Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 83: Jangan Terluka Untukku


__ADS_3

Sejak kembali dari Gunung Changsan, Qingyi dan Baili Qingchen sama-sama menghindar satu sama lain. Mereka menciptakan jarak di antara mereka sendiri, dan semua pelayan di mansion bisa melihatnya dengan jelas. Tidak ada yang berani bertanya, karena jika salah mengucapkan kata, mereka akan dimarahi.


Qingyi menutup halaman barat seharian. Gadis itu menghabiskan waktunya di ruang dimensi.


Sejak pagi, Qingyi merendam dirinya di kolam air terjun, memulihkan diri dan menyembuhkan luka-lukanya. Meskipun tidak semuanya pulih seperti semula karena itu hanya akan menimbulkan kecurigaan jika Baili Qingchen ingin memeriksanya.


Sebenarnya dia juga tengah berusaha melupakan kejadian malam itu. Hal itu mengganggunya hampir setiap saat. Meski bersikeras mendoktrin tidak pernah terjadi, namun ingatannya tertinggal dan tidak ingin pergi. Qingyi jadi frustasi, lalu merendam kepalanya di dalam air yang dingin.


“Tuan, jika kau merendam kepalamu lebih lama lagi, kau akan mati.”


Yinghao bergelantungan di pohon bambu yang batangnya merunduk ke atas kolam. Andai saja dia tidak off malam itu, dia pasti menyaksikan adegan yang menarik. Hati tuannya ini pasti gundah karena seorang Baili Qingchen, protagonis yang harusnya dibereskan mengacaukan hatinya. Yinghao jadi ingin menertawakan Qingyi.


“Diamlah! Jangan bahas orang itu di sini!”


Qingyi menyembulkan kepalanya, lalu telentang di atas air. Suhu kolam begitu pas untuk mendinginkan kepala yang panas. Untuk saat ini, Qingyi hanya ingin bersantai sejenak tanpa gangguan, sebelum di menuntaskan masalah yang belum diselesaikan. Sialan, Tabib Shen itu membuatnya terseret arus lebih jauh.


Angin berhembus di ruang dimensi. Persik-persik yang matang jatuh di atas rerumputan, dedaunannya bergoyang. Ah, betapa indahnya ruang dimensi ini. Qingyi betah berlama-lama di sini, namun Yinghao selalu saja memperingatkan bahwa Qingyi harus menyelesaikan misinya.


“Ambilkan persik-persik itu!” serunya pada Yinghao.


“Tidak mau!”


“Ambilkan atau aku akan menenggelamkanmu?”


Yinghao terpaksa menurut. Tuan kejamnya selalu menemukan celah untuk mengancamnya. Tubuhnya baru saja diperbaiki sejak terakhir kali Qingyi menceburkannya ke dalam bak mandi.


Kalau dia diceburkan lagi ke dalam kolam, mungkin butuh waktu lagi untuk memulihkannya. Memang sistem yang tahan banting!


Qingyi memperhatikan kerja Yinghao sambil terus berenang di kolam. Di kebun persik itu, Yinghao menggusur keranjang persik dengan susah payah. Buah-buah persik yang terkumpul kemudian dibawa ke hadapan Qingyi. Ketika gadis itu menggigitnya, lidahnya langsung merasakan manis yang alami. Enak, pikirnya.


Qingyi berpikir untuk membawa persik-persik ini keluar.


Setelah merasa cukup berendam, tubuh semampai itu keluar dari kolam dan pakaian putihnya yang basah kuyup mencetak beberapa bagian tubuh, membuatnya terlihat begitu mempesona. Tubuh Qingyi ketika basah begitu mengundang hasrat, jika seorang pria mengintipnya mandi, itu akan menjadi sebuah fantasi liar yang cukup menyebalkan.


Setelah kembali ke mansion, Qingyi meletakkan sekeranjang persik tersebut di meja. Dia membuka pintu kamarnya, dan terkejut saat sosok jangkung nan gagah berdiri di sana sambil memegang sebuah botol porselen berwarna putih.


“Mengapa kau selalu datang tanpa pemberitahuan?”


Baili Qingchen tidak menjawabnya dan selalu mengabaikannya seperti biasa. Pria itu malah menerobos masuk ke dalam kamar, kemudian duduk di kursi. Dia melihat sekeranjang persik segar, mengambilnya satu kemudian menggigitnya.


Qingyi menghampirinya dengan wajah ditekuk. Pria ini, selalu saja seperti itu!


“Duduklah,” ucap Baili Qingchen. Gadis itu menurut.

__ADS_1


“Berikan tanganmu,” ucapnya lagi.


“Untuk apa? Tanganku baik-baik saja!”


Dia menarik paksa tangan Qingyi dan menyingkap lengan bajunya sampai ke bahu. Kulit putih nan kenyal itu terekspos begitu saja. Baili Qingchen menelan ludah, namun tatapannya seketika meredup kala melihat luka sayatan di lengan atas Qingyi.


Baili Qingchen membuka tutup botol porselen, lalu mengoleskan obat di dalamnya ke kulit Qingyi. Luka sayatan itu didapat Qingyi ketika memblokir serangan untuk Baili Qingchen, dan belum sempat disembuhkan di kolam ruang dimensi.


Rasa perih dan ngilu membuat Qingyi beberapa kali mengejutkan lengannya.  Pria itu mengambil selembar kain kecil, lalu membungkus lengan atas Qingyi dan mengikatnya. Qingyi terdiam, merasa risih


karena pria itu malah duduk dengan santai di kamarnya.


Baili Qingchen belum berniat pergi. Ada sesuatu di benaknya yang sulit untuk dikatakan. Dia hanya menatap Qingyi dengan mata elangnya.


“Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?” tanya Qingyi.


Jelas sekali kalau pria itu kesulitan mengeluarkan kata-kata. Cih, padahal ini bukan pertama kalinya mereka selamat dari bahaya.


“Jangan terluka untukku,” ucap Baili Qingchen. “Jangan mengulangi hal seperti kemarin jika suatu saat menemui situasi yang sama.”


“Kau pikir aku mau melakukannya? Jika bukan karena aku, mungkin kau sudah membusuk di dasar sungai. Lain kali, aku akan melarikan diri sendiri.”


“Masih ada lain kali?”


Qingyi melakukan itu karena misinya, dan juga karena Baili Qingchen tidak bisa mati semudah itu. Yang jelas, Qingyi punya alasan sendiri mengapa dia melakukan hal seperti kemarin.


Baili Qingchen hampir kehabisan kesabaran menghadapi sifat keras kepala istrinya. Qingyi tidak pernah bisa dinasihati. Baili Qingchen hanya tidak ingin melibatkan lebih banyak orang. Ia lebih tidak ingin orang-orang terdekatnya ikut serta. Baili Qingchen ingin menyelesaikannya sendiri dengan caranya sendiri.


Tapi, Qingyi tidak bisa dicegah. Gadis itu tidak mudah. Sekali masalah ditemukan atau terbongkar olehnya, dia tidak akan menyerah sebelum berhasil. Kali ini pun sama. Baili Qingchen bukan tidak tahu jika orang di balik Tabib Shen adalah salah satu anggota istana. Hanya saja dia perlu lebih banyak bukti dan belum bisa memastikannya.


“Jika kau kemari hanya untuk memarahiku, sebaiknya kau kembali sebelum aku menyumpalkan semua persik ini ke mulutmu!”


Tiba-tiba terbersit pikiran untuk menjahili gadis itu. Baili Qingchen mencondongkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya kepada Qingyi. Tatapan matanya aneh, dan itu membuat Qingyi menjadi waspada. Kakinya sudah bersiap untuk menendang kursi yang diduduki pria itu.


“Benarkah? Kau yakin?”


“Memangnya sejak kapan aku menjadi ragu?”


Baili Qingchen semakin mencondongkan tubuhnya. Qingyi terpaksa menghindar.


“Jangan main-main denganku!” ancam Qingyi. Baili Qingchen menyeringai.


“Tapi sebelum itu, bagaimana jika kita mengulangi hal yang terjadi malam itu?”

__ADS_1


“Apa maksudmu? Tidak terjadi apapun di antara kita!”


Pipi Qingyi memerah antara marah dan kesal, juga rasa tidak terima.


“Aku bisa mengingatkanmu jika kau lupa,” ucap Baili Qingchen.


“Menjauh dariku!”


Baili Qingchen hampir meraih Qingyi. Namun, kaki Qingyi bergerak lebih cepat sepersekian detik dari Baili Qingchen.


Kursi pria itu ditendang sekuat tenaga dan Baili Qingchen langsung terjatuh. Pria itu mendarat di lantai dengan ekspresi tidak percaya. Matanya menatap tajam pada Qingyi yang telah menguras habis kesabarannya.


“Sudah kubilang menjauh dariku! Itu salahmu sendiri karena tidak mau mendengarkanku!” cecar Qingyi.


Gadis itu mengambil satu buah persik di keranjang, menggingitnya kemudian meninggalkan Baili Qingchen di kamar.


Baili Qingchen bangkit. Tubuhnya terasa sakit karena tendangan Qingyi sangat bertenaga. Dia ingin marah, tapi kepada siapa dia harus melampiaskannya? Gadis itu bahkan sudah cukup lama pergi tanpa membantunya bangun! Baili Qingchen hanya bisa menelan kemarahannya dengan menggingit kembali buah persik dan keluar dari kamar Qingyi.


Pria itu berjalan di tengah taman halaman barat, dan sepanjang jalan dia menggerutu.


***


Pada malam hari, Kaisar Baili memanggil Tabib Sheng, Kepala Tabib Kekaisaran ke istana. Kaisar Baili memarahinya habis-habisan dan menyuruh pengawal untuk menghukumya dengan hukuman papan. Tabib Sheng sudah melakukan kesalahan besar. Sebagai kepala tabib, dia bahkan tidak mampu menjaga dan mengawasi bawahannya.


Tubuh Tabib Sheng yang sudah tua tidak mampu menahan kerasnya papan pukulan. Dalam pukulan kelima, dia sudah berteriak memohon ampun dan mengakui kesalahannya.


Kaisar Baili menyuruh pengawal berhenti, lalu memunggungi Tabib Sheng dengan kemarahan yang besar. Seandainya Tabib Sheng bukan tabib senior yang sudah bekerja puluhan tahun, Kaisar Baili ingin sekali mengeksekusinya.


“Bahkan kematianmu pun tidak akan sepadan dengan kecerobohan yang telah kau lakukan!” bentak Kaisar Baili. Tabib Sheng ketakutan dan terus memohon ampun.


“Kau tahu? Karena kecerobohanmu dan ketidakmampuanmu dalam mengawasi bawahan, dinasti ini hampir tidak memiliki penerus!”


Serendah apapun dan sekeras apapun Tabib Sheng memohon ampun, amarah Kaisar Baili tidak mereda. Hatinya dipenuhi api yang membara.


Seandainya saja pamannya tidak menyadari keanehan dan melaporkan, mungkin sampai mati pun masalah ini tidak akan terkuak. Kaisar Baili bersumpah akan menghukum mati dalang di balik semua ini!


“Yang Mulia, tolong redakan amarah. Tabib Sheng sudah mendapat hukuman, Tabib Shen juga sudah berhasil ditangkap. Jika diselidiki dengan baik, dalangnya bisa segera ditangkap,” ucap kasim utama memperingatkan sang kaisar agar tidak larut dalam kemarahan.


Kaisar Baili mengibaskan lengan jubahnya, menggeram sebentar lalu berkata, “Sampaikan titahku! Tabib Sheng sebagai Kepala Tabib Kekaisaran tidak mampu menjaga bawahan dan menyebabkan masalah besar. Dia dicopot dari jabatannya dan diasingkan ke perbatasan bersama keluarganya! Tanpa perintahku, dia tidak boleh kembali ke kota kekaisaran selamanya!”


Tubuh Tabib Sheng gemetaran, dan dia dibopong pengawal kembali ke Balai Pengobatan Istana. Dirinya cukup beruntung karena Kaisar Baili tidak membunuhnya.


Tabib Sheng merasa bersalah, hukuman yang diberikan itu, dia akan menerimanya. Kaisar Baili masih berada di istananya, masih dengan kemarahan yang membara.

__ADS_1


Terjadi hal sebesar ini, wajahnya seperti ditampar di depan publik. Bagaimana tidak, masalah rumah tangga kaisar sepertinya terkuak begitu saja, sementara dalang yang melakoni semua ini justru masih belum ditangkap! Kaisar Baili marah sampai dadanya sesak. Dia bersumpah, dia tidak akan melepaskan dalang sialan itu!


__ADS_2