Mengapa?”
__ADS_1
“Jika kau ingin bayimu selamat, turuti saja perintahku. Minta Kaisar agar tidak terlalu sering bermain terlalu sering dan terlalu kuat.”
Qingyi, meskipun tidak benar-benar menganggap Selir Jia sebagai sekutu, dia tetap tidak bisa menutup sebelah matanya. Selir Jia memang memberikan bantuan besar padanya akhir-akhir ini, meskipun mereka sempat berselisih namun semua itu sudah berlalu.
Selir Jia juga sudah berperilaku baik dan begitu menghormatinya, walau terkadang ia merasa risih dengan kehadirannya.
Kehamilannya tentu memang telah memenuhi harapan Selir Jia sendiri. Akan tetapi jika kabar kehamilannya tersebar terlalu cepat, itu akan membahayakan dirinya dan juga bayinya. Harem Kaisar Baili dipenuhi dengan wanita yang sedang berputus asa. Mereka tidak akan membiarkan seseorang melaju dengan mudah.
Terutama orang bernama Liu Erniang yang sekarang sedang bermusuhan dengan Selir Jia. Liu Erniang yang licik dan pendengki ini akan gelisah setengah mati jika tahu pesaingnya ternyata lebih dulu mendapatkan jalan daripada dirinya. Liu Erniang tidak akan membiarkan Selir Jia melahirkan bayinya dengan selamat.
Tabib kekaisaran juga tidak bisa dipercaya. Mereka mudah disuap dan mudah menggadaikan kesetiaan dan kejujuran mereka.
Bisa saja mereka mencampurkan sesuatu atas perintah seseorang dengan imbalan kepingan perak dan emas, lalu menyamarkan kecelakaan dengan sebab lain. Qingyi tidak ingin direpotkan jika Selir Jia mengambil resiko.
Selir Jia mengangguuk mengerti. Dia baru sadar dengan maksud perkataan Qingyi. Benar, sebaiknya jangan beritahu orang lain dulu. Situasi di harem sekarang sedang kacau.
Dia tidak bisa membiarkan orang lain mendapatkan kesempatan untuk menjatuhkan dan membuatnya kehilangan anak. Selir Jia memegang perutnya, matanya kembali berkaca-kaca. “Aku akan menuruti perintahmu, Putri Permaisuri.”
Qingyi mengangguk puas. Lalu, dia membuka kembali kotaknya, mengeluarkan suplemen tambah darah, susu ibu hamil, dan beberapa keperluan lain. “Bagus. Kau tidak boleh memberitahu siapapun, termasuk Kaisar sampai janinmu stabil. Aku akan mengawasimu.”
“Tapi, benda-benda ini, untuk apa?” tanya Selir Jia sambil menunjuk keperluan ibu hamil yang dikeluarkan Qingyi.
“Menjaga kesehatan ibu dan anak,” jawab Qingyi.
Selir Jia sekali lagi mengangguk. Qingyi menuliskan beberapa hal yang tidak boleh dilakukan Selir Jia selama masa kehamilan.
Selain itu, dia juga menuliskan beberapa resep obat herbal penguat janin, selain suplemen tambah darah dan susu ibu hamil. Qingyi juga meminta Selir Jia untuk menggunakan tabib khusu keluarganya demi menjaga kerahasiaan dan kondisinya.
Selir Jia sangat berterima kasih pada Qingyi dan Baili Qingchen. Keputusannya untuk menjadi sekutu Putri Permaisuri Changle dan berjalan berdampingan dengan mansion Raja Changle membuatnya mendapatkan berkah yang sangat besar. Dia menyuruh Baoning membawakan teh terbaik yang baru diseduh dan ia sajikan kepada pasangan hebat itu.
“Aku sudah mendapatkan keinginanku. Lalu, kapan kau akan memenuhi keinginan Raja Changle?” tanya Selir Jia tiba-tiba.
Qingyi merasa pertanyaan ini ambigu.
“Memangnya apa yang kau inginkan?” Qingyi malah bertanya pada Baili Qingchen.
Baili Qingchen tidak menanggapi, dia berpura-pura menuangkan dan menghirup aroma teh. Selir Jia tertawa kecil, wanita hebat ini memang tidak peka!
“Tidakkah kau merasa bahwa Raja Changle juga menginginkan seorang anak? Usianya beberapa tahun lebih tua dari Kaisar. Kaisar sudah hampir beranak dua, tetapi Raja Changle bahkan tidak memiliki seorang bayi pun. Bukankah itu kurang adil?”
“Uhuk-uhuk....”
Teh yang sudah ada di dalam mulutnya hampir dimuntahkan lagi akibat terkejut. Qingyi buru-buru menelannya, lalu mengusap sudut mulutnya dengan saputangan. Dia menatap horor pada Baili Qingchen yang masih menghirup aroma teh tanpa meminumnya. Wajahnya memerah karena pikirannya berkelana.
__ADS_1
“Aku akan pergi. Ingat untuk meminta Kaisar agar tidak bermain berlebihan.”
Qingyi bangkit, berbalik, lalu keluar dari istana dengan langkah yang sangat cepat. Baili Qingchen mengikutinya tanpa meminum tehnya. Selir Jia tertawa kecil menyaksikan aksi salah tingkah Putri Permaisuri dan Raja Changle. Dia menatap Baoning, kemudian berkata dengan nada suara rendah, "Baoning, pemenang taruhan itu sebenarnya adalah Putri Permaisuri. Dia tidak berjuang untuk menang atau kalah. Dia hanya menghancurkannya dengan mudah."