Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 66: Bola Nasi Kecil


__ADS_3

Mansion Raja Changle kedatangan tamu yang membuat pemiliknya geger. Di aula utama, Qingyi dan Baili Qingchen menatap bingung pada seorang anak kecil berusia sekitar tujuh tahun, yang berdiri di depan mereka sambil memegang sebuah gantungan emas berbentuk persegi panjang. Anak kecil itu balas menatap keduanya dengan tatapan polos, yang cukup menggemaskan.


Dia memakai pakaian yang terbuat dari kain satin kualitas menengah. Rambutnya disanggul jadi dua dan diikat dengan pita berwarna biru. Sabuknya terbuat dari kulit sapi dan ada tiga manik-manik di tengah sebagai hiasan.


Sepatunya adalah sepatu jahit yang banyak dijual di pasar. Selain postur tubuhnya yang kecil, Qingyi melihat pahatan wajah yang sepertinya menurun dari seseorang.


“Siapa bocah itu?” tanya Qingyi pada Baili Qingchen.


Baili Qingchen dengan nada tanpa emosi lantas menjawab, “Cucuku.”


Jika saat ini Qingyi sedang memegang gelas, maka tangannya pasti akan menjatuhkan gelas itu sampai pecah. Atau, dia bisa tersedak kalau sedang makan dan minum. Apa katanya tadi? Cucu? Dari mana datangnya cucu di saat pria itu bahkan tidak pernah berhubungan dengan seorang wanita?


Alhasil, Baili Qingchen mendapat tatapan tajam darinya. “Kau ingin aku mencukur habis rambut bocah itu?” tanyanya sambil menunjuk anak kecil tersebut. Baili Qingchen menghela napas pelan. Dia pikir, masalah baru sudah datang padanya sepagi ini.


“Dia putra Kaisar Baili,” jawab Baili Qingchen. “Secara hubungan, dia adalah cucuku.”


Qingyi berdecak tidak percaya. Jadi, bocah kecil itu adalah putra Baili Jingyan, si kaisar pemalas yang suka perhitungan itu? Ya ampun! Apa yang telah terjadi?


Qingyi tercekat dan jika dia penderita hipertensi, mungkin dia sudah pingsan atau terkena stroke. Qingyi menatap bocah itu dan Baili Qingchen bergantian, lalu dia menepuk kening sendiri dan berdecak lagi.


“Ya Tuhan! Apa aku tidak diperbolehkan tidur nyeyak barang satu malam saja?” keluhnya.


“Tujuh tahun lalu, Kaisar pergi ke Fujian untuk kunjungan kenegaraan. Mungkin saat itulah anak ini ada,” ucap Baili Qingchen.


Tadi malam, dia mendengar suara seperti kereta kuda berhenti di depan gerbang. Lalu, ada yang memasuki halaman timurnya diam-diam. Saat dia mengeceknya, hanya ada seorang anak kecil yang tertidur di bawah pohon persik, memegang erat plakat emas yang kini digenggamnya.


“Kau yakin dia putra keponakanmu?”


“Plakat emas itu milik keponakanku. Mungkin dia sengaja meninggalkannya pada wanita yang telah ditidurinya.”


Qingyi mengusap wajahnya dengan kasar. Sialan, Kaisar Baili ternyata orang yang suka kencing di mana-mana! Mengapa dia malah punya anak dari wanita di luar, bukan dengan para selirnya yang banyak itu? Qingyi kemudian berdiri, menghampiri bocah kecil yang polos tersebut. Dia berjongkok, mensejajarkan dirinya dengan ketinggian tubuh si bocah kecil.


“Bola nasi kecil, kau tahu siapa ayahmu?” tanyanya.

__ADS_1


Anak kecil itu mengangguk dan dengan polos menjawab, “Ayahku Kaisar Baili.”


“Lalu, siapa namamu?”


“Li Wuyuan.”


Qingyi menggerutu dalam hati. Siapa sangka ternyata Kaisar Baili bisa begitu berkemampuan. Sekali tidur, dia langsung bisa menciptakan anak yang kini sudah berusia tujuh tahun. Fujian sangat jauh, butuh berbulan-bulan untuk sampai di kota kekaisaran. Anak sekecil dirinya benar-benar punya fisik yang kuat.


Fujian? Qingyi tiba-tiba teringat akan pedagang yang kemarin ia kunjungi kedainya. Rupanya begitu! Tugas yang dikatakan olehnya ternyata mengantarkan seorang anak kecil, keturunan kaisar, ke ibukota untuk menemui ayahnya.


Pantas saja ia merasa aneh dan punya firasat tidak enak. Pantas pula pedagang itu menanyakan Raja Changle dan meminta bantuannya. Ternyata ini tujuannya!


“Sekarang, namamu adalah Baili Wuyuan,” ujar Baili Qingchen. Bocah kecil itu mengangguk mengerti.


“Kakek, kapan aku bisa bertemu ayahanda?” tanya Baili Wuyuan.


“Pppffttt… Kakek? Bola nasi kecil, dia memang pantas dipanggil kakek. Tapi, kau harus ingat, kau tidak boleh memanggilku nenek. Usiaku terlalu muda untuk punya cucu sepertimu,” ucap Qingyi.


“Lalu, aku harus memanggilmu apa?”


“Bibi, apa kau tidak diakui ayahanda?”


Qingyi kehabisan kata-kata. Rasa ingin tahu anak kecil memang hal yang paling membuat orang dewasa khawatir. Lihat, jika sudah begini, bagaimana dia menjawabnya? Qingyi tidak mungkin mengatakan kalau dia dan ayahnya adalah musuh. Serenggang apapun hubungan itu, mengorbankan anak kecil bukanlah perbuatan terpuji. Apalagi, Baili Wuyuan tidak akan mengerti.


“Wuyuan adalah satu-satunya keturunan Kaisar. Putri Permaisuri, bisakah kau membantuku?” tanya Baili Qingchen.


“Aku sudah bilang, mintalah bantuan pada Pangeran Permaisuri.”


“Kau masih marah? Baiklah, aku salah tentang hari itu.”


Jarang-jarang Baili Qingchen mau mengalah padanya. Qingyi melupakan sejenak kemarahannya, tapi bukan berarti dia sudah memaafkan Baili Qingchen. Saat ini, permasalahan Baili Wuyuan lebih penting. Kehadirannya mungkin bisa mengguncang pemerintahan dan istana, yang saat ini situasinya sedang panas-panasnya.


Baili Qingchen menganggap diamnya Qingyi sebagai jawaban. Dia memanggil pelayan, lalu menyuruhnya untuk mengantarkan Baili Wuyuan ke halaman barat, ke kediaman Putri Permaisuri dan mereka harus menjaganya sampai urusan selesai. Qingyi protes karena kediamannya lagi-lagi menjadi sasaran Baili Qingchen.

__ADS_1


“Kediamanku kecil. Bawa kembali bola nasi kecil itu ke tempat tinggalmu!”


“Tidak bisa. Halaman timur terlalu besar dan Wuyuan bisa tersesat.”


“Kurung saja dia di ruang belajar!”


“Tidak boleh. Kulitnya bisa pucat jika terus berada di dalam ruangan.”


“Lupakan. Kapan Liu Erniang akan masuk istana?”


Peralihan topik pembicaraan sengaja dilakukan karena masalah ini berkaitan dengan banyak hal. Kehadiran Baili Wuyuan akan mempengaruhi silsilah keluarga kekaisaran. Itu juga akan berpengaruh terhadap harem kaisar. Jika Baili Wuyuan masuk ke istana dan diakui sebagai pangeran, maka dia adalah keturunan pertama Kaisar Baili.


Meskipun ibunya bukan selir dan tidak berasal dari keluarga bangsawan, namun statusnya sebagai pangeran tetap sah dan kuat. Siapapun tidak bisa menyangkal itu. Apalagi, dia adalah putra sulung.


Jika Kaisar Baili tidak punya anak pada tahun-tahun mendatang, maka posisi Baili Wuyuan bisa saja naik dari pangeran menjadi pangeran mahkota.


Liu Erniang yang ambisius itu tidak akan duduk dengan nyaman. Posisinya setelah masuk istana secara tidak langsung akan terpengaruh. Selama ini, selir-selir kaisar di harem banyak dan saling bersaing. Beberapa di antara mereka memang berteman dengan Liu Erniang dan mungkin akan menyerah dan bersekutu dengannya. Tapi, lain halnya jika selir lain membencinya.


Katanya, jika setelah masuk istana Liu Erniang hamil anak kaisar, maka dia bisa saja naik tingkat. Tetapi jika Baili Wuyuan ada, impian itu mungkin bisa terkubur sangat lama. Liu Erniang tidak akan tinggal diam. Hatinya yang licik dan penuh kebencian tidak akan menerima kalau dirinya dikalahkan seorang anak kecil.


Tampaknya, Baili Qingchen juga mengerti akan hal ini.


“Dua hari lagi.”


Baili Qingchen khawatir kekacauan akan semakin parah. Pemakzulan perdana menteri dan masuknya Liu Erniang ke istana sudah membuat situasi menjadi rumit. Kalau mereka mengetahuinya sebelum Liu Erniang resmi menjadi selir kaisar, mungkin saja mansion ini akan dipenuhi adegan berdarah setiap malam.


Dalam dua hari ini, kemanan mansion Raja Changle harus diperketat. Jika perlu, dia bisa mengerahkan pasukan khususnya yang sangat kuat dan setara dengan Kavaleri Jingyi.


Tapi, dia lupa bahwa istrinya ini adalah pengacau kecil yang bisa melakukan apa saja. Semua hal tidak terduga dan belum pasti, sama seperti ketidakpastian pemikiran Qingyi. Kepalanya selalu berisi hal-hal menyeramkan yang bahkan tidak bisa dipikirkan seorang Dewa Perang sepertinya.


Pada saat itu, Qingyi tersenyum misterius. Senyuman itu lebih mirip seringaian. Baili Qingchen agak bergidik, tapi wajahnya masih tenang tanpa emosi.


“Keponakanmu boleh juga. Sebagai paman, kau kalah darinya,” ujar Qingyi.

__ADS_1


Baili Qingchen mendelik, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Qingyi. Dia berbisik, “Kalau begitu, apa kau ingin mencoba membuat bola nasi kecil yang sama persis?”


“Jangan mimpi!” Lalu, Qingyi keluar dari aula dengan wajah semerah tomat.


__ADS_2