
“Sistem sialan! Akan kucabuti semua kabelmu dan kubakar sampai habis!”
Yinghao berlari sekencang mungkin untuk menghindari pengejaran. Qingyi mengejar panda kecil itu di ruang dimensi sambil melemparkan benda-benda berharga hasil hadiah misi. Wajah gadis itu berubah menjadi merah dan dia terlihat seperti orang yang sedang marah.
Betapa tidak, sistem sepertinya sudah benar-benar gila!
Kemarin, dia menyuruh Qingyi menerima taruhan. Hadiahnya baru diterima hari ini, namun misi lain malah datang beberapa menit setelah hadiah diserahkan. Yang membuat Qingyi marah bukan karena kemunculannya, tetapi karena misi itu sangat tidak masuk akal dan konyol!
“Tuan, misi ini sangat mudah. Kau tinggal mengucapkan kata ‘cerai’ saja sudah cukup! Kalian tidak akan sungguh sungguh bercerai!”
Benar, bukan?
Yinghao berkaki pendek. Jadi, dia tidak bisa berlari kencang. Pada akhirnya, Qingyi tetap bisa menangkapnya. Gadis itu mencelupkannya ke dalam kolam ajaib dan melemparnya ke udara beberapa kali untuk melampiaskan emosinya. Misi macam apa ini?
Mengatakan ‘cerai’ pada Baili Qingchen seperti mendatangkan bencana untuk dirinya sendiri. Akhir-akhir ini pria itu jadi lebih posesif dan melarangnya melakukan banyak hal.
Selain itu, setiap hari dia akan pergi ke kediamannya dan menanyakan ini itu, memaksanya makan, lalu pergi setelah menggodanya dan datang lagi esok harinya.
Rutinitas baru Baili Qingchen sudah membuat Qingyi hampir ingin melarikan diri. Pria itu selain pemaksa, juga sangat mendominasi. Qingyi sedang tidak ingin mencari ribut atau mencari masalah dengannya.
Kehadiran Zhao Ping’er sudah membuat kepalanya sakit. Kalau ditambah dengan ini, bagaimana bisa dia tidur dengan tenang?
Baili Qingchen pasti akan marah besar. Atau mungkin pria itu lebih memilih menggantungnya di pohon ketimbang menceraikannya. Wanita ini, Liu Qingyi, masuk ke dalam hidupnya tanpa permisi dan telah mengusiknya selama ini. Seorang raja yang dingin dan mendominasi sepertinya tidak akan menerima jika diceraikan seorang wanita!
“Tuan, kau punya alasan kuat untuk mengatakannya. Bukankah gadis bernama Zhao Ping’er itu adalah salah satu opsinya?” ucap Yinghao sembari memohon ampun atas penindasan yang diterimanya dari tuannya sendiri.
Qingyi meledak dengan emosinya saat mendengar nama Zhao Ping’er disebutkan. Dia mendengus kasar, lalu melemparkan Yinghao ke tengah kolam.
Zhao Ping’er, gadis ini seperti sebuah duri dalam daging. Qingyi sudah berusaha menyingkirkannya dari pikirannya, tetapi senyumannya yang menawan hati selalu terbayang dan membuatnya memikirkan banyak hal yang tidak masuk akal.
Zhao Ping’er memang tidak datang kembali ke mansion. Namun, gadis itu selalu berada di istana untuk menemani Janda Permaisuri Ming.
Dia akan menunggu dengan setia di halaman luar aula pengadilan sampai dia menemukan Baili Qingchen, kemudian mengekorinya seperti seekor anjing sampai Baili Qingchen masuk ke dalam kereta.
Mata-mata Qingyi bilang kalau Zhao Ping’er akan menyinggung soal kisah masa kecilnya dengan Baili Qingchen dengan tujuan membantu Baili Qingchen mengingat kembali kenangan mereka.
Mengetahui hal itu, Qingyi jadi kesal sendiri. Dia pikir dengan berpegang pada masa lalu, dia bisa menggerakkan hati Baili Qingchen?
Baili Qingchen juga sama! Pria itu tidak menggubrisnya, namun juga tidak melarangnya bicara. Dia mungkin hanya menganggap Zhao Ping’er ‘ada’, dan membiarkannya mengisahkan masa lalu seperti seorang pendongeng. Suatu saat, bukan tidak mungkin Baili Qingchen akan mempertimbangkan kembali Zhao Ping’er.
“Diam! Lebih baik aku mempertandingkan Zhao Ping’er dengan Xiao Junjie daripada harus mencari masalah dengan Baili Qingchen!”
Qingyi tetap menolak misi. Gadis yang cerdas sepertinya tidak akan bertindak bodoh dengan menggali kuburannya sendiri. Yinghao berenang ke tepi, mengeringkan tubuhnya kemudian mendekat kembali kepada Qingyi. Panda kecil itu masih berusaha membujuk tuannya agar menerima misi.
“Tuan, kau sedang menyelidiki Zhao Ping’er. Kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk mengalihkan perhatian dan menyelidikinya sendiri.”
Setelah mendengar perkataan ini, Qingyi seperti tercerahkan. Benar, dia sedang menyelidiki Zhao Ping’er. Entah mengapa perkataan Selir Jia tempo hari sepertinya benar. Kata-katanya telah mendorong rasa penasaran Qingyi mencuat ke permukaan. Setelah bertemu langsung dengan gadis itu, semuanya menjadi terlihat jelas.
Sebagai wanita, dia juga punya insting dan penilaiannya sendiri. Qingyi bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya berpura-pura.
__ADS_1
Zhao Ping’er mungkin cantik, tapi seperti yang Selir Jia katakan, gadis itu memiliki pemikiran dalam yang jauh melampaui usianya.
Qingyi merasa Zhao Ping’er memiliki motif tersembunyi. Dia mendekati Baili Qingchen bukan hanya ingin menjadi selir atau permaisurinya.
Ada sesuatu yang besar di balik itu, yang sampai saat ini belum diketahui oleh Qingyi dengan pasti. Jika dia menerima misi dan menuruti saran Yinghao, dia mungkin memiliki kesempatan lebih besar untuk menelusurinya lebih jauh.
Qingyi mendudukkan diri di tepi kolam ajaib.
“Zhao Ping’er. Gadis ini punya marga yang sama dengan ibuku. Menurutmu, apakah seekor rubah akan menampakkan dirinya saat mencari mangsa?”
“Jadi, kau harus menerima misinya, Tuan.”
Kemunculan Zhao Ping’er terlalu kebetulan. Kabar mengenai Janda Permaisuri Ming yang jatuh ke dalam kolam juga terlalu kebetulan. Apalagi orang yang menyelamatkannya.
Ia yakin, orang yang dimaksud adalah Zhao Ping’er. Qingyi sudah bisa menebak beberapa kemungkinan yang mungkin akan dilakukan oleh gadis itu ke depannya.
“Kembali ke mansion! Aku akan menemui pria menyebalkan itu!”
Qingyi dan Yinghao keluar dari ruang dimensi. Mansion saat itu sedang tenang karena pelayan baru saja selesai bekerja. Kereta kuda Baili Qingchen sudah terparkir di depan gerbang, dan itu menunjukkan bahwa dia sudah kembali dari pengadilan. Kusir yang membawa kereta tampak sedang mengelap keringatnya dengan saputangan.
Baili Qingchen baru saja hendak mengganti pakaiannya saat dia melihat Qingyi memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu. Baili Qingchen berbalik, lalu menyadari bahwa ekspresi permaisurinya begitu tidak enak dilihat. Dia mengerutkan dahinya, menutup kembali jubahnya.
“Putri Permaisuri, apa yang membuatmu begitu emosi sampai berekspresi sedingin itu?” tanyanya.
“Baili Qingchen, mari kita bercerai!”
Tiga kata terakhir yang terucap seperti sebuah sambaran petir di siang bolong yang cerah. Kata-kata keramat itu
Baili Qingchen terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan permaisurinya. Apa mungkin dia salah mendengar?
Qingyi menahan napasnya di dada. Oh, tidak. Dia sepertinya telah mencari masalah dengan pria ini. Ekspresi Baili Qingchen perlahan membeku menjadi sebuah ekspresi dingin yang sangat menakutkan. Suasana hati pria itu belum membaik karena gangguan yang terus datang dari Zhao Ping’er.
“Apa yang baru saja kau katakan, Putri Permaisuri?”
“Mari kita bercerai.”
Baili Qingchen membuka jubahnya dengan kasar, kemudian melemparnya ke lantai. Tatapan marahnya jatuh pada Qingyi yang berdiri di hadapannya. Jantung pria itu berdegub kencang, napasnya terasa sesak dan dadanya terasa dihimpit batu besar.
Apa wanita ini sudah gila?
Bercerai? Sejak dinasti ini didirikan, belum pernah ada pasangan raja dan permaisurinya yang bercerai! Terlebih lagi, Qingyi mengatakannya secara tiba-tiba, tanpa alasan yang jelas.
Baili Qingchen memang tidak terlalu mengerti jalan pikiran Qingyi, dia bisa menoleransinya, namun mengatakan ingin bercerai, rasanya pagar pembatas toleransi itu sudah diterobos dengan paksa.
“Bercerai? Apa kau tahu apa yang sudah kau katakan?”
Karena sedang bersandiwara, Qingyi harus sungguh-sungguh agar terlihat nyata.
“Tentu saja aku tahu.”
__ADS_1
“Mengapa?”
“Kau tidak akan memahami alasannya.”
Raja Changle sedang marah! Dia melangkah maju, kemudian menatap tajam Qingyi. Sungguh, dia benar-benar menakutkan. Qingyi mengutuk Yinghao dengan keras di dalam hatinya. Seharusnya Qingyi datang lebih lambat, tunggu sampai suasana hati pria ini sedikit lebih baik baru mengatakannya.
“Benarkah?” tanya Baili Qingchen dengan dingin.
Auranya yang mendominasi dan sangat kental dengan kegelapan itu seketika menguar, menguasai situasi. Beberapa pelayan turut merasakan aura itu, seketika langsung melarikan diri.
Mereka membiarkan Raja Changle dan Putri Permaisuri di dalam sana, tidak berniat mencampuri urusan mereka berdua.
Baili Qingchen menggeram, sebelah tangannya terkepal. Mungkin otak Qingyi sudah rusak dan akal sehatnya hilang. Baili Qingchen paling tidak menginginkan perceraian. Terlebih, Qingyi, wanita itu adalah wanita yang menikah dengannya dan masuk ke mansionnya secara resmi.
Selain tidak terima, Baili Qingchen juga tidak berharap itu akan terjadi. Dia menarik ujung pakaian Qingyi, mengait pinggangnya dan menciumnya dengan paksa.
Bibirnya bahkan mengigit bibir Qingyi sampai sedikit membengkak. Qingyi terkejut dan tidak sempat menghindar. Dia memukuli dada Baili Qingchen dan berusaha melepaskan diri.
“Baili Qingchen, apa kau gila?”
“Kau lebih gila dariku. Jika kau mengatakannya lagi, aku mungkin bisa bertindak lebih gila dari ini,” tegasnya.
Qingyi marah, tetapi bahkan kemarahan Baili Qingchen lebih mengerikan. Dia mundur selangkah, mendongak lalu menatap mata tajam itu dengan mata beningnya. Kemarahan di dalam sana sangat besar.
Dia memahaminya, dan konsekuensinya juga bukannya dia tidak tahu. Tapi, apa boleh buat? Dia sudah mengatakannya dan Qingyi membutuhkan kesempatan untuk membuatnya lengah.
“Dasar brengsek! Kau pikir aku takut padamu?”
Sudah kepalang tanggung, pikir gadis itu. Karena dia yang menyalakan api terlebih dahulu, maka dia juga harus menanggung akibatnya.
“Jika kau ingin bertarung, ayo! Aku tidak takut melawanmu!” tantang Qingyi.
Baili Qingchen yang sudah sangat marah kemudian menciumnya lagi dengan paksa. Kali ini dia menekannya lebih keras sampai gigi mereka bertemu. Qingyi meringis, dengan tenaga dalamnya dia berhasil menyingkirkan Baili Qingchen menjauh. Bibirnya berdarah ketika ia menyusutnya dengan tangan.
Bibir Baili Qingchen juga berdarah. Pria itu mengusapnya dengan kasar.
“Aku tidak bertarung dengan wanita,” ucapnya.
“Hah, sikap pemaksamu inilah yang membuatku tidak menyukaimu!”
Baili Qingchen cukup terkejut dengan pernyataan Qingyi. Dia melihat permaisurinya melengang pergi dengan marah dari kamarnya. Setiap hentakan kakinya seperti mengguncang bumi, membuat siapapun yang berpapasan dengannya lari dan bersembunyi.
Baili Qingchen menggebrak meja, mengepalkan tangan dan membuka pakaiannya dengan kasar. Pada saat itu, Cui Kong datang dengan terburu-buru. Melihat rajanya marah, Cui Kong jadi ragu. Namun, Baili Qingchen segera menguasai diri.
“Ada apa?” tanyanya.
“Aku melihat Yang Mulia Putri pergi dengan marah.”
“Yang kumaksud bukan wanita itu!”
__ADS_1
“Oh. Begini, Yang Mulia. Yang Mulia Kaisar memintamu menyelidiki ini,” ralatnya. Cui Kong kemudian menyerahkan seberkas dokumen yang baru saja diterima dari Kasim Li.
Setelah Baili Qingchen membacanya, dia melemparnya dengan kasar.