Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 106: Paman, Kau Juga Digigit Serangga?


__ADS_3

Keluarga Marquis Chenyuan benar-benar sedang sial. Terlibat dengan mansion Raja Changle bukanlah suatu hal yang baik yang datang di saat mereka sedang dalam situasi yang rumit seperti ini.


Jika dulunya keluarga Marquis Chenyuan sedang berjaya hingga bisa bersikap semena-mena, keadaannya sudah berubah.


Keluarga ini adalah kerabat dekat mendiang Selir Sui. Beruntung mereka masih bisa selamat karena Selir Sui membayar perbuatannya sendiri dengan nyawanya. Sekarang, pamor keluarga bangsawan ini sedang menurun dan banyak pejabat kota kekaisaran menjauhkan diri dari mereka.


Oh, petaka apa lagi ini.


Jiang Jiwei, putra pertama Marquis Chenyuan harus menanggung tanggungjawab keluarga. Ayahnya telah lama pergi ke perbatasan untuk menjadi pengawas militer dan belum kembali dalam waktu yang lama.


Semua urusan kediaman Marquis Chenyuan jatuh ke tangannya. Kini, dia harus menanggung kesalahan keponakannya, Jiang Wen yang telah menyinggung Pangeran Manyue dan Putri Permaisuri Changle.


Dengan penuh penyesalan, dia berlutut di aula mansion demi memohon maaf atas kesalahan keponakan kecilnya yang telah berkelahi dengan Baili Wuyuan.


Jiang Jiwei diberitahu jika keponakannya telah menyinggung bangsawan kekaisaran dan bertindak ceroboh dengan mengerahkan penjaga untuk menangkap mereka. Saat mendengar ini, Jiang Jiwei hampir saja pingsan.


Jika dia tidak mendapatkan ampunan dari Raja Changle, bagaimana mungkin dia mendapat pengampunan Kaisar Baili?


Kaisar sudah cukup murka atas keterlibatan Selir Sui dengan Janda Selir Sun yang telah berkomplot mencelakai harem. Jika mendengar keluarga kerabat mantan selirnya menyinggung putra pertamanya, mungkin saja seluruh kediaman Marquis Chenyuan akan rata dengan tanah.


“Kau meminta maaf untuk apa?” tanya Baili Qingchen yang terkejut saat melihat Jiang Jiwei berlutut di lantai aulanya.


“Yang Mulia, keponakan kecilku telah bertindak tidak sopan dan menyinggung Yang Mulia Putri dan Pangeran Manyue. Sebagai putra tertua yang mengurusi keluarga, aku telah gagal mendidik keponakanku hingga mempunyai keberanian sebesar ini. Mohon Yang Mulia berbelas kasih dan mengampuni keluarga Marquis Chenyuan.”


Beritanya sudah sampai ke telinga Baili Qingchen sejak beberapa jam yang lalu. Baili Qingchen hanya tidak menyangka kalau Jiang Jiwei akan datang secepat ini.


Ketika mendiang Selir Sui masih hidup dan berpengaruh di harem, keluarga Marquis Chenyuan membusungkan dadanya dan menyombong dengan hidup di bawah nama Selir Sui dan Marquis Chenyuan. Mereka terkadang beberapa kali mempersulit Baili Qingchen di pengadilan, meskipun tidak mempan.


Melihat situasinya saat ini, kesempatan baik itu sudah datang. Baili Qingchen punya keinginan untuk memberikan pelajaran pada keluarga ini. Akan tetapi, itu artinya dia sama sekali tidak bermoral, menginjak orang ketika kejayaannya telah jatuh dan bukan perbuatan terpuji.


Baili Qingchen hanya menghela napas. Duduk dengan tenang di kursinya, dia masih menatap Jiang Jiwei dengan mata dinginnya. Persoalan keluarga ini menyinggungnya di masa lalu, bisa saja tidak diperhitungkan.

__ADS_1


Tapi, mereka telah menyinggung cucu kecil dan permaisurinya. Baili Qingchen juga bisa melepasnya, namun tidak dengan kedua orang itu.


“Jadi, keponakanmu telah berkelahi dengan Pangeran Manyue?”


“Dia telah merebut manisan tanghulu dari tangan Pangeran Manyue. Selain tidak mengaku bersalah, dia juga berkata sangat kasar dan menghina Pangeran dan Putri Permaisuri. Dosa ini akan kami tanggung, namun mohon maafkan kami dan ampuni nyawa kami sekeluarga.”


“Apa kau sedang bernegosiasi denganku?” tanya Baili Qingchen dingin.


Jiang Jiwei menggeleng cepat. Tidak, bukan itu maksudnya. Jiang Jiwei masih menyayangi nyawanya dan ia akan berusaha untuk tidak membuat marah Raja Changle. Selain Kaisar Baili, orang ini adalah orang yang masuk ke dalam daftar bangsawan yang tidak boleh disinggung.


Keponakan kecilnya itu benar-benar merepotkan. Sudah tahu keluarga Marquis Chenyuan sedang kesusahan, malah berbuat onar dan bertingkah layaknya seorang majikan. Dia tidak tahu siapa orang yang dia hadapi.


Raja Changle sangat memanjakan permaisurinya, dan dia juga sangat menyayangi cucu kecilnya yang baru tiba di istana beberapa waktu lalu itu. Menyinggung mereka sama saja dengan menyinggungnya!


“Marquis Chenyuan tidak mempunyai banyak cucu laki-laki. Jika Yang Mulia menghukum Jiang Wen, akan sulit untuknya menjalin masa depan kelak. Yang Mulia, Anda bijaksana dan berhati lapang. Aku mewakili ayahku memohon ampun untuk nyawa penerus Marquis Chenyuan.”


Baili Qingchen berpikir sejenak. Sebagai Pengawas Negara, dia memikirkan situasinya secara keseluruhan. Keluarga Marquis Chenyuan setia dari generasi ke generasi, dan telah melayani keluarga kekaisaran dalam puluhan tahun terakhir.


Jiang Wen tampaknya memiliki bakat dan keberanian. Jika ditempa dengan baik dan diarahakan sesuai jalur, anak kecil itu mungkin bisa berguna menjadi pilar negara di masa depan kelak. Lagipula, dia seorang anak kecil. Berebut manisan bukan masalah besar. Adapun masalah besar mengenai perkelahian dan pengepungan oleh penjaga itu, ia akan mengurusnya secara terpisah.


“Jika kau ingin aku mengampuninya, maka biarkan dia masuk istana dan tinggallah di sana sebagai teman belajar Baili Wuyuan! Dan juga, minta maaflah secara langsung kepada cucu dan Putri Permaisuriku.”


Setelah mengatakan itu, Baili Qingchen pergi. Jiang Jiwei masih belum sempat bereaksi, dirinya seperti melayang di antara dua jurang. Apa dia tidak salah dengar?


Raja Changle, barusan mengatakan jika keponakannya, Jiang Wen, jika ingin mendapatkan pengampunan, harus masuk istana dan menjadi teman belajar Pangeran Manyue?


Ini bukan hukuman, melainkan sebuah berkah!


“Yang Mulia, apa maksud Yang Mulia?”


Jiang Jiwei mengangkat kepala, namun sosok Baili Qingchen sudah benar-benar menghilang. Cui Kong masih berdiri di belakang, kemudian membantu Jiang Jiwei agar dia segera berdiri. “Yang Mulia sudah mengatakannya dengan jelas. Tuan Muda Jiang, silakan kembali.”

__ADS_1


Qingyi, yang sudah tahu akan ada akhir seperti ini memilih tidur di taman halaman barat. Dia telah menyerahkan permasalahan ini kepada Baili Qingchen dan apapun keputusan pria itu, dia tidak akan berkata apa-apa. Qingyi hanya berpesan padanya jika pria itu harus memikirkan matang-matang segala sesuatunya.


Secara tidak langsung, dialah yang telah memberikan jalan untuk keluarga Marquis Chenyuan sendiri. Qingyi-lah yang telah membuat Baili Qingchen memberikan keputusan itu. Gadis itu tidak senaif dan searogan yang terlihat, kegilaannya memang nyata, namun dia tidak menjebak.


Di sisinya, Baili Wuyuan juga berbaring dengan memeluk pinggang Qingyi.


Kursi malas besar itu berderit setiap kali gerakan kecil terjadi dari orang yang menggunakannya. Ketika Baili Qingchen datang ke sana, senyum kecil di wajahnya terbit tanpa sadar.


Aura itu membawa dampak positif untuk atmosfer halaman barat, lalu bunga-bunga mulai bergoyang bersama angin.


“Paman Kakek, kau di sini?”


Baili Wuyuan menggerakkan mata kecilnya untuk melihat lebih jelas. Suaranya sedikit serak. Baili Qingchen menginstruksikan agar bola nasi kecil memelankan suara dan jangan mengganggu tidur Qingyi. Bola nasi kecil menurut, dan dia tetap dalam posisinya.


“Jiang Wen akan menjadi teman belajarmu,” ucap Baili Qingchen. Baili Wuyuan mengangguk.


“Oh, sudah kuduga. Bibi bilang, aku bisa memukul siapa saja yang menggangguku. Jika dia menjadi teman belajarku, aku mempunyai seseorang sebagai sarana latihanku.”


“Jangan menyiksanya. Aku mengampuninya agar dia bisa menjadi kaki tanganmu.”


“Baiklah. Terserah Paman Kakek.”


Baili Qingchen juga agak terkejut dengan pemikiran bocah nakal ini. Siapa yang telah mengajarinya kekerasan dan melegalkan pemukulan?


“Sekarang, kembalilah ke istana,” ucap Baili Qingchen. Baili Wuyuan menggeleng.


“Tidak mau. Aku akan bermalam di sini. Ngomong-ngomong, Paman Kakek, apa kau juga digigit serangga?”


“Ah?” Baili Qingchen bertanya dengan terkejut.


“Kedua sisi lehermu merah. Tandanya sama dengan punya bibi. Kurang ajar sekali serangga itu!”

__ADS_1


Mengenai siapa sebenarnya serangga itu, hanya Baili Qingchen dan Qingyi yang tahu.


__ADS_2