
Situasi di Istana Harem belum membaik sejak Qingyi dan para tabib istana mengumumkan perihal kondisi tiga puluh selir Kaisar Baili. Setiap hari, para selir yang rahimnya bermasalah menangis tanpa henti.
Beberapa orang di antara mereka, yang tingkatannya tinggi dan dari keluarga kaya, mengutus pelayan ke kediaman asal dan meminta orang tuanya mencarikan tabib terbaik untuk berobat.
Tapi, apa daya bagi selir tingkat rendah dan miskin? Mereka hanya bisa berdoa di dalam aula dan terus memohon agar Tuhan memberi mereka keajaiban.
Janda Permaisuri Ming berkali-kali mengingatkan mereka agar tetap tenang dan menunggu sampai Putri Permaisuri Changle datang dan mengobati mereka. Namun, sebagai selir yang mengandalkan kasih sayang Kaisar Baili, mereka sangat tidak sabar.
“Separah itukah situasi di luar sana?” tanya Liu Erniang kepada pelayannya.
Pelayan itu mengangguk seusai melaporakan situasi di luar istana Selir Xian tersebut secara rinci.
“Beberapa selir yang putus asa bahkan mengurung diri di dalam istana dan tidak mau keluar,” sambung pelayan itu.
Liu Erniang memutar cangkir tehnya sampai isinya ikut berputar. Wajahnya yang cantik dipenuhi senyum licik yang sangat menganggu orang.
Sungguh tidak disangka kejadian seperti ini terjadi di dalam istana yang begitu besar. Kemewahan yang disuguhkan di dalam istana ini, nyatanya mengharuskan mereka membayar mahal dengan tubuh dan kesehatan mereka.
Dia tidak tahu jika seseorang telah lama bermain untuk mengacaukan keluarga kekaisaran. Ayahnya tidak pernah bercerita bahwa ada orang yang sangat ingin menghancurkan keluarga kekaisaran dan tidak ingin Kaisar Baili mendapatkan keturunan.
Sejauh ini, Liu Erniang hanya tahu siapa saja pejabat yang bermusuhan dengan ayahnya.
“Bagaimana dengan Selir Jia dan Selir Sui?” tanyanya lagi.
“Selir Jia dan Selir Sui menutup istana sejak hari itu. Pelayan dapurnya berkata bahwa Selir Jia ingin menghindari bencana dengan membatasi aktivitas di luar. Sedangkan Selir Sui, hamba dengar dia sedang menjalankan program penambah kesuburan,” jawab pelayan. Kali ini, dia mulai berani berbicara sambil menatap mata majikannya.
“Jadi, mereka sengaja menghindariku?”
Jelas saja, karena Selir Jia dan Selir Sui juga ingin tetap hidup.
Pikiran jahat yang tertanam di otaknya mulai meracuni kembali hatinya yang telah kotor. Kaisar sangat menginginkan keturunan.
Jika dia bisa memberikan keturunan untuk Kaisar Baili, bukankah itu akan sangat bagus? Mungkin saja jika dia mengandung keturunan kaisar, Kaisar Baili mau memanggil kembali ayahnya dan membiarkannyabkembali ke kota kekaisaran.
Akan tetapi, hal itu juga tidak mudah terjadi. Saat ini, ada tiga selir termasuk dirinya yang masih sehat. Liu Erniang harus memiliki perencanaan yang matang agar tidak terjadi kesalahan, mengingat Selir Jia dan Selir Sui juga sedang sama-sama berusaha.
Kedua orang itu memang sekutunya, namun perihal kasih sayang kaisar dan kedudukan, mereka tetaplah rival yang tidak bisa diremehkan.
“Nyonya, apa rencana Nyonya Selir selanjutnya?” tanya pelayan.
“Tentu saja mengunjungi Selir Jia dan Selir Sui. Bukankah mereka adalah saudariku di sini? Tapi, tidak baik jika datang dengan tangan kosong,” Liu Erniang menggantung ucapannya, kemudian menyuruh pelayannya mendekat.
Dia membisikkan sesuatu, dan pelayan itu mengangguk mengerti, lalu pergi entah ke mana.
__ADS_1
Liu Erniang menyeringai. Jika ingin tetap hidup dan bertahan sampai akhir, dia harus bersikap lebih kejam dari sebelumnya.
Dua puluh tujuh selir yang sakit itu, mungkin saja esok atau lusa akan dikirim ke kuil atau dikembalikan ke orang tua mereka, atau bisa jadi dibiarkan dikurung di istana sampai ajalnya tiba.
Liu Erniang punya keyakinan jika dia akan menjadi satu-satunya wanita yang bisa berdiri di samping Kaisar Baili.
Dengan begitu, dia bisa membalas dendam dan menghancurkan Raja Changle beserta seluruh keluarganya. Orang yang ingin ia cabik-cabik pertama kali adalah Qingyi, kemudian Raja Changle, kemudian semua orang di mansionnya. Liu Erniang tidak pernah memadamkan api kemarahannya yang tersulut akibat kedua orang itu.
Ayahnya berpesan bahwa Liu Erniang tidak boleh melepaskan Qingyi. Kakaknya itu telah membuat keluarganya hancur dan dipulangkan ke kampung halaman.
Jika Liu Erniang tidak membalasnya, maka dia tidak akan puas. Mulai hari ini, dialah yang akan memegang kendali.
“Nyonya Selir, barangnya sudah hamba ambil,” ucap pelayan, sambil membawa sebuah kotak kecil yang entah apa isinya.
“Kalaubbegitu, berikan hadiahnya kepada Selir Jia terlebih dahulu.”
Pelayan itu mengangguk, lalu mendengarkan setiap perkataan Liu Erniang. Setelah beberapabsaat, dia kemudian pergi ke istana Selir Jia.
Ketika pelayan itu sampai, pelayan pribadi Selir Jia – Baoning, menghadangnya di pintu istana. Baoning menahan pelayan Liu Erniang dan tidak mempersilakannya masuk.
“Apa maksudmu? Nyonyaku mengutusku dan ingin menyampaikan pesan untuk Selir Jia!”
“Nyonyaku sedang tidak ingin bertemu siapapun. Kembalilah lain kali,” tolak Baoning.
Akan tetapi, pelayan Liu Erniang tetap keras kepala. Dia tetap memaksa masuk sampai pengawal terpaksa ikut menghadangnya.
Pelayan itu kemudian menyodorkan kotak kecil yang ia bawa, dan dia berkata dengan suara yang lantang, “Berikan ini kepada Selir Jia. Sampaikan pesan dari Nyonya Selir Xian, bahwa gagak tidak akan pernah bisa menyamai merpati.”
Perkataan pelayan Liu Erniang sangat kasar dan Baoning jelas merasa tersinggung. Menurutnya, Selir Xian itu terlalu sombong dan semena-mena.
Orang itu baru masuk istana, tapi sudah berani mengirim pelayannya dan memaksakan kehendak. Tapi, percuma saja karena Baoning tidak bisa melampiaskan amarahnya. Dia pergi menemui majikannya untuk menyerahkan kotak kecil itu.
“Apa maksud Selir Xian?” tanya Selir Jia ketika ia mengetahui isi kotak itu.
Ternyata, isinya adalah sebotol obat yang tidak diketahui.
“Nyonya, sebaiknya Nyonya memutuskan hubungan dengan Selir Xian. Dia sangat semena-mena dan kasar, bahkan pelayannya saja meniru sikapnya,” ujar Baoning.
Selir Jiantermenung, memikirkan cara untuk menyikap situasi ini.
“Simpan benda ini untuk malam ini. Besok, kau suruh orang untuk membuangnya,” ucap Selir Jia.
“Memangnya apa isi botol itu, Nyonya?”
__ADS_1
“Racun dingin.”
“Apa? Apa Selir Xian sudah gila?”
“Dia memang gila.”
“Nyonya, apa jangan-jangan dia yang telah membuat semua selir menjadi seperti sekarang?”
Selir Jia menggeleng. Menurutnya, Liu Erniang alias Selir Xian tidak akan mempunyai kemampuan seperti itu walaupun ayahnya adalah mantan perdana menteri. Terlebih lagi, kejadian ini sudah berlangsung sangat lama.
“Simpan saja kotaknya. Jangan bicarakan ini kepada siapapun.”
Baoning menurut. Dia menyimpan kotak berisi sebotol racun dingin yang bisa membuat orang menjadi mandul ke dalam lemari.
Kemudian, dia kembali menghampiri majikannya dan memijat pundaknya. Baoning merasa semakin hari istana ini menjadi semakin sesak.
Sementara itu, pelayan Liu Erniang kembali membuat keributan di istana Selir Sui. Pelayannitu kembali memaksa masuk dan ingin menyampaikan pesan yang sama kepada pemilik istana itu.
Lagi-lagi dia dihadang pelayan pribadi Selir Sui dan beberapanpengawal istana, yang membuatnya harus kembali menitipkan sebuah kotak kecil kepada pelayan pribadi Selir Sui.
Sebelum pelayan Liu Erniang kembali, dia dikejutkan dengan suara yang datang dari belakangnya. Selir Sui keluar dari istananya dengan marah.
Ekspresinya menakutkan, dan wajah cantik itu berubah menjadi seperti monster. Selir Sui menatap nyalang pada pelayan Liu Erniang.
Selir Sui lantas mencekiknya.
“Katakan pada majikanmu, bahwa aku tidak akan menurutinya Katakan juga padanya, bahwa dia bukanlah merpati, tetapi hanya burung pipit. Bilang padanya bahwa burung pipit tidak akan pernah menjadi merpati, apalagi menjadi phoenix!”
Selir Sui menyeringai. Dia mendekat dan berbisik kepada pelayan Liu Erniang, “Bisikkan padanya bahwa dia tidak tahu apapun. Istana bukanlah tempat yang bisa ia kuasai hanya karena ayahnya adalah mantan perdana menteri.”
Selir Sui melepaskan pelayan Liu Erniang, membiarkannya lari terbirit-birit karena ketakutan. Tidak ada yang menyadari bahwa Selir Sui berekspresi aneh.
Seringaiannya bertahan sampai beberapa menit kemudian. Kotak kecil yang ada di tangannya kemudian dilempar ke tanah, lalu ia hancurkan dengan tombak pengawal.
Di istananya, Liu Erniang membanting cangkirnya ke lantai sampai terurai. Dia marah, sangat marah karena Selir Sui melawannya.
Hubungan sekutu antara mereka sudah jelas tidak akan bisa dipertahankan lagi. Kini, ketiga orang itu sudah resmi menjadi musuh yang saling bersaing.
“Selir Sui, Selir Jia, lihat baik-baik akibat dari keputusan kalian. Sampai kapan pun, kalian tidak akan bisa menang melawanku,” geram Liu Erniang.
Dia menggenggam erat saputangannya, lalu melemparnya ke lantai dan menginjaknya. Pelayan yang tadi mulai berani, kini kembali ketakutan dan mundur secara perlahan.
Bara api sudah menyala. Hanya masalah waktu yang bisa menentukan api siapa yang akan tetap menyala sampai akhir.
__ADS_1
Apakah itu milik Selir Xian, Selir Jia, atau Selir Sui, hanya bisa ditentukan pada hari-hari esok. Namun yang pasti, Liu Erniang tidak akan menyerah dan tidak akan melepaskan mereka.
Dia masih punya seribu cara untuk memaksa mereka mundur.