
“Ada apa dengannya? Dia bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain. Mengapa dia bersikap begitu baik hari ini?”
Qingyi terus memikirkan perilaku aneh Baili Qingchen hari ini. Menurutnya, pria itu sangat aneh. Beberapa hari yang lalu juga begitu. Pria itu terus terusan muncul di depannya seperti hantu. Ke manapun Qingyi pergi, Baili Qingchen pasti selalu muncul di saat-saat yang tidak terduga.
Persis seperti hari ini. Tadinya Qingyi ingin melihat sampai sejauh mana Su Wan’er akan bertindak. Siapa yang menyangka kalau Baili Qingchen tiba-tiba datang dan mencampuri urusannya. Embel-embel ‘Putri Permaisuri Changle’ yang digunakan pria itu untuk mengancam Su Wan’er pasti bertujuan untuk mengejeknya juga. Baili Qingchen sepertinya ingin menunjukkan kalau dia adalah tuan yang sebenarnya.
Hah, betapa lucunya itu!
“Tuan, kemajuan alur cerita sudah mencapai tiga puluh lima persen,” ujar Yinghao yang selalu muncul secara tiba tiba. Qingyi hampir saja memukul kepala panda kecil itu dengan buku.
“Yinghao, apa kita punya alat yang bisa mendeteksi pikiran seseorang?” tanya Qingyi.
“Maksudmu?”
“Aku ingin mengetahui isi kepala Baili Qingchen. Akhir-akhir ini dia bersikap aneh.”
Yinghao menggelengkan kepala melalui lehernya yang pendek. Ruang dimensi tidak didesain untuk menyimpan benda-benda abstrak yang fungsinya di luar nalar. Yinghao juga tahu, kalau perubahan yang terjadi pada tokoh utama seperti Baili Qingchen merupakan bagian dari alur cerita yang telah berubah pula. Seharusnya tuannya itu merasa senang, karena misinya sebentar lagi bisa berhasil.
Namun, lain lagi pikiran Qingyi. Tingkah aneh Baili Qingchen justru membuatnya ngeri dan gelisah. Bayangkan saja, seorang pria dingin, yang tadinya tidak menerima wanita dalam hidupnya tiba-tiba saja membela putri permaisurinya di hadapan orang banyak. Dia juga bersikeras tidur di satu kamar yang sama dan kerap kali muncul tanpa pemberitahuan. Mengingat hal itu, Qingyi jadi bergidik.
“Aku tidak tahu mimpi buruk apa yang akan menyambangiku nanti,” selorohnya. Qingyi merebahkan tubuhnya di atas hamparan rumput. Saat ini ia berada di ruang dimensi, menikmati ketenangan yang merasuk ke dalam jiwanya.
“Untuk apa dipikirkan? Kita bisa mengetahui jawabannya nanti.”
“Kau benar. Ah, entah apa yang terjadi pada Su Wan’er saat ini. Baili Qingchen sangat berkuasa, Walikota Xizhou pasti kesulitan menghadapinya.”
__ADS_1
Ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Su Wan’er tidak mungkin menindasnya tanpa alasan. Dari yang Qingyi dengar, Su Wan’er selalu berhati-hati dalam bertindak. Perilakunya hari ini sepertinya jauh dari sikap dan reputasinya.
Wanita itu tidak akan memusuhi seseorang tanpa alasan yang jelas. Seperti rumor, Su Wan’er memang suka menindas orang, tapi selalu melakukannya dengan hati-hati. Apa yang dia lakukan hari ini sepertinya bukan gayanya.
Qingyi curiga pasti ada seseorang yang memprovokasinya. Seseorang pasti bermain di belakang, meniupkan angin ke dalam kobaran api yang telah membara di hati Su Wan’er. Kalau itu benar, orang itu diuntungkan. Orang yang melakukannya pastilah seseorang yang memiliki dendam terhadap Qingyi.
“Tuan, apa kau memikirkan sesuatu?” tanya Yinghao.
“Yah,aku hanya curiga kalau seseorang sudah memanfaatkan Su Wan’er untuk mempermalukanku. Meskipun dia tidak baik, tapi menindas orang yang tidak dikenal bukan sesuatu yang benar untuk dilakukan. Kurasa itu bukan gaya untuk orang sepertinya,” jawab Qingyi.
Qingyi mengunyah permen karet yang diambilnya dari ruang dimensi. Tadi, dia sempat melihat hadiah atas misinya kali ini. Qingyi sangat senang karena sistem memberinya sebuah kursi pijat yang harganya sangat mahal jika di dunia nyata. Yinghao benar, hadiah dari misi kali ini istimewa. Dia bisa bermalas-malasan sesekali di sana.
Misinya di sini sudah selesai dan Qingyi ingin pulang. Ia ingin tahu seperti apa reaksi Xiao Junjie saat ia pulang bersama Baili Qingchen. Tekanan darahnya dijamin naik dan wajahnya pasti merah padam, mengingat Xiao Junjie begitu membencinya dan sangat tidak ingin Baili Qingchen bersamanya.
Apalagi, mereka pergi tanpa memberitahunya, Xiao Junjie pasti sangat marah. Namun, dia tidak tahu kapan Baili Qingchen akan membawanya pulang. Kalau Qingyi nekat pulang sendiri, dia khawatir pembunuh-pembunuh datang lagi.
Tidak jauh dari sana, Baili Qingchen memperhatikannya setelah pulang dari Akademi Xizhou. Dirinya sengaja menginap di sini kembali, karena Akademi Xizhou tidak terlalu nyaman untuknya. Baili Qingchen ingin segera menyelesaikan urusannya di sini dan kembali ke ibukota. Namun, sepertinya permasalahan terselubung di Akademi Xizhou memerlukan waktu beberapa hari lagi untuk diselesaikan.
Tanpa berkata apapun, dia melengang masuk ke dalam kamar.
***
Keesokan harinya, Nyonya Zhao mengetuk pintu kamarnya pagi-pagi sekali. Katanya, Qingyi tidak ada di kamarnya. Baili Qingchen langsung bersiap dan mencarinya, barangkali gadis itu sedang bermain di pusat kota. Dia dan Cui Kong mencari ke setiap gedung, tapi gadis itu tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Cui Kong kemudian menyarankan agar dia saja yang mencarinya, karena Baili Qingchen harus pergi ke Akademi Xizhou untuk menyelidiki permasalahan pengawasnya.
“Tidak. Dia tanggungjawabku,” tolak Baili Qingchen.
__ADS_1
“Tapi, kau harus pergi ke Akademi Xizhou,” ujar Cui Kong.
Namun, Baili Qingchen kembali menolak. Itu membuat Cui Kong heran sekaligus senang. Biasanya, tuannya itu akan memberikan pekerjaan mencari gadis itu kepadanya atau kepada bawahannya yang lain. Urusan seperti ini tidak pernah diselesaikan dengan tangan sendiri. Tapi kali ini, Baili Qingchen justru menolak.
“Susuri semua kota dan temukan dia!”
Pasukan rahasia Baili Qingchen yang tersebar di wilayah itu lantas membantu mencari sang Putri Permaisuri. Mereka mencari di setiap sudur Kota Xizhou, namun belum juga menemukannya. Baili Qingchen bergerak menuju tempat-tempat yang tidak dijangkau banyak orang, berharap gadis nakal itu ada di sana.
Sementara itu, Qingyi sedang berada di sebuah hutan yang lumayan jauh dari pusat kota. Malam tadi, dia mendengar sesuatu yang aneh perlahan bergerak menuju kamar yang ditempatinya, lalu beberapa orang misterius datang hendak membakar rumahnya. Sontak saja dia mencegah mereka. Orang misterius itu kabur, lalu Qingyi mengejarnya.
Sialnya, dia malah tersesat di hutan dan kesulitan untuk menemukan arah. Yinghao sedang dalam proses pembaruan dan ruang dimensi sedang tidak bisa digunakan, membuatnya seperti orang yang tidak punya tujuan. Qingyi sudah berjalan selama tiga jam lebih, berharap ada orang yang bisa dimintai tolong. Namun sampai saat ini, dia tidak menemukan apapun.
Perutnya tiba-tiba berbunyi. Qingyi mencari sesuatu yang dapat dimakan, lalu menemukan persik hutan yang sedang berbuah. Berbekal keterampilan panjat tebingnya yang tidak seberapa, Qingyi lalu memanjat pohon persik itu dan sampai di ranting yang paling besar. Dia memetik beberapa buah persik dan memakannya di sana. Sayang, ranting itu patah dan Qingyi langsung terjatuh.
Qingyi meringis karena pantatnya bersentuhan dengan tanah. Dia berdecak kesal, merasa kalau ini adalah hari yang sial untuknya. Andai saja dia tidak mengejar orang-orang itu, mungkin dirinya sedang makan makanan enak di kediaman sekarang. Dia juga tidak perlu berjalan sejauh ini.
“Sudah jatuh, tertimpa tangga pula! Kurasa aku harus menurunkan berat badanku agar ranting yang kududuki tidak patah,” gerutunya. Qingyi memungut beberapa buah persik yang ikut jatuh bersamanya, mengelapnya dengan pakaian lalu memakannya sambil berjalan.
Baru saja dia berjalan beberapa langkah, hujan tiba-tiba turun. Qingyi langsung berlari mencari tempat untuk berteduh. Karena tidak berhati-hati, dia terpeleset dan berguling sampai tubuhnya terdampar di sebuah lembah yang tidak terlalu dalam. Untung saja dia tidak menabrak bebatuan atau pohon hingga tubuhnya tidak terluka terlalu parah.
Dengan lemas, dia bangkit dan berjalan kembali. Hatinya senang saat melihat sebuah gua yang bisa ia gunakan untuk berlindung. Sesampainya di sana, Qingyi segera mengistirahatkan dirinya. Tubuhnya bersandar di dinding gua. Karena terlalu lelah, Qingyi tertidur meskipun pakaiannya basah kuyup.
“Qingyi! Qingyi, bangun!”
Qingyi terganggu dengan suara yang membangunkannya. Pipinya ditepuk-tepuk seseorang, lalu ia perlahan membuka mata untuk melihat siapakah yang sudah berani mengganggu tidurnya. Matanya membulat saat melihat seseorang bermantel bulu putih berjongkok di hadapannya dengan ekspresi yang tidak bisa diartikan.
__ADS_1
“Baili Qingchen?” tanyanya memastikan. Terdengar helaan napas yang panjang keluar dari organ pernapasan pria itu.
Istrinya sekarang seperti gelandangan. Koto, dan juga basah kuyup. Baili Qingchen langsung menggendongnya, membawanya keluar dari gua. Cui Kong datang dengan dua ekor kuda. Saat itu, hujan baru saja berhenti dan langit perlahan mulai cerah kembali. Cui Kong dan Baili Qingchen kembali ke pusat Kota Xizhou, dengan membawa Qingyi yang kembali tertidur saking lelahnya.