Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 138: Pengkhianat Pengadilan


__ADS_3

“Yang Mulia, meskipun kau adalah Pengawas Negara, tetapi tindakanmu hari ini bukankah sangat tidak sopan? Kaisar telah memerintahkanku untuk menangani kasusnya secara langsung, Yang Mulia tidak perlu mencampurinya lagi, bukan?”


Asisten Menteri Pengadilan Tinggi di kantor Pengadilan Tinggi Kekaisaran, Chu Hao merasa tindakan Baili Qingchen yang menginspeksi kantornya secara mendadak merupakan sebuah pelanggaran. Kaisar Baili telah memberikan titah untuk mengurus kasus pembunuh Paviliun Litao dan insiden hari itu, seharusnya Raja Changle tidak perlu lagi ikut campur.


Selain itu, Raja Changle ini datang tanpa pemberitahuan dan tiba-tiba saja menggeledah kantor Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Baginya, ini adalah sebuah bentuk penghinaan.


Menteri Pengadilan Tinggi, Gao Lian sedang tidak ada di kantor karena suatu urusan. Kantor Pengadilan Tinggi Kekaisaran yang bermartabat tiba-tiba diinspeksi, Chu Hao tidak senang. Ia merasa Raja Changle ingin mempermalukan Pengadilan Tinggi Kekaisaran dan menganggapnya tidak becus dalam menangani kasus.


“Di mana Gao Lian?” tanya Baili Qingchen, tanpa berniat memberikan penjelasan pada Chu Hao.


Saat ini, pasukan pengawal kekaisaran sudah mengepung tempat itu. Semua orang di sana mau tak mau berkumpul sesuai instruksi. Mereka menatap satu sama lain dengan bingung, ada juga yang cemas karena takut melakukan kesalahan.


Raja Changle bukan orang yang mudah dihadapi, jika sedikit saja kesalahan terlihat, mereka akan terancam. Mereka semakin ketakutan kala mengingat bahwa tahanan penting telah melarikan diri dari penjara.


“Menteri Gao Lian sedang menyelesaikan suatu urusan. Yang Mulia, bisakah kau memberitahuku apa maksud tindakanmu hari ini?”


Chu Hao sangat kurang ajar. Di hadapan Raja Changle yang agung, dia berani menatapnya tanpa rasa takut, bahkan ada sedikit rasa risih tergambar jelas di wajahnya.


Padahal dia tahu jika Raja Changle adalah wali sah Kaisar Baili dan Pengawas Negara, sekaligus paman dari sang kaisar. Menghadapinya secara langsung, Chu Hao memang patut diberikan tepuk tangan.


“Kau masih bertanya alasanku meskipun kau sudah tahu? Apa begini cara kerja Pengadilan Tinggi Kekaisaran tanpa pengawasanku?” ucap Baili Qingchen dengan tajam.


Tersirat intimidasi yang dalam dari tatapan matanya yang seperti elang, membuat semua orang takut dengan aura dingin dan mencekam itu.


Baili Qingchen sengaja datang tanpa pemberitahuan agar pelaku yang membebaskan kepala pembunuh Paviliun Litao tidak sempat kabur. Tempat ini sudah tercemar oleh orang kotor dan harus segera dibersihkan.


Jika tidak, pelaku-pelaku kejahatan berat yang lainnya bisa saja berkeliaran dengan bebas. Bingyue pasti akan kacau dan Baili Qingchen sangat tidak menginginkan itu.


Pria itu menatap Chu Hao dengan teliti.  “Jika aku datang dengan pemberitahuan, apa kau bisa menjamin semua pejabatmu datang untuk bekerja?”


Mungkin saja hampir setengah dari pejabat Pengadilan Tinggi Kekaisaran absen. Chu Hao terdiam, tidak bisa membantah perkataan Baili Qingchen. Beberapa orang mulai mengigil ketakutan. Firasat mereka mengatakan kalau hari ini tidak akan berjalan dengan lancar sebagaimana biasa.


Baili Qingchen menyapu pandangan secara menyeluruh. Raut wajahnya yang dingin sangat serius.


“Bukankah kalian tahu dengan jelas seperti apa akhir seseorang yang mengkhianati pengadilan?”


Jelas mereka tahu. Pelaku utama akan dibunuh di tempat, anggota keluarga yang tidak bersalah akan diasingkan. Atau bisa jadi semuanya dimusnahkan. Pejabat di tempat itu seketika merasa kesal dan marah karena di tempat mereka ternyata ada seorang pengkhianat yang berani membantu pelaku kejahatan berat melarikan diri.


“Bukankah kau juga mengetahuinya dengan jelas, Asisten Menteri Pengadilan Tinggi Chu?”

__ADS_1


Chu Hao mengigil. Dia seperti mendapat teguran dan serangan secara langsung. Dengan canggung, dia bertanya kepada Baili Qingchen, “Apa maksud Yang Mulia?”


“Aku hanya bertanya. Kau bukan pelakunya, untuk apa kau takut?”


Chu Hao semakin gelisah. Perkataan Raja Changle barusan seolah-olah menandakan bahwa dia adalah pelakunya secara tidak langsung. Keberaniannya dalam menghadapi Raja Changle tadi hilang begitu saja.


Sekarang, ia bahkan ragu untuk sekadar menatap mata pria itu. Seandainya saja Menteri Gao ada di sini, dia mungkin tidak akan dibuat segelisah ini.


Cui Kong yang berdiri di belakang Baili Qingchen diam-diam tersenyum. Trik memainkan psikologis ini pasti diambil dari Putri Permaisuri. Orang yang bisa memainkan perasaan dan emosi seseorang, terutama ketika melawannya sampai membuatnya terpojok dan merasa gelisah sendiri hanyalah Qingyi.


Biasanya, rajanya akan bertindak secara langsung dengan menunjuk dan menangkap orang. Namun, karena ini adalah kasus besar, tentu saja tidak bisa dilakukan semudah itu.


Cui Kong yakin dengan pasti jika rajanya punya rencana sendiri. Walaupun surat pemberitahuannya bersifat rahasia, namun Pengadilan Tinggi Kekaisaran memang harus bertanggungjawab penuh dan memberinya penjelasan.


Baili Qingchen menatap semua orang, kemudian berseru, “Bawa kedua orang itu!”


Cui Kong langsung menuruti perintah. Pasukan pengawal langsung menangkap dua orang pejabat kecil yang berdiri di tengah-tengah. Keduanya terkejut bukan main, wajahnya menjadi putih.


Tidak disangka, Raja Changle malah dengan mudah mengetahuinya. Dua pejabat kecil itu menggigil, kemudian berteriak dan mengatakan bahwa mereka tidak bersalah dan pasti difitnah.


“Kalian! Beraninya kalian mengotori kantor Pengadilan Tinggi Kekaisaran yang suci ini!” Chu Hao berkata dengan emosi sambil menampar dan menendang dua pejabat kecil itu.


“Tuan, itu tidak benar! Kami difitnah! Yang Mulia, mohon diselidiki dengan jelas! Kami tidak bersalah!” mohon dua pejabat itu.


Sial, Raja Changle terlalu pintar! Mereka harus bisa melepaskan diri dari semua ini! Jika tidak, semuanya akan sia-sia!


“Tutup mulutmu! Apa kau pikir Yang Mulia Raja menangkap orang yang salah?”


Chu Hao yang tadinya tidak senang justru berpihak kepada Baili Qingchen dengan cepat. Ia tidak menyangka ternyata kotoran kecil yang sudah mengkhianati Pengadilan Tinggi Kekaisaran ternyata dua pejabatnya sendiri. Dengan emosi yang meledak-ledak, Chu Hao memukul mereka sampai dua pejabat itu babak belur.


Baili Qingchen menyaksikan itu semua dengan santai. Baginya, perkelahian seperti itu hanyalah sebuah tontonan kecil yang tidak bermakna. Setelah melihat Chu Hao puas memukuli dua pejabatnya, barulah Baili Qingchen menyuruh Cui Hao untuk membawa mereka ke penjara.


Napas Chu Hao masih cepat. Asisten itu berbalik menghampiri Baili Qingchen dan menunduk memohon maaf. “Yang Mulia, mohon maafkan kelancangan sikapku tadi. Aku benar-benar tidak menyangka jika Pengadilan Tinggi Kekaisaran memiliki dua benalu seperti mereka.”


Baili Qingchen hanya menatapnya datar. “Jadi, apakah aku harus mengurus hal selanjutnya?”


Chu Hao menggelengkan kepala dengan cepat. “Tidak. Hal sepele seperti itu tidak perlu merepotkan Yang Mulia. Aku pasti akan membersihkan Pengadilan Tinggi Kekaisaran dan melaporkannya kepada Yang Mulia dan Yang Mulia Kaisar.”


Baili Qingchen mengangguk puas. Ia rasa, pancingan dan umpan yang ia lemparkan sudah mengenai sasaran. Ia hanya perlu menunggu sampai pelakunya memunculkan diri. Hal setelah ini tidak perlu ia turun tangan lagi, karena Chu Hao jelas mengerti maksud dari perkataannya.

__ADS_1


Setelah itu, dia membawa pasukan pengawal istana dan Cui Kong pergi dari Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Chu Hao menarik napas lega. Dengan setengah emosi menyuruh semua bawahannya untuk mendengar baik baik perkataannya.


Tidak boleh ada pengkhianat di Pengadilan Tinggi Kekaisaran, karena tempat itu merupakan tangan kanan Kaisar Baili dalam mengadili pelaku kejahatan berat.


“Yang Mulia, apa kau yakin dua pejabat kecil itu adalah pelakunya? Mengapa Yang Mulia tidak menangkap Chu Hao sekalian saja? Bukankah Yang Mulia mencurigainya?” tanya Cui Kong setelah mereka sampai di luar area Pengadilan Tinggi Kekaisaran.


“Mengapa otakmu masih bodoh? Kau pikir pelakunya akan muncul semudah itu?”


Cui Kong menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Oh, dia tidak terlalu pandai menebak pemikiran Raja Changle. Mungkin sebaiknya dia pergi menemui Putri Permaisuri untuk menanyakan apakah wanita itu mengetahui arah pemikiran Raja Changle dan apa tindakan yang akan dilakukan setelahnya.


***


Liu Erniang tengah menyesap tehnya dengan santai ketika pelayan setianya datang untuk melaporkan sesuatu. Pengurungan yang diberikan kepadanya oleh Kaisar Baili tidak lantas membuatnya menjadi putus asa dan berdiam diri. Sebaliknya, dia memanfaatkan kesempatan ini untuk bergerak selangkah lebih awal.


Meski tidak bisa melawan atau membantah saat Kaisar Baili memarahinya karena telah memberikan rencana busuk untuk Zhao Ping’er dan mengancam nyawa Janda Permaisuri Ming, Liu Erniang tidak menyerah. Saat itu ia hanya memecahkan puluhan barang berharga sambil mengumpati Qingyi dan Raja Changle.


Setelah kemarahannya mereda, dia mulai bersikap tenang dan pikirannya kembali berputar. Situasi semakin tidak menguntungkan untuknya. Jadi, dia akan menggunakan bantuan terakhir yang ditinggalkan ayahnya sebelum meninggalkan kota kekaisaran. Dengan bantuan itu, ia memiliki sedikit harapan.


“Jadi, Kaisar memberitahu secara rahasia kalau tahanannya kabur dari penjara?”


Pelayan mengangguk. “Raja Changle juga menginspeksi Pengadilan Tinggi Kekaisaran hari ini dan menangkap dua orang itu.”


Liu Erniang menyeringai. Gelas di tangannya ia putar perlahan, senyum jahatnya terukir dan mata tajamnya dipenuhi kelicikan. “Tampaknya, Kaisar sudah mulai mempercayai pamannya itu. Menurutmu, apakah itu bagus atau tidak?”


Pelayan tidak menjawab karena ini adalah pertanyaan menjebak. Dia membiarkan majikannya menjawabnya sendiri. Liu Erniang mendecih kecil.


Kaisar Baili, suaminya itu memang seperti kucing kecil yang mudah tunduk pada orang. Hanya karena beberapa tindakan Raja Changle yang mulia, dia sudah mulai mempercayainya.


Liu Erniang jelas tidak bisa membiarkannya. Jika Kaisar Baili menjatuhkan semua kepercayaannya kepada Raja Changle, maka jalan yang akan dilaluinya di depan akan sangat sulit. Liu Erniang harus segera bertindak lebih awal jika tidak ingin dirinya dipersulit di masa depan.


“Akan sangat seru jika mereka saling meragukan. Ah, apa orang itu sudah pergi?”


“Sudah, Nyonya. Penjaga kediaman melaporkan jika dia sudah meninggalkan kota kekaisaran tengah malam tadi.”


Liu Erniang menghela napas panjang. Dia paling tidak suka membantu orang, namun karena orang itu memiliki sesuatu yang penting dan tidak boleh mati, dia terpaksa membantunya.


Dia juga sudah menyiapkan rencana lain jika suatu saat ia dicurigai. Setidaknya, ia masih punya satu kambing hitam untuk digunakan.


“Bagus. Kuharap atasannya tahu budiku dan tidak akan mengkhianatiku.”

__ADS_1


Liu Erniang bernapas pelan sambil memegangi perutnya.


__ADS_2