Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 67: Kunjungan Kakak


__ADS_3

Ada yang bilang jika kau bertemu seorang psikopat, kau harus lari sejauh mungkin dan bersembunyi. Masuk akal, karena psikopat itu bisa saja merenggut nyawamu dan menjadikannya seperti mainan anak kecil yang menyenangkan. Tetapi, jika psikopatnya adalah seorang Putri Permaisuri Changle, bahkan jika kau bersembunyi hingga lubang semut pun, kau tetap tidak akan lepas darinya.


Ah, walau Qingyi bukan psikopat sungguhan, tetapi perilakunya sangat menyebalkan dan selalu membuat orang jantungan. Tidak ada seorang pun yang lolos dari pengamatannya. Jangankan seekor kera di pulau terpencil, bahkan debu tipis yang menempel di meja pun tidak akan luput dari pandangannya.


Dia sangat pintar memanfaatkan situasi. Serumit apapun itu, dia bisa menemukan celah dan menjadikannya jalan keluar. Kehadiran Baili Wuyuan yang tiba-tiba mungkin adalah masalah menurut sebagian orang. Baginya, itu bisa menjadi sebuah kesempatan langka yang tidak akan datang dua kali. Baili Wuyuan adalah peluang.


Siang ini, Qingyi pergi ke Kediaman Liu. Sehari tidak berbuat rusuh, rasanya tidak nyaman. Tangannya gatal dan mulutnya ingin sekali menindas orang. Liu Erniang adalah sasaran terbaik.


Qingyi harus puas-puas memberinya pelajaran sebelum adik bungsunya yang nakal itu masuk ke istana sebagai selir dan dikurung di sana sampai akhir hidupnya. Qingyi perlu menyelamati ayahnya, Liu Wang, atas pensiun dini yang dialaminya. Dia perlu mengucapkan belasungkawa kepada Gao Hui atas PHK yang dialami suaminya.


Sampai di kediaman, pelayan menyambutnya dan membawanya ke halaman utama. Tampak keluarga perdana menteri tengah makan siang bersama. Melihat Qingyi datang, wajah mereka seketika berubah buruk. Orang ini pasti datang untuk mencari masalah. Rasa makanan di meja tiba-tiba terasa hambar.


“Sepertinya kalian sedang mengadakan perjamuan kecil. Apa aku boleh ikut?” tanya Qingyi.


Tanpa perlu meminta izin, dia duduk di antara orang tua itu. Wajah tanpa dosanya sangat menyebalkan. Yinghao saja sampai jijik melihatnya.


“Untuk apa kau kemari?” tanya perdana menteri.


“Menumpang makan. Aku lapar,” jawab Qingyi.


Nyonya Gao meremas jemarinya sampai memutih.


“Kediaman Perdana Menteri tidak bisa menerima kehormatan untuk makan bersama Putri Permaisuri Changle,” sindir Nyonya Gao. Qingyi menutup mulutnya dengan tangan, betingkah malu-malu.


“Nyonya Gao sepertinya tidak senang denganku. Kenapa? Apa ada sesuatu yang menganggumu?”


Tentu saja karena kau, batin Nyonya Gao.


Liu Erniang mendecih. Ia masih ingat perlakuan Qingyi terhadapnya hari itu, yang membuatnya hampir menjadi gila dan kehilangan akal. Bekas luka di telapak tangannya masih membekas, dan itu membuat Liu Erniang selalu marah setiap kali melihatnya.


Kakaknya ini telah mencelakai kediaman perdana menteri dan telah mendatangkan banyak masalah. Jika dia harus menyambut kedatangannya dengan senyuman, bukankah itu sanat konyol?


“Kau belum puas mencelakaiku?” tanya perdana menteri. “Jika bukan karena kau, aku tidak akan berakhir seperti ini!”

__ADS_1


“Eh, ayah, kenapa kau marah? Bukankah kau sendiri yang meminta bantuanku? Kau saja yang bodoh. Aku berbaik hati menghentikanmu sebelum kau terlibat lebih jauh. Aih, siapa sangka budiku ini justru tidak diterima olehmu.”


Hanya orang bodoh yang akan percaya pada alasan itu. Perdana menteri ingin memanggil pelayan dan mengusir Qingyi dari sini, namun masalahnya, dia tidak bisa lagi melakukannya. Posisinya di pengadilan telah melemah dan sebentar lagi dimakzulkan.


Dia hanya akan kembali menjadi bangsawan biasa. Sementara Qingyi, dia adalah anggota keluarga kekaisaran dan namanya telah tercatat di dalam silsilah. Statusnya lebih tinggi dan lebih mulia, terlebih saat ini putri bungsunya juga belum resmi menjadi selir.


Qingyi suka melihat penjahat tidak berkutik dan mati kutu. Raut wajah tidak senang dan penuh kebencian di keluarga ini seperti hiburan untuk melepaskan lelahnya selama beberapa hari ini. Mereka ingin melawan, tapi tidak punya banyak tenaga dan kuasa. Mau tidak mau, mereka harus menerima kehadirannya meskipun mereka sangat membencinya.


“Kakak, kau mencelakai ayah sampai seperti ini. Tindakanmu sungguh sangat tidak bermoral,” ucap Liu Erniang.


Perkataannya membuat Qingyi tertawa remeh.


“Adik, jangan bicarakan moral denganku. Moralmu jauh lebih buruk dariku, kau bahkan hampir menyeret kakakmu ini ke tiang gantungan dan membunuhnya. Lagipula, bukankah kau menerima keuntungan dari pemberhentian ayahmu ini?”


Liu Erniang tercekat. Kepandaian berbicara Qingyi meningkat sangat pesat sejak terakhir kali mereka bertemu. Bukan hanya bemulut tajam, dia bahkan selalu mampu menangkap kelemahannya dengan mudah.


Liu Erniang tidak bisa menyangkal jika ia memang diuntungkan dari pemakzulan ayahnya. Berkatnya, dia bisa memasuki istana seperti keinginannya, meskipun yang akan menjadi suaminya bukanlah Raja Changle atau Pangeran Ketiga Baili.


“Aku datang untuk menyelamatimu. Sebagai kakak yang baik, aku telah menyiapkan baju pernikahan untukmu. Kau ingin melihatnya?”


Liu Erniang membelalakkan mata melihat kemewahan gaun merah tersebut. Harganya ditaksir ratusan tael dan keluarga kekaisaran belum tentu memiliki penjahit yang bisa membuat gaun seperti ini.


Qingyi mengambilnya dari lemari koleksi di ruang dimensi. Gaun itu adalah hadiah dari sistem dan seharusnya ia yang memakainya. Namun, dia menggunakannya untuk membuat sebuah pertunjukan besar yang bisa memuaskan hatinya. Gaun ini memang mahal, namun nilainya bisa sangat sempurna jika berhasil memenuhi keinginannya.


Qingyi ingin melihat Liu Erniang terjatuh dari tempat yang tinggi ketika dirinya merasa sudah berada di puncak kejayaan. Gaun ini gaun pernikahan permaisuri, sangat cocok dengan postur tubuhnya.


Saat adiknya itu memakai gaun ini dan dibuai ekspektasi sendiri, Qingyi akan menjatuhkannya ke dasar jurang dan menamparnya dengan kenyataan.


“Gaun ini hanya ada satu di dunia. Adik, kau harus memakainya dengan benar.”


“Adik menerima niat baik kakak.”


Lalu, pelayan membawa gaun tersebut ke kamar Liu Erniang. Meskipun begitu, bukan berarti situasinya mencair. Perdana menteri dan Nyonya Gao tetap tidak senang. Wajah mereka masih masam. Qingyi menatap mereka bergiliran. Ini masih belum berakhir. Dia masih punya satu hadiah lagi.

__ADS_1


“Perdana Menteri,” Qingyi mengubah panggilannya. Nada bicaranya terdengar lebih serius.


“Aku juga punya hadiah untukmu.”


Pelayan lantas membawa sebuah kotak kayu persegi dan membukanya. Perdana menteri membelalak melihat isi peti tersebut, seketika ia menjadi sangat marah. Bagaimana tidak, isi peti tersebut adalah pakaian duka berwarna putih, lengkap dengan alat-alat upacara pemakaman.


“Liu Qingyi! Kau menyumpahiku agar cepat mati?” bentak perdana menteri. Qingyi mengorek telinganya dengan jari telunjuk. Gatal sekali.


“Aku hanya khawatir kau mati kebosanan karena tidak ada pekerjaan. Aku juga khawatir kau mati darah tinggi ketika meninggalkan kota kekaisaran. Jadi, pakaian ini bisa kau gunakan nanti dan tidak perlu membeli lagi.”


Liu Erniang menahan marahnya. Sialan, Liu Qingyi sengaja mempermainkannya! Secara tidak langsung, gadis itu telah memberitahu kalau hari pernikahan Liu Erniang dengan Kaisar Baili adalah sebuah pemakaman untuk ayahnya.


Mengingat ini, kebenciannya jadi bertambah dan dia bersumpah akan menjatuhkan Liu Qingyi bagaimanapun caranya!


Nyonya Gao menggebrak meja. Dia tidak terima dihina seperti ini!


“Liu Qingyi, kubunuh kau!”


Nyonya Gao hendak menusuk Qingyi dengan sumpit, tapi tangannya dicekal perdana menteri. Nyonya Gao meronta, matanya memerah karena marah. Qingyi masih bersikap tenang seolah ancaman Nyonya Gao hanyalah bisikan angin yang lewat. Liu Erniang lantas membantu ayahnya untuk menahan ibunya agar tidak bertindak impulsif.


“Diamlah! Apa kau mau mati?” Perdana menteri membentak istrinya sampai istrinya terdiam.


Liu Erniang juga ikut diam akibat bentakan itu. Sepanjang hidupnya, inilah bentakan terkeras yang pernah ia dengar. Qingyi lagi-lagi tersenyum remeh. Dia berdiri, lalu berbisik kepada perdana menteri.


“Bagaimana rasanya dikhianati putrimu sendiri? Bagaimana rasanya dijatuhkan oleh calon menantumu sendiri?”


Perdana menteri menahan napas, mengatur emosi agar dia tidak memukul anak durhakanya ini.


“Sudah kubilang, aku akan mengembalikan semua penderitaan yang kau berikan berkali lipat. Perdana menteri, ini belum berakhir.”


Dalam mode seperti ini, ternyata Qingyi jauh lebih menyeramkan. Dia seperti pembunuh berantai yang berdarah dingin. Wajah perdana menteri jadi pucat. Celaka, ini hanya permulaan. Hari-hari ke depan tidak bisa diprediksi, tapi yang pasti tidak akan berjalan sesuai rencana.


Qingyi menegakkan tubuh, lalu berbalik. Tubuhnya ditegapkan dan pandangannya berubah dingin. Ekspresinya mirip seperti ekspresi Baili Qingchen ketika menahan marah, selain dingin, juga sangat mengerikan sampai orang tidak tahan melihatnya. Qingyi menolehkan kepala sedikit ke belakang.

__ADS_1


“Karena hadiahnya sudah diterima, kalau begitu, Perdana Menteri, aku akan pergi.”


Qingyi melangkah dengan anggun. Percaya atau tidak, dia telah membuat semua orang di kediaman perdana menteri membeku di tempat.


__ADS_2