
Festival Zaochun tidak lebih dari sekadar perjamuan yang sering diadakan oleh kerajaan. Bedanya, para tamu undangan yang hadir adalah kaum cendekiawan dan juga beberapa anak bangsawan biasa.
Mansion Raja Changle tidak pernah absen mengadakan Festival Zaochun setiap tahun, kecuali saat Raja Changle tidak berada di mansion.
Baili Qingchen sengaja mengadakan acara ini untuk melihat seperti apa penampilan dan kemampuan para cendekiawan dan anak bangsawan yang nantinya akan memasuki akademi kerajaan dan mengikuti ujian untuk menjadi pejabat. Siapa tahu ada yang punya kemampuan lebih dan bisa menjadi penegak hukum yang adil.
Untuk itulah, dia membuat aturan dalam perjamuan. Setiap tamu undangan yang hadir harus mempersembahkan sebuah puisi atau mengutarakan pendapat ketika waktunya tiba.
Itu menjadikan festival ini seperti sebuah perkumpulan pelajar di kota kekaisaran. Mereka bisa menunjukkan bakat mereka secara bebas.
Seringkali ada yang berkata bahwa ini adalah salah satu strategi Raja Changle untuk menarik perhatian dan mengumpulkan kekuatan. Mereka yang tidak senang merasa kalau perkumpulan ini bertujuan meluaskan pengaruh dan menarik simpati kaum pelajar.
Orang di istana juga tahu dan merasakan hal yang sama. Karena itulah, istana sering mengutus beberapa orang untuk menjadi tamu sekaligus mengawasinya.
“Yang Mulia, semuanya sudah siap,” ucap kepala pengurus.
Baili Qingchen sedang bersiap di kediamannya, sementara Xiao Junjie telah sibuk mengurus beberapa hal karena dia selalu mendapat tanggungjawab dalam pengadaan festival.
Kepala pengurus membantu Baili Qingchen mengenakan pakaiannya. Hari ini, Baili Qingchen memilih pakaian berwarna hijau tua yang membuat penampilannya tampak sangat elegan.
Jubahnya yang panjang dipadukan dengan sebuah gantungan giok di pinggang, kemudian kepalanya dihiasi sebuah tusuk konde berwarna perak.
“Apa Putri Permaisuri sudah siap?” tanya Baili Qingchen.
Kepala pengurus menggelengkan kepala. Urusan Putri Permaisuri Changle, ia tidak banyak tahu. Pelayan dari halaman barat tidak melaporkan apapun. Kepala pengurus menebak kalau Putri Permaisuri Changle mungkin sedang bersiap. Pada perjamuan sebesar ini, tidak mungkin dia tidak datang.
“Suruh orang untuk mengeceknya ke halaman barat!”
“Baik, Yang Mulia.”
Baili Qingchen lantas keluar dari kediamannya. Aula utama mansion Raja Changle sudah dipenuhi tamu undangan. Mereka duduk di kursi yang telah diatur sebelumnya. Ketika Baili Qingchen datang, mereka semua menghentikan aktivitas mereka sejenak dan memberi salam serta penghormatan untuknya.
__ADS_1
“Tidak perlu sungkan. Lanjutkan saja, perjamuannya belum dimulai.”
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Sungguh suatu kehormatan bisa diundang dan hadir dalam acara Zaochun ini. Di mata para cendekiawan, Raja Changle adalah sosok Dewa Perang Bingyue yang hebat dan cerdas.
Mereka tidak memandangnya sebagai pangeran tidak bermoral, karena otak para cendekiawan itu tidak tumpul. Selalu ada alasan mengapa seseorang berbuat dan bertindak tidak sesuai kodrat dan hati nuraninya.
Lagi pula, itu tidak merugikan orang lain. Raja Changle tetaplah seorang pangeran yang teguh dalam pendiriannya. Dia memikul tanggungjawab sebagai Pengawas Negara, yang setiap hari harus memikirkan cara agar rakyat aman sentosa dan pemerintahan stabil. Menurut mereka, tanggungjawab itu sangat besar dan mereka tidak pantas mempertanyakan kehidupan pribadinya.
“Selir Xian tiba! Selir Jia tiba! Selir Sui tiba!”
Tiga orang wanita diiringi beberapa pelayan istana memasuki aula. Baili Qingchen berdiri untuk menyambut mereka. Sungguh tidak disangka, Liu Erniang akan sudi menginjakkan kakinya di mansion Raja Changle setelah kejadian di aula Istana Xueyue. Dia bahkan membawa kawan-kawannya untuk ikut berkunjung.
“Salam kepada Paman Raja Changle,” ucap Liu Erniang, diikuti oleh Selir Jia dan Selir Sui.
“Tidak perlu sungkan. Silakan duduk.”
Ketiga wanita milik Kaisar Baili tersebut kemudian mencari tempat duduk mereka sendiri. Kedatangannya menarik perhatian para tamu undangan, terutama para anak bangsawan.
Sementara itu, sang Putri Permaisuri, yang seharusnya mendampingi Raja Changle justru malah asyik tiduran di kursi malas sambil memakan camilan. Dengan santainya ia menyuapkan camilan ke mulutnya dan mengunyahnya sampai habis.
Pelayan sudah mengoceh dan memintanya untuk segera pergi ke aula utama, namun gadis itu malah tidak menghiraukannya.
Qingyi tidak mau ikut campur. Festival Zaochun? Ah, itu hanya sebuah perjamuan. Daripada membuang waktu dengan berbasa-basi dan menonton orang berpuisi, lebih baik dia bersantai menikmati hari dalam kesendiriannya. Ini jelas lebih berguna untuk kesehatan jiwanya.
“Pergilah. Jangan mengangguku!”
“Tetapi, Yang Mulia, semua tamu undangan telah hadir. Nyonya Selir Xian dan dua selir lainnya juga telah tiba.”
“Untuk apa dia datang?”
__ADS_1
“Mungkin Yang Mulia Raja sengaja mengundangnya.”
Si pelayan diusir pergi olehnya. Pada beberapa menit kemudian, Qingyi terpikirkan sebuah ide cemerlang. Liu Erniang datang, kebetulan ia sedang senggang. Dua selir lainnya juga datang.
Jadi, Qingyi mungkin bisa menggunakan kesempatan ini untuk mencari petunjuk sekaligus melihat seperti apa penampilan adiknya setelah masuk ke istana.
Qingyi mengganti pakaiannya dengan gaun yang paling formal: gaun Permaisuri Changle yang jarang ia kenakan. Gaun itu memiliki panjang sampai satu meter dan cukup merepotkan. Namun karena hari ini adalah hari yang penting, ia dengan enggan menyusahkan dirinya sendiri.
Di aula, perjamuan hendak dimulai. Baili Qingchen duduk dengan gelisah karena Qingyi tak kunjung datang. Xiao Junjie berkali-kali memberitahunya bahwa perjamuan harus segera dimulai karena para tamu undangan ini telah cukup lama menunggu. Jika tidak, mereka bisa kesal.
“Tunggu sebentar lagi,” ucapnya. Xiao Junjie tampak kesal, akan tetapi ia tahu Baili Qingchen tidak bisa dibujuk.
Lima menit berlalu. Sepuluh menit berlalu. Semua orang sudah tidak sabar dan berkali-kali memandang ke arah Baili Qingchen dan Xiao Junjie. Siapa orang yang ditunggu oleh Raja Changle? Mengapa dia sampai harus memulai perjamuan lebih lambat? Mereka mulai bertanya-tanya.
Liu Erniang mulai tersenyum licik. Sekarang saatnya ia membalas perbuatan Qingyi satu persatu. Festival Zaochun ini cukup bergengsi, dan itu akan berefek jika ia melakukan sesuatu hari ini. Liu Erniang mengedipkan mata sebagai tanda isyarat kepada Selir Jia dan Selir Sui, sekutu barunya setelah masuk ke istana.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia sengaja menunda perjamuan? Kulihat, beberapa tamu sudah tidak sabar dan telah menunggu terlalu lama,” ucap Selir Jia.
“Kukira Raja Changle akan begitu menghormati tamunya. Tidak disangka, Yang Mulia ternyata suka menunda waktu,” sambung Selir Sui.
Xiao Junjie tersinggung. Ia hendak berkata, namun Baili Qingchen menahannya dan menyuruhnya untuk diam di tempat.
Tidak ada gunanya menanggapi ocehan mereka, karena yang mereka inginkan adalah mengacaukan perjamuan dan membuat malu mansion Raja Changle. Kalau Xiao Junjie tersulut emosi, itu hanya akan membuat mereka senang karena tujuannya tercapai.
“Maksudmu, aku sengaja membuat mereka menunggu?” tanya Baili Qingchen, tenang, datar.
“Jika Selir Jia dan Selir Sui tidak sabar, silakan mulai terlebih dahulu. Semua makanan dan minuman sudah disimpan di atas meja kalian,” sambung Baili Qingchen.
Selir Jia dan Selir Sui seketika melirik makanan dan minuman di atas meja. Wajah mereka mulai memerah. Baili Qingchen dengan mudahnya membalikkan kata-kata dan melakukan serangan balik. Ini tidak seperti sebelumnya.
Selir Jia dan Selir Sui kehilangan muka, mereka dianggap sebagai orang yang tidak tahu etika dan datang hanya untuk mencari makan.
__ADS_1
“Yo, aku belum tiba, tetapi perjamuannya sudah dimulai? Apa kesabaran kalian setipis kertas?”
Semua orang menoleh pada sosok wanita berpakaian indah yang tengah berjalan memasuki aula. Baili Qingchen ikut menoleh, dan senyumnya terbit.