Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 107: Masih Ada Tempat


__ADS_3

Malam harinya, bulan menggantung di atas langit Bingyue.


Musim semi masih berlanjut, dan mansion Raja Changle setia mengikutinya sepanjang waktu. Selain halaman utara yang telah sepi, kediaman lainnya masih terlihat menyalakan lampu. Halaman barat adalah yang paling ramai, karena di sana, pemiliknya tengah mengadakan jamuan kecil-kecilan.


Di tengah halaman yang luas itu, Qingyi meminta pelayan dapur untuk membawakan tungku, bara api, dan juga daging-daging segar yang sudah dibumbui sebelumnya. Dia juga menyuruh pelayan menggelar tikar yang lebar yang bisa diduduki banyak orang. Pelayan laki-laki menyalakan api dan memanggang daging, sementara pelayan wanita menyiapkan makanan lain.


Yang paling bersemangat adalah Cui Kong. Mendengar Putri Permaisuri ingin mengadakan makan malam di taman, dia datang paling awal dan bekerja paling keras.


Menurutnya, ini sama seperti makan malam bersama pasukan di kamp militer. Dia memerintah pelayan seperti seorang komandan perang memerintah pasukannya.


“Berbicara soal makanan, dia menjadi begitu bersemangat,” celetuk Qingyi yang tidak habis pikir dengan tingkah laku pengawal pribadi Baili Qingchen itu.


Saat ini, dia duduk di sebuah tikar yang terpisah dari tikar besar, yang letaknya sedikit lebih jauh dari pembakaran. Itu dilakukan karena pelayan pasti merasa tidak leluasa jika berdekatan dengan Raja dan Putri Permaisuri Changle mereka, meski Qingyi dan Baili Qingchen tidak keberatan.


Baili Qingchen tersenyum sekilas. Ya, akhir-akhir ini hidup Cui Kong seperti bergairah kembali. Semangatnya sering meluap-luap seperti remaja, padahal usianya sudah lumayan tua.


Baili Qingchen menyodorkan daging panggang yang disumpitnya ke depan mulut Qingyi, menyuruh gadis itu untuk melahapnya.


Sebenarnya, memakan daging pada malam hari adalah pantangan untuknya karena bisa membuatnya cepat gendut. Namun, akhir-akhir ini tubuhnya menjadi kurus akibat kelelahan mengurus urusan Istana Harem yang pelik sampai harus menjatuhkan ibu mertuanya sendiri.


Makan daging panggang beberapa potong dalam satu malam nampaknya tidak akan menjadi masalah besar.


Qingyi membuka mulutnya dan Baili Qingchen menyuapkan daging panggang tersebut. Baili Wuyuan berada di tengah, bola nasi kecil itu mulutnya penuh dengan daging panggang.


“Mungkin dia merindukan teman-temannya di kamp militer,” ucap Baili Qingchen setelah dagingnya dimakan Qingyi.


“Kalau begitu, kirim saja dia kembali. Kurasa itu tidak akan buruk untuknya.”


Baili Qingchen menggelengkan kepala.


“Meskipun begitu, dia adalah pengawal pribadiku. Posisinya tidak hanya bawahan, tapi juga orang terdekat yang kupercayai.”


Ah, itu bukan urusan Qingyi. Cui Kong baginya hanya variabel tambahan seperti Janda Selir Sun dan yang lainnya. Ada atau tidak, rasanya sama saja. Qingyi mempertahankannya dan tidak meminta sistem untuk mendepaknya karena Cui Kong bisa ia perintah sesuka hati seperti Yinghao.


“Bibi, orang-orang di istana bilang bahwa Paman Kakek sebenarnya berhati kejam dan sangat dingin. Sebelum menikah denganmu, dia menjatuhkan reputasinya sendiri demi melindungi Ayahanda. Tapi, mengapa Ayahanda begitu waspada kepada Paman Kakek?”

__ADS_1


Qingyi menatap horror pada Baili Wuyuan. Oh, bocah kecil nakal ini ternyata sangat menyebalkan. Tidak bisakah dia mengatakan itu nanti saja?


Baili Wuyuan menanyakannya dengan jelas secara langsung di hadapan Baili Qingchen, dan Qingyi mulai merasa atmosfer kelam menjalar dari sekujur tubuh Baili Qingchen.


“Bola nasi kecil, mengapa kau tidak menanyakan langsung pada Paman Kakekmu? Dia ada di depanmu sekarang, untuk apa kau bertanya padaku?”


“Karena aku takut perkataan orang-orang itu benar,” jujur Baili Wuyuan. Sudut mata Baili Qingchen berkedut. Bahkan bocah kecil ini memiliki sedikit ketakutan kepadanya.


“Lalu, apa yang membuatmu tidak takut sekarang?” tanya Qingyi.


“Karena bibi ada di sini. Paman Kakek sangat menyayangi bibi, dia tidak akan memarahiku jika bibi mendampingiku.”


Sialan anak ini! Berani-beraninya dia memanfaatkan Qingyi!


Baili Qingchen menahan senyumnya. Akhirnya, ada seseorang yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan istrinya yang gila ini. Dia tidak berniat menjawab pertanyaan cucu kecilnya, karena ia berpikir suatu saat Baili Wuyuan akan mengerti sendiri alasannya.


Ketika tengah malam tiba dan semua orang telah kenyang, satu persatu dari mereka meninggalkan halaman barat sambil membersihkan kembali sisa makanan yang tersisa. Qingyi mungkin mengizinkan tamannya dikunjungi dan dipakai, tapi bukan berarti ia bisa menerima jika halaman kesayangannya dikotori.


Tidak ada yang bisa menggambarkan perasaan terima kasih mereka pada Qingyi. Meskipun Putri Permaisuri Changle itu gila dan tidak masuk akal, namun kemurahan hati dan keramahannya tidak bisa tidak diakui. Dia memperlakukan pelayan dengan baik, walau kata-katanya kadang membuat orang jantungan.


“Tidur,” ucapnya.


“Bibi, aku ingin tidur denganmu!” Baili Wuyuan ribut.


“Tidak boleh!” seru Qingyi.


“Mengapa?”


“Pria dan wanita tidak boleh tidur bersama atau terlalu dekat.”


“Tapi, umurku masih tujuh tahun.”


“Wuyuan, turuti kata bibimu dan pergilah ke halaman timur, cari kamarmu sendiri,” ucap Baili Qingchen.


Baili Wuyuan menolak. Malam ini, dia ingin tidur bersama nenek mudanya. Anak kecil itu berlari masuk ke dalam kamar Qingyi dan tidak keluar lagi.

__ADS_1


Baili Qingchen ingin membawanya secara paksa, namun Qingyi mengatakan bahwa biarkan saja bola nasi kecil tidur di sana. Besok, Baili Qingchen harus membawanya kembali ke istana.


Menuruti apa kata permaisurinya, pria itu lantas berdiri, merapikan pakaiannya sebentar kemudian pergi dari halaman barat. Bulan di atas masih menggantung, tetapi Baili Qingchen tidak lagi punya alasan untuk tetap berada di sini.


Ia tahu, jika ia tinggal lebih lama, Qingyi pasti akan mengusirnya dengan ribut. Gadis itu selalu berubah suasana hatinya tanpa bisa ditebak.


Tiga jam kemudian, ketika dini hari tiba dan udara menjadi dingin dari tengah malam, Qingyi keluar dari kamarnya dengan wajah lelah.


Dini hari begini gadis itu berjalan di tengah taman, berputar-putar beberapa kali sambil menghela napas. Seharusnya dia tidak mencegah Baili Qingchen untuk membawa bola nasi kecil keluar dari kamarnya tadi.


Yah, bocah nakal itu punya kebiasaan tidur yang jelek. Dia terlelap, lalu menghabiskan seluruh tempat tidur Qingyi dengan tangan dan kakinya. Selain kain seprai yang berantakan, sisanya tidak ada ruang untuk Qingyi berbaring.


Qingyi ingin pergi ke ruang dimensi, namun Yinghao marah padanya dan menutup sementara ruang dimensi sampai besok. Hal itu membuat Qingyi kesal dan frustasi. Lain kali, dia akan memukuli Yinghao dan memberinya pelajaran yang lebih berat.


Sepasang kaki kecilnya melangkah melewati gerbang, lalu menyusuri jalan di taman-taman mansion yang redup dihiasi cahaya lentera. Udara dingin menusuk tulang, Qingyi seperti gadis terlantar. Dia mempercepat langkahnya, kemudian sampai di halaman timur setelah beberapa saat.


Di depan temepat tidur Baili Qingchen, dia berjongkok. Suaminya kebetulan sedang dalam posisi tidur menyamping. Wajah pria itu begitu damai dan tampak lembut ketika tertidur.


Hidung mancungnya seperti sebuah pahatan tanah liat yang dibuat dengan sangat hati-hati. Qingyi memandanginya untuk beberapa saat.


Baili Qingchen, yang tidak pernah benar-benar terlelap dalam tidurnya kemudian membuka matanya. Dia terkejut, namun bukan itu yang penting sekarang. Dalam posisinya yang menyamping, dia bertanya dengan pelan, “Putri Permaisuri, apa yang kau lakukan di kamarku dini hari begini?”


“Bola nasi kecil mendominasi tempat tidurku. Aku bahkan tidak memiliki satu tempat untuk membaringkan tubuhku.”


Mendengar itu, Baili Qingchen tersenyum lembut. Istrinya ini tidak punya tempat lain rupanya. Baili Qingchen menjulurkan tangannya, merangkul Qingyi dan menariknya ke atas tempat tidurnya. Qingyi tidak bertenaga, dia seperti disihir oleh kekuatan magis yang besar.


Gadis itu sudah berbaring di sisi Baili Qingchen, dan pria itu tengah merangkulnya.


“Ranjangku masih memiliki tempat yang luas untuk menampung tubuh kecilmu.”


Baili Qingchen mendekapnya dengan hangat. Hembusan napas teraturnya menerpa rambut-rambut di kepala Qingyi. Entah mengapa, Qingyi merasa begitu nyaman akan posisi ini.


Tubuh Baili Qingchen yang kekar ini menyimpan kehangatan yang membuat orang merasa nyaman. Tidak peduli dengan apa yang akan terjadi setelah dia bangun nanti, biar dipikirkan nanti saja.


Gadis itu menyusupkan kedua lengannya, melingkari tubuh Baili Qingchen dan jemari tangannya terjalin di belakang punggung. Qingyi mencari posisi ternyaman untuk menyusupkan kepalanya, lalu setelah menemukannya, dia terlelap. Kedua orang itu berakhir tertidur sambil berpelukan, saling menghangatkan di tengah udara dingin dini hari yang menusuk.

__ADS_1


__ADS_2