Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 112: Pindah Kereta


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, festival puncak musim semi tiba.


Sejak tengah hari, keluarga kekaisaran di istana telah bersiap diri. Mereka memilih pakaian dan berdandan, kemudian berangkat dari istana menuju menara kota setelah jam tiga sore. Iring-iringannya memanjang.


Prajurit memegang dan mengibarkan bendera kekaisaran dan berbaris, berjalan dengan langkah konstan. Para pelayan dan kasim mengikuti sambil membawa benda-benda yang mewakili istana kekaisaran.


Kereta paling depan, yang paling megah dan paling besar adalah milik Kaisar Baili. Sang kaisar telah duduk di dalamnya dalam balutan busana formal, melambaikan tangan kepada rakyat dan tersenyum sepanjang jalan.


Rakyat bersorak. Suara riuhnya semakin bergemuruh saat melihat kereta Raja Changle melintas di belakang kereta Kaisar Baili. Jarang sekali momen langka ini terjadi.


Pada festival puncak musim semi tahun ini, rakyat mendapat keberuntungan dengan melihat kaisar dan Raja Changle menyapa mereka secara langsung. Mereka yang mengagumi dua pria agung itu menitikkan air mata karena terharu.


Setelah kereta Kaisar Baili dan Raja Changle, kereta lain juga melintas. Itu adalah kereta Janda Permaisuri, kemudian disusul oleh kereta untuk selir.


Karena masalah yang terjadi belakangan ini, selir yang dapat ikut ke festival puncak di menara kota hanya ada Selir Jia dan Selir Xian. Dua selir yang menjadi rival itu duduk di kereta yang terpisah.


Langit sepertinya memberkati keluarga kekaisaran itu. Angin yang lembut berhembus, dan bendera-bendera kekaisaran semakin berkibar di udara. Setiap orang dapat merasakan keagungan manusia-manusia yang duduk di dalam kereta, merasakan aura kemuliaan yang tidak biasa.


Bukan berarti orang yang diagung-agungkan oleh rakyat merasakan hal yang sama. Di kereta Raja Changle, Qingyi duduk dengan wajah ditekuk.


Selain kesal karena Baili Qingchen memperketat penjagaan halaman barat dan mengurungnya berhari-hari sementara pria itu sibuk mempersiapkan festival, kehadiran Baili Wuyuan membuatnya semakin kesal.


Bocah nakal kecil itu tidak ikut duduk di dalam kereta neneknya atau para ibu tirinya. Baili Wuyuan malah langsung berlari masuk ke dalam kereta Raja Changle dan merengek saat Qingyi menyuruhnya keluar. Sekarang, bocah itu duduk dengan manis, menikmati sapaan para rakyat kepadanya.


“Guru dan murid sama saja!”


Qingyi mencibir suami dan cucu kecilnya. Bagaimana tidak, baik Baili Wuyuan maupun Baili Qingchen, keduanya sama-sama sedang menikmati sapaan dan teriakan kekaguman dari wanita-wanita yang berdiri berjejer di pinggir jalan, yang membentuk pagar hidup sepanjang jalan kota. Ia pikir, pasangan kakek – cucu dan guru – murid itu sangat narsis.


“Bibi, apa kau sedang datang bulan?” tanya Baili Wuyuan saat ia menatap Qingyi.


“Mengapa kau berpikir begitu?” tanya Qingyi.


“Saat di Fujian, ibuku juga sering bertingkah sepertimu saat datang bulan. Dia menjadi sensitif dan memandang dunia seolah-olah merupakan sebuah lelucon. Kulihat kau juga sama, kau tidak menatap kami seperti biasa, tapi memandang kami seperti ingin memakan kami hidup-hidup.”

__ADS_1


“Bola nasi kecil, karena kau begitu pintar, mengapa kau tidak duduk bersama ayahmu dan malah bergabung denganku?”


“Aku tidak bisa duduk di samping Ayahanda. Dia seorang Kaisar yang agung. Sebagai pangeran, aku tidak boleh menodai keagungannya.”


“Cih, pintar sekali bicaramu!”


Baili Wuyuan mengedikkan bahu dengan tidak peduli. Bukan hanya tidak ingin duduk dengan ayahnya, Baili Wuyuan juga tidak mau bergabung dengan keluarga utama ayahnya. Dia bisa saja duduk bersama Janda Permaisuri Ming, atau memiliki kereta sendiri, namun bocah nakal itu tidak melakukannya.


Dia lebih nyaman duduk bersama kakek mudanya.


Sebentar lagi, rombongan keluarga kekaisaran akan sampai di menara kota. Pasukan pengawal istana yang bertugas mengawal keluarga kekaisaran berdiri sepanjang satu kilometer menuju menara kota.


Semuanya adalah pasukan yang sigap dan kuat. Baili Qingchen sengaja mengaturnya sebagai basis kekuatan utama, sementara pengawal rahasia ia tempatkan di beberapa sudut kota.


Penduduk kota kekaisaran masih menikmati keagungan dari keluarga kekaisaran. Mata mereka berbinar cerah. Kaisar Baili tersenyum, hatinya gembira.


Rakyatnya menyambutnya, meskipun ia tahu bahwa rasa kagum mereka terbagi dua dengan Raja Changle. Tidak apa-apa, saat ini dia sedang tidak ingin diganggu dengan perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kekuatan pamannya itu.


“Benar! Mati pun aku tidak menyesal! Tetapi, bukankah Yang Mulia Raja Changle juga sangat agung? Aku bahkan bisa merasakan auranya dari kejauhan!”


Mereka yang mendengarnya mengangguk setuju. Raja Changle memang tidak kalah dengan Kaisar Baili. Dua-duanya adalah tokoh besar Bingyue, pria idaman para gadis yang menginjak usia dewasa. Selain tampan, dua pria itu punya kekuasaan di tangan mereka.


“Apakah wanita yang duduk bersama Raja Changle adalah Putri Permaisuri Changle?” tanya salah satunya. Lalu, yang lainnya mengikuti arah pandang ke kereta Raja Changle secara serentak, menatap Qingyi.


“Mungkin. Kudengar, dia yang pertama kali menyadari masalah para selir Yang Mulia Kaisar. Dia juga telah membantu mereka dalam proses penyembuhan. Putri Permaisuri Changle benar-benar hebat!”


“Bukankah itu sudah seharusnya? Orang yang berdiri di sisi Raja Changle tidak mungkin seorang wanita lemah.”


“Tetapi, kudengar sebelum dia menikah ke mansion, dia hanyalah putri selir mantan Perdana Menteri Liu. Jangankan peraturan, dia bahkan tidak pernah diajarkan untuk membaca.”


Mereka telah mendengar kehebatan Putri Permaisuri Changle. Bertemu secara langsung seperti ini, hati mereka cukup senang.


Tidak ada yang mengira jika putri terbuang mantan perdana menteri ternyata sangat hebat dan cerdas. Mereka pikir, mantan perdana menteri telah menyia-nyiakan bakat sehebat ini dan tidak menyadarinya sama sekali.

__ADS_1


Menurut mereka, Qingyi mungkin lebih cocok masuk ke harem Kaisar Baili. Orang-orang itu merasa kasihan saat mengingat bahwa Raja Changle memiliki seorang Pangeran Kecil Xiao Junjie yang disayanginya sejak tiga tahun lalu. Cukup mencengangkan ketika mereka tahu sang Putri Permaisuri bisa bertahan dan membangun reputasinya sendiri.


Qingyi mendengar pembicaraan itu dengan jelas karena telinganya sangat peka terhadap suara, bahkan jika suara itu jauhnya sampai dua puluh meter.


Dia meminta kusir untuk menghentikan kereta. Lalu ketika kereta berhenti, dia turun. Qingyi kemudian menghampiri kereta Selir Jia dan masuk ke dalamnya.


“Mengapa Putri Permaisuri Changle pindah? Apa mungkin hubungannya dengan Raja Changle tidak terlalu baik atau sedang bermasalah?” tanya orang-orang yang heran karena Qingyi tiba-tiba pindah kereta.


“Entahlah.”


Baili Qingchen juga terkejut karena permaisurinya tiba-tiba turun dan pindah kereta. Setelah mendengar pembicaraan penduduk yang ada di dekatnya, dia juga ikut turun dan menghampiri kereta Selir Jia. Tanpa pikir panjang, Baili Qingchen ikut masuk ke dalam kereta Selir Jia.


Janda Permaisuri Ming yang heran keretanya berhenti kemudian membuka tirai, dan bertanya kepada kusirnya. “Mengapa kalian berhenti?”


Kusir lalu menjawab, “Yang Mulia, Raja Changle menyusul Putri Permaisurinya yang pindah ke kereta Selir Jia.”


Janda Permaisuri Ming menggelengkan kepala atas tingkah laku sepasang suami istri itu. Dasar pasangan labil, pikirnya. Kereta kemudian melaju kembali, menuju menara kota.


Selir Jia yang terkejut karena Qingyi tiba-tiba pindah ke keretanya dan disusul Baili Qingchen duduk dengan canggung.


Dia menatap Qingyi dan Baili Qingchen secara bergantian. Kereta kuda yang seharusnya diisi dua orang itu menjadi sesak dan auranya terasa aneh.


“Putri Permaisuri, Raja Changle, mengapa kalian tidak memilih menyelesaikan permasalahan kalian di tempat yang lebih nyaman alih-alih di keretaku yang sempit ini?”


Qingyi menatap Selir Jia, dia tidak berharap Selir Jia memberikan banyak komentar. Wanita itu bilang ingin mengikutinya, tetapi baru begini saja sudah ingin menyerah. Bagaimana dengan hari-hari ke depan nanti?


“Di sana terlalu berisik. Telingaku gatal mendengar ocehan penduduk yang membicarakanku dan Raja Changle dengan topik yang konyol.”


Selir Jia mengangguk canggung, dia tidak paham dengan maksud perkataan Qingyi. Selir Jia kemudian beralih menatap Baili Qingchen, namun pria itu hanya diam tanpa berniat memberi komentar atau penjelasan. Menghadapi permaisurinya saat ini harus dengan cara yang tidak biasa.


Sementara itu, di belakang kereta Selir Jia adalah kereta Selir Xian. Liu Erniang yang tahu kejadian tersebut mengepalkan tangan dengan marah. Dadanya sesak sampai-sampai ia sulit bernapas.


Sial! Berani-beraninya sepasang suami istri itu merebut perhatian yang seharusnya ditujukan untuk Kaisar Baili!

__ADS_1


__ADS_2