
Dini hari, kesadaran Qingyi baru kembali ke tubuh fisiknya dan pemulihan tubuhnya sedang dalam proses.
Perlahan, dia membuka kelopak matanya untuk memastikan apakah sistem benar-benar mengembalikannya atau tidak. Benda di atasnya tampak buram.
Seluruh tubuh Qingyi tidak bertenaga. Tulang belulangnya seperti copot dan sendinya sangat kaku. Sekali ia mencoba bergerak, rasa sakit menjalar seperti sengatan listrik, membuatnya meringis dalam suara pelan.
Efek racun ternyata cukup merepotkan. Dia jadi ingat momen ketika ia pertama kali masuk ke dunia ini, beberapa jam sebelum dia dilempar ke dalam sedan merah pengantin dan pergi ke mansion Raja Changle untuk menikah dengan Baili Qingchen.
Baili Qingchen? Benar, pria itu! Dia ingin mencarinya sekarang!
Dengkuran halus dan suara hembusan napas yang teratur menyambangi telinganya. Qingyi memaksakan diri untuk menoleh, lalu mendapati sesosok pria tampan sedang tertidur di sisi ranjang dalam posisi setengah duduk dan kepalanya bersandar di tepi ranjang. Mata indah pria itu memejam dan wajah yang selalu terlihat dingin tampak sangat lelah.
“Baili Qingchen,” ucapnya lemah. Tangannya bergerak pelan mengusap rambut hitam Baili Qingchen.
Seorang raja yang terhormat sepertinya, malah tidur menunggui seorang wanita yang bahkan bukan berasal dari dunia yang sama.
Hati Qingyi gatal, ia menyunggingkan senyum atas kehormatan satu kali seumur hidup yang ia terima ini. Kapan lagi dia bisa melihat seorang raja yang biasanya mendominasi dan selalu dia lawan menungguinya sampai tidur seperti ini.
Usapan di rambutnya mengusik pria itu. Saat Baili Qingchen bangun, matanya langsung bertemu dengan mata Qingyi yang sinarnya masih redup.
Mungkin, gadis itu masih lemah dan belum pulih. Baili Qingchen kemudian berpindah posisi dan duduk di sisi ranjang.
“Kau tidak seharusnya menungguiku. Aku tidak akan mati,” ujar Qingyi, dengan suara rendah yang terdengar sangat ringan di telinga.
“Bisakah kau mengatakan sesuatu yang baik walau hanya satu kata saja?”
“Tentu saja, tidak bisa.”
Baili Qingchen mengusap keringat di dahi Qingyi. Tangan Qingyi masih lemah dan tidak bisa digerakkan dengan bebas, jadi dia hanya bisa menatap dan tidak melawan.
Sentuhan di dahinya begitu lembut, seolah-olah berasal dari hati. Konyolnya, dia justru merasa kalau Baili Qingchen ini seperti seorang ayah yang sedang menunggu putrinya yang sakit.
“Bagaimana dengan orang yang meracuniku? Apa kau sudah menangkapnya?” tanya Qingyi. Pertanyaan ini membuat dahi Baili Qingchen mengernyit.
“Jadi, kau sudah tahu jika kau diracuni?”
“Tentu saja. Aku hanya tidak menduga jika efek racunnya sehebat itu.”
Sungguh, gadis ini benar-benar gila. Mengapa bisa Baili Qingchen punya istri segila ini?
Sebelumnya, Qingyi sudah curiga jika makanannya diracuni, tapi dia sengaja membiarkannya. Hal itu pasti terjadi padanya karena ‘orang itu’ mungkin sudah merasa terancam oleh petunjuk jalan yang ditemukan Qingyi. Siapa sangka racunnya kambuh begitu cepat dan efeknya separah ini.
“Orangnya sudah mati,” tutur Baili Qingchen.
“Kau membunuhnya?”
“Ya.”
Yinghao benar, ada orang yang membalaskan dendamnya. Ternyata Baili Qingchen masih punya hati dan rasa bersalah. Qingyi hanya terkejut karena pria itu malah langsung membunuhnya dengan tidak sabar.
__ADS_1
Tunggu dulu, Qingyi merasa dia telah melewatkan sesuatu. Ekspresinya berubah garang, lalu dia bertanya, “Di mana kau mengeksekusinya?”
“Di tamanmu.”
“Kau!”
“Tenang saja. Mayatnya sudah dibuang dan tamannya sudah dibersihkan.”
Hembusan napas kasar keluar dari hidung Qingyi. Baguslah jika orang ini sadar.
Dini hari itu, angin berhembus kencang. Meskipun pintu dan jendela tertutup, namun udara masih dapat masuk menghantarkan hawa dingin yang membuat tulang belulang Qingyi semakin parah kondisinya. Baili Qingchen dengan lembut menyelimutinya, menutup tubuhnya sampai terasa hangat.
Mau tidak mau dia tersenyum kecil.
“Apa kau sedang membalas budi?” tanya Qingyi.
“Maksudmu?”
“Saat kau terluka, aku yang merawatmu. Sekarang, kau merasa bersalah dan tetap di sini sepanjang malam.”
“Anggap saja begitu.”
Sama sekali tidak ada Baili Qingchen seperti malam tadi. Kemarahan benar-benar sirna dan yang tersisa hanyalah perasaan lega karena Qingyi akhirnya siuman.
Baili Qingchen betul-betul bersyukur karena gadis ini masih dikembalikan kepadanya. Raut wajahnya terlihat tenang saat ini.
Baili Qingchen hendak naik ke ranjang, namun pertanyaan Qingyi mencegatnya. “Apa yang kau lakukan?”
“Bukankah kau menyuruhku untuk tidak tidur di lantai?”
“Bukan berarti aku mengizinkanmu tidur di ranjangku! Lihat, dipan itu sudah pernah kutiduri saat penyakit anehmu kambuh. Kau bilang balas budi, jadi lakukanlah sampai tuntas,” tutur Qingyi.
Pria itu tidak ada pilihan lain. Dini hari begini tidak mungkin keluar dari kamar ini, karena udara akan sangat dingin. Baili Qingchen dengan pasrah merebahkan diri di atas dipan, namun pandangannya tetap lurus menatap Qingyi di seberangnya. Syukurlah, Putri Permaisurinya sudah baik-baik saja.
Rasa kantuk kembali datang, Baili Qingchen perlahan memejamkan mata kembali. Qingyi kemudian memanggil Yinghao setelah memastikan suaminya tidur pulas.
Panda kecil yang menggemaskan namun sangat menyebalkan lalu berguling-guling di samping Qingyi seperti kesurupan.
“Berapa lama tubuhku bisa pulih sempurna?” tanyanya pada Yinghao.
“Satu hari. Tuan, kau tidak boleh banyak bergerak hari ini!”
Wajahnya merengut. Padahal masih banyak hal yang harus dia lakukan. Tapi, sudahlah. Dia baru saja selamat dari kematian.
Qingyi harus baik-baik menjaga tubuhnya. Gadis itu dengan susah payah menyampingkan tubuhnya, lalu berhadapan dengan Baili Qingchen di seberang sana.
Tapi, sepertinya Qingyi telah mengambil keputusan yang salah. Hingga menjelang sore, pria itu tidak mau pergi dari kamarnya.
Selama seharian ini, Baili Qingchen terus menungguinya dan merawatnya dengan telaten. Pria itu bahkan tidak membiarkannya turun dari ranjang sedetikpun.
__ADS_1
Padahal, pemulihan tubuhnya sudah selesai dan Qingyi sebenarnya sudah sehat. Akan tetapi, jika dia menunjukannya, itu hanya akan membuat Baili Qingchen curiga.
Pria itu memiliki insting yang tajam dan pasti menyadari keanehannya. Bisa jadi selama ini dia juga berpura-pura tidak menyadari apa-apa.
Ya sudahlah, Qingyi memutuskan untuk mengikuti sandiwaranya.
“Tidak boleh bergerak! Tabib istana bilang kau harus istirahat!” ucap pria itu setiap kali Qingyi merengek ingin keluar.
Dia bahkan menambahkan beberapa pelayan dari kediamannya di halaman timur untuk bersiaga di luar.
Qingyi betul-betul berterima kasih atas perawatan Baili Qingchen, namun dia juga tidak ingin dikekang seperti orang sekarat seperti ini. Menurutnya,bBaili Qingchen sudah berlebihan.
“Ayolah, aku tidak akan mati. Tubuhku sudah pegal. Mungkin saja aku bisa langsung berlari jika kau membiarkan kakiku menginjak lantar,” rengek Qingyi lagi dan lagi. Baili Qingchen menolaknya.
“Tidak. Putri Permaisuri, kau harus patuh!”
Sekarang, dia sedang mengelap wajah Qingyi dengan saputangan sutera. Setelah tabib memasak obat, Baili Qingchen langsung menyuapinya dan membantunya menelan obat tersebut sampai habis.
Alhasil, airnya tumpah dan sebagian membasahi wajah mungil Qingyi. Karena takut gadis itu kembali sakit, dia dengan telaten mengelapnya.
Setiap kali ia menggerakkan tangan, degup jantungnya bertambah dua kali lipat. Jakunnya naik turun dan dia terlihat susah payah menelan ludahnya.
Wajah Qingyi itu cantik, kulitnya sangat lembut. Lehernya jenjang dan sangat mulus. Ada jejak merah yang masih tertinggal akibat ulahnya kemarin. Dalam hatinya muncul perasaan ingin menambah jejak itu agar jejak tersebut tidak sendirian.
Untung saja pelayan datang membawa makanan. Baili Qingchen dengan cepat menguasai dirinya dan mengendalikan perasaannya. Ini bukan saat yang tepat untuk menjahili dan menggoda Qingyi. Gadis itu harus sembuh dulu, baru dia bisa menjahilinya lagi.
“Bangunlah. Makan supnya,” ucap pria itu. Dia membantu Qingyi untuk duduk dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang.
“Buka mulutmu,” ucapnya lagi.
Alih-alih membuka mulut, Qingyi malah tersenyum aneh dan terus menatap Baili Qingchen. Pria yang sangat mendominasi itu jadi tidak nyaman mendapat tatapan sedemikian dalam disertai senyuman aneh dari istrinya.
Apa otak permaisurinya ini sudah rusak karena racun?
“Mengapa kau terus menatapku?”
“Ini pertama kalinya bagimu menyuapi seorang wanita, kan?”
Baili Qingchen salah tingkah. Wajah putih bak purnamanya merona merah sampai ke telinga.
Ekspresinya sangat lucu di mata Qingyi dan dia tidak bisa menahan diri untuk tidak berceloteh, “Apa kau malu?”
“Lihat, kau benar-benar seperti remaja yang baru memasuki dunia puber!”
Ejekan itu membuat Baili Qingchen kesal sekaligus malu. Dia menyuapkan makanan ke mulut Qingyi dengan asal sampai gadis itu hampir tersedak.
“Kau berisik. Makanlah sendiri!”
Setelah itu, Baili Qingchen meletakkan mangkuk di nakas dan terburu-buru keluar dari kamar. Qingyi mengantarnya dengan tawa yang keras sampai pelayan di depan pintu juga ikut menahan tawa.
__ADS_1