Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 146: Ucapan Perpisahan


__ADS_3

“Ada apa, Putri Permaisuri?” tanya Baili Qingchen yang heran mendengar decakan permaisurinya.


Sebelumnya, Yinghao sudah memberitahu jika sistem tidak bisa lagi memberinya tambahan waktu. Sebanyak apapun barang yang ditukarkan untuk menambah jumlah harinya di sini, tetap tidak akan berfungsi. Artinya, Qingyi sudah harus segera melunaskan misi utamanya seperti yang diperintahkan Yinghao pertama kali.


Qingyi menebak karena jumlah hari tidak bisa ditambah dan misi harus segera diselesaikan, maka puncak dari kisahnya ini pasti akan segera tiba. Tidak disangka, tanda-tandanya sudah muncul bahkan sebelum satu kali dua puluh empat jam. Hatinya tidak rela jika harus berpisah dan mengakhiri cerita secepat ini.


“Tidak apa-apa. Aku hanya sudah menduga jika hal seperti ini akan terjadi,” jawab Qingyi sambil mencoba menyembunyikan kekhawatirannya.


“Sebelum Kaisar memanggilku, ada laporan datang kepadaku dan mengatakan situasi di selatan baik-baik saja. Lalu, laporan rahasia yang lain datang kepada Kaisar dan memberitahu jika wilayah utara mulai diinvasi Kekaisaran Chen. Kukira apa yang kau katakan benar. Tapi, aku tetap merasa ada yang aneh.”


“Mungkin itu adalah jebakan,” sambung Qingyi.


Hebat sekali kalian, pikir Qingyi. Siasat orang selatan dan Liu Erniang begitu hebat sampai mampu membuat Baili Qingchen sekhawatir ini. Orang-orang licik itu pasti sedang bersiap untuk beraksi. Qingyi menebak bahwa mereka tengah menyiapkan skema besar mereka.


“Mungkin. Aku harus memastikannya sendiri. Tapi, aku tidak ingin kau ikut.”


“Mengapa?”


Pada saat itu, Baili Qingchen memeluknya tanpa aba-aba. Qingyi merasakan kehangatan mengalir ke dalam hatinya, lalu tangannya refleks membalas pelukan pria itu. Baili Qingchen menyesap aroma rambut Qingyi yang harum, memejamkan matanya dan mencoba menghilangkan kekhawatirannya sejenak.


“Jalan di depan berbahaya. Tetaplah di sini dan awasi adikmu.”


Masuk akal, pikirnya. Jika semua orang pergi dan mansion dibiarkan kosong, Liu Erniang malah menjadi senang. Wanita licik itu bisa bergerak bebas tanpa diawasi.


Qingyi juga tidak berniat membiarkan adik laknatnya bertindak dan mencapai tujuannya. Orang seperti Liu Erniang harus tetap diawasi agar waswas dan menunjukkan celah yang bisa dimasuki Qingyi.


“Baiklah. Aku akan mengawasinya. Kapan kau berangkat?”


Baili Qingchen melerai pelukannya, lalu menangkup wajah Qingyi dengan kedua tangan. Mata elangnya yang tajam dan dalam menatap Qingyi dengan intens, ada lebih dari seribu kata yang ingin ia ucapkan sekarang. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang keluar dari mulutnya.


“Esok hari,” Baili Qingchen menjawabnya dengan singkat.


Ia takut. Selama bertahun-tahun, sejak ia diangkat menjadi Raja Changle dan menjadi perisai Bingyue, sekaligus wali yang mendampingi Kaisar Baili, kekhawatirannya tidak sebesar ini. Baili Qingchen dulu hanya khawatir Bingyue dan rakyat dalam bahaya. Ia bahkan mengabaikan perlakuan keponakannya yang menyulitkannya.


Sekarang, kekhawatirannya bukan hanya itu. Seorang wanita sejenis Qingyi yang langka berhasil membuatnya memiliki kekhawatira baru. Baili Qingchen takut bahwa ini akan menjadi kali terakhir untuknya.


Ia takut ia tidak bisa kembali setelah pergi kali ini. Baili Qingchen tidak pernah pergi meninggalkan mansion dan Qingyi sejak menikah, dan itu membuatnya sangat khawatir.

__ADS_1


Padahal, Xiao Junjie tidak pernah membuatnya sekhawatir ini. Ah, apakah Baili Qingchen mulai mengkhawatirkan urusan cinta pada wanita di hidupnya?


“Masih ada beberapa jam sebelum pergi. Putri Permaisuri, bolehkah aku melepaskan kerinduanku?”


Qingyi ragu, namun ia tahu mungkin setelah ini mereka tidak akan bertemu lagi. Jalan di depan yang akan dilalui Baili Qingchen sangat berbahaya.


Setelah dia pergi, entah kapan mereka akan bertemu lagi. Qingyi juga tidak tahu apakah dirinya masih bisa menunggunya di sini.


Ia memejamkan mata sesaat, lalu mencium Baili Qingchen dengan lembut selama beberapa detik. Setelah itu, ia berkata dengan pelan, “Lepaskan saja. Malam ini, aku adalah milikmu.”


Senyum cerah di bibir Baili Qingchen terbit. Pria itu menciumnya dengan lembut dan intens, mulai menumbuhkan benih-benih surga di hati mereka. Baili Qingchen menggendong tubuh mungil istrinya ke dalam kamar, menguncinya dan membaringkannya di ranjang.


Mata mereka menjadi sayu dan napas mereka mulai memburu. Pipi di wajah mereka memerah, lalu saling menatap satu sama lain.


Baili Qingchen mulai menciumnya lagi, menjelajah ke sana kemari dengan sebuah lentera kecil di tangannya. Qingyi menemaninya sepanjang jalan itu, ikut menikmati sepoi-sepoi angin yang bertiup.


Mereka menghabiskan waktu malam penuh gairah dan kerinduan yang membuncah. Udara akhir musim semi di luar mulai menurun, angin bertiup pelan. Dedaunan yang mulai meranggas berjatuhan ke tanah. Bulan masih menggantung di langit, bersinar malu-malu.


Keesokan harinya, Cui Kong dan beberapa pengawal rahasia menunggu di bagian belakang mansion. Kuda perang yang dapat berlari kencang milik Baili Qingchen sudah menunggu dengan tidak sabar. Karena Kaisar Baili menyuruh Raja Changle untuk bertindak secara rahasia, maka keberangkatannya pun tidak bisa dibuat secara terang-terangan.


“Yang Mulia, mari kita berangkat,” ucap Cui Kong saat Baili Qingchen tiba di gerbang belakang bersama Qingyi.


“Putri Permaisuri akan tetap di sini,” ujar Baili Qingchen seakan tahu isi pemikiran Cui Kong.


Cui Kong menghela napas lega. Setidaknya, masih ada orang yang bisa mengawasi mansion selagi mereka pergi.


Baili Qingchen berbalik kepada Qingyi. Tangan putihnya meraih tangan Qingyi yang lembut dan kecil, menggenggam jari-jari dengan kuku lentik itu erat-erat. Sorot matanya menyiratkan ketidakrelaan yang tidak bisa dihalangi. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya.


“Pergilah. Aku akan menunggumu di sini,” ucap Qingyi.


Baili Qingchen mengangguk. “Aku akan menemuimu nanti. Berhati-hatilah.”


Baili Qingchen berbalik, melepaskan tangan dan melangkah. Sebelum ia naik ke kudanya, terdengar suara cukup keras memanggilnya. “A-Chen, tunggu!”


Qingyi ikut menolah. Xiao Junjie dengan wajah pucat tengah berjalan menuju mereka. Langkahnya dibuat cepat dan ia tampak kesulitan bernapas.


Mata yang biasanya menatapnya dengan sengit dan penuh ketidaksenangan sekarang tampak sayu dan kosong. Badannya kurus, seolah-olah ia telah kehilangan banyak angka kilogram dalam beberapa waktu terakhir.

__ADS_1


“A-Jie? Mengapa kau memaksakan diri?”


Baili Qingchen menyambutnya dan membantunya berdiri dengan tegak. Qingyi tidak berniat bicara atau mengusirnya, karena ia pikir ini juga akan menjadi kali terakhir bagi Xiao Junjie.


Qingyi dan Xiao Junjie sama-sama tidak tahu apakah Baili Qingchen bisa kembali atau tidak. Dalam hal ini, posisi mereka sama.


“Kau akan pergi jauh, mana mungkin aku berdiam diri. Aku ingin mengantarmu seperti satu tahun lalu,” ucap Xiao Junjie. Pria itu melirik Qingyi yang menatapnya dengan datar.


Baili Qingchen menerbitkan sebuah senyum kecil untuknya. Ah, itu sudah sangat lama.


Kala itu ia pergi ke luar kota untuk bertugas selama beberapa bulan sebelum dekret pernikahan dengan Qingyi tiba. Xiao Junjie mengantarnya dengan ketidakrelaan di hati dan menunggu sampai dia kembali.


“Seharusnya kau tetap beristirahat, tubuhmu ini belum pulih,” tegur Baili Qingchen.


“Dibandingkan dengan ini, penyakitku bukan apa-apa. A-Chen, perjalanan kali ini mungkin berbahaya, kau harus berhati-hati.”


Baili Qingchen mengangguk.


Qingyi berpura-pura mengalihkan pandangan ke arah lain. Matanya mengerling ke atas, ke samping kanan dan kiri secara bergantian.


Aneh, padahal ia sendiri yang memutuskan untuk mengizinkan Xiao Junjie mengantarkan Baili Qingchen bersamanya. Hatinya malah tidak senang, Qingyi malah merasa kegerahan.


Bisakah ulat bulu jantan bernama Xiao Junjie ini segera pergi? Mata Qingyi sudah gatal melihat intensitas percakapannya dengan Baili Qingchen yang terdengar sangat akrab dan mesra. Teliganya seperti kemasukan serangga, membuatnya tidak nyaman sampai bersiul pelan secara asal.


“A-Chen, mansion ini masih akan menuggumu.”


“Aku tahu.”


Setelah itu, Baili Qingchen menyuruh kepala pengurus mansion untuk membantu Xiao Junjie. Baili Qinghen berjalan menghampiri Qingyi. Qingyi menatapnya dengan kejutan di mata. “Ada apa lagi?”


Di luar perkiraan, pria itu meraih tubuhnya dan mencium bibirnya selama beberapa detik di hadapan semua orang. Cui Kong dan beberapa pengawal rahasia menundukkan kepala, begitu pula dengan kepala pengurus mansion. Hanya Xiao Junjie yang tetap mendongak mempertahankan posisi kepalanya dengan tegak.


Hati Xiao Junjie menjadi panas, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa. Baili Qingchen, pria kesayangannya itu sudah berubah sangat jauh.


Hatinya tidak hanya terbagi, bahkan bagian terbesarnya telah ia berikan kepada Qingyi. Xiao Junjie sakit hati, tapi posisinya sekarang sungguh tidak menguntungkan.


“Berjanjilah untuk tetap menungguku,” ujar Baili Qingchen setelah ia melepas senyumannya.

__ADS_1


Qingyi kehilangan kata, ia hanya mengangguk patuh seperti kucing. Qingyi tidak bicara sampai sosok Baili Qingchen menjauh dan menghilang dari pandangannya.


__ADS_2