Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 111: Seperti Pakaian Dinas


__ADS_3

“Astaga! Kau mengejutkanku!”


Qingyi memegangi dadanya saat dia melihat Baili Qingchen. Ketika ia mendarat di halaman barat, di tanah tamannya yang asri, Baili Qingchen ada di sana dan melihatnya dengan tatapan aneh. Qingyi sangat terkejut karena kehadiran pria itu membuatnya seperti seorang pencuri yang ketahuan sebelum beraksi.


Baili Qingchen mengerutkan keningnya. Siapa wanita ini?


Dia memakai pakaian aneh berwarna hitam, topengnya menyatu dengan kepala dan juga berkuping, lalu yang paling penting adalah…. Itu terlihat sangat ketat.


Suaranya milik Qingyi. Apakah mungkin, orang ini adalah permaisurinya?


“Putri Permaisuri?”


“Ya, ini aku!”


Astaga! Baili Qingchen bahkan tidak akan mengenalinya jika dia tidak tahu suara Qingyi. Gadis gila ini bertingkah aneh lagi!


Melihat pakaian seketat dan seaneh itu menempel pada tubuh permaisurinya, Baili Qingchen sedikit tidak senang. Jika ini siang hari, mungkin akan lebih banyak orang yang melihatnya. Tubuh permaisurinya bukan barang yang bisa dilihat sembarangan. Kecuali dia, tidak boleh ada siapapun yang melihat bentuk tubuhnya.


Putri Permaisuri bukan barang murahan, jadi tidak boleh sembarangan dipandang! Baili Qingchen buru-buru melepas jubah putihnya, lalu memakaikannya untuk menutupi tubuh Qingyi.


“Hei, kau merusak kostum baruku!” protes Qingyi.


Baili Qingchen semakin mengeratkan jubahnya. Angin malam berhembus, menyusup ke dalam sela kulit yang tidak sekuat kulit hewan itu. Qingyi sedikit merasa nyaman, karena berkat jubah itu, tubuhnya tidak terlalu kedinginan.


“Angin malam di musim semi seringkali dingin. Tubuhmu tidak akan tahan,” ucap Baili Qingchen.


Ah, betul kata pria itu. Akhir-akhir ini tubuhnya tidak terlalu sehat karena baru pulih, jadi jangan sampai ia jatuh sakit lagi.


“Dan lagi, jangan pernah memakai pakaian aneh ini di depan orang lain.”


“Mengapa?”


“Kau masih bertanya? Tentu saja karena kau adalah Putri Permaisuri Changle!”


“Oh? Jika aku bukan Putri Permaisurimu, aku boleh memakai ini?”


“Apa maksudmu?”


Qingyi tertawa kecil. Dia mencium bau cuka yang sangat asam di tubuh Baili Qingchen. Ia tahu, pria itu sebenarnya hanya tidak mau bentuk tubuhnya dilihat orang lain.


Yah, tidak dipungkiri jika kostum woman cat yang dikenakannya memang cukup ketat dan membuat beberapa bagian tubuhnya yang menonjol terbentuk dengan sempurna.


Sebagai laki-laki, Baili Qingchen mempunyai rasa itu. Tapi, ini malam hari. Selain dia, tidak ada pria lain yang melihat Qingyi. Seharusnya itu cukup, namun tampaknya Baili Qingchen tidak menyukainya.


Masa bodoh, toh itu adalah kostum milik Qingyi sendiri. Dia mendapatkannya tanpa menggunakan uang Baili Qingchen.


“Aku tidak memerlukan izin untuk memakai pakaianku, kan?” tanya Qingyi. Baili Qingchen menghela napas.


“Kau memerlukan izinku jika ingin memakai pakaian seperti ini,” jawabnya.

__ADS_1


Di mata Baili Qingchen, gadis ini seperti sedang mengujinya. Padahal Qingyi jelas tahu jika Baili Qingchen adalah seorang pria dan masih normal.


Dia bahkan sering menciumnya dan mencuri ciuman itu serta menikmatinya. Baju ini, seperti baju dinas para istri yang suka menggoda suaminya.


“Sudahlah. Aku tidak mau ribut denganmu saat ini. Ada hal penting yang harus kuberitahukan padamu,” ucap Qingyi, mencoba menunda pertengkaran.


Baili Qingchen menunjukkan antusiasmenya, dia menatapnya dan menunggunya.


“Apa?”


“Ada orang lain yang membantu ibumu.”


Mendengar Qingyi menyinggung soal ibunya, ekspresi Baili Qingchen tiba-tiba berubah suram. Qingyi sempat terkejut dan bimbang, namun ia memutuskan untuk melanjutkannya.


Bagaimanapun, masalah harus dibersihkan sampai ke akar. Jika tidak menemukan orang itu, usaha yang selama ini mereka lakukan sia-sia.


“Kau mengunjunginya?”


Qingyi mengangguk.


Baili Qingchen tidak senang. Suasana hatinya menjadi sedikit buruk. Ekspresi dinginnya terpasang di wajahnya yang tampan.


Setiap kali mengingat ibunya, dia pasti merasa tidak senang. Entah sejak kapan, tetapi perasaan itu terus berlanjut sampai kini. Baili Qingchen sendiri tidak bisa melepaskan perasaan semacam itu.


Ia hanya tidak ingin Qingyi terus terlibat masalah istana. Perbuatan Janda Selir Sun sudah cukup merepotkan, dia menyeret banyak orang.


Bukan Baili Qingchen tidak curiga, namun dia sedang menyelidikinya diam-diam. Siapa sangka jika permaisurinya justru malah ikut campur lagi tanpa memberitahunya?


Qingyi bahkan membandingkan Janda Selir Sun dengan udang! Ya ampun, Baili Qingchen sungguh merasa istrinya tidak tertolong lagi. Mana ada menantu yang merendahkan mertuanya dan menyamakannya dengan udang? Mungkin di seluruh dunia ini, hanya dia satu-satunya.


“Cukup! Kau tidak perlu mengunjunginya lagi. Berhenti mencampuri urusan istana! Kau hanya perlu menjalani hidupmu dengan baik di sini!”


Alih-alih takut dengan nada suara Baili Qingchen yang meninggi, gadis itu malah merengut seperti anak kecil. Tekadnya yang bulat tidak bisa dibentuk menjadi kotak dengan cara apapun.


Jika dia sudah memutuskan, maka tidak seorang pun bisa merubahnya. Qingyi sudah bertekad untuk menuntaskan masalah hingga ke akar, demi misi dan demi diri sendiri, dia harus menyelesaikannya.


“Untuk apa kau marah?” tanya Qingyi.


Biasanya Qingyi langsung membalas dengan nada yang tidak kalah tinggi. Akan tetapi, malam ini dia tidak berniat sama sekali.


Tubuhnya terlalu lelah, ditambah dengan udara dingin, dia kehilangan keinginan marah untuk sementara. Baili Qingchen jelas marah, Qingyi hanya berpura-pura tidak tahu.


“Apa aku tidak boleh marah? Kau selalu menceburkan dirimu ke dalam bahaya! Kau bahkan hampir terbunuh berkali-kali! Jika kau masih ikut campur, kau pikir berapa banyak nyawa yang kau punya?”


Dalam hatinya, Qingyi berteriak: Aku punya sembilan puluh sembilan nyawa yang tersimpan di dalam sistem.


“Ibuku hampir membunuhmu karena kau tahu terlalu banyak hal! Liu Qingyi, kecerdasanmu terkadang bisa mencelakaimu ketika kau menunjukkannya terlalu sering!”


Qingyi mendengarkan omelan Baili Qingchen dengan penuh minat. Ini pertama kalinya dia melihat Baili Qingchen memarahinya sampai seperti ini.

__ADS_1


Di matanya, suaminya itu terlihat sangat lucu dan menggemaskan. Saat marah padanya, mata Baili Qingchen yang menyala bagai api akan menatapnya beberapa kali, kemudian dialihkan ke hal lain saat sudah selesai.


Baili Qingchen sebenarnya tidak pandai menguasai situasi. Marah memang marah, tapi pria itu kadang kehabisan kata untuk memarahi Qingyi.


Selain karena Qingyi pintar melawan dan membantah, itu karena Baili Qingchen tidak pernah memarahi wanita sebelumnya. Dia tidak terlalu tahu bagaimana caranya memarahi wanita dengan kata-kata.


“Tetapi, bukankah kau juga terbantu dengan keterlibatanku?” sela Qingyi.


“Kau!”


Baili Qingchen tersendat, kata-kata di otaknya menghilang. Memang benar, dia terbantu dengan keterlibatan dan bantuan yang Qingyi berikan. Caranya yang aneh dan tidak terduga memang telah menghemat banyak waktu dan tenaga.


Akan tetapi, jika dia terus membiarkannya terlibat, kapan wanita ini bisa beristirahat? Besok atau lusa mungkin akan ada bahaya yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.


Selain itu, meskipun Qingyi benar-benar memiliki tubuh sekuat baja dan pemulihannya cepat, apakah dia tega membiarkannya terancam?


Tidak, Baili Qingchen tidak suka orang-orang terdekatnya terancam nyawanya. Cukup Wang Lingshan yang menjadi korban. Sisanya tidak boleh.


“Kenapa? Apa kau kehabisan kata-kata lagi?” goda Qingyi.


Dia sedang ingin mempermainkan emosi Baili Qingchen sekarang. Lumayan, sebuah hiburan sederhana mungkin bisa membuat rasa lelahnya hilang sementara.


“Raja Changle tidak pernah kehabisan kata-kata!” tegas Baili Qingchen.


“Oh? Bagaimana dengan Baili Qingchen? Bukankah dia sering kalah ketika berdebat dengan wanitanya?”


Qingyi yakin Xiao Junjie tidak memiliki kemampuan untuk membuat Baili Qingchen marah dan membuatnya kehabisan kata-kata.


Gadis itu menggelengkan kepalanya, lalu melanjutkan ucapannya, “Tidak. Baik Raja Changle maupun Baili Qingchen, mereka payah dalam berdebat dengan wanita.”


Baili Qingchen ingin sekali membungkam mulut tajam permaisurinya, namun hal itu hanya akan membuat Qingyi semakin senang mempermainkannya.


Selain itu, kemarahannya masih belum mereda dan ia hanya menahannya saja. Baili Qingchen berbalik, membelakangi Qingyi dengan wajah dingin yang marah.


Qingyi berpura-pura terkejut, dan dia menahan tawanya. Qingyi berdehem, kakinya maju selangkah. Tangan kanannya meraih lengan pakaian Baili Qingchen, menariknya dan menggoyangkannya perlahan. Persis seperti istri yang ingin membujuk suaminya.


“Hei, Dewa Perang Bingyue tidak mungkin menindas seorang wanita, kan?”


Baik suara maupun gerakannya, Qingyi berhasil membuat Baili Qingchen goyah. Pria itu beberapa kali mengibaskan lengan bajunya, namun Qingyi terus memegangnya dan menggoyangkannya kembali.


Baili Qingchen tetap memunggunginya, menyembunyikan ekspresinya yang tidak lagi sedingin tadi. Tidak bisa, ini tidak bisa dibiarkan. Baili Qingchen mengibaskannya sekali lagi.


Kali ini, dia benar-benar harus segera pergi jika tidak ingin pertahanan dirinya rubuh. Baili Qingchen melangkah sembari menyelamatkan kedua tangannya, ia hendak meninggalkan halaman barat.


“Tidak ada Raja Changle atau Dewa Perang Bingyue. Orang yang bertahan di sini adalah Baili Qingchen,” ujar pria itu.


“Jangan keluar dari mansion sampai hari festival puncak musim semi tiba. Kau tidak akan bisa kabur kali ini.”


Qingyi tidak menganggap serius ucapannya. Baili Qingchen lalu berjalan pergi dari halaman barat tanpa menoleh lagi. Melihat gelagat itu, ekspresi Qingyi jadi ikutan suram. Pria itu benar-benar marah padanya?

__ADS_1


Sampai hari berikutnya, dia baru menyadari jika Baili Qingchen memperketat penjagaan halaman barat sampai Qingyi kesulitan untuk melarikan diri lagi.


__ADS_2