
Selepas makan malam, Qingyi dan Baili Qingchen memutuskan mampir sebentar ke pasar malam. Kota kekaisaran saat ini sedang mengadakan festival akhir musim dingin. Sebenarnya hanya Qingyi yang ingin pergi, dan Baili Qingchen terpaksa menurutinya karena ia tidak mau gadis itu berulah lagi.
Qingyi mengeratkan jubah berbulunya. Kalau saja ada waktu, ia pasti pergi ke ruang dimensi sebentar dan mengambil satu set pakaian musim dingin dari wol yang hangat.
Meskipun musim dingin di Bingyue tidak seekstrim seperti di negara-negara Eropa dan Amerika, tapi suhunya tetap membuat orang menggigil jika berpakaian tipis. Salju tipis yang menyelimuti kota sudah hampir menyatu dengan warna tanah.
Dia tidak pernah benar-benar memperhatikan musim yang sedang berlangsung sejak datang kemari. Jika dipikir kembali, pada saat dia terbangun di gudang kediaman perdana menteri dengan banyak luka siksaan, memang sedang musim dingin. Sekarang, musim dingin sudah berakhir dan musim semi hendak kembali.
Oh, ia tiba-tiba teringat akan sisa harinya untuk menyelesaikan misi!
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Baili Qingchen ketika ia melihat Qingyi terdiam.
Gadis itu berhenti di tengah jalan, menatap langit namun tidak ada sinar sama sekali di matanya.
“Tidak apa-apa. Yang Mulia, aku mau pulang.”
Baili Qingchen tidak tahu apa yang menyebabkan istrinya tiba-tiba berubah pikiran dan memutuskan untuk pulang. Yang jelas, dia bisa melihat kalau suasana hati Qingyi memburuk. Karena hari memang sudah malam, ia menyetujuinya.
Kereta kuda yang terparkir di halaman restoran Jinfeng sudah sampai, lalu sepasang suami istri itu masuk dan kereta mulai melaju meninggalkan pasar malam.
Xiao Junjie mengintip dari balik jendelanya, dengan perasaan campur aduk. Dia melihat Baili Qingchen dan Liu Qingyi pulang bersama larut malam. Ada yang mencubit hatinya.
Ia akui ia memang tidak bisa berbuat banyak saat Baili Qingchen ditahan dan hanya bisa menuruti perintah Qingyi untuk tetap diam sembari menunggu kepulangan Baili Qingchen. Tapi yang membuatnya sedikit gelisah ialah kenyataan bahwa Baili Qingchen sama sekali belum bicara padanya sejak kembali.
Gelisah dan marah sudah biasa. Sebagai orang yang sudah lama tinggal di sisinya selama bertahun-tahun, Xiao Junjie merasa kalau mansion ini tidak lagi sama. Tempat ini tidak lagi memberikan kehangatan seperti dulu, tidak lagi memberinya ruang yang bebas.
Dulu, dia dan Baili Qingchen sering menghabiskan waktu bersama dengan berdiskusi atau pergi mengelilingi kota. Kini, jangankan berjalan bersama, untuk bertemu pun rasanya sangat sulit.
Xiao Junjie mulai merasa kalau Qingyi adalah jarak terbesar yang memisahkan dia dengan Baili Qingchen.
Di pikirannya sama sekali tidak terlintas untuk meninggalkan Baili Qingchen. Xiao Junjie akan tetap bertahan meski hidupnya mungkin tak lagi sama. Dia menatap pria itu dari kejauhan dengan mata sendu, dan tidak ada seorang pun yang melihat ekspresinya.
Tatapannya sekilas beralih pada Qingyi yang raut wajahnya sungguh buruk. Xiao Junjie menebak bahwa gadis itu mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk. Setelah bayang-bayang Baili Qingchen hilang dekat taman halaman timur, dia menutup jendela dan mematikan lilinnya.
Qingyi mendudukkan dirinya di kursi malas yang ada di taman. Yinghao kemudian datang dengan wujud manusianya dan duduk di seberang kursi Qingyi. Tadi, dia menyembunyikan dirinya dan tidak muncul sesuai perintah Qingyi. Tuannya yang tidak konsisten itu menyuruhnya mendengarkan sampai akhir.
“Yinghao, kirimkan surat ini ke sana dan pastikan Kaisar Chen menerima dengan tangannya sendiri,” ujar Qingyi. “Baik, Tuan.”
Yinghao mengeluarkan sebuah kotak pengantar surat ajaib dari ruang dimensi. Surat itu masuk ke dalam kotak, lalu tak lama kemudian terbanglah seekor merpati dengan kecepatan sangat tinggi. Dengan kecepatan itu, bisa dipastikan surat yang ditulis Baili Qingyan akan sampai dalam dua jam.
“Apa ada opsi untuk menambah hari?” tanya Qingyi.
“Ada apa, Tuan?”
“Sisa waktuku tinggal sedikit, tapi aku bahkan tidak yakin sampai mana cerita ini berjalan.”
“Mungkin, kau bisa menukarkan beberapa item di ruang dimensi untuk mendapatkan tambahan waktu.”
Tanpa pikir panjang, Qingyi langsung masuk ke ruang dimensi. Dia memilah beberapa barang miliknya di lemari, lalu dikeluarkan semuanya.
Pada saat ini, dia kebingungan karena semua barang ini adalah barang kesayangannya. Apalagi, semuanya didapatkan dengan jerih payahnya sendiri.
__ADS_1
Apa yang harus dia tukarkan?
Mesin pijat otomatis? Tidak, itu terlalu berharga. Dia harus menempuh perjalanan sangat jauh untuk menyelesaikan misi khusus sebelum mendapatkannya.
Satu set senjata api? Oh, jangan. Hidup di dunia bersama Baili Qingchen seperti medan perang yang penuh marabahaya. Jika ditukar, Qingyi tidak yakin berapa lama nyawanya bisa bertahan.
Stik golf? Menurutnya tidak bisa. Stik golf itu sangat fleksibel dan sudah banyak membantunya memukuli orang. Kalau ditukar, dia bisa kesulitan.
Ah, Qingyi jadi geram sendiri. Semua ini terlalu berharga. Tapi, jika tidak ditukarkan, dia bisa kehabisan waktu. Yinghao tidak bisa membantunya memilih karena panda itu tidak tahu betapa berharganya semua ini.
“Yang ini saja!” ucapnya setelah sekian lama berpikir.
Pada akhirnya, Qingyi menukarkan satu set alat kedokteran, tiga kotak perhiasan, empat buah pil ajaib bernilai jutaan tael perak, beberapa pasang sepatu bordir, beberapa lukisan langka, dan juga sepuluh kotak peralatan dari keramik.
Setelah itu, semua barang itu langsung menghilang dan Yinghao memberitahu kalau penukaran telah berhasil dan dia mendapatkan tambahan sebanyak 30 hari.
“Aku miskin!” keluh Qingyi. Dirinya tidak rela menukarnya, tetapi apa boleh buat. Integritas dan sesuatu yang sulit diartikan terus mendesaknya untuk menyelesaikan semuanya sampai akhir. Dia mengantuk, lalu tertidur di ruang dimensi sampai pagi.
...***...
Siang hari di hari berikutnya, sebuah surat balasan datang ke mansion Raja Changle. Merpati pos kilat itu tiba di halaman barat, menemui tuannya sambil membawa dua pucuk surat.
Satu surat berisi balasan untuk Raja Changle, satu lagi merupakan surat yang ditujukan untuk Kaisar Bingyue, Kaisar Baili. Surat yang ditujukan untuk kaisar adalah surat yang akan membuat Baili Qingyan lolos dari bencana.
Segera, ia memberikan surat itu kepada Baili Qingchen. Aroma khas dari amplop surat dan segelnya membuat pria itu langsung percaya. Tanpa pikir panjang, ia segera bersiap memasuki istana. Karena malas memanggil pelayan, Baili Qingchen menyuruh Qingyi membantunya mengganti baju.
“Aku bukan pelayanmu,” tolak Qingyi. Namun, Baili Qingchen tetap bersikeras menyuruhnya.
Satu persatu lapis pakaiannya tertanggal dan teronggok begitu saja. Qingyi melepaskan lapis terakhir pakaian atas Baili Qingchen, lalu memakaikan pakaian dalam putih yang baru.
Lantas, ia kemudian memakaikan jubah istana dan merapikannya. Kini pria itu sudah tampak seperti pangeran sungguhan, yang sangat berwibawa dan bersahaja.
“Kalian para pria sungguh tahan terhadap pakaian berlapis ini?” ucapnya setelah selesai merapikan pakaian Baili Qingchen.
Pasalnya, pakaian yang dikenakannya sungguh berlapis-lapis dan kainnya lumayan berat. Qingyi saja sampai berkeringat.
“Itulah keistimewaan kaum bangsawan kekaisaran,” ujar pria itu.
Rambutnya yang disanggul rapi dan tusuk rambut emasna membuat Baili Qingchen jadi lebih bersahaja. Bagi yang tidak tahu mungkin akan menganggap bahwa Baili Qingchen adalah kaisar.
Pria itu lantas menaiki kereta kuda dan tiba di istana setengah jam kemudian. Dia menyerahkan tokennya kepada penjaga, lalu berjalan memasuki pelataran istana milik Kaisar Baili.
Baili Qingchen tiba di ruang belajar, lalu meminta kasim memberitahukan kedatangannya. Pintu ruang belajar itu terbuka, tampak keponakannya tengah sibuk memeriksa dokumen.
“Ada apa, paman?” tanya Kaisar Baili. Ada nada tidak suka tersirat dari perkataan itu.
“Yang Mulia, Kaisar Chen mengirimkan sebuah surat untuk Yang Mulia.”
Kaisar Baili mendongak dan dahinya berkerut. Kaisar Chen? Dia menatap curiga pada pamannya. Pamannya mungkin sengaja mengirimkan surat untuk membantu Baili Qingyan, tetapi jika menghitung waktu, itu sama sekali tidak mungkin.
Kaisar Baili tahu pamannya tidak akan mampu melakukan itu, apalagi setelah satu hari ditahan di penjara istana. Jangka waktu pengiriman surat juga sangat lama. Itu lebih tidak memungkinkan lagi.
__ADS_1
Jadi, dia terpaksa melepaskan kecurigaannya dan menerima surat itu.
“Paman Ketiga beruntung. Surat ini datang tepat waktu,” ujar Kaisar Baili setelah ia selesai membaca surat tersebut.
“Apa isi suratnya, Yang Mulia?”
“Kaisar Chen memintaku untuk bicara pada Paman Ketiga agar dia segera pulang. Cih, dia sangat pintar memilih waktu.”
Diam-diam Baili Qingchen menyimpan senyumannya. Strategi istrinya sangat bagus dan tepat. Dengan begitu, Kaisar Baili tidak akan punya alasan untuk menahan Baili Qingyan lagi dan tidak akan bisa memaksanya menikah dengan Liu Erniang.
Artinya, satu masalah sudah berhasil diselesaikan. Adik ketiganya selamat dan bisa segera kembali ke Chen.
Karena titah pernikahan belum ditulis, maka rencana pernikahan itu juga batal. Kaisar Baili menyimpan surat itu dan menyuruh pelayan untuk pergi ke istana Baili Qingyan, memberitahu jika kakeknya mengharuskan dia kembali.
Dengan kekuatannya saat ini, Kaisar Baili jelas tidak bisa menolaknya. Dia juga tidak bisa menghancurkan hubungan diplomatik yang telah dibangun bertahun-tahun dengan Chen hanya karena ini.
Baili Qingchen bisa melihat raut wajah kesal keponakannya. Saat ini, dia bisa menebak dengan benar kepada siapa keponakannya itu akan melampiaskan amarahnya.
Rencana ini dibuat oleh perdana menteri, maka orang itu pula lah yang akan menerima konsekuensinya. Tidak lama lagi, perdana menteri pasti akan dimarahi.
“Kalau begitu, aku akan kembali, Yang Mulia.”
“Ya, pergilah, Paman.”
Baili Qingchen berjalan di pelataran istana yang megah. Matahari awal musim semi bersinar di langit Bingyue, tidak terlalu terik. Dia bisa melihat beberapa pelayan tengah mondar-mandir membawa barang ke beberapa istana.
Saat Baili Qingchen hendak berbelok ke gerbang istana, seorang pelayan memanggilnya, pelayan itu berteriak, “Yang Mulia! Nyonya Chun menunggu Yang Mulia di taman kekaisaran.”
Lalu dengan langkah teratur ia mengikuti pelayan tersebut. Di taman kekaisaran, Janda Selir Sun sedang berdiri menghadap kolam ikan. Suara langkah kaki putranya membuatnya menoleh.
Ekspresinya menunjukkan rasa bersalah yang berusaha keras disembunyikan. Baili Qingchen mengela napasnya sejenak, sebelum bicara pada ibunya.
“Tidak perlu mengkhawatirkanku. Putri Permaisuri bekerja lebih keras dari yang kau tahu,” ujar Baili Qingchen. Janda Selir Sun mau tak mau menahan napasnya, menahan sesak yang tiba-tiba menyeruak di dalam dadanya.
Putranya, memang sedingin itu. Tidak pernah berubah sejak dulu. Kalau bukan karena tunduk pada protokol kekaisaran, tidak menutup kemungkinan putranya tidak akan menemuinya sama sekali.
Janda Selir Sun tidak bisa memaksanya, dan hanya bisa menerima rasa dingin itu ketika dia hanya berdua dengan putranya. Tidak seperti saat di hadapan banyak orang, yang melihat hubungan mereka begitu baik dan harmonis.
“Aku tahu. Menantuku melakukan tugasnya dengan baik. Ambillah, berikan padanya.”
Pelayan Janda Selir Sun menyodorkan sekotak makanan hasil memasak koki kekaisaran. Janda Selir Sun tidak bisa berbuat banyak ketika putranya ditahan, dan tahu hanya Qingyi yang mampu membantunya.
Kotak makanan itu hanyalah secuil tanda terima kasihnya. Nanti jika bertemu langsung atau berkunjung ke mansion, baru ia akan memberikan hadiah yang lebih besar.
“Kalau begitu, aku akan pergi,” ucap Baili Qingchen.
Namun sebelum ia benar-benar melangkah, Janda Selir Sun memanggilnya kembali dan mengatakan kalau Qingyi sudah mengetahui segala hal yang berkaitan dengan pernikahan pertamanya. Mendengar itu, Baili Qingchen menyembunyikan keterkejutannya, dan berjalan tanpa berbalik lagi.
...****************...
...Oke, kali ini Otor kasih 4 episode sekaligus ya. Kalau kalian enjoy sama ceritanya, nanti kapan-kapan Otor kasih bonus up lagi. Sampai jumpa di episode selanjutnya!...
__ADS_1