Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 94: Memutuskan Tangan Kanan


__ADS_3

Halaman utara sedang sibuk mempersiapkan jamuan makan malam. Malam ini, Baili Qingchen berencana untuk makan malam bersama Xiao Junjie.


Akhir-akhir ini mereka jarang bertemu karena sibuk, dan Baili Qingchen semakin merasa bersalah. Apalagi, Pangeran Kecil tersebut sudah kesulitan mengurus dua angsa kesayangan Janda Permaisuri yang dibawa kabur oleh Qingyi.


Sejak sore hari, pelayan sudah sibuk memasak ini itu untuk hidangan. Xiao Junjie sedang dalam suasana hati yang baik.


Setelah berhari-hari, akhirnya ia mempunyai waktu untuk berbincang dengan Baili Qingchen. Walau hanya sebentar, itu lebih baik dari apapun.


Ia sendiri menyadari, bahwa Baili Qingchen mulai berubah. Hati pria yang telah ia temani sejak tiga tahun lalu itu mungkin sudah mulai goyah.


Baili Qingchen telah kehilangan prinsip, dan Xiao Junjie mengetahui itu dengan jelas. Meskipunbtidak tenang, Xiao Junjie masih akan mencoba bertahan.


Ia telah mendoktrin diri sendiri dan bersumpah, selama Baili Qingchen menginginkannya, ia akan tetap berada di sisinya.


Langit malam ini dipenuhi bintang, namun udara justru tidak sehangat biasanya. Di taman yang cukup luas tersebut, Xiao Junjie duduk menunggu Baili Qingchen.


“A-Chen, kau sudah datang,” sambutnya ketika Baili Qingchen tiba.


Baili Qingchen tersenyum dan menghampirinya.


“Maaf telah membuatmu menunggu,” ucap Baili Qingchen tulus.


Melihat ekspresi Xiao Junjie, rasa bersalah di hatinya semakin besar.


“Tidak apa-apa. Urusan pengadilan lebih penting.”


Tidak ingin membahas lebih jauh mengenai urusan pengadilan, Baili Qingchen memilih mengalihkan topik pembicaraan. Dalam momen selanjutnya, dia dan Xiao Junjie telah larut dalam obrolan panjang yang ringan.


Dari kejauhan, mereka seperti dua sahabat yang saling setia. Jika Qingyi melihatnya, dia mungkin akan muntah darah.


Menu makan malam sudah dihidangkan. Hari ini, Xiao Junjie menyuruh pelayan memasak menu favorit Raja Changle tanpa sepengetahuan Putri Permaisuri Changle.


Saat makanan itu disajikan, Baili Qingchen tampak ragu. Sudah lama sekali rasanya ia tidak memakan hidangan ini.


“A-Chen, kau takut Putri Permaisuri mengetahuinya?”


Anggukan kecil Baili Qingchen menjadi jawabannya.


“Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jika dia bisa makan sepuasnya, lalu mengapa kau tidak bisa?”


Xiao Junjie benar. Lagi pula, penyakit aneh yang disebut asam lambung juga sudah sembuh. Tidak masalah jika dia memakan ini sekarang.


Toh pada waktu-waktu tertentu pun, dia juga sering meminum alkohol tanpa sepengetahuan Qingyi. Tempat ini adalah wilayah kekuasaan Xiao Junjie, Qingyi tidak akan sudi menginjakkan kaki di sini.


“Kau benar. A-Jie, aku akan memakan hidangan ini.”


Raut wajah Xiao Junjie berubah cerah. Dia mengambilkan sepotong daging ke mangkuk Baili Qingchen. Tepat ketika Baili Qingchen hendak memakannya,


Cui Kong datang sambil berlari dengan wajah panik. Sepanjang jalan, dia berteriak memanggil Baili Qingchen sampai suaranya membuat para pelayan terganggu.


“Komandan Cui, ada apa denganmu? Kau tidak lihat jika A-Chen sedang makan malam?” ucap Xiao Junjie.


“Pangeran Permai… Oh, Pangeran Kecil, maaf, aku tidak bermaksud mengganggu kalian. Tapi, ini benar-benar situasi yang mendesak!”


“Apa kau tidak bisa membiarkannya makan terlebih dahulu? Di mana sopan santunmu sebagai bawahan?”


Baili Qingchen meletakkan sumpitnya.


“A-Jie, tidak apa-apa. Katakan, hal mendesak apa yang kau maksud?”

__ADS_1


“Yang Mulia, ada kabar dari istana. Katanya, Selir Sui meninggal karena racun dingin dan Kaisar sangat marah!”


Baili Qingchen seketika bangkit. “Beritahu Putri Permaisuri!”


“Yang Mulia, Yang Mulia Putri sudah pergi lebih dulu.”


Cui Kong mendapat tatapan tidak percaya dari Baili Qingchen. Bisa-bisanya dia mendahulukan Qingyi dan tidak mengutamakan rajanya sendiri!


“A-Jie, aku akan kembali lagi nanti.”


Kereta kuda Raja Changle lalu melintas dengan cepat membelah jalan kota kekaisaran. Di istana, semua orang mengerumuni istana Selir Sui.


Suara riuh dari tangisan pelayan dan bisik-bisik selir lain terdengar seperti paduan suara yang sumbang. Pengawal istana mencoba menahan lonjakan pelayat yang penasaran, namun gagal.


Jasad Selir Sui ditemukan terbaring di ranjang dengan mulut berbusa. Tabib istana berkata bahwa dia tewas karena meminum terlalu banyak racun dingin sampai pembuluh darahnya pecah.


Botol kecil berisi sisa racun dingin tergeletak di nakas. Tidak jauh dari sana, Selir Xian alias Liu Erniang dipaksa berlutut.


“Ckckck…. Overdosis rupanya,” decak Qingyi.


Qingyi kemudian menatap Liu Erniang dan berjongkok di hadapannya. Raut wajah Liu Erniang sangat buruk. Sebagai orang yang memberikan racun dingin, tentu saja dia menjadi tersangka utama.


Namun, Qingyi dengan jelas mendengar bahwa racun dingin pemberian Liu Erniang sudah dihancurkan saat pelayannya mengantarkan racun itu ke gerbang istana Selir Sui. Selir Sui sendiri yang menghancurkannya.


“Aku sungguh ingin menjatuhkanmu dan menyeretmu ke dalam penjara. Sayang sekali, aku tidak suka melibatkan orang yang tidak berkepentingan,” ucapnya.


Semua orang di sana terkejut dan mulai bertanya-tanya. Apa maksud ucapan Putri Permaisuri Changle? Apakah dia baru saja mengatakan bahwa Selir Xian bukanlah pelaku pembunuhan Selir Sui?


“Putri Permaisuri, apa maksud ucapanmu?” tanya Kaisar Baili.


“Kau masih bertanya? Selir Xian, adikku tersayang ini bukan pelakunya!” jawab Qingyi.


“Tapi, jelas-jelas dia yang memberikan racun dingin itu!” sahut yang lain.


Dihardik sedemikian keras oleh Putri Permaisuri Changle, semua selir terdiam. Kaisar Baili mengusap wajahnya dengan kasar.


Sial! Kekacauan belum usai, tapi sudah ada kekacauan lagi! Kaisar Baili benar-benar ingin menguliti pelakunya sekarang juga! Tapi, di mana dia bisa menemukannya?


Baili Qingchen tiba dan semua orang langsung memberinya jalan. Pria itu menarik tangan istrinya agar sedikit menjauh dari Liu Erniang dan mayat Selir Sui. “Bagaimana situasinya?” tanya Baili Qingchen.


“Seperti yang kau lihat. Dia memutuskan tangan kanannya dan membunuhnya,” jawab Qingyi.


Mereka, termasuk Kaisar Baili, sama sekali tidak paham dengan ucapan sepasang suami istri tersebut. Terlebih Liu Erniang.


Dia berpikir sejenak, lalu ekspresinya menjadi semakin jelek. Liu Erniang mengumpat dalam hati. Seseorang ternyata sengaja memanfaatkannya dan melempar kesalahan kepadanya!


Pantas saja kakak baiknya ini mengatakan hal seperti itu!


“Paman, apa maksud dari Putri Permaisurimu?” tanya Kaisar Baili kembali.


“Selir Sui adalah orang yang memerintah Tabib Shen. Tapi, dia hanya pesuruh,” jawab sang Raja Changle.


Sontak saja semua orang terkejut. Beberapa selir bahkan hampir pingsan. Mereka tidak menyangka, orang yang telah meracuni dan merusak tubuh mereka ternyata Selir Sui!


Jika begitu, pendosa ini memang pantas mati! Bagaimana bisa dia melakukan hal sekeji itu terhadap sesama istri kaisar?


“Apa kau bisa menjamin perkataanmu, Paman?”


“Hari ini Putri Permaisuri membawa Selir Jia ke penjara Pengadilan Tinggi Kekaisaran. Dia menggunakan lencana untuk mempengaruhi Tabib Shen. Kutebak, lencana itu adalah milik Selir Sui,” tutur Baili Qingchen.

__ADS_1


Selir Jia yang bersembunyi di antara kerumunan kemudian memberanikan diri maju. Kaisar Baili menatapnya dengan tajam.


Selir Jia takut mati, dia tidak akan berani berbohong apalagi mengkhianati Qingyi. Selir Jia kemudian mengeluarkan lencana yang dipakai untuk mempengaruhi Tabib Shen dan memperlihatkannya kepada semua orang.


“Le..Lencana ini milik Selir Sui. Aku menggunakannya untuk mengorek informasi dari Tabib Shen sebagai syarat agar Putri Permaisuri Changle mau membantuku,” ujarnya takut-takut.


“Mengapa kau meminta bantuannya?” tanya Kaisar Baili.


“Selir Xian juga memberiku racun dingin. Aku pikir dia tidak akan melepaskanku. Jadi, aku meminta bantuan Putri Permaisuri Changle agar dia menyelamatkanku.”


“Paman, kau juga mengetahuinya?”


Baili Qingchen mengangguk.


Kaisar Baili menggeram marah. Emosinya sudah sampai puncak.


“Kurang ajar! Mengapa tidak satu pun dari kalian yang berhati lapang? Selir Xian, kau berani mengancam selirku yang lain secara terang-terangan! Kulihat kau sudah terlalu sering dimanjakan! Jangan keluar dari istanamu dan renungkan baik-baik kesalahanmu!” bentak Kaisar Baili. “Dan kalian, ingat baik-baik perkataanku. Jika


kalian berani bermain trik di belakangku, hukuman kalian tidak akan lebih berat dari ini! Apa kalian benar-benar ingin kutempatkan di Istana Dingin?”


Kemarahan Kaisar Baili yang meledak seperti bom atom. Semua selir berlutut dan menunduk takut sambil berkata ‘saya tidak berani’. Sudut mulut Qingyi berkedut dan dia malah tersenyum. Baili Qingchen hanya menggelengkan kepala melihat reaksi istrinya yang seperti itu.


“Hoam. Pertunjukan penutupnya bagus.”


Gadis itu berjalan di antara kerumunan, diikuti Baili Qingchen.


“Putri Permaisuri, lalu bagaimana dengan mayatnya?” tanya Kaisar Baili.


“Mengapa kau bertanya padaku? Aku bukan petugas autopsi!”


“Tapi, kau dan Paman bisa memecahkan misterinya.”


“Besok saja. Pelaku utamanya tidak akan tertangkap malam ini.”


“Kau!”


Baili Qingchen menepuk pundak keponakannya, menyuruhnya untuk tenang dan jangan emosi. Jika permaisurinya bilang besok, maka besok saja.


Dia tidak akan bisa dibujuk dengan cara apapun. Selain itu, hari juga sudah malam. Tidak baik mengautopsi mayat pada jam segini, apalagi begitu banyak orang.


Kaisar Baili terpaksa menelan bulat-bulat kemarahannya. Semua orang menatap pasangan Raja Changle dan Putri Permaisuri Changle dengan penuh tanya.


Namun, sepasang suami istri itu tidak mempedulikan hal lain dan terus berjalan sampai mereka keluar dari istana.


Di dalam kereta, Qingyi menyilangkan kakinya dan menyilangkan tangannya di dada.


“Bukankah kau sedang makan malam romantis bersama kekasih priamu?” sinis Qingyi. “Aku datang karena khawatir kau mengacau.”


“Cih. Alasan yang tidak masuk akal.”


Qingyi batuk, namun cairan berwarna merah ikut keluar dari mulutnya. Cairan dingin lain juga terasa meluncur dari kedua lubang hidungnya.


Ketika itu menetes di pakaiannya, Qingyi dengan pelan menarik jubah Baili Qingchen dan berujar dengan suara rendah, “Baili Qingchen.”


“Hm?”


“Mengapa cairan merah ini keluar dari mulut dan hidungku?”


Baili Qingchen tersentak. Ia menoleh, lalu matanya membelalak.

__ADS_1


“Qingyi, kau?”


Qingyi masih menatap bingung, namun pandangannya tiba-tiba menggelap.


__ADS_2