
Qingyi duduk dalam gelisah. Dia tidak tahu apa yang terjadi, namun udara tiba-tiba berubah panas dan tubuhnya kegerahan.
Ada panas yang tidak biasa menjalar ke setiap inci tubuhnya, membuatnya tidak nyaman. Dia mengipasi dirinya dengan tangan, bahkan sampai hendak membuka jendela kereta untuk mengurangi hawa panasnya.
“Ada apa denganmu?” Baili Qingchen melihat permaisurinya gelisah dan bergerak seperti cacing kepanasan.
“Apa udaranya selalu sepanas ini?”
“Tidak. Putri Permaisuri, suhu udara hari ini lebih dingin dari hari sebelumnya.”
Baili Qingchen menelisik dengan curiga. Pipi Qingyi sudah memerah, keringat mulai keluar dari dahinya. Saat mengerutkan kening, Baili Qingchen tiba-tiba menyadari sesuatu. Pandangannya berubah menjadi khawatir. “Apa yang kau makan?”
“Hanya makanan mansion, dan juga segelas teh Selir Jia.”
Tunggu dulu! Segelas teh? Beberapa saat ia berpikir. Qingyi kemudian mendesis kesal. “Sial! Selir Jia menjebakku!”
Selir Jia tetap licik meskipun sudah mendeklarasikan diri menjadi sekutu mansion Raja Changle. Qingyi terkecoh sampai ia tidak menyadari jika Selir Jia telah menambahkan obat di dalam tehnya!
Baili Qingchen tidak mendapatkan reaksi karena pria itu tidak meminumnya. Qingyi merutuki kecerobohannya yang meminum teh itu tanpa curiga sedikitpun.
Baili Qingchen akhirnya mengerti permaisurinya mengalami kejadian yang sama dengan yang pernah ia alami. Dia berseru: “Percepat keretanya!”
Kusir menurut. Kecepatan laju kereta naik dua kali lipat dan waktu perjalanan dipangkas menjadi setengah. Baili Qingchen dengan cepat menggendong Qingyi ke halaman barat, mendudukkannya di kursi dengan pelan. Wajah Qingyi sudah sangat merah dan ia sangat kegerahan.
“Aku akan mengambilkan air dingin untukmu.”
Qingyi lalu mencekal lengan Baili Qingchen. “Jangan pergi.”
Baili Qingchen menatapnya dalam. Qingyi juga menatapnya dengan kedalaman yang sama. Semburat merah di pipinya sudah menyebar hingga ke telinga. Terlambat jika harus masuk ke ruang dimensi saat ini. Satu-satunya cara hanyalah dengan menggunakan jalan itu.
“Bantu aku melepaskan efek obatnya,” lirih Qingyi. Napasnya mulai memburu.
Baili Qingchen ragu. Saat ini, permaisurinya sedang dipengaruhi efek obat, kesadarannya tidak sepenuhnya ada pada dirinya.
Baili Qingchen tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dengan malam itu, yang membuat Qingyi kesakitan dan kesulitan berjalan. Baili Qingchen tidak mau memaksakan kembali kehendaknya. Ia tidak ingin menyakitinya lagi.
“Kau yakin? Kita bisa mencari jalan lain.”
“Sudah tidak sempat!”
Qingyi yang sudah tidak tahan akhirnya menarik Baili Qingchen dan menciumnya. Kali ini, ia yang berinisiatif sendiri.
__ADS_1
Baili Qingchen hendak melepaskannya, namun prioritas utamanya adalah menolong permaisurinya lebih dulu. Meskipun dia bukan orang cabul, namun kesempatan langka seperti ini juga tidak bisa dibuang dengan sia-sia.
“Untuk kali ini saja, kau harus menolongku,” lirih Qingyi.
Dia membalasnya, menarik tengkuk Qingyi dan memperdalam ciuman mereka. Aksi itu menjadi aksi saling mengigit dan mencari, menyesap rasa manis seperti gula-gula yang langka. Aksi itu juga telah membangkitkan jiwa seekor singa di dalam diri Baili Qingchen yang sedang tertidur.
Tanpa sadar, tangan Qingyi menjadi nakal. Dia menarik jubah Baili Qingchen dan membiarkannya jatuh di lantai. Simpul pinggang pakaiannya juga ditarik dan dilempar ke pintu sampai pintu itu terkunci rapat.
Qingyi menarik pakaian lapisan luar yang terakhir, dan membuat Baili Qingchen menjadi hanya mengenakan lapisan pakaian berwarna putih tipis. Baili Qingchen lalu mengangkat tubuh Qingyi dari kursi, menggendongnya, membaringkannya di ranjang tanpa melepaskan ciuman mereka.
Tangannya juga ikut menjadi nakal, jemarinya menarik simpul pakaian Qingyi sampai terlepas. Dengan liar tangan itu menjelajah, masuk ke dalam rok dan menarik turun sesuatu yang terpasang di sana.
Sadar atau tidak, keduanya sekarang sudah hampir tidak berpakaian. Baili Qingchen melepas ciumannya sejenak, lalu matanya jatuh pada dua buah benda yang dulu tidak sempat ia sentuh. “Apa aku boleh menyentuhnya?”
Qingyi sudah tidak mampu mencegah apapun. Dia mengangguk. “Lakukan apapun yang kau inginkan!”
Karena sudah mendapat izin, Baili Qingchen langsung bertingkah liar dengan mencumbunya. Dia juga memiliki dua benda itu, namun tidak tumbuh sebesar dan sekenyal milik permaisurinya. Telapak tangannya seperti memegang sebuah jelly dan dia sangat menyukainya.
Oh, apakah rasanya juga manis?
Baili Qingchen lalu mencoba mencicipinya. Menurutnya, itu tidak semanis bibir, tapi cukup untuk membuatnya ketagihan. Dia meninggalkan beberapa bekas gigitan yang mungkin esok hari akan membuatnya membengkak.
Qingyi tidak berkomentar, dia menikmati sensasinya dan panas di tubuhnya semakin memuncak.Keduanya bermain cukup lama sampai tidak menyadari jika lapisan terakhir pakaian sudah tidak menempel di tubuh mereka.
“Apakah sakit?” tanya Baili Qingchen.
Dia bingung harus melanjutkan atau tidak setelah melihat reaksi permaisurinya. Qingyi mengangguk, lalu berkata, “Bergeraklah secara perlahan...Ah!”
Qingyi tidak kuasa melanjutkan kata-kata karena Baili Qingchen tiba-tiba menghentaknya. Rasa sakitnya menjalar lagi, Qingyi hampir saja menangis seperti saat itu. Baili Qingchen merasa bersalah, lalu menatap Qingyi dengan bingung.
“Maaf. Aku belum terbiasa.”
Walau bukan pertama kali, namun tubuh mereka belum bisa menyesuaikan diri. Qingyi menarik tengkuk Baili Qingchen dan menciumnya lagi.
Sekarang yang ia inginkan adalah menghilangkan efeknya sekaligus mendapat pelepasan yang tepat. Qingyi menjeda ciuman itu, dia berkata lirih, “Lakukan seperti malam itu.”
Hati Baili Qingchen meleleh. Baili Qingchen menyambut uluran Qingyi. Kepercayaan dirinya kembali. Pria itu mencium Qingyi, memberikan ketenangan dengan harapan rasa sakitnya bisa teralihkan. Sementara itu, tubuhnya mulai bergerak naik turun seperti perahu yang terombang-ambing oleh ombak di tengah samudera.
Keduanya tersulut api. Angin memperbesar kobaran api, meniupkan panas yang tidak biasa sampai suara-suara kicauan burung menjadi ramai. Baili Qingchen dan Qingyi terbuai angin, menjelajahi luasnya alam imajinasi liar yang baru mereka kunjungi kedua kali ini.
Saat keduanya tiba di puncak gunung, semburan lava hangat itu menyembur keluar dan membasahi lereng di sekitar, membanjirinya sampai mengalir keluar.
__ADS_1
Penjelajahan Baili Qingchen dan Qingyi terhenti di sebuah tepi kolam yang sangat indah. Baili Qingchen melepaskan jutaan ekor berudu di kolam itu.
Ah! Itu tidak bisa didefinisikan dengan kata-kata.
Setelah mendapat pelepasan di puncak, tubuh mereka berdua terkulai lemah. Baili Qingchen jatuh di samping Qingyi dengan sisa napas yang masih memburu.
Kali ini, dia tidak melewatinya sendirian. Pelepasan itu memberinya sebuah kepuasan yang berbeda. Tidak hanya fisik, namun batinnya juga ikut merasakan itu.
Qingyi mengatur napas dan detak jantungnya. Ia sendiri belum percaya jika dia telah sukarela mengarungi samudera dan menjelajahi gunung bersama Baili Qingchen. Bagian bawah tubuhnya masih terasa ngilu dan sakit, namun ada sensasi nikmat yang besarnya melebihi rasa ngilu dan sakit tersebut.
Baili Qingchen merangkulnya, kemudian mengecup kening dan rambutnya. Ada kebahagiaan yang mencuat di dalam hatinya, membentuk sebuah bongkahan perasaan yang sulit dihilangkan.
Senyumnya mengembang dengan tulus. Dia sangat berterima kasih pada permaisurinya karena telah memberikan kesempatan itu tanpa perlu memaksanya lagi.
Ini jelas sangat berbeda rasanya.
“Apa detak jantungmu selalu secepat ini?”
Kepala Qingyi bersandar di dada kiri Baili Qingchen sehingga detak jantung pria itu dapat terdengar dan terasa. Baili Qingchen menggelengkan kepala pelan.
“Tidak. Hanya saat bersamamu, detaknya menjadi lebih cepat.”
Senyum itu juga terbit di bibir Qingyi.
Efek obatnya sudah berkurang, namun belum sepenuhnya hilang. Baili Qingchen sedikit menjerit saat gigi Qingyi menggigit dadanya. Kali ini, wanita itu memulainya lebih dulu! Giliran dia yang memegang kendali. “Kucing nakal, apa kau tahu apa yang sudah kau lakukan?”
Qingyi menyeringai.
“Kucing? Aku adalah iblis rubah. Aku tidak akan terjerat oleh perangkap tuan sepertimu.”
“Oh? Benarkah? Bagaimana jika aku membuatkan perangkap yang lebih dari sekadar perangkap untukmu?”
“Kalau begitu, coba saja! Kita lihat siapa akhirnya yang akan masuk ke dalam perangkap itu!”
Stamina Raja Changle dan Putri Permaisuri Changle sangat kuat dan dalam kondisi fit. Malam itu, keduanya kembali menjelajah beberapa kali. Saat tubuh mereka benar-benar lelah, mereka tertidur dalam kondisi berpelukan.
Pagi harinya, Baili Qingchen terbangun lebih dulu. Pria itu hendak melerai pelukan dan membiarkan permaisurinya tidur lebih lama, namun karena kondisi mereka yang tidak terhalang sehelai benang pun, kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Qingyi. Dada bidangnya juga menyentuh bagian permaisurinya. Itu seperti sengatan listrik.
Qingyi juga mulai terusik. Ia membuka matanya, menengadah. Saat itu, tatapan Baili Qingchen seperti dipenuhi kabut.
Qingyi mengerutkan keningnya heran. “Mengapa kau menatapku seperti itu?”
__ADS_1
“Putri Permaisuri, bolehkah aku melakukannya sekali lagi?”