Love Imagination System

Love Imagination System
Bagian 81: Obrolan Malam yang Panjang


__ADS_3

Pria itu menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan mata, mengorek ingatan masa lalu yang terkubur bertahun-tahun. Sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan bahwa rahasia ini akan terungkap, sampai Qingyi datang ke dalam kehidupan Baili Qingchen dan mengubah banyak hal. Baili Qingchen mengira hal yang ia sembunyikan akan tetap bertahan sampai ia mati tanpa meninggalkan keturunan.


“Seharusnya ini dimulai pada tujuh tahun lalu,” ucapnya.


Napasnya agak tersendat. Membuka kembali ingatan masa lalu cukup menyakitkan, terutama saat kau harus mengingat kembali kenangan yang telah kau lupakan.


Pada saat itu, Baili Qingchen baru selesai berperang melawan musuh di perbatasan. Mata-mata dari kota kekaisaran memberi kabar bahwa situasi istana sedang tidak baik-baik saja.


Kaisar Baili menentang banyak menterinya akibat pengaruh perdana menteri. Kekuasaannya dimonopoli. Mata-mata juga memberitahu jika Kaisar Baili sangat waspada terhadap kekuasaan dan kekuatan yang ada di tangan Baili Qingchen.


Pemerintahan baru seumur jagung. Membiarkan perdana menteri memanipulasi Kaisar Baili akan membahayakan negara dalam jangka panjang. Walau kenyataan mengatakan bahwa Kaisar Baili sebenarnya juga mewaspadai perdana menteri, namun apa yang terlihat oleh pejabat tidaklah seperti itu.


Sebagai salah satu raja yang diangkat langsung oleh ayahnya, dan juga didorong oleh baktinya kepada kakaknya yang telah tiada, Baili Qingchen jelas tidak bisa membiarkan begitu saja.


Bendera yang berkibar adalah bendera emas Keluarga Baili, yang telah mengudara di Istana Bingyue selama beberapa generasi. Tidak ada sejarah yang menorehkan kekaisaran dikuasai Keluarga Liu.


“Saat itu, aku terus berpikir untuk mengendalikan situasi tanpa mengejutkan Kaisar Baili,” ucap Baili Qingchen. Qingyi kemudian menimpali, “Dan kau mengambil keputusan itu?”


Baili Qingchen tersenyum. Pada saat itu, situasi di kamp militer stabil dan musuh berhasil dipukul mundur. Kekaisaran aman dari marabahaya perang. Namun, panglima mereka, Dewa Perang Bingyua, alias Raja Changle justru tengah diserang gundah gulana. Lebih dari satu malam dia memikirkan cara yang tepat untuk membalikkan situasi.


Kemudian, Wang Lingshan, salah seorang prajurit setia yang mengikutinya bertahun-tahun memberikan usul. Dia adalah orang terdekat Baili Qingchen setelah Cui Kong.


Saat itu, Cui Kong ditinggalkan di kota kekaisaran untuk mengendalikan sebagian pasukan dan mengelola pusat kekuatan. Wang Lingshan menyarankan agar Baili Qingchen mengejutkan publik dengan cara yang tidak biasa.


Pernikahan seorang raja ditentukan oleh kaisar. Kebetulan, usia Baili Qingchen juga sudah matang untuk menikah. Wang Lingshan yang cukup pintar memberitahu jika pernikahan normal tidak akan membawa perubahan apapun.


Sebaliknya, itu hanya akan mendatangkan masalah yang lebih parah. Baili Qingchen harus berkorban jika ingin benar-benar mengendalikan situasi.


Saat itu, Kaisar Baili memanggil kembali Baili Qingchen ke kota kekaisaran. Sesuai dugaan, para menteri menunjukkan gelagat yang tidak biasa.


Baili Qingchen juga menangkap maksud Kaisar Baili yang sebenarnya ingin menekan kekuasaannya agar tidak terlalu besar. Baili Qingchen selalu tahu jika keponakannya selalu waspada kepadanya dan tidak pernah mempercayainya.


Namun, bagi Baili Qingchen, itu tidak penting. Keselamatan pemerintahan dan kelangsungan pengadilan adalah prioritas utama. Tidak masalah jika dia harus menjadi raja yang lemah kekuasaan, selama negaranya aman, itu sepadan. Baili Qingchen tidak akan membiarkan siapapun mempermainkan kekuasaan.


Ternyata tidak semudah itu. Ancaman dan pengaruh buruk merongrong dari segala sisi. Pengaruh dan dominasi perdana menteri makin menguat.


Fokus Kaisar Baili terbagi antara menekan perdana menteri dan waspada serta ingin menekan kekuasaan Baili Qingchen. Pada tahun kedua setelah Baili Qingchen kembali ke kota kekaisaran, dia benar-benar mengejutkan publik dengan keputusan yang dibuatnya.

__ADS_1


“Setelah diskusi panjang, kami sepakat mengambil keputusan itu,” ujar Baili Qingchen, mengenang kembali momen tujuh tahun lalu.


“Simpul hati Kaisar Baili bertambah runyam karena kehadiranku. Coba kau tebak, jika seorang raja lebih berkuasa daripada seorang kaisar, apa yang akan terjadi?”


“Entahlah. Aku tidak mengerti sistem monarki seperti itu. Yang jelas, keponakanmu itu berpikir sangat berlebihan.”


Baili Qingchen kemudian melanjutkan ceritanya. Tahun itu dia mendatangi istana dan memohon sebuah pernikahan. Kaisar Baili memberinya tawaran menikah dengan gadis dari keluarga menteri, namun ditolak karena orang yang ingin Baili Qingchen nikahi adalah Wang Lingshan. Sontak saja Kaisar Baili marah dan mengatakan itu sangat tidak bermoral.


Dia baru menyetujuinya setelah Baili Qingchen menyerahkan kekuasaan dan pasukan. Seluruh Dataran Bingyue saat itu penuh desas-desus dan reputasi Raja Changle yang dibangun bertahun-tahun hancur. Namun berkat itu, Kaisar Baili menurunkan kewaspadaannya dan mulai fokus menekan perdana menteri.


“Apa pernikahannya semeriah pernikahanku?” tanya Qingyi.


“Tentu saja tidak. Kami hanya mengadakan upacara kecil. Yah, tidak bisa dikatakan upacara. Itu hanya semacam seremoni, tidak lebih dari sebuah deklarasi persaudaraan,” jawab Baili Qingchen.


Tahun itu, mereka tidak benar benar menyembah langit dan bumi seperti biasa. Mereka hanya minum arak dan berjanji akan saling menjaga rahasia satu sama lain.


“Bagaimana reaksi ibumu?” tanya Qingyi lagi.


“Seperti yang kau tahu. Dia menentangnya.”


Meskipun kewaspadaan sudah menurun, perdana menteri balik mengincar Baili Qingchen. Orang licik itu terus mempengaruhi Kaisar Baili dan para menteri. Untunglah Baili Qingchen pandai menilai dan bertindak sesuai situasi. Namun, sayangnya, Wang Lingshan malah mati terbunuh di tangan Janda Selir Sun.


Baili Qingchen menggelengkan kepala. “Tidak. Dia tidak seperti Wang Lingshan.”


Kisah Xiao Junjie sama dengan yang dibuat oleh penulis asli. Pria itu masuk ke mansion sebagai pendamping Raja Changle sesuai dengan gambaran penulis asli. Hanya saja Xiao Junjie lebih pintar menilai situasi dibandingkan Wang Lingshan, hingga pria menyebalkan itu bisa bertahan hidup lebih lama sampai sekarang.


“Gelar Pangeran Kecil itu untuk melindunginya.”


“Jika dia tahu kau memanfaatkannya seperti ini, kupastikan dia putus asa dan mengurung diri.”


“Aku tidak memanfaatkannya. Aku hanya merasa bahwa kami memiliki kecocokan.”


Qingyi mendengus. “Kau tidak benar-benar jatuh cinta padanya, kan?”


Baili Qingchen tidak menjawab. Dia hanya menatap malam yang gelap sambil memegangi dadanya. Jatuh cinta Entahlah. Baili Qingchen tidak bisa membedakan perasaannya sendiri. Hatinya terlalu lama terkunci dan hanya ada obsesi melindungi kekaisaran. Ia bahkan tidak tahu siapa orang yang benar-benar ia sayangi.


Qingyi bisa melihat bahwa hati Baili Qingchen saat ini sedang dilanda kebingungan. Pria itu berada di antara dua sisi tanpa tahu harus berjalan ke arah mana. Baili Qingchen menyayangi Xiao Junjie, namun dia juga tidak ingin melepaskan Qingyi. Entah rasa sayang seperti apa yang dipegang erat oleh pria itu.

__ADS_1


Qingyi tidak berniat menyuruh Baili Qingchen bercerita lebih banyak. Semakin jauh kisahnya digali, semakin dalam pula pusaran yang menjebak Qingyi.


Gadis itu akan terjebak ke dalam situasi paling rumit. Entah itu situasi di dalam hati Baili Qingchen, atau situasi di luar yang setiap hari membuatnya emosi.


“Apa kau bisa berdamai dengannya?” tanya Baili Qingchen.


Qingyi menolak dengan tegas, “Tidak! Jangan pernah berharap aku akan mengalah padanya!”


Pada saat itu, Qingyi menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dari Baili Qingchen. Melihat perilaku Qingyi, semua pertanyaan yang selama ini dipendam dan hendak diutarakan malam ini seketika sirna.


“Mengapa kau menjauh?”


“Aku harus menjaga diriku.”


Qingyi dalam kondisi waspada. Dia sudah mengonfirmasi bahwa Baili Qingchen tidak benar-benar punya orientasi menyimpang. Sebagai wanita, insting Qingyi bergerak lebih cepat dari nuraninya sendiri. Pria di depannya ini sangat berbahaya. Meski sudah menduganya saat di Xizhou, namun tetap saja rasanya tidak nyaman.


Baili Qingchen menatapnya tanpa ekspresi, namun sorot matanya begitu teduh sampai-sampai Qingyi tidak mampu menyelami seberapa dalamnya tatapan itu. Baili Qingchen menariknya untuk mendekat. Pandangannya menurun ke bawah, meredup, jatuh pada bibir merah muda yang manis.


Dia mengecupnya, lalu mengapitnya. Mata Baili Qingchen memejam.


Hening. Qingyi tidak langsung bereaksi dan tatapannya kosong seperti kejadian saat itu. Baili Qingchen selalu mengejutkannya. Perlahan, ia merasakan gerakan kecil di mulutnya.


Ada gigitan dan hisapan kecil yang terjadi berulang, lembut, tidak memaksa. Otaknya menyuruhnya untuk sadar, namun akal sehat itu seperti ditarik dan dibuang entah ke mana. Tubuh Qingyi bereaksi mengkhianati nuraninya sendiri.


Entah benar atau tidak, namun Qingyi jelas mulai membukakan celah. Dia membiarkan mulut Baili Qingchen bermain di mulutnya. Gerakannya lembut dan tidak menuntut. Refleks di tubuh Qingyi membuatnya menggerakkan mulutnya sedikit, membalas Baili Qingchen dengan ragu.


Semakin lama, mereka semakin terbuai. Rambut panjang Baili Qingchen tergerai. Hanya mulut mereka yang aktif, namun tubuh justru tetap diam.


Tangan Baili Qingchen terulur menarik Qingyi ke sisi tubuhnya, merangkulnya dari samping. Itu berlangsung selama beberapa menit, sampai salah seorang dari mereka kehabisan napas dan mendorong paksa pertautan itu.


Qingyi berbalik dan bergumam, “Aku pasti sudah gila!”


Akan tetapi, itu belum berakhir. Baili Qingchen menarik paksa Qingyi ke dalam pelukannya, setengah berbaring, lupa bahwa bagian atas tubuh pria itu terbuka. Mata mereka bertemu. “Lepaskan aku,” ucap Qingyi lemah.


Baili Qingchen menunduk sampai rambutnya tergerai. Dia kembali mencium Qingyi dengan lembut. Kali ini, Qingyi benar-benar kehilangan daya.


Tak ada lagi tenaga untuk melawan atau membalas. Hingga tanpa sadar, dia tertidur dalam pelukan Baili Qingchen. Baili Qingchen kemudian tersenyum tipis ketika gadis di pelukannya memejamkan mata.

__ADS_1


“Tidurlah. Kau harus pulih untuk memarahiku besok pagi.”


__ADS_2