Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 86: Sepasang Angsa Putih


__ADS_3

Angin sepoi-sepoi meniup rambut Qingyi yang tergerai dengan lembut. Di pelataran istana yang megah, koridor itu memanjang hingga ke arah barat. Ujung koridor ini adalah sebuah pondok tempat bersantai yang dibangun kaisar sebelumnya untuk Janda Permaisuri Ming.


Pondok itu dibangun di atas danau, sedikit agak ke tengah. Jalan aksesnya terbuat dari bebatuan dan kayu gaharu yang ditancapkan ke dalam air, menjadikan tempat itu seolah-olah mengapung di atas air.


Gadis itu tidak tahu mengapa kakinya bisa melangkah ke tempat ini. Mungkin saja, dia terlalu lelah mengurusi sebagian besar urusan yang tidak seharusnya dia campuri.


Seorang pelayan istana berdiri di belakangnya, menunduk dengan takut. Tangan pelayan itu terjalin di perut.


Di kursi yang sudah disimpan di sana selama puluhan tahun, gadis itu duduk dengan santai. Matanya memandang permukaan danau yang tenang. Di tengah sana, jembatan yang menjadi penghubung antara dua seberang terbentang. Qingyi tersenyum kecil kala ia mengingat bahwa dia pernah terjatuh dari jembatan itu.


Janda Permaisuri Ming benar-benar pandai memanfaatkan hati. Seusai pemeriksaan itu, dia meminta Qingyi tinggal sebentar di istana dan mengutus seorang pelayan untuk menemani dan melayaninya. Qingyi paling benci diikuti, dia lebih benci ketika seseorang menganggunya dan terus mengikutinya.


Untung saja pelayan ini tidak banyak bicara. Sejak menemaninya, kedua wanita itu sama-sama diam dalam keheningan yang panjang. Bahkan ketika Qingyi sampai dan duduk dengan nyaman, itu masih menjadi keheningan. Jika tidak, dia akan mengusir pelayan itu pergi.


Tapi, itu tidak berlangsung lama. Telinga gadis itu menangkap suara bising yang sangat menganggu.


Merasa bahwa ketenangannya telah ternoda, dia mengedarkan pandangan, mencari sumber suara. Di dekat danau itu, dia melihat sepasang angsa putih tengah berenang bersama-sama.


Bulunya seputih susu. Kedua angsa itu beriringan, berpasangan. Leher panjangnya membimbing kepala mereka, membentuk sebuah simbol hati yang sering Qingyi lihat dalam televisi. Wajahnya tiba-tiba menjadi masam. Qingyi merengut, matanya menatap dingin pada sepasang angsa tersebut.


“Yang Mulia Putri, apa ada yang menganggumu?”


Suara pelayan istana itu baru terdengar. Melihat Putri Permaisuri Changle tiba-tiba marah, pelayan itu menjadi ketakutan. Tubuhnya sedikit bergetar, peluh mengucur membanjiri pakaiannya. Dengan hati-hati dia mendekat, kemudian bertanya kembali, “Yang Mulia Putri?”


“Bisakah kau menangkap sepasang angsa itu?”

__ADS_1


Pelayan istana kecil itu langsung menekuk lututnya di alas pondok dan menunduk. Tubuhnya gemetaran dan dia sangat ketakutan. Qingyi mengerutkan kening, mendalami reaksi pelayan ini yang menurutnya berlebihan.


Bukankah hanya menangkap angsa? Dia tidak menyuruhnya untuk menenggelamkan diri!


“Yang Mulia Putri, saya tidak tahu apa yang telah saya lakukan sampai membuat Yang Mulia Putri marah. Saya bisa melakukan apapun yang diperintah oleh Yang Mulia Putri. Tetapi, tidak dengan menangkap angsa-angsa itu,” ucap pelayan.


Kemalasan akan hal berdebat membuat Qingyi tidak mempedulikan ratapan pelayan. Gadis itu berdiri, lalu berteriak memanggil dua pengawal istana yang tengah berpatroli. Kedua pengawal itu menghampirinya, menanyakan apa yang membuat Putri Permaisuri Changle memanggil mereka dengan suara keras.


“Tangkap angsa-angsa itu untukku! Mereka sangat berisik dan telah merusak ketenanganku!”


Dua pengawal saling menatap dengan ragu. Si pelayan mendongak, dengan isyarat mata memberitahu pengawal jika mereka tidak boleh melakukan itu.


Namun, dua pengawal tersebut memiliki otak yang lamban dan tidak menangkap maksud dari pelayan. Kedua pengawal bodoh itu menanggalkan senjata mereka, lalu turun ke danau untuk menangkap dua ekor angsa.


Angsa adalah unggas, mereka punya sepasang sayap yang lebar. Saat kedua pengawal datang untuk menangkap, keduanya melebarkan sayap dan mengepak, terbang menjauh ke tengah danau. Dua pengawal tidak menyerah, mereka berenang dengan kemampuan mereka, mengejar sepasang angsa yang menjadi nakal.


“Bodoh! Menangkap angsa saja tidak bisa! Apa aku perlu memanggil kawan-kawan kalian untuk membantu?”


“Yang Mulia Putri, saya mohon jangan menangkapnya. Angsa putih itu benar-benar tidak boleh ditangkap.”


“Kau berisik! Pergi dari sini!”


Seperti yang selalu ia lakukan, dia mengusir pelayan itu dan mengatainya berisik. Pelayan yang tidak berdaya dan putus asa kemudian berlari menjauhi pondok. Kakinya yang pendek membawa tubuhnya ke istana Janda Permaisuri Ming.


Ketika pelayan itu sampai, Janda Permaisuri Ming tengah melakukan perawatan rambut. Pelayan langsung berlutut dan memohon ampun. Keributan itu membuat Janda Permaisuri membuka matanya, dan menyuruh pelayan untuk tenang.

__ADS_1


“Katakan dengan jelas,” ucapnya.


“Yang Mulia, Putri Permaisuri Changle ingin menangkap Xiao Du dan Xiao Di,” tutur pelayan.


Suaranya bergetar karena takut. Janda Permaisuri Ming yang biasanya selalu tenang seketika membelalakkan mata.


“Kau yakin?”


Pelayan itu mengangguk.


Xiao Du dan Xiao Di adalah sepasang angsa kesayangan Janda Permaisuri Ming. Mereka telah dipelihara selama bertahun-tahun. Di istana ini, kedudukan kedua angsa tersebut lebih tinggi dari pelayan. Janda Permaisuri Ming sangat memperhatikan dan menyayangi kedua angsa itu. Dia bahkan membuatkan kandang khusus dan pelayan khusus untuk mengurus mereka.


“Cepat! Cegah dia sebelum terlambat!”


Pelayan dari istana Janda Permaisuri Ming berlari menuju pondok danau. Janda Permaisuri Ming mengikutinya dari belakang. Ekspresinya panik. Tidak, Putri Permaisuri Changle tidak boleh menganggu kedua angsa itu! Apapun boleh asal jangan Xiao Du dan Xiao Di!


Akan tetapi, mereka tetap saja terlambat. Pondok megah seperti paviliun itu sepertinya sudah lama kosong. Bahkan tidak ada jejak kaki tertinggal di sana. Janda Permaisuri Ming hanya menemukan beberapa helai bulu angsa terbang ke pondok, sampai di telapak tangannya. Seolah-olah, bulu itu adalah tanda perpisahan dari Xiao Du dan Xiao Di.


Kepala Janda Permaisuri Ming tiba-tiba pusing, kedua pelayan di sisinya terpaksa menahannya. Wanita itu berpikir, Putri Permaisuri Changle pasti dendam padanya karena dia memaksanya untuk menyembuhkan semua menantunya.


Putri Permaisuri Changle tidak bisa marah secara langsung kepadanya, jadi menangkap kedua angsa kesayangannya untuk melampiaskan amarah.


Dua pengawal yang tadi menangkap angsa datang kepada Janda Permaisuri Ming dalam pakaian basah kuyup. Mereka telah berjuang selama setengah jam untuk menangkap sepasang angsa putih atas perintah Putri Permaisuri Changle. Kedua pengawal tersebut langsung ditanyai.


“Ke mana perginya kedua angsa itu?” tanya Janda Permaisuri Ming.

__ADS_1


“Putri Permaisuri Changle mengatakan dia ingin memanggang kedua angsa itu. Jadi, setelah ditangkap, dia membawanya pulang,” jawab kedua pengawal.


Kepala Janda Permaisuri Ming kembali berdenyut. Dia bergumam, “Angsa-angsaku! Cepat, kirimkan seseorang untuk menjemput Xiao Du dan Xiao Di kembali!”


__ADS_2