
“Yang Mulia, gawat!”
Cui Kong berlari menghampiri Baili Qingchen dengan napas yang memburu. Baili Qingchen yang tengah berdiri menatap pohon persiknya hanya meliriknya sesaat, lalu kembali menatap pohon yang tengah berbuah tersebut.
Kehadiran Cui Kong seperti sebuah angin yang cukup diabaikan saja, tidak perlu ditanggapi dengan serius. Padahal, pengawal pribadinya itu jelas sedang panik.
“Ada apa?” tanyanya saat minatnya pada pohon persik hilang.
Cui Kong sudah agak tenang, sebelum bicara ia menarik napas terlebih dahulu.
“Yang Mulia Putri melemparkan plakat harimau emas ke dalam kolam!” panik Cui Kong. Meski sudah mencoba tenang, nyatanya dia tidak bisa.
Baili Qingchen mengerutkan kening sejenak, mencerna pemberitahuan yang baru saja dikatakan Cui Kong. Dia ingat dia memberikan plakat harimau emas yang mengendalikan Kavaleri Jingyi kepada Qingyi tempo hari sebagai permintaan maafnya. Plakat itu sudah ada di tangannya, Baili Qingchen agak tidak peduli.
“Oh. Biarkan saja,” ucapnya dengan tenang.
Cui Kong seperti tersambar petir di siang bolong. Apa katanya? Biarkan saja? Ya ampun, Cui Kong merasa bahwa rajanya ini bukan Raja Changle, si Dewa Perang Bingyue yang ganas dan dingin itu!
Plakat harimau emas bukan sembarang plakat, plakat itu adalah token perintah dan pengendali Kavaleri Jingyi yang sangat kuat. Lebih dari lima ribu pasukan terhimpun dalam Kavaleri Jingyi, mereka adalah tentara pelindung negara yang sangat legendaris.
Kaisar Baili saja tidak memiliki plakat itu dan itu sebabnya dia selalu waspada terhadap Raja Changle.
Semua orang menginginkan plakat itu, karena dengan memegangnya, berarti menguasai dunia. Bukan hanya punya pasukan kuat, tetapi kursi kaisar juga bisa ditukar dengan mudah.
Raja Changle yang dulu selalu merahasiakannya dengan mudah memberikan plakat itu kepada istrinya, dan dia berkata ‘biarkan saja’ saat istrinya melemparnya ke dalam kolam, bukankah itu sangat mengejutkan?
“Yang Mulia, apa Yang Mulia tidak khawatir? Seseorang mungkin akan mencarinya ke dalam kolam dan mencurinya!”
“Tidak akan. Pencuri itu tidak akan bisa beraksi di kediaman Putri Permaisuri.”
Memang benar, batin Cui Kong. Di mansion ini, selain pelayan khusus, siapa lagi yang berani masuk ke halaman barat tanpa izin?
Terkahir kali, orang yang masuk ke sana diam-diam sudah ditendang keluar dari mansion. Pelayan lain begitu ketakutan saat melihat Putri Permaisuri, apalagi saat dia marah. Putri Permaisuri adalah iblis, tidak ada yang bisa melawannya kecuali Raja Changle.
__ADS_1
“Tapi, Yang Mulia, kita tidak bisa menjamin itu, kan? Aku heran mengapa Putri Permaisuri begitu gemar memberikan kejutan kepada orang,” ucap Cui Kong disertai helaan napas.
“Selama dia tidak menghancurkan negara, maka biarkan saja.”
Mungkin, rajanya benar-benar berubah. Pandangannya tak lagi seperti dulu. Kehadiran Qingyi telah mengubah hidup Baili Qingchen.
Pria yang semula tidak tertarik pada wanita, yang di otaknya hanya ada urusan negara, yang lebih memilih seorang pendamping pria ketimbang memperistri putri pejabat dan bangsawan, sekarang malah ditaklukkan oleh seorang Liu Qingyi, putri buangan yang tidak disayangi kediaman mantan perdana menteri.
Baili Qingchen bisa menebak alasan di balik itu. Permaisurinya sedang marah padanya karena dia membuatnya kelelahan kemarin. Bermain berkali-kali pasti membuat wanita itu menjadi kesal setengah mati, karena proses yang tidak ada habisnya itu.
Yah, Baili Qingchen merasa bersalah akan hal itu. Walaupun Qingyi yang memintanya untuk melakukan itu demi melepaskan efek obat, namun nyatanya Baili Qingchen justru kesulitan mengendalikan diri. Qingyi membuatnya candu, dan dia tidak bisa berhenti melakukannya.
Setiap kali kulitnya bersentuhan, maka rasa itu datang begitu saja. Selain itu, istrinya itu sangat istimewa. Jadi, biarkan saja dia. Asalkan Qingyi tidak menghancurkan negara, apapun yang dilakukannya masih akan ditoleransi Baili Qingchen.
Cui Kong menggelengkan kepalanya dengan heran. Ia merasa, tidak lama lagi rajanya akan ikut menjadi gila seperti Putri Permaisuri.
Cara berpikir Putri Permaisuri yang aneh mulai menular kepada Baili Qingchen, bahkan sikapnya pun mulai ditiru olehnya. Rajanya sekarang menjadi lebih pemarah dan sedikit terburu-buru. Dia sering kehilangan ketenangan.
“Yang Mulia, plakat harimau emas dibuat khusus untuk mengendalikan pasukan. Jika Putri Permaisuri menghilangkannya dan Yang Mulia diam saja, bukankah itu hanya akan memancing keributan? Yang Mulia Kaisar pasti akan mencari masalah lagi denganmu,” ujar Cui Kong yang tetap tidak merasa tenang karena plakat harimau emas dilempar ke dalam kolam.
Pengawalnya tidak tahu jika Baili Qingchen telah mempersiapkan segalanya sejak awal. Karena dia telah memberikan plakat itu kepada permaisurinya, dia harus siap dengan segala konsekuensinya. Baili Qingchen memberikan plakat itu bukan tanpa alasan. Dia percaya pada Qingyi, dan ia yakin wanita itu juga percaya padanya.
Baili Qingchen telah menyiapkan hal lain ketika sesuatu terjadi. Ia sudah menduga saat seperti ini akan tiba, maka dari itu ia sudah menyiapkan opsi lain sejak awal. Hanya dirinya sendiri yang tahu bahwa ia punya rencana cadangan untuk mengatasinya. Biarkan saja wanita itu berbuat sesukanya saat ini.
“Baiklah, aku percaya pada Yang Mulia,” ujar Cui Kong. Percuma saja mendebat, dia tidak akan menang melawan rajanya. “Tapi, Yang Mulia-”
“Apa lagi?”
“Mengapa cara berjalan Putri Permaisuri tampak aneh lagi hari ini? Dia berjalan seperti seekor bebek dan terlihat kesulitan.”
Baili Qingchen memejamkan matanya sesaat, menahan kesal karena pengawalnya terlalu banyak bicara. Sejak kapan Cui Kong suka memperhatikan cara berjalan permaisurinya? Baili Qingchen bahkan tidak ingin melihatnya dan langsung kabur saat itu.
“Mungkin kakinya keseleo.”
__ADS_1
Cui Kong diam-diam mendecih kecil.
“Yang Mulia juga mengatakan hal yang sama tempo hari. Orang yang keseleo biasanya kakinya jadi pincang. Mana ada yang berubah seperti bebek.”
“Enyah!”
Cui Kong langsung melompat pergi saat Baili Qingchen menendangnya. Setelah itu, Baili Qingchen menenangkan dirinya sesaat. Tidak lama kemudian, kepala pengurus mansion datang tergesa-gesa sambil membawa sepucuk surat.
Saat tiba di tempat Baili Qingchen berada, kepala pengurus langsung menyerahkan surat tersebut pada Baili Qingchen. “Yang Mulia, Kasim Li baru saja mengantarkan surat ini.”
Tidak biasanya keponakannya mengirimkan surat. Setiap kali ingin memberitahu sesuatu, biasanya dia akan mengirim utusan dan memintanya pergi ke istana secara langsung. Ini menandakan bahwa sesuatu yang hendak diberitahukan sangat rahasia. Apalagi surat itu disegel dengan segel khusus.
Kepala pengurus langsung pergi karena tahu kerahasiaan surat tersebut. Ketika Baili Qingchen membacanya, matanya membesar dan ekspresinya berubah drastis. Pria itu seperti mendapat kejutan besar yang tidak diduga. Kertas surat itu diremas sampai hancur tak berbentuk.
Baili Qingchen menghela napasnya. Kepalanya menengadah menatap langit senja yang sedang merekahkan warna jingga. “Apakah ada sesuatu yang lain yang kulewatkan?”
Isi surat itu memberitahu jika kepala pembunuh Paviliun Litao kabur dari penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Dengan penjagaan seketat itu, mustahil baginya untuk melarikan diri tanpa bantuan orang dalam.
Kasusnya berada di bawah pengawasan langsung Kaisar Baili, tidak mungkin ada celah yang bisa memberikan kesempatan untuk lepas atau melarikan diri. Tampaknya, Pengadilan Tinggi Kekaisaran memiliki kotoran dan perlu dibersihkan.
Tahanan seperti kepala pembunuh Paviliun Litao sangat penting, dia adalah kunci dari insiden dan tragedi malam festival puncak musim semi yang menewaskan lebih dari lima ratus orang. Pengadilan Tinggi Kekaisaran harus memberinya penjelasan terkait kejadian ini.
Baili Qingchen kemudian memanggil kembali Cui Kong. Pengawal itu bingung karena dia dipanggil lagi setelah diusir. “Yang Mulia, apa yang bisa kubantu?”
“Perintahkan pasukan untuk bertindak!”
Baili Qingchen lalu berbisik memberitahu bahwa kepala pembunuh Paviliun Litao melarikan diri dari penjara. Dia juga memberi instruksi agar pasukan pengawal khusus Raja Changle ikut mencarinya ke seluruh penjuru Bingyue dan menemukannya dalam keadaan hidup. Selain itu, dia juga memerintahkan agar pasukan bergerak dengan hati-hati dan jangan sampai mengejutkan musuh yang sesungguhnya.
“Jangan sampai Putri Permaisuri mengetahui hal ini,” ucapnya sebagai instruksi terakhir.
Baili Qingchen tidak ingin lagi melihat permaisurinya melompat ke dalam api dan menempatkannya dalam bahaya lagi. Jasanya dalam menemukan markas Paviliun Litao dan meledakannya sudah lebih dari cukup. Sisanya, biarkan dia dan Kaisar Baili yang bertindak.
Cui Kong lalu segera berangkat untuk menjalankan perintah rajanya. Tidak lupa, dia kembali melompat seperti tadi. Baili Qingchen sangat gelisah. Kasus itu belum menunjukkan kemajuan, namun tersangkanya justru berhasil kabur entah ke mana. Ia khawatir ini mungkin hanya sebuah permulaan dari konspirasi yang sangat besar.
__ADS_1
“Tampaknya, skenario lain telah dibuat untuk mengacaukan kekaisaran ini.”