
Luo Niang sudah ribut membangunkan seluruh penghuni mansion Raja Changle pagi-pagi sekali. Ia datang dengan kereta yang terparkir di depan gerbang.
Para penjaga tidak berani melarang karena orang yang berisik ini merupakan sepupu tuan mereka, sekaligus putri pendamping ibu dari tuan mereka. Seolah-olah sudah terbiasa, mereka menutup telinga dan membiarkan Luo Niang mengacau.
“Putri Luo, apa yang kau ributkan pagi-pagi begini?”
Xiao Junjie yang bangun lebih awal kemudian menghampirinya. Luo Niang menyambutnya dengan senyum jahil. Pendamping sepupunya ini pasti terbangun karena suara berisiknya.
Kalau begitu, biarkan ia ribut lebih berisik agar semua penghuni mansion, termasuk Qingyi dan Baili Qingchen juga terbangun.
“Aku mau bertemu Qingyi. Pangeran Kecil, apa kau tahu dia di mana?”
“Aku bukan pelayannya. Aku tidak tahu dia di mana,” ucap Xiao Junjie setengah jengah.
Mengapa pagi-pagi begini gadis ini harus ribut karena mencari Qingyi? Ayolah, Xiao Junjie bahkan tidak bisa tidur nyenyak semalam!
“Kalau begitu, aku akan mencarinya. Dia tidak ada di halaman barat, mungkin dia bersama A-Chen,” ujar Luo Niang. Xiao Junji langsung membulatkan matanya. Apa katanya tadi?
Namun, Luo Niang langsung pergi begitu saja. Xiao Junjie mengikutinya dengan harapan kalau perkataan Luo Niang tidak benar. Keduanya menuju halaman timur, tempat kediaman Baili Qingchen berada.
Sesampainya di sana, Baili Qingchen tampak sedang berdiri di bawah pohon persik yang sebentar lagi akan bersemi. Matanya menatap pohon itu penuh arti. Ada beragam kata yang terpendam namun tidak bisa diucapkan, tertahan di tenggorokannya yang tidak pernah kering.
Luo Niang melompat dan membuat Baili Qingchen terpaksa menahannya. Sepupunya yang semena-mena ini sudah ribut pagi-pagi, kini ia juga ingin menganggunya?
“A-Luo, diamlah!”
“A-Chen, di mana sepupu iparku yang manis dan cantik itu?”
Tepat saat Luo Niang selesai mengucapkan perkataannya, Qingyi keluar dari kamar Baili Qingchen dengan langkah malas. Pagi-pagi begini halaman timur sudah berisik dan Qingyi yang baru tidur beberapa jam jadi terusik.
Rupanya, ada Luo Niang yang tengah berbicara dengan Baili Qingchen. Luo Niang langsung menghampiri Qingyi dan mengabaikan Baili Qingchen yang menghela napas panjang untuknya.
“Kau bermalam di sini?” tanya Luo Niang.
“Oh, aku terlalu mengantuk untuk pergi ke halaman barat. Mengapa kau datang pagi-pagi begini?”
“Ada pertunjukan opera bagus hari ini. Aku ingin mengajakmu menontonnya bersama-sama.”
“Tidak. Aku malas keluar hari ini.”
“Qingyi, opera kali ini berbeda!”
Luo Niang kemudian membisikkan sesuatu di telinganya. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi Baili Qingchen dapat melihat kalau gadis itu berubah pikiran dalam sesaat.
Luo Niang sepertinya telah menghasutnya dengan sesuatu sampai Qingyi bersedia ikut bersamanya. Baili Qingchen hendak menyela ketika Luo Niang membawa Qingyi pergi, namun tangannya tertahan di udara.
Dia lupa kalau Xiao Junjie juga ada di sini. Xiao Junjie menatap Baili Qingchen dengan tatapan yang sulit diartikan, seolah-olah ia ingin semua jawaban dalam satu kata. Xiao Junjie mendekat padanya, lalu mengubah sinar matanya dalam sesaat. Dia tersenyum pada Baili Qingchen, dengan senyuman memikat yang sangat dikenal olehnya.
“Apa Putri Permaisuri mengacau lagi?” tanyanya.
“Dia hanya kembali merebut kamarku. Apa kau terbangun karena A-Luo?”
__ADS_1
“Yah, begitulah. Dia ribut pagi-pagi hanya untuk mencari Putri Permaisuri. A-Chen, apa kau akan pergi ke pengadilan hari ini?” tanya Xiao Junjie.
Baili Qingchen mengangguk, sementara ekspresi Xiao Junjie berubah sedikit demi sedikit. Menyadari perubahan itu, Baili Qingchen lantas bertanya, “Ada apa?”
“Hari ini hari peringatan kematian Pangeran Permaisuri Wang. Tidak apa, biar aku saja yang pergi,” jawab Xiao Junjie.
Jika Xiao Junjie tidak bicara, ia mungkin melupakannya. Benar, hari ini adalah hari peringatan kematian Wang Lingshan, istri pria pertamanya. Baili Qingchen mendesah panjang, sedikit terkejut karena ia melupakan tanggalnya.
Biasanya, setiap tahun ia yang paling dulu mengingatnya, lalu mengajak Xiao Junjie pergi mengunjungi makamnya. Mungkin karena akhir-akhir ini ia sibuk, ia jadi melupakannya.
“Kalau begitu, maaf sudah merepotkanmu, A-Jie,” tukas Baili Qingchen.
Hari ini sungguh datang dengan momen yang tidak tepat. Baili Qingchen tidak bisa pergi karena ada yang harus ia lakukan di istana.
“Ya. Aku akan menyampaikan padanya kalau kau tengah sibuk. Dia pasti akan mengerti.”
Baili Qingchen mengangguk lalu senyumnya terbit.
...***...
Siang hari itu, Luo Niang membawa Qingyi jalan-jalan menyusuri ibukota kekaisaran. Karena identitas mereka spesial, mereka pergi tanpa pengawalan dan menyamar menjadi gadis bangsawan ibukota. Layaknya seorang primadona, Qingyi dan Luo Niang berhasil memikat sekumpulan pria tampan yang kebetulan berpapasan dengan mereka.
Namun dengan sifat Luo Niang yang ketus dan jutek, para pria tampan itu langsung menundukkan wajah mereka. Secantik apapun seorang wanita, jika temperamennya kurang baik maka tidak akan ada pria yang berani mendekatinya. Itulah yang terjadi pada Luo Niang.
Jangankan mendekat, mereka lebih dulu lari terbirit-birit saat baru ditatap olehnya saja. Qingyi merasa aman bersama gadis itu. Meskipun dalam cerita asli tidak banyak bagian yang mengisahkan mereka, namun di sini dia bisa mengukir ceritanya sendiri.
Qingyi mengikuti Luo Niang ke sebuah gedung baru yang dari jarak lima puluh meter sudah tercium aroma wangi yang khas. Qingyi jadi penasaran jenis parfum apa yang bisa tercium hingga jarak sejauh ini.
“A-Luo, apa kau tidak salah membawaku kemari?” tanya Qingyi tak percaya.
Bagaimana tidak, Luo Niang membawanya ke tempat dengan pria tampan yang menari di atas ribuan bunga!
“Kenapa?”
“Dengan status kita, bukankah kurang pantas mengunjungi rumah bordil pria seperti ini?”
Qingyi hampir tersedak permen karet yang dikunyahnya sendiri. Tidak disangka, ternyata di dalam dunia ini pun ada rumah bordil yang mempekerjakan pria sebagai penghibur.
Qingyi tidak percaya jika dia tidak melihatnya secara langsung. Di sini, puluhan pria berparas rupawan menjual bakat dan kemampuan mereka, menyenangkan beberapa wanita yang ‘kurang kasih sayang’. Ini agak menjijikan bagi Qingyi.
“Kita di sini untuk menonton opera, bukan menyewa jasa mereka. Ikuti aku!”
Qingyi diam di tempatnya, lalu berbalik hendak meninggalkan gedung ini. Baginya, ini tidak masuk akal. Melihat banyak pria berperilaku seperti wanita penghibur membuat matanya gatal. Qingyi tidak tahan. Satu Xiao Junjie saja di mansion sudah membuatnya mual, bagaimana bisa ada puluhan Xiao Junjie di sini?
Akan tetapi, Luo Niang menahannya. Gadis itu menariknya ke lantai atas, ke tempat khusus yang diperuntukkan untuk tamu istimewa. Token tadi membuat mereka mendapatkan tempat terbaik untuk menonton pertunjukkan dari lantai dua. Seteko anggur beserta cangkirnya datang bersama beberapa piring camilan.
“Kau tahu mengapa opera di gedung ini begitu terkenal?” tanya Luo Niang. Qingyi menggelengkan kepala tanda tak tahu.
“Itu karena semua pemainnya adalah pria paling tampan dan berbakat di ibukota kekaisaran. Lakon yang dibawakan adalah kisah yang tidak pernah didengar di manapun. Meskipun mereka pria, tapi bakat mereka sangat luar biasa.”
“Kau sering mengunjungi tempat seperti ini?”
__ADS_1
“Tentu saja tidak. Aku hanya datang ketika pertunjukkan Opera Tujuh Warna. Mereka pernah diundang ke istana saat jamuan ulang tahun Ibu Suri dua tahun lalu.”
Ia tidak tahu mengapa disebut dengan Opera Tujuh Warna. Yang jelas, semua pemain operanya adalah pria. Tujuh pria tampil pertama sebagai pemeran utama, bernyanyi dan bersyair puisi.
Riasan khas pemain opera memoles wajah mereka, disertai dengan beragam aksesoris yang membuat mereka tampak seperti wanita.
Qingyi mulai hanyut dalam cerita. Ia tidak menyadari kalau penonton opera ini tidak hanya para wanita, tetapi juga pria. Ceritanya begitu apik dan disajikan dengan sangat baik, sampai orang-orang berpikir bahwa lakonnya berasal dari kisah nyata.
Qingyi melihatnya sebagai sebuah seni pertunjukkan yang bagus, terlepas dari siapapun pemainnya. Luo Niang benar, mereka sangat berbakat. Pantas saja mereka pernah dipanggil ke istana dan tampi di jamuan ulang tahun Janda Permaisuri Ming.
“Mereka lebih cantik daripada bunga persik di musim semi,” puji Qingyi.
“Yah, para pemain opera ini menjual bakat mereka, bukan menjual diri. Itu sebabnya banyak yang mengagumi mereka.”
“Tapi, ngomong-ngomong, apa sungguh tidak akan masalah jika kita datang kemari?”
“Kenapa? Kau taku A-Chen memarahimu karena memandang pria lain?” goda Luo Niang.
“Cih…Pria itu tidak berselera padaku. Lagipula, dia tidak akan punya waktu untuk tertarik pada wanita. Mungkin saja dia sedang asyik menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu,” decih Qingyi.
“Yo, apa Putri Permaisuri Changle kalah bersaing dengan Pangeran Permaisuri Changle?”
Luo Niang tertawa renyah. Membayangkan betapa lucunya persaingan seorang wanita dan seorang pria memperebutkan sepupunya membuatnya seperti digelitik, sangat geli namun menyenangkan.
Luo Niang mendengar kabar kalau akhir-akhir ini mansion Raja Changle menjadi lebih ramai karena Qingyi. Ada yang berubah, termasuk sepupunya. Orang-orang sering bergosip kalau Raja Changle mulai memperhatikan permaisurinya.
“Untuk apa aku bersaing dengan pria sepertinya?”
Luo Niang kembali menertawakan Qingyi. Beberapa hari lalu ia mendengar kabar kalau Qingyi membuat lima belas guru istana dari Divisi Istana Dalam mengeluh karena tidak sanggup mengajarinya.
Kemarin saat Janda Selir Sun memanggilnya ke istana, Luo Niang kebetulan sedang keluar hingga tidak bisa ikut. Namun, ia mendengar dari pelayan kalau Qingyi hampir dipermalukan oleh Kaisar Baili dan Baili Qingchen membelanya lalu membawanya pergi.
Ia pikir, sesuatu yang besar benar-benar akan terjadi.
“Kau mau bertaruh? Kalau A-Chen benar-benar berubah karenamu, aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”
“Tidak,” tolah Qingyi. Matanya tertuju pada pintu masuk, lalu alarm tanda bahaya berbunyi di otaknya.
“Tapi, kupikir kita mungkin harus segera kabur dari sini.”
Luo Niang mengernyit. Ia mengikuti arah pandang Qingyi dan menemukan Cui Kong beserta beberapa pengawal mansion Raja Changle bergegas masuk ke dalam gedung sembari mencari keberadaan mereka. Raut wajah keduanya seketika berubah panik.
“Bukankah sudah kutanyakan berkali-kali padamu tadi?” ucap Qingyi.
“Aku tidak benar-benar berpikir kalau A-Chen akan mengirimkan pengawalnya untuk mengawasi kita. Tunggu apa lagi? Ayo lari!”
Luo Niang dan Qingyi bersiap untuk kabur, namun Cui Kong menemukan mereka terlebih dahulu.
“Itu mereka!” serunya.
Para pengawal mansion Raja Changle langsung bergegas ke lantai atas untuk menangkap Putri Permaisuri Changle dan membawanya pulang ke mansion, juga menangkap Putri Luo dan mengembalikannya ke istana.
__ADS_1
“Sial! Kenapa penglihatan Kongkong begitu tajam?” kesal Qingyi. Ia segera berlari menuju jendela dan bersiap melompat dari sana.