
Selama tidak sadarkan diri, kesadaran Qingyi tertahan kembali di ruang dimensi. Selama itu pula, Yinghao menyuruhnya beristirahat dan jangan memikirkan apapun.
Itu adalah konsekuensi karena Qingyi bertindak terlalu jauh tanpa instruksi sistem. Dia bilang, ada harga yang harus dibayar ketika kau bertindak melampaui kemampuanmu sendiri.
Tidak apa-apa, pikir Qingyi. Lagipula, dia telah menyelesaikannya. Urusan selanjutnya biarkan pihak ketiga saja yang mengurusnya. Berkat itu pula, dia benar-benar bisa beristirahat total. Baili Qingchen benar saat itu, ikut campur terlalu dalam hanya akan mendatangkan masalah untuknya.
Syukurlah, sekarang dia sudah membalaskan dendamnya. Terkait berhasil atau tidaknya pelaku sebenarnya tertangkap, hanya tinggal menuggu waktu saja. Jika berhasil, dia akan sangat senang. Jika tidak berhasil, berarti orang-orang Kaisar Baili itu bodoh, atau pelakunya bersembunyi terlalu dalam.
“Dengar-dengar, kau memarahi Kaisar Baili di hadapan para menteri?” tanya Qingyi.
Saat ini, dia sedang berada di taman halaman barat, menikmati sinar matahari pagi. Qingyi memaksa Baili Qingchen untuk membiarkannya keluar kamar karena bosan.
“Aku hanya sedikit membentaknya,” jawab Baili Qingchen.
“Uh, sekarang kau sudah berani mengekspresikan emosimu secara langsung, ya?” tanyanya lagi sembari disertai senyuman yang menyebalkan.
“Dia berkata ingin menggantimu dengan permaisuri baru yang lebih terhormat dan lebih berguna.”
Ketika mendengar ini, senyum di bibir Qingyi membeku. Dasar kaisar sialan! Kalau bukan karena dia yang mengikuti pembunuh itu, putranya sekarang mungkin sudah dijual ke luar negara!
Kaisar Baili sungguh tidak tahu diri! Selain membencinya, ternyata dia juga masih berusaha menyingkirkannya setiap ada kesempatan.
Gadis itu mendengus kesal.
“Kau seharusnya memarahinya dengan lebih parah!” gerutu Qingyi. Namun, senyum Baili Qingchen justru terbit. Ah, permaisurinya sudah bisa marah. Seharusnya sekarang dia sudah benar-benar pulih.
“Tenang saja. Keponakanku tidak akan bisa melakukan itu.”
“Baili Qingchen kuperingatkan kau! Jika kau berani mengganti permaisurimu, percaya atau tidak, aku akan membuat mansion ini seperti neraka!” peringat Qingyi.
“Oh? Kau sungguh serius? Jika permaisuri tidak boleh, bagaimana dengan selir?”
__ADS_1
“Jangan pernah berpikir untuk memiliki selir tanpa seizinku!”
Satu Xiao Junjie, meskipun pria, sudah seperti selir yang bermusuhan dengan istri utama. Bayangkan saja jika ada selir yang masuk kemari. Hari-hari Qingyi yang sudah berat, akan semakin berat.
Wanita tidak seperti pria. Xiao Junjie sekarang lebih sering diam, namun jika seorang selir wanita datang, mansion ini pasti riuh.
Selir itu akan berusaha sekuat tenaga merebut perhatian Baili Qingchen dan ingin mendapat kasih sayangnya. Cerita ini bisa saja berubah genre menjadi drama keluarga, bukan antara putri sah melawan selir ayah dan saudarinya, melainkan istri sah yang melawan selir suaminya. Itu sangat tidak seru dan Qingyi membencinya!
Wajah garang permaisurinya membuat Baili Qingchen mau tidak mau menyunggingkan senyumnya lagi. Kali ini, dialah yang mencium bau asam cuka yang menyengat itu. Permaisurinya sedang berusaha menutupi ketidaksenangannya, menganggap serius ucapannya.
“Mengapa? Mansion seorang raja harus selalu ramai. Beberapa raja di luar kota kekaisaran bahkan memiliki empat sampai lima selir,” goda Baili Qingchen.
“Kau berani?”
Qingyi mengacungkan sumpit makannya kepada Baili Qingchen. Coba saja! Kalau Baili Qingchen berani mengambil selir dan merepotkannya, dia akan mengobrak-abrik mansion ini dan membuat semua penghuninya sengsara! Qingyi selalu membenci poligami, dan bahkan jika dia harus mengalaminya, dia yang akan maju pertama kali untuk melawan.
Baili Qingchen menyimpan kupasan apelnya di piring, lalu mendekatkan dirinya pada Qingyi. Mata elangnya berkilat jahil. “Aku tidak tertarik para wanita lain. Jadi, Putri Permaisuri, pulihkan dirimu lebih cepat dan jangan biarkan kesempatan seperti itu datang.”
“Ekhem. Kau menyerahkan para pembunuh itu kepada keponakanmu?” tanya Qingyi, mengalihkan topik pembicaraan dan mengendalikan situasi.
Baili Qingchen menganggukkan kepala sampai mahkotanya ikut bergerak.
“Biarkan dia bertindak. Dia harus belajar menyelesaikan masalah besar sendiri.”
Bagus juga, pikir Qingyi. Bantuan yang ia berikan dan Baili Qingchen berikan padanya selama ini sudah sangat banyak. Qingyi tidak berharap Kaisar Baili mengucapkan terima kasih, karena ia tahu seorang kaisar sangat sulit mengucapkan kata itu karena harga dirinya terlalu tinggi. Dia juga bukan tipe orang yang haus akan pengakuan orang lain.
Sebaliknya, Qingyi ingin kaisar pemalas itu banyak belajar. Setelah dibentak dan dimarahi Raja Changle di hadapan para menterinya, seharusnya dia bisa mengerti seperti apa tanggungjawabnya.
Kaisar Baili harus sadar jika Raja Changle juga memiliki batasan yang tidak bisa dilanggar, sekalipun dia adalah pamannya dan juga Pengawas Negara.
Jika Kaisar Baili tidak sadar juga dan belum merubah sikapnya, itu berarti dia bodoh. Pada saat itu, Qingyi akan mendatanginya kembali dan menagih semua utang-utangnya yang besar ini.
__ADS_1
Kebetulan, dia punya kostum baru yang belum dicoba. Mungkin saja cocok digunakan saat mendatangi Kaisar Baili nanti.
Pagi itu, matahari hangat dan suasana di halaman barat sangat tenang. Raja Changle sedang menemani Putri Permaisuri Changle berjemur di halaman, sembari menikmati sarapan pagi. Pemandangan ini cukup langka, dan banyak pelayan yang mencuri pandang diam-diam.
Mereka sangat manis. Hanya para pelayan halaman barat yang tahu betapa lembutnya sikap Raja Changle terhadap Putri Permaisurinya.
Orang yang dikira tidak berselera terhadap wanita itu, nyatanya sangat manis dan lembut. Baili Qingchen seperti seorang pangeran yang sangat menyukai permaisurinya.
“Jika kau tidak segera pergi dari sini, mata para pelayan itu bisa membengkak melihat tingkahmu,” ujar Qingyi, yang merasa risih atas pelayan yang curi pandang diam-diam.
“Biarkan saja mata mereka membengkak.”
Dia menyuapkan kembali sepotong apel ke mulut Qingyi. Baili Qingchen sedang tidak memiliki niat pergi ke pengadilan istana, juga tidak ke halaman utara.
Saat ini dia hanya ingin menghabiskan waktu senggangnya yang langka di tempat ini. Setidaknya sampai dia memastikan gadis ini sembuh dan tidak ikut campur lagi.
Namun, dia tiba-tiba merasakan sakit. Luka-lukanya meradang lagi. Melihat ekspresinya berubah, Qingyi menghentikan aktivitasnya dan langsung menyangga tubuh Baili Qingchen. Pria itu berkeringat dingin.
Saat Qingyi membuka pakaian atasnya dengan paksa, dia melihat luka-luka bekas pertarungan malam itu terbuka kembali. Gadis itu menghela napasnya.
“Kau bertingkah seperti suami siaga, padahal kau mengabaikan luka-lukamu sendiri. Kau pikir aku akan berterima kasih atas kelakuan muliamu ini?” tanya Qingyi, nada bicaranya sedikit mengandung kemarahan.
“Tidak apa-apa. Ini hanya luka biasa.”
“Aih. Kapan hidupmu berubah menjadi padang rumput yang damai?”
Qingyi kemudian meminta Yinghao mengeluarkan obat luka dari ruang dimensi tanpa diketahui Baili Qingchen. Di taman itu, dia memaksa Baili Qingchen untuk berbaring di kursi malas dengan pakaian bagian atas yang terbuka. Setelah membersihkan tangan, Qingyi mengoleskan obatnya ke luka-luka di tubuh suaminya.
Baili Qingchen tidak meringis lagi, dia hanya memperhatikan kegiatan Putri Permaisurinya dengan saksama. Selalu seperti ini. Setiap kali dia terluka, permaisurinya akan mengobatinya dengan telaten. Jika sebelumnya itu terjadi saat dirinya tidak sadarkan diri, sekarang dia menyaksikannya secara langsung.
Dia bisa melihat tangan kecil Qingyi dengan cekatan mengoleskan obat secara merata, dan juga pandangan hati hatinya. Dalam hatinya dia berkata, “Alangkah bagusnya jika kita bisa saling merawat seperti ini.”
__ADS_1